
Fakhri dan ketiga temannya masih berbincang tentang Keinara, saat seorang pria dengan tas ransel di punggung mendekati gadis itu. Kedatangan pria itu tak luput dari penglihatan Fakhri dan kawan-kawan.
“Assalamu’alaikum ukhti...” Sapa pria yang bernama Dion, sambil tersenyum dan menyalami Keinara.
“Wa’alaikumsalam.......” Jawab Keinara membalas salam, dan tersenyum.
Keduanya lalu berbincang. Pembawaan Dion yang jenaka, kerap membuat Keinara tertawa sampai terpingkal-pingkal. Perbincangan yang di selingi canda antara Keinara dan Dion, tak lepas dari perhatian Fakhri. Apa Fakhri cemburu? Iya pasti. Fakhri cemburu karena Dion bisa membuat Keinara tertawa, sementara dia sebaliknya. Seperti ada yang menyumbat di saluran nafas Fakhri, ketika mengingat apa yang ia lakukan pada Keinara.
Sepuluh menit kemudian datang dua pasang muda mudi bergabung dengan Keinara dan Dion. Keempat muda mudi itu adalah teman kampus Keinara, sama seperti Dion. Mereka sengaja berkumpul, untuk mengerjakan tugas kelompok, yang diberikan oleh dosen mereka. Setelah berbincang sejenak, keenam calon guru matematika itu mulai berdiskusi setelah memesan makanan dan minuman. Keinara yang dianggap paling pintar diantara mereka, di daulat sebagai pemimpin diskusi.
Sesekali Keinara melirik ke arah Fakhri dan teman-temannya. Hatinya mempertanyakan kenapa Fakhri tak kunjung pergi. Keberadaan Fakhri menjadi penyebab rasa gerogi yang sedang ia rasakan. Karena tatapan Fakhri kerap tertuju padanya. Keinara berusaha menutupi rasa geroginya dan tetap fokus dengan kegiatannya sampai diskusi mereka selesai. Selesai membayar makanan dan minuman, Keinara dan teman-temannya beranjak.
Kali ini Fakhri di buat iri oleh Dion, karena pria itu bisa menggaandeng Keinara tanpa penolakan, saat hendak keluar kafe. Tawa Keinara dan kelima temannya menambah ramai kafe, sebelum mereka benar-benar keluar dari kafe.
“Kei...kamu bawa motor,” Tanya Dion.
“Tidak, aku tadi kesini sama teman.” Jawab Keinara sambil melihat ke ponselnya.
“Aku antar pulang ya?.” Tanya Dion lagi.
“Enggak usah....aku sudah pesen ojol kok.”
“Oh ya sudah...aku duluan ya. Bye...bye...cantik.” Pamit Dion dengan mengedipkan salah satu matanya.
“Bye....bye Dion...hati-hati ya...” Balas Keinara sambil melempar bulatan tisu yang ada ditangannya.
Keduanya akhirya tertawa sampai Dion berlalu pergi dari halaman Kafe.
Melihat Keinara berjalan sendiri keluar dari area kafe, Fakhri berniat menyusulnya.
“Bro...aku pamit dulu. Kapan-kapan kita ngumpul lagi.” Ucap Fakhri sambil mengeluarkan dompetnya. Mengeluarkan sebuah kartu dan menyerahkan pada pelayan yang dipanggilnya.
“Mau kemana?.” Tanya Doni.
“Paling-paling mau ngejar gebetannya, siapa tau bisa di sosor lagi ha...ha....” Ujar Vano.
“Sialan kamu....Sudah yah, aku pergi dulu.”
Selesai melakukan pembayaran, pria itu bergegas keluar kafe. Fakhri tampak tengah mencari-cari keberadaan Keinara yang ternyata sedang berdiri di bawah pohong dekat jalan raya. Gadis berhijab warna pastel, tengah menunggu ojek online yang di pesannya melalui aplikasi. Fakhri menghampiri Keinara bersamaan dengan
datangnya sepeda motor yang merupakan ojek pesanan Keinara. Sebelum Keinara naik ke motor, Fakhri tiba-tiba mendahului langkah gadis itu mendekati abang ojek. Keinara di buat terkejut oleh kedatangan Fakhri yang tiba-tiba.
“Mas, maaf pacar saya gak jadi naik, karena saya sudah datang menjemputnya. Saya kasih mas uang sebagai kompensasinya.” Ucap Fakhri sambil memberikan dua lembar uang berwarna merah.
Sang abang ojol menerima dengan senang hati tanpa ada penolakan ataupun protes. Kemudian pria itu pergi.
Keinara masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Lagi-lagi Fakhri membuatnya kesal.
__ADS_1
“Maaf Kei, aku tak bermaksud membuatmu kesal. Aku hanya ingin meminta waktumu sebentar. Boleh?.”
“Saya sibuk, nggak ada waktu.” Balas Keinara dengan nada kesal.
Fakhri menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Keinginannya untuk segera berbaikan dengan Keinara kian mendesaknya. Namun Keinara sepertinya enggan untuk memaafkan dirinya.
“Yuk aku antar kamu pulang.” Ucap Fakhri lembut.
“Makasih, aku bisa pulang sendiri, enggak perlu di antar.” Jawab Keinara sambil membuka aplikasi ojek untuk memesannya kembali.
Entah apa yang ada di pikiran Fakhri, sehingga dia dengan cepat mengambil ponsel Keinara, dan membawanya pergi menuju ke mobilnya.
“Mas...apa yang kamu lakukan, kembalikan ponselku.” Teriak Keinara sembil mengejar Fakhri yang terus berjalan.
Setelah sampai di mobil, Fakhri membuka pintu mobil untuk Keinara.
“Masuk Kei...aku akan mengembalikan ponsel kamu jika kamu mau masuk.”
“Aku enggak mau...cepet kembalikan ponselku.” Teriak Keinara kesal.
“Nggak bakal aku kembalikan, kalau kamu nggak mau aku antar.”
“Mas....tolong, kembalikan ponselku.” Suara Keinara meninggi
“Mau masuk nggak?.” Tanya Fakhri dengan nada pelan.
Karena banyak orang yang memperhatikan, Keinara dengan terpaksa akhirnya masuk kedalam mobil. Fakhri tersenyum penuh kemenangan. Disaksikan oleh ketiga kawannya yang sedari tadi jadi penonton.
Fakhri menjawab dengan mengacungkan ibu jarinya tinggi-tinggi, sembari masuk kedalam mobil.
“Mana ponselku, cepat kembalikan!.“ Ucap Keinara ketus, dengan tangan yang terulur minta ponsel yang Fakhri simpan di saku celananya.
“Pasti aku kembalikan. Tapi nanti.”
“Sekarang...!!!.”
“Enggak sekarang Kei.” Jawab Fakhri penuh penekanan.
Keinara benar-benar kesal. Wajahnya memerah. Dia akhirnya memilih diam, dan memalingkan wajahnya kearah luar jendela. Membiarkan Fakhri membawanya pergi entah kemana.
Fakhri membiarkan Keinara dengan sikapnya dan fokus mengendarai mobilnya menuju suatu tempat . Setelah perjalanan lima belas menit, mereka tiba di sebuah tempat dengan pemandangan yang begitu indah.
“Turun yuk Kei...” Ajak Fakhri.
Keinara bergegas turun dan meninggalkan Fakhri menuju ke sebuah gasebo. Beberapa saat kemudian, keduanya sudah duduk berhadapan di gasebo berlatar danau luas yang dikelilingi taman bunga dan pohon-pohon rindang. Keinara masih saja membuang muka. Sementara Fakhri hanya mampu memandangi gadis itu yang tampak menahan amarahnya.
“Sekarang apa yang ingin kamu bicarakan, cepat katakan. Aku tak punya banyak waktu.”
__ADS_1
Keinara masih dikuasai amarahnya. Tapi itu tak membuat niat fakhri untuk minta
maaf surut.
“Kei...aku ingin minta maaf atas perbuatanku waktu itu. Sungguh waktu itu aku khilaf, semua terjadi begitu saja. Aku tak berniat melakukannya. Sungguh Kei, semua karena Amarah dan cemburu yang telah menutup akal sehatku. Mungkin kesalahanku begitu besar sehingga membuatmu sakit hati, dan mungkin kesalahanku tak pantas untuk di maafkan. Aku meyesalinya Kei. Ijinkan aku untuk tetap berharap maaf darimu. Tolong maafkan aku, bukalah sedikit saja pintu maafmu untukku Kei. Aku akan terus dihantui rasa bersalah jika belum mendapat maaf darimu.” Ucap Fakhri tulus dan penuh penyesalan.
Keinara masih membuang muka. Gadis itu tampak menarik nafas panjang. Mencoba meredakan emosi yang sejak tadi menguasai hati dan pikirannya. Menata hati untuk lebih tenang menghadapi pria yang sedang menunggu kata maaf darinya. Meski ragu, gadis itu berusaha menegakkan kepalanya, meluruskan pandangannya pada Fakhri.
Menatap matanya dalam-dalam. Bibir mungil keinara akhirnya mengurai kata, yang mewakili hatinya.
“Mas Fakhri....Apapun alasannya aku tak bisa terima perbuatan kamu. Aku merasa telah direndahkan. Namun sebagai manusia yang jauh dari kata sempurna, rasanya sombong sekali jika aku tak memaafkanmu. Meski sebenarnya sulit, aku memaafkanmu mas Fakhri.”
Kata maaf untuk Fakhri akhirnya keluar dari bibir Keinara. Menimbulkan rasa bahagia dalam hati Fakhri.
“Benarkah itu Kei?.”
Kei mengangguk pelan dengan wajah datar.
“Terima kasih Kei.” Ucap Fakhri dengan wajah berseri.
“Saya ikhlas memaafkanmu mas. Namun aku minta, setelah ini kita tak usah bertemu lagi. Menjauhlah dariku dan akupun akan menjauh darimu. Mari kita saling melupakan. Anggap kita tak pernah bertemu dan saling kenal.”
Hati Fakhri yang baru saja merasa bahagia, dalam hitungan detik kembali merasa pilu. Bagai langit yang semula cerah tiba-tiba berubah mendung. Tak menyangka gadis yang sangat ia cintai, memintanya untuk menjauh setelah memberikan maafnya.
“Makasih kei, sudah membuka pintu maafmu. Tapi permintaan untuk menjauhimu terasa berat bagiku Kei. Aku ragu, aku bisa melakukannya. Cintaku sudah terlalu dalam padamu, aku tak bisa menjauh darimu Kei. Jadi aku mohon jangan meminta hal itu.” Ucap Fakhri memohon.
“Maaf, kali ini mas Fakhri tak bisa memaksaku. Karena pada dasarnya memang kita seharusnya tidak berteman, mengingat siapa aku dan siapa mas Fakhri. Lebih baik kita memang tak saling mengenal. Apa yang sudah terjadi di antara kita, anggaplah tak pernah terjadi.” Tutur Keinara dengan suara bergetar.
”Dan saya rasa cukup pembicaraan kita. Tolong kembalikan ponselku.”
Fakhri berharap apa yang tengah terjadi adalah sebuah mimpi, namun sayangnya semuanya adalah kenyataan yang harus bisa ia terima. Dengan berat hati Fakhri mengembalikan ponsel milik Keinara, yang sejak tadi tersimpan di saku celananya.
“Baiklah Kei...jika memang itu maumu. Aku akan berusaha menjauh darimu, meski aku tak yakin bisa melakukannya.......” Fakhri mencoba menegarkan hatinya.
“
Mas Fakhri silahkan pulang duluan, saya masih mau disini.“ Ucap Keinara memotong ucapan Fakhri yang
belum selesai.
“Kei, ijnkan aku mengantarkanmu pulang, untuk yang terakhir kalinya. Karena untuk seterusnya, aku akan berusaha memenuhi keinginanmu.Tapi itu jika kamu berkenan untuk aku antar pulang, aku tidak akan memaksa.”
“Maaf, saya tidak bisa pulang bersama mas Fakhri. Aku masih ingin disini. Mas Fakhri pulanglah.”
“Baiklah, jika itu maumu Kei,aku pergi. Makasih sudah memaafkanku. Dan makasih juga sudah hadir dalam hidupku akhir-akhir ini. Aku pamit. Aku mencintaimu Kei.....Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam...” Jawab Keinara pelan dengan hati yang bergetar mendengar ungkapan cinta Fakhri
__ADS_1
Dengan langkah berat, Fakhri meninggalkan Keinara sendirian di tempat ia bersamanya tadi. Pemuda yang sedang patah hati itu, melajukan mobilnya tapi tak lama. Karena pemuda itu kembali memarkirkan mobilnya tak jauh dari tempatnya semula. Fakhri ingin menunggu sampai gadis itu pulang. Fakhri memarkirkan mobilnya diantara
mobil pengunjung yang lain. Dari dalam mobil, Fakhri dapat melihat Keinara yang belum bergeming dari tempatnya.