
Keinara masih duduk termangu dengan perasaan yang campur aduk. Meraba hati mencari pembenaran atas apa yang telah ia putuskan dan menolak untuk menyesal. Sementara pikirannya masih tertuju pada Fakhri. Ada pertentangan di batin gadis itu. Antara menjauhi pria itu atau membiarkannya tetap ada dalam kehidupannya dan
menciptakan kekecewaan-kekecewaan selanjutnya. Hati gadis itu gundah. Tak mengerti dengan keinginan hatinya.
Keinara memejamkan matanya, mencoba meresapi hati dan pikirannya yang dirasa tak sejalan. Namun bayangan wajah Fakhri muncul di pelupuk matanya. Sejenak ia membiarkan bayang Fakhri mencipta senyum di sudut bibirnya, tapi itu hanya sejenak. Karena senyum itu kemudian raib, berganti dengan gurat-gurat kekecewaan di wajah gadis itu. Sebuah nafas berat lolos dari bibr Keinara membuang sesak didadanya.
Ditengah lamunannya tiba-tiba hujan turun dengan deras. Tak memberi kesempatan pada Keinara untuk mencari tempat berteduh yang lebih luas. Keinara hanya mampu menghindari air hujan dengan berdiri merapat pada meja gasebo. Dengan berdiri bersedekap Keinara menunggu hujan mereda, membiarkan pakaian bagian belakangnya
basah. Hujan makin deras, dan angin kencang mulai datang. Tiba-tiba ia merasa ada seseorang yang memayunginya dari belakang. Saat dia berbalik, dilihatnya Fakhri sedang berdiri dibelakangnya sambil memegang payung yang menhalangi air hujan mengenai tubuhnya.. Sementara sebagian tubuh Fakhri basah terkena air hujan.
“Mas Fakhri...” Panggil Kei ditengah kekagetannya.
“Hujannya makin besar Kei, ikutlah denganku. Aku antar kamu pulang. Kali ini tolong turuti permintaanku. Cuaca ini tak baik untuk kesehatanmu.”
Meski kehadirannya smungkin udah tak diharapkan oleh Keinara, tetapi Fakhri masih tetap memberi perhatian pada gadis itu. Menimbulkan getar di hati Keinara.
Tak ada pilihan lain, karena angin yang makin kencang dan hujan yang tak kunjung reda. Keinara akhirnya menuruti keinginan Fakhri untuk pulang bersamanya.
Keduanya meninggalkan tempat itu, di bawah satu payung. Menciptakan debaran hebat di jantung keduanya, diposisi tubuh yang begitu dekat.
Sesaat kemudian keduanya telah berada didalam mobil. Sebagian tubuh Fakhri basah oleh air hujan.
Keinara mengambil sapu tangan dari dalam tasnya. Tanpa melihat wajah Fakhri dan tanpa bersuara, ia memberikan sapu tangannya pada Fakhri.
Sejenak Fakhri tertegun melihat Keinara memberinya sapu tangan. Fakhri berpikir untuk menolaknya.
“Tidak usah Kei, simpan saja.”
“Ambillah, meski hanya cukup untuk mengeringkan wajahmu. Anggap ini sebagai ucapan terima kasihku karena sudah memayungiku, meski mungkin tak sebanding.” Balas Keinara lagi-lagi tanpa menatap lawan bicaranya dan tangannya masih terulur ke arah Fakhri.
Fakhri lalu mengeringkan wajah dan tangannya dengan sapu tangan dari Keinara.
Tanpa sepatah kata, Fakhri melajukan mobilnya di tengah hujan yang makin deras. Sepanjang perjalanan keduanya saling diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga mobil yang ditumpangi keduanya sampai didepan rumah kost Keinara. Hujan telah mereda. Sebelum Kei turun, ia menyempatkan berbicara pada Fakhri.
“Terima kasih,sudah mengantarku pulang.”
Fakhri mengangguk dan tersenyum. Lagi-lagi tanpa sepatah kata sampai Keinara turun dari mobilnya. Dia tak kuasa berucap, karena sibuk menata hati yang seolah pecah berkeping-keping.
Fakhri kembali menginjak gas kendaraannya, meninggalkan Keinara yang masih berdiri di tepi jalan. Menatap kepergian Fakhri sampai mobil pria itu tak nampak lagi. Ada kesedihan yang menghujam batin gadis itu. Mengingat apa yang baru ia lewati adalah kebersaamaan terakhirnya dengan Fakhri. Esok dan seterusnya mereka bukan
lagi teman, sesuai keinginannya. Sebuah nafas panjang lolos dari hidung mungil gadis itu, saat dadanya makin terasa sesak.
Rasa yang sama juga di alami oleh Fakhri yang tengah duduk di balik kemudi mobilnya. Kenangan bersama Keinara muncul dalam ingatan pria itu. Dia juga teringat bagaimana manisnya bibir Keinara saat ia menciumnya dengan paksa. Ciuman yang menyebabkan dirinya kini harus menjauh dari gadis itu. Fakhri kembali meruntuki
kebodohannya. Jika ia tak melakukan hal bodoh itu, tentu ia punya kesempatan untuk mendapatkan hati Keinara, tapi semua sudah terjadi. Menyesalpun sudah tak ada artinya. Benar kata Rangga, cintanya layu sebelum berkembang.
Fakhri bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terkena air hujan, bercampur keringat. Fakhri merendam tubuhnya dengan air hangat di bathtub. Pikirannya kembali melayang ke peristiwa yang beberapa saat
lalu ia alami. Masih tak menyangka, Keinara sampai semarah itu padanya. Sehingga memintanya untuk menjauh.
Fakhri meluapkan penyesalannya dengan memukul air yang merendam tubuh polosnya.
__ADS_1
“Bodoh...bodoh....bodoh....akhh.....!!!.” Teriak Fakhri,menyesali kebodohannya.
Hampir tiga puluh menit, pria itu berada di kamar mandi. Sebelum akhirnya ia mengaakhiri ritual mandinya . Fakhri memilih membaringkan tubuhnya yang terasa lemas, setelah berganti pakaian. Dibalik selimut tebal, pria itu akhirnya terlelap.
Di sisi lain kota Jakarta.
Keinara dan ketiga temannya menikmati senja di teras rumah dengan semangkok baso yang di beli tukang baso keliling langganan mereka.
Dari kejauhan tampak teman kecil mereka ,Cinta tengah berjalan bersama ibunya memasuki halaman. Keinara menyambut kedatangan Cinta dengan memeluknya.
“Maaf ya tante-tante ...Cinta ganggu.” Ucap Ibunya Cinta.
“Enggak ganggu kok bunda, malah seneng. Kalau ada Cinta rumah jadi rame.” Jawab Klara.
“Sebenarnya tadi mau saya ajak ke rumah omanya, tapi dia tidak mau. Mintanya malah kesini.”
“Oh....kenapa nggak mau ikut ke rumah oma Cint...?.” Tanya Keinara pada Cinta yang duduk manis di pangkuannya.
“Ah...males tante. Om Fakhli lagi sakit, jadi enggak ada yang nemenin main.”
“uhuk...uhuk.....” Keinara tiba tersedak saat sedang minum, mendengar Fakhri sakit.
“Sabar Kei minumnya, enggak ada yang bakal minta....he...he....” Celetuk Mita.
“Kamu enngak apa-apa kan Kei?.” Tanya Fahira melihat keinara masih batuk-batuk setelah tersedak.
“Enggak apa-apa kok bun he..he....” Jawab Keinara di sela batuknya.
“Kalau begitu, saya nitip Cinta di sini ya. Saya harus nemein suami saya ngecek kondisi omnya Cinta yang lagi sakit. Gimana, kalian tidak keberatan kan?.”
“Aamiin....ya sudah saya pergi dulu ya. Cinta jangan nakal lho....”
“Iya bunda....” Jawab Cinta.
Fakhira bergegas pergi, karena suaminya yang seorang dokter sedang menunggunya, untuk mengecek kondisi Fakhri.
Mendengar Fakhri sakit, hati Keinara menjadi gelisah. Ia merasa Fakhri baik-baik saja saat mereka bertemu tadi siang.
“Apa karena kehujanan tadi siang, Mas Fakhri jadi sakit?.” Pikir Keinara menerka-nerka.
Keinara larut dengan pikirannya tentang Fakhri. Fakhri sakit apa?. Kondisi Fakhri bagiamana?.
Parahkah sakitnya Fakhri?. Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di otak Keinara .
Rasa iba menyeruak dalam benak gadis itu. Apalagi Fakhri Kehujanan karena membantunya agar dirinya tidak kehujanan. Lama gadis itu terdiam, tak sadar jika Cinta meanggilnya.
“Tante Keinara....!!!.” teriak Cinta tepat di depan telinga Keinara.
“Aw.....aw.....Cinta.....tante kaget tau.” Ucap Keinara sembari memegangi telinganya.
Sementara Cinta malah tertawa keras.
__ADS_1
“Makanya jangan bengong....” Mita menimpali.
“He..he..maaf.” Balas Keinara gerogi.
“Sebentar lagi magrib, masuk yuk ?!.” Tambah Keinara.
Mereka berempat kemudian masuk kedalam rumah, sesaat kemudian adzan magrib berkumandang.
Jarum pendek jam dinding di kamar Keinara bertengger di angka sembilan. Tapi belum ada tanda-tanda Fahira menjemput anaknya. Sementara Cinta telah tertidur karena kelelahan.
Setengah jam kemudian Fahira dan suaminya Dimas datang untuk menjemput anaknya.
“Maaf Kei, kami baru bisa menjemput Cinta. Karena tadi harus membawa Fakhri kerumah sakit dulu.” Ucap Fahira menjelaskan alasan keterlambatannya.
Keinara menunjukan ekspresi kaget di barengi rasa penasaran mendengar Fakhri masuk rumah sakit.
“Pak Fakhri sakit apa bun, kok sampai di bawa kerumah sakit?.”
Keinara memberanikan diri bertanya, karena didesak oleh rasa penasaran dalam hatinya.
“Hanya demam, Cuma tadi demamnya sangat tinggi. Karena bunda sangat khawatir, jadi Fakhri terpaksa di rawat di rumah sakit. Dia biasa seperti itu, kalau kehujanan. Makanya sejak kecil ia dilarang bunda hujan-hujanan.
Tubuhnya alergi sama air hujan.”
“Oh....kasihan sekali. Semoga pak Fakhri segera sembuh.” Ujar keinara.
“Aamin. Cinta mana Kei?.” Tanya Fahira sembari mencari keberadaan anaknya.
“Cinta di kamar saya bun.” Jawab Keinara menunjuk ke arah kamarnya.
“Mas yang angkat Cinta ya...” Perintah Fahira pada Dimas suaminya.
Dimas mengangguk. “Saya permisi masuk ke kamar ya mbak Kei?.” Ucap Dimas meminta ijin
“Oh ya pak, silahkan.”
Dimas masuk kedalam kamar Keinara, di temani istrinya. Sementara Keinara memperhatikan dari depan pintu.
“Yang lain sudah pada tidur ya Kei?.” Tanya Fahira karena tak melihat klara dan lainnya.
“Mereka sudah pada tidur bun.”
“Oh.....maaf ya, kamu jadi belum tidur karena nungguin kami.”
“Iya tidak apa-apa bun, lagian aku juga belum ngantuk.”
Fahira dan suaminya permisi pulang, dengan menggendong Cinta yang tertidur pulas.
“Terima kasih ya mbak Kei, sudah jagain Cinta.” Ucap Dimas saat sampai di luar pintu rumah Keinara.
“Sama-sama Pak Dimas.”
__ADS_1
Keinara meutup pintu dan menguncinya ketika Cinta dan orang tuanya telah benar-benar pergi.
“Mas Fakhri sakit karena Kehujanan?. Ya Alloh....kasihan sekali dia. Demi aku dia mengorbankan kesehatannya. Apa itu bentuk rasa cintanya padaku? Aakh.....entahlah.” Keinara menutup wajahnya dengan bantal, saat muncul pertanyaan itu di otaknya.