Cinta Keinara

Cinta Keinara
Cinta dan Cita-cita


__ADS_3

“Aku sudah menyewa jet pribadi milik temanku bun. Kita tinggal tunggu pihak rumah sakit menyiapkan segala


sesuatunya.”  Ucap pak Surya saat Keinara baru saja keluar dari ruangan ICU.


“Pastinya kapan yah Fakhri akan di bawa kesana?, Aku ingin Fakhri cepat pulih. Aku tidak sanggup melihat


anak kita tak berdaya seperti itu.”  Wanita yang berusia lebih dari setengah abad itu tampak begitu sedih.


Suaranya selalu terdengar lemah. Seperti tak punya kekuatan meskipun hanya untuk bicara.


Pak Surya memeluk tubuh istrinya yang tengah berderai air mata. Laki-laki itu tampak berusaha tegar,


meski apa yang dirasakan istrinya juga ia rasakan. Namun demi putra bungsunya ia harus kuat.


“Bunda, yakinlah anak kita akan baik-baik saja. Ia pasti akan segera sembuh. Bunda harus kuat agar Fakhri


juga kuat melewati semuanya.”


Tangis Bu Talia makin menjadi. Ia sangat takut terjadi sesuatu yang tidakd ia inginkan pada Fakhri.


“Bunda sudah jangan menangis....Setelah semua pesrsiapan selesai kita akan langusng berangkat. Pihak rumah


sakit sedang menyiapkan semuanya” Ujar pak Surya mencoba menenangkan istrinya.


“Dan aku sudah telefon Bagas untuk menyiapkan keperluan kita selama disana.” Tambahnya lagi.


Bagas adalah anak sulungnya yang memilih menetap di negara X.


“Apa aku perlu ikut yah?” Tanya Fahira yang sebenarnya ingin mendampingi adik kesayangannya.


“Tidak usah, kasihan Cinta dan suamimu kalau ditinggal. Cukup ayah, bunda dan kakakmu Bagas yang menemani


Fakhri selama di negara X. Kamu berdoa saja, semoga adikmu segera diberi kesembuhan.”


 Keinara yang sejak tadi terdiam mendengarkan obrolan keluarga itu, akhirnya memeranikan diri untuk bertanya.


“Maaf  om, maksud om tadi, mas Fakhri mau dibawa ke negara X ?.”


“Iya Kei, Fakhri butuh penanganan yang serius agar ia lekas pulih. Jadi pihak rumah sakit menganjurkan


Fakhri untuk menjalani pengobatan di sana.” Fahira menjawab pertanyaan yang seharusnya di jawab oleh ayahnya, karena sang ayah sepertinya masih bingung dengan keberadaan Keinara di antara mereka.


“Oh....” Keinara mengangguuk pelan. Dia gundah. Perasaannya campur aduk. Untuk  beberapa waktu dia harus berpisah dengan Fakhri. Tapi dia berusaha menekan kesdihannya karena perpisahan itu, demi kesmbuhan sang kekasih.


Seorang perawat datang menghampiri,

__ADS_1


“ Pak Surya, semua keperluan pasien sudah lengkap. Apakah pesawatnya sudah siap?”


“ Sudah...”


“ Baik pak, kami akan segera mengantarkan pasien ke bandara.”


“ Baik...silahkan, saya dan istri saya akan mengikuti dari belakang”


“Ehm...maaf om, bolehkah saya ikut mengantar mas Fakhri?.”  Tanya Keinara kembali menyela.


Pak Surya mengangguk.


“Terima ksih om, Jika diijinkan saya akan naik ambulan menemani mas Fakhri.”  Tambah Keinara.


Lagi-lagi pak Surya hanya mengangguk.


Tapi sayang, Keinara harus kecewa karena pihak rumah sakit tak mengijinkan Keinara menemani kekasihnya


sebelum berpisah.


Setengah jam kemudian, Keinara sudah duduk di dalam mobil Beni,beriringan dengan ambulan dan mobil kelaurga


Fakhri melaju menuju bandara. Tangan Keinara terus mengenggam jemarinya dimana cincin dari Fakhri melingkar disana. Hati dan pikirannya kini hanya ada doa untuk Fakhri.


saat tim medis membawa kekasihnya masuk ke dalam badan pesawat.


“Lekas sembuh mas..lekaslah pulang...aku akan setia menunggumu.”  Ujarnya ditengah isak tangis yang tertahan. .


“Ayo Kei....”  Ajak Dewi yang sejak tadi ada dibelakngnya.


Keduanya berlalu dari tempat itu. Langkah Kei terasa begitu berat. Sesekali ia menoleh kebelakang. Kei nara


hanya bisa melihat dari kejauhan saat jet yang membawa Fakhri terbang. Gadistu  tak kuasa lagi menahan kesediahanya. Tubuhnya lunglai hingga terduduk di lantai bandara bersandar pada dinding kaca dengan


kedua kaki ditekuk dan menyembunyikan tangisnya disana.  Dewi hanya bisa menatap sahabatnya dengan


tatapan sedih. Mencoba menguatkan dengan memeluk bahu sahabatnya.


“Kei....” Tiba-tiba terdengar suara Fahira menyapa. Keinara menghentikan tangisnya. Mengusap airmatanya kemudian menatap Fahira yang juga nampak sedih.


“Mbak Fahira...” Keduanya lalu berpelukan, terdengar isak tangis keduanya. Suasana saat itu benar-benar


diliputi kesedihan. Membuat haru bagi yang melihatnya. Beberapa detik kemudian Fahira mengurai pelukannya.


“Kei...terus doakan Fakhri ya. Saya yakin dia membutuhkan doamu karena dia sangat mencintaimu”  Ucap Fahira pelan.

__ADS_1


“Iya mbak....aku akan selalu berdoa untuknya. Karena aku ingin mas Fakhri lekas sembuh...hik...hik...”


Kembali tangis Keinara pecah tak tertahan. Fahira membiarkan gadis itu menumpahkan tangisnya, mungkin dengan menangis gadis itu akan sedikit merasa lega pikir Fahira.


“Aku pulang dulu.”  Ujar Fahira lagi yang kemudian bangkit dan melangkah menghampiri suaminya yang juga ikut mengantar Fakhri bersama Rangga.


Setelah hatinya tenang, Keinara memutuskan untuk kembali ke tempat dimana dia melaksanakan KKN. Meski tak ada semangat lagi untuk menyelesaikannya. Untung dia memilki teman-teman yang selalu setia menyemangatinya. Sampai KKNnya selesai dan ia kembali ke Jakarta.


Terasa begitu berat hari-hari Keinara tanpa sosok kekasihnya. Yang terkadang membuatnya kesal dengan


keisengannya, namun juga membuatnya seperti ratu dengan perhatian dan cintanya. Keinara tak lagi seceria hai-hari sebelumnya, hal itu sangat dirasakan oleh teman-temannya. Gadis itu tampak sering melamun berdiam diri dikamar. Bayang wajah Fakhri dan semua kenangan dengan Fakhri setia menemani hari-harinya.


“Aku tidak akan berhenti mencintaimu mas. Aku akan mencintaimu selamanya.”


Ungkapan yang lebih tepatnya sebuah janji, terucap dari mulut Keinara. Saat gadis itu teringat ucapan


Fakhri, waktu menyematkan cincin di jari manisnya. Cincin bermahkotakan berlian, menjadi benda yang sangat berharga bagi Keinara saat ini. Karena benda itu menjadi pengganti kekasihnya, yang kini tak ada disampingnya. Dan pada cincin berlian itulah Keinara mengungkapkan kerinduannya.


Lima belas hari sudah dia berpisah dengan Fakhri. Dan belum ada kabar kalau Fakhri sudah bangun dari  komanya. Membuat hari hari Keinara semakin diliputi kekhawatiran. Disetiap sepertiga malam, Keinara terbangun untuk mendoakan pria yang dicintainya dalam sujudnya. Tak jarang air mata berjatuhan di sela-sela


doanya. Perasaan rindu dan khawatir membuatnya begitu rapuh. Jika ia punya kekuatan, ia ingin pergi menyusul kekasihnya. Namun sayang ia tak bisa, karena terkendala biaya.


Dibalik kerinduan dan rasa cemas, Keinara harus tetap menjalani rutinitasnya sebagai mahasiswa. Pendidikannya yang digadang selesai dalam waktu satu semsester lagi, memberinya satu dorongan semangat agar dia tidak larut dalam urusan cintanya. Dia harus bisa membagi hati dan pikirannya untuk pendidikan yang sedang ditempuhnya demi, sebuah cita-cita yang telah lama ia impikan.


“Kei....ayo.....” Teriak Dewi sambil membuka pintu mobil, saat melihat sahabatnya tak kunjung turun dari


mobilnya saat sampai di parkiran kampus.


“Eh....iya Wi.” Keinara tersadar dari lamunannya dan bergegas turun.


Dewi tau apa yang membuat sahabatnya melamun, tapi Dewi tidak mau membahasnya. Karena itu akan membuat


sahabatnya makin larut dalam kesedihannya. Dewi menggandeng tangan Keinara, masuk kedalam kampus, untuk menemui dosen yang akan menjadi dosen pembimbing mereka selama menyusun tugas akhir.


Selesai dengan urusan mereka, Dewi dan Keinara tak langsung pulang. Dewi mengajak Keinara bertemu teman-teman mereka di kantin. Di tempat itu Keinara sejenak melupakan beban hatinya. Obrolan yang kerap di selingi tawa menjadi hiburan tersendiri untuk Keinara. Untuk pertama kalinya Keinara tertawa lebar setelah sekian hari tawa itu hilang di telan kesedihan.


Suasana semakin ramai dengan kehadiran Dion. Teman Keinara yang jago membuat teman-temannya tertawa. Tak


terkecuali Keinara. Dion benar-benar telah mampu membuat Keinara tertawa, sampai gadis itu memegangi perutnya yang terasa kaku akibat tawa yang berlebihan.


“Terima kasih Dion....”


Batin Dewi yang diam-diam memperhatikan sahabatnya  yang tertawa  dengan polah tingkah Dion.


Keinara dan teman-temannya menjadi penghuni terlama di kantin itu. Hingga salah satu dari mereka menyadari  kalau bu Kantin sesekali melihat ke arah mereka dengan raut wajah tak bersahabat. Akhirnya sekelompok mahasiswa itu membubarkan diri, pergi dengan tujuan mereka masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2