
“Dewi....!!! Sudah cukup.....ayo kita pulang!!!.” Teriak Keinara pada Dewi yang berjalan mundur sembari menatap Fakhri penuh amarah. Keinara menarik tangan Dewi, dan membawanya ke kursi kemudi.
Tak peduli dengan dengan dua orang yang tengah memperhatikannya, Keinara masuk ke dalam mobil dan duduk di samping sahabatnya.
“Dewi...Dewi...istighfar Dewi...aku belum mau mati......Dewiii......!!!” Teriak Keinara saat merasa mobil yang di naikinya seperti terbang. Tangannya mencengkram kuat kursi yang didudukinya saking takutnya.
Dewi yang masih di kuasai amarahnya, akhirnya menurunkan kecepatan mobilnya. Melihat gadis disampingnya ketakutan.
“Hah.....Dewi....Dewi...kamu udah bikin aku jantungan.” Ujar Keinara sambil mengelus dadanya. Tak ia sangka Dewi semarah itu pada Fakhri, orang yang sama sekali tak punya salah sama dirinya.
“Aku masih gedek sama tuh play boy, pengen banget aku potong terongnya. Biar nggak seenaknya mainin cewek.”
“Kok kamu yang marah sih, padahal kan aku yang di selingkuhin?.”
“Oh jadi kamu nggak marah udah diselingkuhin gitu....??.”
“Enggak gitu maksudnya....”
“Kamu jadi cewek tuh jangan terlalu lembek. Kalau kamu di sakitin jangan terima gitu aja. kasihlah pelajaran sama orang yang udah nyakitin kamu itu. Minimal di tampar atau di siram air keras....”
“Buat apa....itu tidak akan merubah keadaan.”
“Iya memang....tapi kita punya kepuasan tersendiri ....kamu kayaknya harus coba."
“Harus coba gimana?.”
“Besok aku antar kamu ketemu Fakhri. Kamu bawa tongkat kasti atau apa deh. Terus kamu pukulin tuh orang . Minimal bikin dia masuk rumah sakit. Setelah itu kamu pasti akan merasa lega.”
“Itu namanya balas dendam Dewi....!!.”
“Ha...ha....ha......eh iya....kamu ada niat kan buat balas dendam?.”
“Enggak....!!.”
“Huh.....dasar bucin. Dah deh stop bucinin tuh cowok. Buang-buang waktu aja.”
Sesaat suasana menjadi hening. Karena Keinara kembali larut dengan kesedihannya. Bayangan Fakhri tengah memangku Bela mengusik hati gadis itu, menyebabkan air mata kembali menghuni sudut matanya.
“Yah....malah nangis......percuma Kei, itu tidak akan merubah keadaan!.”
__ADS_1
“Kok kamu nyontek ucapanku tadi?.”
“Heh.....kamu kaya nggak tau aja, kalau nyontek itu hobbi ku.....he....he....”
Keinara akhirnya tertawa, lupa dengan kesedihannya. Namun itu tak berlaku, saat dirinya seorang diri di dalam kamarnya.
Mata Keinara yang harusnya terpejam untuk istirahat, nyatanya masih berwarna merah dengan digenangi air mata. Gadis itu menangis sampai tengah malam. Menangisi perbuatan pria yang telah memberinya cincin, yang baru saja ia lempar hingga masuk ke kolong lemari.
Isak tangisnya terdengar begitu menyayat. Sepertinya penghianatan Fakhri meninggalkan luka yang cukup dalam.
Tak menyangka, kini dirinya harus mengalami kegagalan untuk yang kedua dalam kisah cintanya. Sama-sama menyakitkan, sama-sama meninggalkan karena wanita lain dan sama-sama meninggalkan ketika dirinya sedang
sayang-sayangnya.
Tok.....tok.....tok....
“Kei....Keinara.....Kei.....!!!!”
Bleg.....bleg....bleg....
“Keinara.....kei....buka pintunya.”
“Keinara buka pintunya dong....”
Kali ini teriakan Dewi membuahkan hasil.Sahabatnya telah berdiri di depan matanya.
“Dewi....nagapain sih kesini pagi-pagi, gangguin orang tidur aja...” Gerutu Keinara yang baru saja bangun karena terganggu oleh suara Dewi.
“Apa!!! pagi-pagi kamu bilang.....lihat tuh .....lihat tuh......lihat...!!” Ucap Dewi sambil menunjuk ke arah jam dinding yang ada di kamar sahabatnya.
“Hah....jam sebelas......!!!.” Keinara mengucek matanya untuk memperjelas penglihatannya. Menyadari apa yang dilihatnya itu benar, gadis itu langsung masuk ke kamar mandi. Tiga menit gadis itu sudah keluar lagi. Sepuluh menit berselang keinara telah siap dengan pakaian yang rapi dan make up tipis.
“Yuk berangkat...!!” Keinara bergegas keluar kamar. Kesalnya dia saat hendak mengunci pintu kamar, Dewi tengah tertidur di kasurnya.
“Dewiiiii.....!!!.” Teriak Keinara membangunkan Dewi.
“Hem.....huammm.....” Dewi akhirnya bangun dari tidurnya. “ Ngantuk banget Kei....” Tambah Dewi yang sedang berusaha melebarkan matanya sambil terus berjalan keluar rumah menuju mobil.
“Kamu udah siapin tongkat kastinya Kei...”
__ADS_1
“Tongkat Kasti buat apa?.” Jawab Keinara yang baru saja keluar dari pintu pagar.
“Buat mukulin itu orang....mumpung orangnya lagi ada.” Balas Dewi sambil menunjuk dengan matanya kearah rumah Fahira.
Keinara melempar tatapan kearah yang di tunjukan Dewi dan matanya membulat ketika melihat Fakhri tengah berdiri di dekat mobilnya menatap ke arahnya.
“Ayo Wi kita berangkat...nggak usah pakai mukul-mukul orang!!.” Rasa sakit di hati Keinara, mengajaknya untuk tak berlama-lama melihat sosok Fakhri.
“Kamu yang bawa mobilnya, aku ngantuk banget inih....”
Tanpa menunggu jawaban sahabatnya, Dewi melempar kunci mobil ke Keinara. Terpaksa Keinara menuruti permintaan orang yang telah melatihnya mengendarai mobil. Sebentar gadis itu melirik Fakhri yang ternyata masih berdiri di tempatnya, sebelum masuk dan duduk di balik kemudi.
“Mau jadi patung tuh orang....” Ujar Dewi ketika melewati Fakhri yang masih berdiri di tempatnya.
”Hadeh...ini lagi, ngapain sih nangis. Ingat lagi bawa mobil. Jangan sampai kamu bikin aku gagal nikah lho!!!.” Tambah Dewi ketika tak sengaja melihat mata sahabatnya berkaca-kaca.
“Siapa yang nangis sih Wi....”
“Ya udah kalau nggak mau ngaku. Aku mau tidur bentar. Kamu fokus jangan sampai kita gagal sidang.”
Pembuatan skripsi kedua gadis itu memang hampir selesai. Dan hari ini mereka akan melaksanakan sidang skripsi.
“Fokus...Fokus....” Batin Keinara, mengingatkan dirinya. Karena pikiran gadis itu sempat terfokus pada pria yang masih berstatus sebagi kekasihnya itu.
Sementara Fakhri yang semalam kurang tidur karena diganggu oleh bayangan wajah Keinara, memilih pergi menuju kerumah kakaknya setelah menyelesaikan pekerjaannya. Bukan untuk menemui kakaknya, tapi untuk menemui Keinara. Namun begitu sampai didepan rumah kakaknya, kakinya terasa berat untuk melangkah kerumah Keinara, yang tinggal beberapa langkah lagi dari tempatnya berdiri.
Merasa tak punya muka setelah apa yang ia lakukan pada Keinara, benar-benar membuat Fakhri semakin ragu untuk menemui gadis itu. Ia hanya ingin minta maaf dan mengatakan tentang yang sebenarnya terjadi dengan dirinya, pada gadis yang sekarang selalu ada dipikirannya itu. Meski ia sendiri tak yakin akan memperolehnya maaf dari keinara.
Mata Fakhri seketika berbinar, ketika melihat Keinara dan gadis yang kemarin berani menamparnya muncul dari dalam rumah. Kakinya hampir melangkah , namun langsung terhenti, ketika melihat tatapan Keinara penuh kebencian kepadanya.
Fakhri melepas begitu saja kesempatan bertemu dengan Keinara. Karena gadis itu dan sahabatnya pergi berlalu. Tapi dia masih diberi kesempatan untuk melihat wajah Keinara, ketika mobil yang Keinara kendarai melintas di depannya.
Merasa tak ada yang bisa ia lakukan di tempat itu, Fakhri masuk kedalam mobil. Namun tak langsung beranjak pergi. Pria berparas tampan itu tampak termenung, dengan mata mengarah ke halaman rumah Keinara. Saat sebuah bayangan peristiwa yang pernah terjadi di tempat itu melintas di benaknya. Bayangan yang tidak begitu jelas terlihat, namun pria itu yakin itu adalah bayangan Keinara dan dirinya.
Semenjak melihat wajah Keinara yang tampak begitu terluka, potongan-potongan peristiwa yang dialami sebelum mengalami kecelakaan, mulai bermunculan di benak Fakhri. Meski hanya muncul dalam hitungan detik dan hanya berupa siluet.
Beberapa saat sang CEO bertahan di posisinya. Di lima menit berikutnya, iapun akhirnya beranjak. Melajukan kendaraannya kembali menuju gedung perusahaan yang di pimpinnya.
“Bela.....?!” Gumam Fakhri . Bukan lupa tempat parkir membuat Fakhri memilih memutar kembali mobilnya, tapi karena ia merasa malas bertemu Bela yang tengah melangkah masuk ke dalam kantornya.
__ADS_1
Kafe menjadi tujuannya sekarang. Untuk mengulur waktu tentunya. Di akan kembali kekantor setelah Bela pergi. Kedatangan Bela bisa dipastikan, untuk meminta penjelasan Fakhri tentang kejadian yang terjadi kemarin. Sementara Fakhri enggan membicarakannya.