
Begitu bahagianya Fahira, mendengar adiknya telah sadar. Suaminya
sampai terbangun, mendengar suara kerasnya saat kabar itu ia dengar.
“Kamu mimpi apa sih bun? sampai teriak begitu. Bikin kaget
saja.” Gerutu Dimas yang merasa terganggu.
“Aku lagi nggak mimpi mas, ini nyata.” Jawaban Fahira membuat suaminya menyipitkan mata, tak mengerti maksud ucapan istrinya.
“Hah...ngomong apa si kamu.” Ucap Dimas sambil berlalu ke kamar mandi.
“Fakhri sudah sadar mas...!!.”
Dimas menghentikan langkahnya. Berbalik menatap istrinya.
“Tau darimana kamu?.”
“Mas Bagas tadi yang nelfon tadi.”
“oh...syukur Alkhamdulillah....Senang aku mendengarnya.”
“Kita tengokin Fakhri ya mas, besok.”
“Jangan besok, aku ada pasien rawat inap di rumah sakit yang harus aku tangani dan menjadi tanggung jawabku.”
“Terus kapan?.” Fahira menunjukan rasa kecewa pada suaminya.
“Dua atau tiga hari lagi!.”
Fahira memanyunkan bibirnya.
“Tuh bibir sepertinya butuh di kasih suplemen.”
Dimas melangkah cepat ke arah istrinya yang sudah lebih dulu menutup bibirnya dengan kedua telapak tangan. Tak ada rotan akarpun jadi begitulah pikiran Dimas, ketika tak dapatkan bibir ia memilih untuk meraih gunung kembar dibawah dagu istrinya. Dan dapat ditepak apa yang terjadi selanjutnya. Karena sebelum subuh suamiistri itu tampak terlihat segar dengan rambut yang masih basah.
Sementara di rumah yang ada di sebrang jalan rumah Fahira, seorang gadis tengah bersimpuh di atas sajadah. Melantunkan doa-doa untuk Cinta dan cita-citanya. Tangannya menengadah, matanya terpejam dengan lelehan cairan
bening di kedua pipinya.
Keinara mengakhiri doa dengan mengusap wajahnya, menyapu air mata yang masih ada disana. Tanpa melepas mukena, gadis itu mengambil beberapa buku yang merupakan buku referensi untuk pembuatan tugas akhir kuliahnya. Baru beberapa lembar ia membuka buku, bukan barisan huruf atau angka yang ia lihat tetapi wajah kekasihnya yang sedang
tersenyum.
“Mas Fakhri.....aku kangen mas.....”
Kembali, mata gadis itu terpejam. Merasakan beratnya menanggung rindu yang tak kunjung terobati.
Buku yang semula ingin di buka, akhirnya kembali ketempatnya semula. Karena Keinara memilih merenung dengan duduk bersandar di atas kasur, hingga terdengar kumandang adzan subuh.
“Tin....tin.....tiinn....”
Mendengar klakson mobil, Keinara yang sudah rapi bergegas keluar rumah. Dewi membawa sahabatnya menuju kampus, untuk kembali menemui dosen pembimbing, Yang sebelumnya sudah
membuat janji dengan mereka. Kebetulan dosen pembimbing mereka adalah orang yang sama.
Keinara bergegas keluar dari ruang dosen saat ponselnya berbunyi.
“Kak Devan...?.”
Timbul tanya ketika tau siapa yang menghubunginya.
“Assalmu’alaikum kak Devan.....”
“Wa’alaikumsalam key.....apa kabar?.”
“Alkhamdulillah sehat kak, ada apa yak kak...tiba-tiba
nelfon.”
“Ehmmm....ini key, oma sakit.”
“Oma sakit? Sakit apa kak. Sekarang kondisinya bagaimana?.”
“Darah tingginya kambuh, sekarang masih di rawat di rumah sakit. Kalau kamu tidak keberatan, aku minta kamu jenguk oma, karena oma minta ketemu sama kamu dari kemarin.”
__ADS_1
“Oh begitu ya kak. Ya udah kak Devan kirimi aja alamat rumah sakitnya. Nanti kalau urusan saya sudah selesai saya segera kesana.”
“Oh....jadi kamu mau menuruti keinginan oma?.”
“Iya Kak.”
“Oh oke....nanti aku kirim alamat rumah sakitnya. Makasih ya Kei..”
“Sama-sama kak....saya tutup telfonnya ya. Assalamu’alaikum!.”
“Wa’alaikumsalam.......Yes....!!!.”
Devan tak sadar suaranya masih terdengar di telinga Keinara.
“Yes....?.....maksudnya ?.” Keinara menekan tombol merah yang masih muncul di layar ponselnya, tak
peduli lagi dengan kata terakhir Devan. Sebelum akhirnya bergegas kembali keruang dosen.
Di depan kamar rawat sebuah rumah sakit, seorang pemuda sedang merasa telah melakukan sebuah kesalahan. Kesalahan yang melibatkan hatinya.
Tak seharusnya ia merasa begitu bahagia, setelah tau Keinara akan datang
menjenguk neneknya.
Pemuda itu mengacak rambutnya ketika menyadari bahwa ia telah memberi ruang untuk Keinara di hatinya. Keinara adalah milik temannya. Tak seharusnya ia menaruh hati pada gadis
itu.
Tak bisa dipungkiri lagi, jika sekarang dia punya rindu untuk gadis itu. Dan rasa rindu itu hadir begitu saja. Kini rasa itu menjadi alasan kenapa ia begitu bahagia saat Keinara akan datang. Meski sebenarnya kedatangan gadis itu bukan untuknya , melainkan untuk omanya yang sejak kemarin ingin bertemu dengan
Keinara.
Devan terhuyung Ketika kakinnya yang sudah terayun tak jadi menendang tempat sampah yang ada di depannya. Benda mati itu, hampir saja jadi korban kegundahan hatinya.
Sesaat devan terdiam, mengatur nafasnya. Ia lantas teringat, ia belum mengirim alamat rumah sakit yang diminta Keinara. Begitu pesannya terkirim, Devan kembali masuk ke ruangan dimana neneknya tengah di terbaring sakit.
Devan duduk dengan gelisah di sofa dekat omanya yang baru saja tertidur. Dua jam sudah ia menunggu kedatangan Keinara. Ia sengaja tak memberitahu omanya kalau Keinara akan datang hari itu. Bermaksud memberi orang tua itu kejutan.
Devan meraih ponselnya yang sejak tadi ia tunggu berbunyi karena Keinara.
“Kamu tunggu di situ. Aku segera kesana.”
Devan bergegas keluar tanpa menutup telfonnya. Membiarkan sang nenek yang tertidur hanya di temani pembantunya. Dengan langkah cepat ia menyusuri lorong rumah sakit, untuk menjemput Keinara yang baru saja menanyakan kamar oma Ratna bukan minta di jemput.
Dari kejauhan Devan melihat Keinara tengah melangkah kearahnya. Membuat pria itu mempercepat langkahnya.
“Keinara.....” Panggil Devan ketika jaraknya makin dekat dengan pemilik nama.
“Hei kak Devan....” Sambut Keinara saat netranya melihat pria yang memanggilnya.
Jantung Devan makin berdebar, ketika gadis yang ditunggunya mendekat. Apalagi ada senyum manis dengan lesung pipi di wajah gadis itu.
“Kesini naik motor?.” Tanya Devan basa-basi agar tak nampak kalau jantungnya sedang bekerja keras.
“Di antar teman kak.”
“Temannya mana?.”
“Dia ada acara lain, jadi cuma ngantar.”
“Oh....ayok....kita langsung ke kamar oma. Tadi sih lagi tidur, enggak tau sekarang. Semoga saja sudah bangun.”
“Iya kak..ayo....”
Keduanya melangkah berdampingan dengan tujuan yang sama,tapi dengan perasaan yang berbeda. Devan merasa kewalahan menenangkan
perasaannya sendiri, yang di buat kacau oleh wanita yang kini melangkah tenang
di sampingnya dengan menjinjing sebuah parsel buah.
“Kenapa kak...??” Tanya Keinara karena Devan beberapa kali menarik nafas panjang dan terdengar berat.
“Eh...tidak apa-apa. Nah itu kamarnya.”
Devan menunjuk dengan jarinya, letak kamar oma Ratna yang memang sudah dekat. Dan itu menolongnya terhindar dari pertanyaan Keinara berikutnya soal nafas panjangnya.
__ADS_1
Devan membuka pintu. Menyilahkan Keinara masuk. Keduanya mendekati ranjang dimana oma Ratna terbaring. Dan ternyata wanita itu masih tertidur. Takut mengganggu Keinara mengajak Devan
keluar.
“Kamu sudah makan?.”
“He...he..belum kak.”
“Ya udah, kita makan dulu yuk di kantin.”
Keinara mengangguk dan mengikuti Devan.
“Kei, kamu mau makan apa?.” Tanya Devan begitu sampai di kantin yang saat itu sedang ramai karena jam makan siang.
Keinara tampak melihat-lihat menu yang tertera di sebuah baner. Sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan ke soto ayam dan teh lemon hangat. Devanpun memilih menu yang sama dan kemudian memesannya.
Menunggu pesanannya siap, keduanya mencari tempat duduk yang masih kosong.
“Gimana kabarnya Fakhri.”
“Belum ada kabar lagi kak. Kemarin masih belum sadar.”
Raut wajah Keinara langsung berubah sendu. Devan merasa salah menanyakan soal Fakhri.
“Kuliah kamu gimana?.”
Devan mengalihkan pembicaraan, untuk mengembalikan wajah cantik Keinara seperti semula.
“Sedang proses tugas
akhir kak, Semoga tahun ini kuliahku
selesai.”
“Kalau sudah selesai kuliahnya, terus......”
“Cari kerja disini atau kalau tidak yah melanjutkan hidup di kampung, he...he...he....”
“Aku aminkan yang pertama deh....Nanti aku bantu carikan pekerjaan.”
“Makasih kak...”
Obrolan terhenti begitu makanan yang mereka pesan datang. Keduanya
langsung menyantap apa yang ada didepan mereka. Sejenak Devan fokus dengan makanannya, sebelum akhirnya netranya terkunci pada wajah gadis di depannya.
“Kondisikan bibir kamu Kei....”
Gumam Devan dalam hati, begitu melihat bibir Keinara yang tampak menggoda ketika basah terkena kuah soto. Pikiran pria itu akhirnya terbang kesegala arah. Baru berhenti saat Tangan Keinara menyentuhnya.
“Kak Devan.....”
“Ehmmmm...iya Kei?.”
“Kok ngeliatin aku. Ada yang aneh ya sama penampilan aku?.”
“Eh..enggak....enggak Kei, Enggak ada yang aneh. Dah lanjutin makannya!.”
Devan tampak gerogi dan dengan cepat menghabiskan makannannya. Membuat Keinara merasa heran.
Devan dan Keinara bergegas kembali ke ruang rawat Oma Ratna.
Dan mendapati perempuan itu sedang makan di suapi oleh ART.
Wajah oma Ratna seketika tampak berseri begitu melihat Keinara. Sebuah pelukan hangat ia berikan pada gadis yang sudah ia anggap seperti cucunya.
Melihat sikap dan kelembutan Keinara saat ngobrol dengan omanya, Devan merasa semakin kesulitan untuk tidak makin jatuh hati pada kekasih
temannya itu. Dan itu membuat Devan dalam dilema.
“Kamu pulang di atar Devan ya, jangan menolak!.”
“Iya oma.”
Keinara tak mampu menolak perintah oma Ratna ketika ia pamit pulang. Dan itu kabar bahagia untuk pria yang tengah pura-pura sibuk dengan ponselnya .
__ADS_1