
Waktu terus berlalu. Semenjak hari dimana Fakhri melihat Keinara bersama seorang laki-laki, Fakhri tidak pernah bertemu lagi dengan gadis itu lagi. Apa yang dia lihat waktu itu, benar-benar mengganggu pikirannya. Status Keinara dan laki-laki itu menjadi pertanyaan besar . Rasa ingin tau membuat otaknya terus bekerja untuk menduga-duga. Sehingga kadang membuyarkan konsentrasinya saat bekerja.
“Saya perhatikan sejak tadi kamu nggak fokus ...dan bukan hanya hari saja aku lihat kamu seperti ini. Ada yang sedang dipikirkan?.” Tanya Rangga yang merasa aneh dengan sikap Fakhri.
“Tidak." Jawab Fakhri singkat. Sambil terus berjalan menuju ruang kerjanya, setelah keluar dari ruang meeting.
“Yakin?.“ Rangga merasa penasaran karena Fakhri menurutnya berkata tidak jujur.
Namun ia memilih untuk tidak bertanya lagi, dan mengikuti langkah bosnya.
Fakhri menjatuhkan tubuhnya di kursi kebesaran, lalu membuka beberapa map yang berisi berkas-brkas laporan yang baru diterima dari Rangga.
“Kalau begitu saya balik keruangaku ya.” Ucap Rangga pamit dan hanya di balas anggukan oleh bosnya.
“Tidak butuh sesuatu?” Tanya rangga sebelum melangkah keluar.
“Sementara belum Ngga.”
“Oh...oke...” Rangga melangkah keluar, tapi baru beberapa langkah pria itu berbalik.” kamu yakin tak mau cerita apa-apa sama aku?."
Tak mendengar atau pura-pura tidak mendengar pertanyaan Rangga. Fakhri tampak tetap fokus dengan pekerjaannya. Rangga yang merasa dicuekin akhirnya benar-benar meninggalkan ruang kerja sang CEO, untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sementara Fakhri masih berkutat dengan beberapa berkas. Tapi baru lima belas menit, Fakhri menyudahi pekerjaannya. Karena di otaknya tidak lagi berisi soal pekerjaan, tapi telah berganti dengan soal wanita. Wajah Keinara kembali muncul di otaknya. Bukan hanya wajah gadis itu, tapi juga bayangan saat Keinara berpelukan dengan seorang pria. Benar-benar membuat Fakhri gundah.
“Kei...kenapa sih kamu ganggu aku terus, aku jadi nggak fokus kerja huh....” Gumam Fakhri dalam hati, seolah sedang berbicara dengan Keinara.
“Siapa pria itu Kei?, apa dia pacar kamu?. Aku nggak suka ya kamu di peluk sama dia, karena aku suka sama kamu. dan sekarang aku sangat merindukan kamu.” Fakhri larut dalam lamunannya.
“Tok...tok...tok...” Terdengar suara ketukan, dan ternyata itu berasal dari meja Fakhri yang di ketuk Rangga.
“Bikin kaget saja!." Ucap Fakhri kesal karena sudah di buat kaget.
__ADS_1
“Maaf pak Fakhri....he..he...makanya jangan melamum....ini berkas harus segera kamu tanda tangani.”
Balas Rangga yang tak menyangka bosnya akan kaget.
“Kalau ada masalah tuh cerita, jangan dipendem sendiri.” Ucap rangga lagi, sembari menyerahkan sebuah map.
Fakhri mengambil map dari tangan asistennya dan membubuhkan tanda tangan disana.
“Sebenernya ada masalah apa sih, nggak biasanya kamu nggak fokus begini.”
“Nggak ada masalah apa-apa . Cuma lagi kepikiran sesuatu aja.”
“Kepikiran apa?. Kepikiran cewek?.”
Fakhri mengangguk, membuat asistennya menggelangkan kepala.
“ Ya Alloh...aku kira kamu lagi punya masalah berat, ternyata hanya lagi kepikiran cewek...ck...ck...ckk dasar play boy.” Ucap Rangga yang merasa heran dengan bosnya.
“Eh tapi tunggu.....nggak biasanya kamu mikirin cewek sampai segitunya. Selama ini kamu nggak pernah serius kalau soal cewek. Apa lagi sampai kepikiran.... heran....” Tambah Rangga.
“Kamu suka sama gadis itu?.”
“Sepertinya begitu."
“Terus gadis itu kelihatannya gimana, apa dia juga suka sama kamu juga."
“ Enggak tau, sepertiya dia sudah punya pacar. Dan pria yang aku lihat waktu itu mungkin saja pacarnya. Karena aku sempat melihat mereka berpelukan."
“Jangan-jangan cinta kamu bertepuk sebelah tangan...ha...ha....”
Fakhri tersenyum masam mendengar ucapan asistennya.
__ADS_1
“Itu baru dugaanku. Semoga saja pria itu bukan pacarnya.”
“Eh...ngomong-ngomong siapa sih gadis hebat itu?."
“Gadis hebat?."
"Iya gadis hebat...karena sudah bisa membuat sang play boy gundah gulana he...ha....”
“Salan kamu...!!!.”
“Serius...siapa gadis itu?.”
“Keinara....”
"Hah....Keinara? Jadi benar kamu mau menjadikan dia sebagai pacar kamu untuk yang kesekian.”
Fakhri hanya tersenyum.
”Inginnya si seperti itu, tapi entahlah. Dia sepertinya berbeda dengan gadis-gadis yang pernah ku pacari sebelumnya. Dia tidak menunjukan sikap kalau dia tertarik sama aku, malah terkesan sebel. Aku jadi merasa tertantang untuk terus mendekatinya, sampai dia jatuh ke dalam pelukanku."
“Aku salut sama gadis itu...saya yakin, kamu tidak akan mundah mendapatkan hatinya. Dan kamu harus sedikit berjuang untuk itu."
“Kita lihat saja nanti he...he...yang pasti sekarang aku ingin tau siapa pria yang bersama dia, dan saat ini aku juga sangat merindukannya.”
“Temui saja gadis itu....terus tanyakan padanya. Beres....."
“Sepertinya tak semudah itu, dia agak tertutup.”
“Ya coba aja dulu. Dari pada kamu terus kepikiran. Jangan sampai gara-gara tuh cewek, pekerjaan jadi kacau."
Fakhri kembali tersenyum.
__ADS_1
”Nanti aku akan coba menemuinya."
Ujar Fakhri yang kembali membuka tumpukan berkas di hadapannya.