Cinta Keinara

Cinta Keinara
Cinta Sejati


__ADS_3

“Kei....udah dong!.........jangan nangis terus. Aku yang lihat tuh capek, masak kamu enggak sih?!”.


Tak peduli dengan ucapan Dewi, Keinara terus saja terisak. Isak kesakitan yang makin menjadi. Bukan hanya karena penghianatan Fakhri, tapi juga karena rasa berat melepas orang yang sangat di cintainya itu.


Pertemuannya dengan Fakhri di kafe, telah menggoyahkan hatinya yang susah payah ia siapkan untuk bisa mengiklaskan kekasihnya menjadi milik wanita lain.


Gadis itu di buat tak berdaya oleh rasa cinta yang  begitu besar pada Fakhri.


“Udah dong Kei nangisnya.....!” Pinta Dewi yang semakin di buat bingung.


Dewi meminggirkan kendaraannya, ketika merasa sahabatnya perlu untuk di tenangkan. Sebuah pelukan Dewi berikan pada sang sahabat dan membiarkannya menangis sepuasnya.


“Menangislah...jika itu bisa membuatmu lega.”  Ucap Dewi sembari mengusap punggung Keinara.


Diam-diam mata Dewi  mulai mengembun. Gadis itu lkut larut dalam kesedihan sahabatnya. Dan baru kali ini, gadis dalam pelukannya tampak sangat terpuruk.


Hampir lima belas menit mobil Dewi terparkir di pinggir jalan. Setelah tangis keinara mereda, dan tampak lebih baik dari sebelumnya, Dewi kembali melajukan kendaraannya.


“Kenapa aku dibawa kerumah kamu Wi.” Tanya Keinara yang menyadari jalan yang di sedang di lalui mengarah kerumah Dewi.


“Kamu lebih aman di rumahku.”


“Maksudnya?.”


“Aku khawatir,  masalah yang sedang kamu hadapi membuat akal sehatmu tak berfungsi dengan baik. sehingga kamu melakukan hal yang tidak-tidak.”


“Hah.....aku masih punya iman Wi.”


“Syukurlah...tapi aku tetap tak tenang kamu tinggal di kost. Lebih baik kamu tinggal di rumahku beberapa hari.”


“Aku ingin pulang ke kampung..”


“Iya ...itu ide yang bagus. paling tidak kamu bisa menenangkan diri kamu di sana. Tapi kamu selesaikan dulu urusan skripsi kamu . Setelah selesai kamu bisa balik kampung. Jangan lupa kembali ke sini saat wisuda nanti.”


“Iya...”


Mobil yang ditumpangi dua sahabat itu, akhirnya berhenti di depan rumah Dewi.


Mobil Fakhri juga baru saja berhenti di depan kantornya. Setelah menyerahkan kunci mobil pada satpam, CEO yang terkenal dingin itu melangkah masuk menuju ruangannya. Di sambut tatapan penuh tanya oleh beberpa karyawan yang kebetulan berpapasan.


“Pak Fakhri....!.”  Panggil Fani sopan dengan tatapan terkejut ketika menatap wajah Fakhri.


“Ya Fan?.” Jawab Fakhri yang hendak mendorong pintu.


“Di dalam ada bu Bela.”


“Bela ada disini?.”


“Iya pak, bu Bela baru saja datang. Tadi siang juga beliau kesini mencari pak Fakhri.”


Fakhri melepas handle pintu begitu tau Bela sedang menunggu dirinya. Pria itu tampak berpikir, sebelum akhirnya masuk keruangan. Begitu melihat kedatangan Fakhri, Bela yang tengah duduk langsung menyambutnya dengan pertanyaan.


“Wajah kamu kenapa lebam?.”


“Oh...tadi ada masalah sedikit diluar..”


“Aku obati ya...”


“Tidak usah...” Tolak Fakhri sembari menyingkirkan tangan Bela dari pipinya.”Aku hanya butuh istirahat sekarang”

__ADS_1


“Oh oke...istirahatlah, aku temani”


“Tidak usah, kamu pulang saja.”


“Huh.....” Bela kesal, karena Fakhri kembali menolak keinginannya.


Wanita itu tak menyerah, ia menyusul Fakhri yang masuk keruang pribadinya. Yang baru pertama kali ia masuki. Melihat ada ranjang di sana,  Bela merebahkan tubuhnya di atas ranjang itu sembari menunggu Fakhri yang sedang berada di kamar mandi.


“Keinara...!!!”.


Bela yang tengah memejamkan mata, dibuat terkejut mendengar Fakhri menyebut nama seseorang yang jelas bukan dirinya, tapi tatapan pria itu jelas mengarah ke dirinya. Fakhri berdiri seperti tengah terkejut, di lihat dari ekspresi wajahnya.


“Aku Bela...bukan Keinara....!!.”  Ucap Bela kesal dan mendudukan tubuhnya di tepi ranjang.


“Oh......”  Gumam Fakhri yang sepertinya kecewa. Karena tadi yang ia lihat sedang tidur di tempat istirahatnya bukan Bela tapi Keinara.


“Kenapa kamu tidur di situ?.  Bukankah tadi aku menyuruhmu pulang!!.”


“Tadinya aku mau nemenin kamu istirahat, tapi sekarang aku dah malas!!.”


“Aku juga tidak memintamu menemaniku bukan?. Jadi lebih baik kamu pulang sekarang.!!”  Balas Fakhri tegas.


“Aku akan pulang, tapi kamu jelaskan dulu siapa Keinara itu.Dari Kejadian kemarin , aku tau kalau gadis itu telah berbohong kepadaku. Di bukan sepupumu, melainkan kekasihmu yang lain. Kamu selingkuh kan dengan gadis itu?. Tapi sekarang aku ingin dengar dari mulutmu langsung, siapa Keinara itu, dan apa hubungannya denganmu!.”


Fakhri terdiam dan memilih keluar dari ruangan itu, lalu duduk di kursi kerjanya. Dua siku tangannya bertumpu pada permukaan meja, sementara jemarinya sibuk memijit kepala yang berdenyut.


“Fahri...jawab!!.”


“Aku sedang malas membicarakannya. Pulanglah....!.”


“Sudah aku bilang. Aku akan pulang setelah kamu menjelaskan tentang Keinara.”


“Tapi kamu harus mau...!!!.”  Bentak Bela yang merasa di permainkan oleh Fakhri.


“Brak......” Fakhri memukul meja didepannya, setelah amarahnya tersulut oleh bentakan Bela.


“Jangan memksaku Bela...dan jangan buat kesabaranu habis!!!.” Bentak Fakhri saking emosinya.


“Jika kamu tidak mau dipaksa, maka bicaralah!!.” Ucap Bela yang tak gentar dengan bentakan Fakhri.


“Kamu mau aku bicara apa?,  sementara kamu sudah tau semuanya dari peristiwa kemarin. Hanya satu hal yang belum kamu tau, aku tidak selingkuh dengan dia. Tapi aku yang selingkuh denganmu. Dan sekarang aku menyesal. Aku merasa bersalah telah menyelingkuhinya!!!."


Bela membelalakan matanya. Tak percaya dengan apa yang barusan keluar dari mulut Fakhri.


“Itu artinya kamu menyesal menjadi kekasihku?!!.”


Fakhri tak dapat melanjutkan kata-katanya, pria itu terdiam. Entah apa yang pria itu pikirkan, sehingga ia meninggalkan Bela begitu saja di ruangannya


“Fakhri tunggu....!! Kita belum selesai bicara.....!!.”  Teriak Bela.


Langkah kaki Fakhri yang lebar, membuat Bela tak bisa mengejarnya. Fakhri menaiki anak tangga yang menuju atap gedung. Di tempat itu ia melupakan emosinya pada benda-benda yang yang ia lihat.


“Akhhhhhhh.........” Fakhri berteriak kencang, saat dadanya makin terasa sesak. Pria itu menjatuhkan tubuhnya, dengan bertumpu pada kedua lutut  dan dua telapak tangannya. Mata pria itu terpejam dengan wajah menghadap kelantai. Sementara bahunya terlihat naik turun.


“Keinara....!.”  Gumam Fakhri. Ketika ia membuka mata dan mendongkakan wajahnya. Ia melihat Keinara


tengah berdiri di sudut rooftop dengan wajah sedih. Namun baru saja ia ingin mendekatinya tubuh Keinara tiba-tiba menghilang.


“Keinaraaaaaaa...........!!!” Fakhri kembali berteriak setelah ia berhalusinasi.

__ADS_1


“Fakhri.....!.” Sebuah suara muncul dari belakang tubuh Fakhri yang tengah berdiri di pinggir Rooftop.


Fakhri yang mengenal suara itu hanya menoleh sebentar, kemudian matanya kembali menatap langit sore Jakarta.


“Apa yang terjadi?.” Tanya Rangga yang sudah berdiri di samping pria yang tampak tengah menaggung beban.


“Aku bingung dengan hidupku yang sekarang. Hati dan pikiranku tek pernah berada di titik yang sama, selalu bertentangan. Dan bodohnya aku, selama ini telah membiarkannya. Tanpa berusaha mengendalikan, bahkan pasrah begitu saja. Mengorbankan sebuah cinta yang begitu besar dan tulus dari Keinara, yang seharusnya menjadi kekuatan untuk ku menghadapi semua ini.”


Sejenak Fakhri terdiam dan menundukkan kepalanya dengan mata terpejam.


“Aku telah menyakitinya dengan luka yang sangat dalam. Aku telah mengabaikannya, menjauhinya saat ia ingin bersamaku, membiarkan dia sendiri dalam kerinduan dan sekarang aku menghianati cintanya.”


“Apa kau sudah bisa mengingat semua tentang Keinara?.”


Fakhri menggelang.


“Tapi saat ini aku sangat menginginkannya.”


“Selain itu apa yang kamu rasakan? .”


“Aku merasa hatiku sangat sakit melihat dia terluka karena perbuatanku. Aku merasa sangat menyesal telah menghianatinya. aku juga merasa sedih ketika ia tak peduli denganku, aku cemburu ketika ada yang mendekatinya.”


“Semua itu karena kamu mencintainya Ri!.”


“Entahlah....semua masih kelihatan abu-abu.”


“Sabar Ri...semoga ini menjadi awal kesembuhanmu dari amnesia.”


“Semoga saja...tapi aku takut, saat aku sembuh Keinara telah pergi meninggalkan aku. Karena aku telah menyakitinya.”


“Percayalah, Jika dia memang cinta sejatimu, mau semenyakitkan apa pun, mau sesulit apapun liku yang harus dilalui, dia akan tetap bersamamu suatu saat nanti. Dan cinta sejati akan selalu memaafkan segala kesalahan yang


kamu lakukan. Sebesar apapun asal kamu berjanji akan meperbaiki diri.”


Rangga menyentuh bahu sahabatnya, untuk menguatkan dan meyakinkan pria itu.


“Makasih ngga......”


“Aku turun dulu...”


“Pergilah....aku masih ingin di sini.”


Rangga mengangguk dan tersenyum. Membiarkan pria itu sendiri mungkin tidak ada salahnya. Karena da butuh waktu untuk menata hati dan pikirnya.


Namun Rangga teringat sesuatu, sehingga ia kembali mendekati Fakhri.


"Dari mana lebam di wajahmu itu?."


"Dari seorang laki-laki yang telah menganggu Keinara."


"Kamu ketemu dengan Keinara?."


"Iya , tadi di kafe."


"Oh ya....apa kamu sudah menentukan siapa yang kau pilih. Keinara atau Bela?."


"Aku yakin memilih Keinara, tapi aku pesimis dia mau bertahan di sampingku setelah apa yang aku lakukan."


"Berdoalah..semoga Keinara tidak datang padamu untuk pamit meninggalkanm. Dan mengakhiri hubungan kalian."

__ADS_1


Fakhri mendesah berat, ada rasa takut Tuhan tak mengabulkan doa itu.


__ADS_2