Cinta Keinara

Cinta Keinara
Duka Keinara


__ADS_3

Keinara berkali kali membuka ponselnya, berharap ada pesan atau panggilan telfon dari kekasihnya. Tapi dari siang sampai malam tak ada satupun pesan atau panggilan dari Fakhri. Bahkan pesannya tak berbalas. Diapun mencoba menghubungi melalui Vidio call, tapi nomer Fakhri tidak aktif. Keinara merasa gelisah, ada perasaan khawatir dan tak enak dihatinya. Hingga pagi menjelang, Keinara tak kunjung mendapat kabar dari Fakhri.


Setelah solat subuh, Keinara membuka kembali ponselnya. Ada sebuah pesan dan panggilan tak terjawab di


ponselnya. Tapi bukan dari Fakhri, melainkan dari Rangga, asistean Fakhri. Keinara membuka pesan tersebut dan membacanya dengan seksama


“Mbak Keinara, Pak Fakhri mengalami kecelakaan, sewaktu pulang dari luar kota. Kejadiannya kemarin sekitar jam sepuluh. Kondisinya kritis. Sekarang sedang dirawat diruang ICU rumah sakit Bina Sejahtera. Maaf ,saya baru sempat mengabari ”


Seketika tubuh Keinara meluruh. Buliran-buliran bening mengalir dari kedua sudut matanya. Dari isak berubah menjadi tangisan histeris, membuat seisi rumah kaget dan berlari menghampirinya.


“Kei...ada apa?.”  Tanya Diva yang kemudian memeluknya.


Keinara terus menangis dengan menyebut nama Fakhri. Tuan rumah dan teman-teman Keinara tampak bingung dan khawatir. Mereka mencoba menenangkan gadis itu. Dengan terbata-bata keinara menceritakan apa yang telah terjadi pada Fakhri.


“Innalillahi wa innailaihi roji’un”  Ucap orang-orang yang ada diruangan itu serempak.


“Tenang Kei, mas Fakhri pasti akan sembuh. Kamu bantu dia dengan doa ya. Jangan terus kamu tangisi. Yang mas


Fakhri harapkan sekarang adalah doa, agar dia bisa melewati masa kritisnya.” Ucap pak Budi.


“Iya mbak. Berdoalah, mintalah perlindungan kepada Alloh untuk mas Fakhri.” Tambah bu Lina.


Ucapan Pak Budi dan istrinya, menyentuh hati gadis yang tengah berlinang air mata itu. Sebisanya ia mencoba


menenangkan dirinya dengan  kalimat itighfar keluar dari bibirnya berkali-kali.


“Yuk, kita semua juga ikut mendoakan mas Fakhri. Ambil wudlu dan Al Qur’an. Kita baca Al Qur’an bersama-sama.” Ajak pak Budi.


Semua penghuni rumah  berkumpul di ruang tengah. Berdoa untuk kesembuhan Fakhri.


Selesai berdoa. Keinara menghubungi Dewi sahabatnya.Dewi memang tidak satu kelompok dengannya. Dewi


berada di desa sebelah. Keinara menceritakan kejadian yang menimpa Fakhri. Keinara meminta Dewi untuk menemaninya menjenguk Fakhri.


“Iya Kei, aku akan menemani kamu. Kebetulan mas Beni juga mau kesini. Nanti kita minta dia mengantar kita.


Kamu yang sabar ya, Mas Fakhri pasti akan baik-baik saja” Dewi menguatkan sahabatnya melalui sambungan telepon.


Jam sepuluh siang Dewi dan Beni datang. Tangis Keinara kembali pecah, saat Dewi memeluknya.


“Sudah..Kei.jangan menagis lagi. Kamu harus kuat demi mas Fakhri. Dia butuh kekuatan darimu. kita


berangkat sekarang.“


Tak henti-henti Dewi menyemangati sahabatnya yang tampak lunglai karena kesedihannya.tengah di rawat. Sapanjang perjalanan Keinara gelisah, matanya sesekali meneteskan air mata. Wajah Fakhri dan kebersamaannya dengan pria itu di hari sebelumnya membayang di pelupuk matanya. Tak menyangka kebahagiaan itu kini berganti


kesedihan yang teramat dalam.


Cincin pemberian Fakhri, yang melingkar di jari manisnya menjdi saksi kesedihannya. Sesekali Keinara mengecup


benda bertahtakan berlian itu.Diringi air mata yang mengalir deras dari sudut matanya.


Empat jam perjalanan begitu menyiksa perasaan Keinara. Gadis itu merasa tak sabar ingin melihat sosok


kekasihnya.Maka begitu sampai, Keinara langsung berlari menyusuri lorong rumah sakit. Dewi dan Beni mengikutinya dari belakang. Mereka menuju meja resepsionis, untuk menanyakan letak ruang ICU. Setelah mendapat penjelasan dari petugas, mereka kemudian menuju ke ruang ICU sesuai arahan petugas . Begitu


sampai didepan ruang ICU, Keinara melihat ada dua perempuan yang tengah duduk di depan ruangan itu. Satu diantaranya Keinara kenal. Perempuan yang berumur sekitar tiga puluh tahuanan itu adalah bundanya Cinta, Fahira.  Fahira seketika merasa keget melihat Keinara..

__ADS_1


“Keinara...” Pekiknya, membuat persmpuan  paruh baya  yang ada disampingnya  menoleh kearah ketiga orang yang baru saja datang.


“Mbak Fahira?” Keinara mendekati Fahira, kemudian menyalami kedua orang tersebut.


“Ini ibuku, ibunya Fakhri juga.....Bunda, ini Keinara  yang suka  main sama Cinta.”


Keinara mengangguk sopan ke arah bu Talia. Di ikuti Beni dan Dewi.


Bu Talia tersnyum mengangguk. Tampak jelas gurat kesedihan yang begitu dalam di wajah perempuan itu.


“Bagaimana kondisi mas Fakhri mbak”  Tanya Keinara dengan mata yang mulai mengembun.


“Dia masih kritis Kei....” Jawab Fahira lemah.


Tubuh Keinara seolah kehilangan tulang-tulangnya. Namun gadis itu berusaha untuk tetap berdiri.  Karena ia berjanji akan tetap kuat demi kekasihnya yang tengah berada di batas antara hidup dan mati.


“Duduklah nak....”  Tiba-tiba bu Talia menyuruh Keinara untuk duduk di sebelahnya.


”Jadi kamu yang benama Keinara?.”  Tanya bu Talia yang dibalas anggukan oleh Keinara yang terus terisak.


”Fakhri banyak cerita tentang kamu, dan tentang hubungan kalian. Kamu begitu cantik, pantas dia sangat


tergila gila sama kamu.”  Ucap bu Talia mengenang bagaimana putranya bercerita tentang sosok Keinara padanya. dan bagaimana putranya mengungkapkan keinginannya untuk segera menikahi Keinara.


Wajah Keinara semakin menunduk mendengar pujian dari calon mertuanya.


”Kamu ingin melihat Fakhri?.” Tanya bu Talia lagi.


“Iya tante, ijinkan saya menjenguknya tan.”  Pinta Keinara penuh harap mendapat ijin dari wanita yang memiliki bentuk mata dan dagu yang sangat mirip dengan Fakhri.


“Sekarang bukan jam besuk pasien, Jadi kamu belum bisa menjenguknya. Kamu hanya bisa melihat dari luar,


Wanita paruh baya itu mengerti benar bagaiman perasaan Keinara. Karena dari mata gadis itu bu Talia bisa


melihat, kalau Keinara juga sangat mencintai putranya.


“Iya tante tidak apa-apa, yang penting saya bisa melihat kondisi mas Fakhri.”


Bu Talia meminta Fahira untk menemui suster, agar membuka gorden yang menutupi kaca ruang ICU tempat Fakhri


berada. Beberapa saat kemudian gordenpun terbuka. Jelas terpampang di mata Keinara, tubuh Fakhri terbaring tak berdaya. Dengan banyak peralatan medis yang terpasang ditubuhnya. Kepala dan leher terbungkus benda berwarna putih . Air mata Keinara kembali meluruh, dibarengi isak yang semakin keras, dadanya terasa sesak. Pemandangan itu begitu menyakitkan hatinya. Dewi mencoba menenangkan sahabatnya dengan memeluknya. Namun tak berapa lama tangis keinara berhenti. Gadis itu terdiam di barengi dengan tubuhnya yang terus turun . Keinara pingsan. Membuat orang-orang yang bersamanya terkejut dan panik.Dewi sekuat tenaganya menahan tubuh Keinara sehingga tubuh gadis itu tidak sampai terjatuh kelantai.


“Kei...bangun Kei...” Dewi mencoba menggerakkan tubuh Keinara, tapi tak ada respon.


“Bawa dia ke UGD “   Perintah bu Talia.


Beni memanggil perawat. Dengan menggunakan brankar dorong, tubuh Keinara dibawa ke ruang UGD. Keinara segera ditangani oleh para perawat. Setelah diperiksa, Keinara tidak mengalami hal-hal serius. Dia hanya mengalami shock yang berlebihan. Jadi dia tidak diberi infus, hanya dibiarkan istirahat. Agar jiwanya kembali tenang.


Dewi kembali keruang UGD ketika diberi tau kalau Keinara sadar dari pingsannya.


“Kei kamu sudah sadar?.”  Ucap Dewi melihat sahabatnya tampak telah membuka mata.


Keinara mengangguak ”Aku dimana Wi?.”


“Kamu tadi pingsan, jadi kami bawa kamu kesini, ruang UGD. Kamu enggak apa-apa kan?.”


“Aku tidak apa-apa. Mas Fakhri gimana, apa sudah sadar?”

__ADS_1


“Ehmm...saya tidak tau, sayakan disini dari tadi nemenin kamu. Lebih baik kamu istirahat, tenangkan


hati dan pikiran kamu dulu.”


“Aku ingin jenguk mas Fakhri Wi, antar aku kesana.”


“Kei..tubuhmu masih lemas, istirahatlah dulu. Nanti kalau kamu sudah baikan pasti kita  kesana.”


“Tapi Wi...”


“Kei jangan memaksakan diri, nanti kamu malah ikutan sakit. Istirahat dan berdoalah untuk mas Fakhri. Oke..”


Keinara akhirnya menuruti ucapan shabatanya itu dan meminum air yang Dewi berikan. Kebersamaannya dengan


Fakhri, muncul silih berganti di pikirannya. Dia sangat takut kebersamannya di tempat KKN menjadi kebersamaan terakhirnya dengan Fakhri. Namun dia mencoba menepis semua ketakutannya. Dia mencoba menguatkan dirinya,agar bisa terus mendampingi Fakhrinya sampai sembuh.


“Wi, aku sudah mendingan, temani aku ke mushola ya.”


“Iya ayuk, tapi kamu bener dah kuat untuk jalan?.”


“Inn Syaa Alloh aku kuat Wi.”


Keduanya menuju kemusola rumah sakit untuk  melaksanakan solat duhur. Selesai solat Keinara berdoa dengan deraian air mata, meminta kepada sang pencipta untuk kesembuhan Fakhri. Begitu lama dia berdoa, hingga tak menyadari kalau Fahira dan bu Talia juga berdoa di sebelahnya. Kainara mengakhiri doanyanya dengan bersujud dan mengusap wajahnya. Keinara mencari keberadaan Dewi, tapi yang dilihat adalah Fahira dan bu Talia yang sedang berdoa dengan khusyuk. Keinara keluar dari mushola, dan mengajak Dewi yang sedang menunggunya


di teras mushola untuk pergi keruang ICU.


Di depan ruang ICU tampak  Beni sedang bebincang dengan seorang pria paruh baya, yang ternyata ayahnya Fakhri. Seorang dokter keluar dari ruangan Fakhri. Keinara bergegas mendekat, agar dia bisa mengetahui kondisi Fakhri dari dokter itu.


“Alkhamdulillah,,,pasien sudah melewati masa kritisnya.“  Ucap dokter yang menangani Fakhri.


“Alkhamdulillah...” Pak surya dan yang lainnya merasa lega setidaknya untuk saat ini.


“Dok...apakah boleh saya menjenguk pasien?”


tiba-tiba Keinara menyela.Mengagetkan Pak Surya yang baru pernah melihat Keinara.


“Anda keluarganya juga??” tanya dokter


“Ehmmm...” Keinara bingung harus menjawab apa.


“Iya...dia keponakan saya.”  bu Talia menjawab, yang di balas tatapan kaget oleh suaminya.


“Oh ya...silahkan. Tapi sebentar saja. Karena pasien harus banyak istirahat”


Keinara mengangguk. Ia kemudian masuk keruang ICU tapi seblumnya ia meminta izin pada keluarga Fakhri.


Dengan menggunakan baju steril yang di sediakan diruangan itu. Pelan tapi pasti, Keinara mendekati Fakhri. Hatinya begitu sakit melihat kondisi kekasihnya. Ia mengegenggam tangan Fakhri, yang terdapat beberapa alat medis menempel dijarinya.


“Mas...apa yang terjadi sama kamu. Kenapa kamu jadi seperti ini.Jangan buat aku khawatir mas.Aku tidak sanggup


melihatmu begini. Bangunlah mas... aku takut kehilangan kamu ,aku sangat mencintaimu mas. Ayo bangun mas demi aku. Bangun massss....bangun....hik..hik....”


Keinara kembali terisak. Air matanya membasahi tangan Fakhri


”Jika kau tak menemuiku pasti kamu akan baik-baik saja” Keinara makin terisak.Ada penyesalan dalam hatinya.


Sesaat kemudian gadis itu mengusap air matanya. Mencoba menguatkan dirinya untuk bisa menguatkan kekasihnya.

__ADS_1


“Mas kamu harus kuat melewati ini semua. Agar kita bisa bersama-sama lagi. Aku janji setelah kamu sembuh, aku akan selalu ada disisimu. Aku tidak akan menolak lagi  keinginanmu menjadikanku istrimu. Kapanpun kamu mu aku bersedia.Tapi kamu harus janji untuk segera bangun.” Fakhri tak bergeming, Dia tetap diam tak berdaya dalam komanya. Keinara mengecup tangan Fakhri berkali-kali, menggengam erat tangannya untuk memberikan kekuatan cintanya. Lelehan airmata tak kunjung berhenti mengalir dengan isak yang ditahan.


Setelah hampir sepuluh menit, suster jaga memintanya untuk segera kaluar. Dengan alasan pasien harus istirahat. Berat bagi gadis itu beranjak dari sisi kekasihnya. Ingin rasanya ia menemani kekasihnya sampai kekasihnya membuka mata. Namun ia tak bisa melakukannya.


__ADS_2