
Keinara duuduk gelisah di dalam kamarnya. Jarinya tampak sedang mencari-cari nomor ponsel Fakhri di daftar kontak ponsel miliknya. Namun yang di cari tak kunjung ia temukan, karena nomor itu telah ia hapus.
Gadis itu kemudian melempar ponselnya ke atas kasur, gusar. Ia ingin sekali berbicara dengan pemilik nomor yang sudah ia hapus itu. Sekarang ia bingung bagaimana cara bisa bicara dengannya. Ia hanya ingin mengucapkan
terima kasih karena sudah membiayai perawatannya selama di rumah sakit. Dan juga ingin minta maaf atas sikapnya satu bulan yang lalu.
Setelah hari dimana Fakhri menolong Keinara saat kecelakaan, sampai Keinara keluar rumah sakit satu hari yang lalu, pria itu tak pernah menemui Keinara lagi. Dan itu menimbulkan tanda tanya besar di hati Keinara. Apa
yang dilakukan Fakhri padanya, apakah hanya karena rasa kemanusiaan semata atau karena rasa cinta seperti yang pernah Fakhri ucapkan.
Tapi apapun alasannya, Keinara merasa perlu untuk mengucapkan rasa terima kasihnya pada pria itu. Keinara terus berpikir bagaimana caranya agar ia bisa menemui Fakhri. Untuk pergi ke kantor Fakhri ia merasa tak punya nyali dan juga takut mengganggu pekerjaan pria itu. Akhirnya ia memberanikan diri meminta nomor Fakhri pada Rangga.
Keinara menunggu pesan balasan dari Rangga, tapi sudah hampir satu jam semenjak ia mengirimkan pesan, pesan balasan dari Rangga tak kunjung datang. Gadis itu akhirnya memilih menyimpan ponselnya, karena rasa
kantuk menyerang. Efek dari obat yang ia minum setengah jam yang lalu setelah makan siang.
Keinara terbangun saat waktu beranjak sore. Ia teringat bahwa dia sedang menunggu balasan dari Rangga. Gadis itu kecewa saat tau pesan yang di kirimnya hanya tercentang biru, tanpa ada balasan.
“Mungkin Pak Rangga lagi sibuk. Jadi enggak sempat balas.” Pikir Keinara menghibur diri.
Keinara menyimpan kembali ponselnya. Dan masuk ke kamar mandi.
Fakhri yang sedang duduk di kursi kebesarannya,mendorong punggungnya ke sandaran kursi. Sebuah nafas panjang keluar dari mulutnya. Tanda ia lelah. Lelah dengan pekerjaan yang telah menguras tenaga dan pikirannya.
Empat hari dirinya harus memforsir tubuh dan pikirannya, untuk mengurus proyek barunya di Jepang. Sehingga ia harus berada di negara itu dan tidak bisa mengunjungi pujaan hatinya yang sedang terbaring di rumah sakit setelah kecelakaan. Untungnya ia memiliki orang-orang yang dapat dipercaya untuk mengurus proyeknya di negara itu, jadi ia tak harus berlama-lama berada di sana.
Sebenarnya ia ingin menjenguk Keinara di jam makan siang. Tapi ia urungkan. Saat Rangga menunjukkan sebuah pesan dari Keinara yang meminta nomor ponsel Fakhri. Sebenarnya Fakhri bisa saja langsung menghubungi Keinara, karena ia masih menyiman nomor gadis itu. Tapi ia ingin bermain sebentar dengan Keinara, karena gadis
itu telah berani menghapus nomor ponselnya. Fakhri melarang Rangga untuk memberikan nomor ponselnya ke Keinara. Biarkan Keinara memintanya sendiri langsung kepadanya.
Fakhri tau apa tujuan Keinara meminta nomor ponselnya. Pasti ada hubungannya dengan biaya rumah sakit yang ia keluarkan.
“Maaf ya Kei, aku kerjain kamu.” Gumam Fakhri dengan senyum di bibirnya. Demi keisengannya itu Fakhri menyingkirkan rasa rindunya pada gadis itu. Fakhri memang masih merindukan Keinara. Kalau sebulan terakhir ia
mengabaikan rasa rindunya itu, maka kali ini ia akan menyimpannya sejenak. Karena esok atau lusa ia akan menemui gadis itu untuk mengobati kerinduannya.
Hari hampir petang, Fakhri telah berada dirumahnya. Merilekskan badannya dengan berendam di bathtub. Ia baru selesai ketika magrib.
Jam tujuh malam, Fakhri telah di jemput Rangga. Mereka akan makan malam di sebuah restoran bersama klien. Setelah pamit dengan orang tuanya, Fakhri dan Rangga melajukan kendaraannya.
Saat di pintu masuk, Fakhri bertemu dengan Devan yang sepertinya sedang menunggu seseorang.
“Hei Van, ngapain kamu di sini?.” Fakhri merasa penasaran dengan keberadaan Devan yang sedang berdiri di depan pintu restoran.
“Hai Ri, ya mau makan lah...mau apa lagi!.”
“Kamu mau makan di depan pintu??.”
“Aku lagi nunggu seseorang.”
“Siapa? Pacar?.”
“Ehmmm lebih tepatnya calon pacar.” Ucap devan dengan senyum misterius.
“Sebentar lagi aku bakal bikin hatimu gosong Ri...he...he...” Ucap Devan dalam hatinya.
Devan tau sejak di pesta pernikahan Jonatan, kalau Fakhri dan Keinara memiliki rasa satu sama lain. Meski keduanya tidak berinteraksi lewat sikap, tapi tatapan kedua menjelaskan secara jelas pada dirinya. Devan memang sempat mengagumi Keinara, tapi ia memilih untuk sekedar mengagumi. Karena ia tidak mau pertemanannya dengan Fakhri rusak hanya gara- gara wanita.
“Nah itu dia orangnya...Masya Alloh cantiknya....”
Devan mengarahkan pandangannya ke halaman Restoran.Dimana seorang gadis sedang berjalan sendirian. Fakhri memutar badannya, untuk mengetahui siapa yang di maksud Devan. Mata Fakhri membulat ketika tau siapa yang sedang di tunggu Devan.
" Keinara makan malam dengan Devan?. Sejauh apa hubungan mereka ?." Tanya Fakhri dalam hatinya yang mulai diliputi rasa penasaran.
“Hei Kei....sini.” Teriak Devan memanggil Keinara yang sedang melangkah. Ketika sudah dekat Keinara terkejut saat ia melihat ada Fakhri dan Rangga bersama Devan.
“Mas Fakhri, Pak Rangga.....! di sini juga?.”
“Iya Kei, mereka berdua baru saja datang. Yuk Kei masuk....
Kami duluan ya. Kalau kalian mau gabung silahkan. Kami ada di ruang VIP.” Pamit Devan.
Sementara Fakhri masih tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Gadis yang ia cintai mau makan malam dengan temannya sendiri. Hatinya seperti gelas kaca yang di banting. Pecah berkeping-keping. Tapi ia berusaha
sabar, setelah Rangga mengingatkannya dengan mengusap punggungnya.
“Oh ya silahkan...kami juga sudah ditunggu.” Ucap Fakhri yang di buat lembut.
“Mari mas Fakhri dan pak Rangga.” Pamit Keinara sebelum akhirnya melenggang pergi bersama Devan.
Fakhri masih berdiri di tempatnya. Matanya masih menatap Keinara yang terus berlalu.
“Pak Fakhri....” Fakhri Baru bergeming saat ada suara memanggilnya.
Yang ternyata orang yang akan makan malam dengannya.
“Eh Pak Yanuar....apa kabar.”
__ADS_1
“Baik....mari silahkan. Saya sudah reservasi tempat.”
Fakhri dan Rangga mengikuti Yanuar menuju ke sebuah ruangan pribadi di Restoran itu.
Fakhri mencoba tenang di tengah kegundahan hatinya. Agar tak mengganggu acara makan dan diskusi dengan kliennya.
Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel Fakhri. Setelah di buka, ternyata Devan mengiriminya Foto Keinara yang sedang tersenyum.
“Manis banget kan senyumannya.” Tulis devan di bawah foto.
Tubuh Fakhri memanas. Tangannya mengepal . Lagi-lagi ia harus berusaha untuk tenang.
“Awas kamu devan...” Gumam Fakhri. Zang tau kalau Devan sengaja membuat kobaran api di hatinya.
Pria itu menyimpan ponselnya dan kembali fokus dengan kliennya. Satu jam kemudian Fakhri telah selesai dengan makan malamnya. Fakhri keluar ruangan setelah kliennya pamit terlebih dahulu. Fakhri kembali melihat Keinara. Kali ini gadis itu tidak hanya dengan Devan, tapi juga dengan Oma Ratna.
Ternyata Keinara tidak makan malam berdua dengan Devan saja, tapi juga dengan oma Ratna. Fakhri merasa telah di kerjai oleh Devan.
Fakhri dan Rangga begegas menghampri ketiga orang yang di lihatnya.
“Oma Ratna..!.” Panggil Fakhri. Pemilik nama dan dua orang
“Fakhri....” Ucap Oma Ratna.
“Apa kabar oma?.”
“Sehat...kamu di sini juga rupanya. Kalau tau sejak tadi kita bisa makan malam bersama.”
“Saya tidak tau oma disini, tadi Devan tidak bilang.”
Devan hanya tersenyum penuh misteri.Kelima orang itu melangkah keluar restoran. Keinara dan oma
Ratna berjalan paling depan.
“Kei...oma anterin kamu pulang ya.” Ucap oma Ratna.
“Makasih oma... saya pulang sendiri saja. Saya juga sudah pesan taksi, sebentar lagi taksinya datang. Oma langsung pulang saja.”
“Oh ya sudah kalau begitu. Kamu hati-hati ya.” Pesan Oma Ratna
“Iya oma, oma juga hati-hati.” Keinara membimbing Oma Ratna sampai masuk kedalam mobil.
Ternyata dia sudah punya pacar Ri, aku gagal jadiin dia calon istri.” Bisik Devan saat hendak menuju mobilnya, dimana omanya sudah menunggu. Devan lantas berlalu mendekati Keinara.
“Makasih ya Kei untuk malam ini.”
“Aku pamit dulu yah....”
Keinara mengangguk dan tersenyum.
“Hai bro aku duluan ya...tolong jagain bidadari yang satu ini, jangan sampai lecet. Kalau sampai lecet aku bakal bikin perhitungan sama kamu .......” Ucap Devan saat di depan pintu mobil.
Wajah keinara seketika berubah sperti udang rebus karena tersipu malu. Sementara wajah Fakhri memerah karena menahan kesal pada Devan.
Setelah moil Devan pergi.
“Mas Fakhri, pak Rangga saya duluan ya...” Keinara berpamitan karena taksi yang ditunggunya sudah datang.
Sebelum Fakhri bersuara, Rangga telah terlebih dulu berucap.
“Kei...kebetulan saya ada keperluan lain. Bagaimana kalau kamu pulang sama bos saya, dan taksi yang kamu pesan biar yang mengantar aku. Soalnya aku sedang buru-buru...gimana.”
Fakhri tau, kalau Rangga hanya sedang mengada-ngada . Tapi itu membuat dirinya senang. Fakhri memilih diam, ia ingin tau bagaimana respon Keinara, terhadap penawaran Rangga.
“Hemmm...silahkan pak Rangga pakai taksi saya saja nggak apa-apa, saya akan pesan lagi. ...” ucap Keinara.
Fakhri terkejut, Keinara tak memilih penawaran Rangga untuk pulang dengannya.
“Benar tidak apa-apa?.” Tanya Rangga.
“Iya pak tidak apa-apa.” Jawab Keinara sembari tersenyum.
“Makasih ya Kei. Saya pergi dulu.” Pamit Rangga pada Keinara. Lalu ia juga berpamitan pada bosnya.
“Saya duluan Pak Fakhri” Pamit Rangga pada bosnya sembari mengedipkan matanya.
Fakhri mengangguk mengiyakan dan mengerti maksud kedipan mata Rangga. Rangga kemudian melenggang pergi. Tinggalah Fakhri dan Keianra.
“ Mas Fakhri kalau mau duluan silahkan”. Ucap Keinara yang melihat Fakhri masih ditempatnya.
“Aku menunggu kamu.” Jawab Fakhri santai.
“Jangan menunggu saya. Takutnya saya masih lama. Ini juga baru mau pesen taksi. Mas Fakhri duluan aja.”
“Aku menunggu kamu masuk ke mobilku.”
“Hah...maksud mas Fakhri?.”
__ADS_1
“Aku antar kamu pulang,”
“Enggak usah mas...aku pulang pakai taksi saja.”
“Udah naik mobil aku saja. Kan bisa sekalian, barang kali kamu mau ngomong sesuatu sama aku. Jadi kamu nggak usah pakai nanya-nanya nomor ponselku ke orang”
Wajah Keinara kembali merona. Tapi langsung di tutupi dengan kedua tangannya. Fakhri hanya tertawa melihat tingkah gadis didepannya.
“Ih...mas Fakhri apaan sih...” Ucap Keinara dengan wajah yang masih merona.
“Udah yuk...” Ajak Fakhri yang tanpa sadar menarik pergelangan tangan Keinara.
Keinara akhirnya mengikuti kemana Fakhri membawa dirinya.
Fakhri membukakan pintu untuk Keinara. Setelah Keinara duduk di dalam mobil, Fakhri masuk kedalam mobil melalui pintu samping kemudi. Fakhri melajukan mobilnya, sementara gadis disampingnya masih menahan malu.
“Gimana jari kamu Kei...”. Tanya Fakhri
“Sudah lebih baik mas. Tinggal nunggu lukanya kering.”
“Oh Syukurlah... maaf ya, aku nggak nengokin kamu lagi. Lagi banyak banget kerjaan soalnya.”
“Ya mas enggak apa-apa.” Balas Keinara seraya tersenyum. Dengan lesung pipi yang menambah manis senyumannya.
“Ehmm....mas, makasih ya udah bayarin biaya rumah sakit aku. Inn Syaa Alloh akan segera saya ganti.”
“Iya sama-sama. Tapi kamu enggak usah mikir mau gantiin. Karena aku enggak mau terima.”
“Tapi mas.....”
“Kei...sudahlah nggak usah kamu pikirin soal biaya rumah sakit itu. Aku senang bisa membantu kamu.”
Keinara terdiam sejenak, tak tau mau ngomong apa lagi.
“Makasih ya mas...”
“Iya...cantik”
“Namaku Keinara bukan Cantik”
“Iya....Keinara Cantik...he..he...”
Keinara mencibirkan bibirnya “Memang susah ngomong sama kamu mas...”
Fakhri tertawa melihat ekspresi Keinara.
“Mas,...Aku
juga minta maaf, waktu itu sudah marah sama mas Fakhri.” Keinara berbicara dengan wajah tertunduk.
“Yang harusnya minta maaf itu aku Kei. Karena aku sudah berbuat sesuatu yang membuat kamu kesal dan marah. Aku benar-benar minta maaf Kei....”
Terasa begitu dalam ucapan Fakhri di telinga Keinara. Gadis berhijab itu terdiam tak langsung menjawab.
“Kei..kamu mau kan memaafkan aku?.”
Keinara tersenyum “Iya mas....aku memaafkan mas Fakhri.”
“Kamu memaafkan tulus atau karena aku telah menolongmu?.” Ucap Fakhri dengan senyum bahagia..
“Aku tulus mas, bukan karena hal itu.” .
“ Sekali lagi makasih Kei. Berarti mulai malam ini, kita berteman lagi seperti dulu ?.”
“Iya mas....”
“Sebenernya penginnya lebih dari teman Kei.” gumam Fakhri di batinnya.
“Oh ya ...ponsel kamu mana?.”
“Buat apa mas?.”
“Akan aku simpan nomerku di poselmu, Jadi kamu nggak perlu minta lagi sama Rangga. Tapi ingat jangan di hapus lagi.”
“Tergantung....kalau mas Fakhri ngeselin lagi ya aku hapus lagi.”
“Janji deh....nggak bikin kamu kesel lagi.” Ucap Fakhri meyakinkan.
Keinara menyerahkan ponselnya. Sesaat kemudian Fakhri mengembalikannya setelah berhasil menyiman nomor ponselnya.
Mata keinara sekektika membulat. Saat tau Fakhri menyimpan nomornya dengan nama “Ayang”.
“Mas Fakhri sudah ganti nama?.” Tanya Keinara berpura-pura polos.
“Iya....Jadi mulai sekarang kamu panggil aku ayang.”
“Hah......” Keinara menepuk dahinya, merasa salah pertanyaan.
__ADS_1
Fakhri tertawa merasa menang.