Cinta Keinara

Cinta Keinara
Mencari Pujaan Hati


__ADS_3

“Sabar Ri.... Tenangkan dirimu.Jangan seperti ini.Kita masih bisa mencarinya nanti! ”


Ucapan terakir Rangga sedikit membuat Fakhri berpikir, apayang ia lakukan sekarang tidak akan membuat kekasihnya kembali. Yang harus ialakukan sekarang adalah mencari keberadaan gadis yang sangat dicintainya itu. Dan membawanya kembali kepelukan.


“Pinjam ponselmu....!”


Ponsel Rangga langsung berpindah ke tangan Fakhri. Tak butuh waktu lama, Fakhri telah menemukan nama Keinara di deretan nama kontak yang tersimpan di sana.


“Angkat dong Kei....!.”


Fakhri harus kecewa karena panggilannya tak bersambut. Ia mencobanya kembali beberapa kali, sebelum akhirnya nomor Keinara berada di luar jangkauan.


Tangan Rangga sigap menyelamatkan ponselnya yang dilempar Fakhri kearahnya dengan kesal.


“Kebiasaan........!!” Gerutu Rangga, yang kemudian memilih meninggalkan bosnya yang mulai bisa menggunakan nalarnya dengan baik.


“Dewi....Ya Dewi.....gadis itu sepertinya bisa membantuku....!” Pikir Fakhri. Dan tanpa pikir panjang pria itu keluar dari kantornya. Restoran milik orang tua Dewi menjadi tujuaannya sekarang, berharap gadis yang di carinya ada di sana.


Dewi dan kekeasihnya baru saja turun dari mobil saat Fakhri keluar dari restoran. Fakhri beruntung karena ia akhirnya bisa bertemu dengan Dewi, setelah beberapa karyawan di restoran itu mengatakan Dewi tak ada disana.


Namun perasaan Dewi tak sesenang perasan Fakhri, ketika ia harus melihat pria yang telah menyakiti sahabatnya ada didepan mata.


Fakhri kali ini kembali beruntung karena Dewi tak berniat membuat keributan dengannya. Tapi Dewi dan Beno melewatinya begitu saja tanpa menyapanya.


“Dewi...Beno...!!.” Panggil Fakhri sebelum kedua orang itu masuk lebih dalam ke restoran. Beno dan Dewi menghentikan langkahnya ketika merasa ada yang aneh. Dengan muka heran sepasang kekasih itu menoleh ke arah Fakhri yang tengah tersenyum kearah mereka.


“Wi...aku ingin bicara sebentar, bisa?.” Tanya Fakhri sembari mendekat kearah dua orang itu.


“Bicara apa? Bukankah kita tidak punya urusan karena anda tak mengenal saya.” Jawab Dewi yang memasang wajah tak suka.


“Kalau aku tidak kenal kalian, buat apa aku kesini.”


“Aneh....Tapi ya sudahlah....Mau kenal atau tidak, tak penting buatku. Yang pasti aku tidak mau bicara dengan anda pak Fakhri yang terhormat....”


Dewi masih menunjukkan rasa tak sukanya pada Fakhri, sehingga nada bicaranya terkesan ketus. Dan dia berlalu pergi,  tak ingin bicara dengan pria yang menaruh harapan pada dirinya untuk bisa membantunya bertemu Keinara.


“Dewi.....!.” Fakhri segera memanggil Dewi begitu gadis itu hendak beranjak. Dan gadis itu terus saja pergi tak menggubris panggilannya.


“Ben....bisa bantu aku bujuk pacar kamu? Aku bener-benar ingin bicara dengan Dewi. Ada kesalahpahaman yang harus aku luruskan disini.”


Beno menjadi harapan Fakhri satu satunya saat itu, untuk ia bisa berbicara dengan Dewi.


“Saya akan coba, tapi saya tidak janji. Karena dia agak keras kepala.!” Beno menyanggupi keinginan Fakhri. Pria itu menyusul kekasihnya yang masuk ke dalam salah satu ruang di restoran sederhana itu.


Tak ada yang dilakukan Fakhri selain duduk menunggu Beno berhasil membujuk kekasihnya.  Sampai satu gelas lemon tea habis ia minum, Beno tak kunjung muncul membawa kabar baik.


Fakhri hampir saja putus asa, ketika Beno kembali dengan menggandeng kekasihnya. Meski ekspresi wajah Dewi tak enak banget untuk di pandang, Fakhri berusaha bersabar menghadapi gadis itu.


“Yang...Udah deh tinggal duduk, dengerin Pak Fakhri ngomong. Apa susahnya si....Terus itu bibir ngundang banget buat di cium...” Ucap Beno yang melihat kekasihnya memasang muka jutek dengan bibir manyun. Dewi langsung menutup mulut dengan tangannya, saat Beno hendak mencium bibirnya.

__ADS_1


“Beno...!!....ih....” Teriak Dewi sambil mendorong dada


Beno.


Fakhri tersenyum, ia jadi teringat dengan Keinara, yang selalu menutupi bibirnya ketika dirinya ingin mencium bibir gadis itu. Dada Fakhri menjadi terasa sesak, mengingat sampai detik itu ia belum berhasil mencium bibir Keinara. Namun itu menjadi salah satu hal yang Fakhri suka dari Keinara.


“Hai bro.....kok bengong...!”  Ucap Beno mengagetkan Fakhri.


“Eh......maaf....maaf....” Fakhri terlihat gugup karena kepergok sedang melamun.


“Sekarang mau bicara apa?, cepetan saya tak punya banyak waktu...”  Sahut Dewi masih dengan wajah juteknya.


“Sebelumnya aku minta maaf atas sikapku belakangan ini. Jika kamu merasa aku tak mengenalmu, itu benar. Bahkan aku juga tidak mengenal Keinara.” Ucapan Fakhri membuat Dewi dan Beno bingung. Tapi keduanya memilih membiarkan Fakhri melanjutkan kalimatnya, menceritakan apa yang ia alamibeberapa bulan terakhir tanpa ada yang terlewat.


“Jadi sekarang kamu sudah bisa mengingat semuanya termasuk, mengingat akau dan Beno?!.”


Tanya Dewi yang tak menyangka jika Fakhri sebenarnya mengalami amnesia, dan Fakhri merahasiakannya dari dirinya dan sahabatnya.


“Ya...sekarang aku sudah bisa mengingat semuanya seperti semula. Tapi sayangnya saat ini Keinara tidak bersamaku lagi. Dia pergi dan memutuskan hubungan kita. Padahal aku masih sangat mencintainya.” Fakhri


mengerjapkan matanya setelah merasa matanya mulai mengeluarkan air.  Itu disadari oleh dua orang yang ada di


depannya.


“Sebenarnya aku sudah berusaha menceritakan semua ini pada Kei, tapi ia tak pernah memberiku kesempatan. Mungkin karena ia sangat kecewa atas perbuatanku. Sekarang aku ingin dia kembali padaku, tapi aku tak bisa


“Kamu yakin dia mau kembali sama kamu?.” Tanya Dewi yang sebenarnya tak yakin Keinara mau kembali pada Fakhri, mengingat sahabatnya sudah sangat terluka.


“Saya tidak tau, yang saya tau dia masih mencintaiku...”


“Heh....pede banget jadi orang !.” Dewi mencibir.


Fakhri tersenyum, sementara Dewi menjerit karena tangan Beno menarik pipinya.


“Wi...kamu tau kan Kei ada dimana sekarang?.”


“Tau...!.”


“Tolong kasih tau aku....”


“Ehmmm....aku  nggak bisa ngasih tau kamu.”


“Kenapa....?.”


“Kasian aja sama dia. Pasti dia tidak siap bertemu dengan kamu.”


“Aku akan pergi jika ia memang menghendaki aku pergi. Aku tidak akan memaksa jika ia tak mau bertemu denganku. Percayalah Wi....Jadi biarkan aku berusaha dulu...”


“Kei pulang ke kampung halamannya. Nanti saya kirim alamatnya. Tapi kamu harus janji untuk tidak membuatnya mengis lagi...”

__ADS_1


“Iya Wi..Aku janji....”


Hati Fakhri lega, sekarang dia tau dimana pemilik hatinya berada. Secepatnya ia akan membawanya kembali kedalam pelukannya, untuk membayar semua luka yang ia buat untuk gadis itu. Dan kali ini ia tak akan melepaskannya lagi.


Langkahnya terasa begitu Ringan seiring harapan yang ada dihatinya. Fakhri kembali kekantornya dengan raut wajah yang lebih manis dari waktu ia keluar kantor bebrap waktu yang lalu.


Saat sampai di ruangannya, Bela sudah terlebih dulu sampai di sana.  Dan sedang menunggunya,


Sekilas Fakhri menunjukkan wajah terkejut, namun ia segera mengubahnya. Dia bersikap dingin pada wanita yang berusaha mendekatinya dengan pakaian yang menunjukkan belahan dadanya.


“Tetap di situ Bel....!!” Fakhri tanpa ragu meahan Bella untuk tetap di tempatnya.


Namun Bela bukanlah wanita penurut, ia tetap melangkah mendekati Fakhri.


“Aku hanya ingin menawarkan satu kali lagi sama kamu tentang kerjasama kita. Aku akan meneruskan kerjasama  kita asal kamu mau kembali padaku, dan menjadikanku istrimu.” Ucap Bella yang menyandarkan boko**nya di tepian meja tepat di depan Fakhri yang sedang duduk di kursinya.


“Jika aku tak mau?.”


“Seperti yang pernah aku bilang, Aku akan memutuskankerjasama kita dan membuat perusahaanmu merugi. “


“Kalau begitu aku memilih perusahaanku merugi darpada aku kembali sama kamu.”


Bella kecewa karena Fakhri tetep kekeh dengan pilihannya.


“Pikirkan lagi Ri, kadang kesempatan tidak datang dua kali.”


“Aku tidak akan memikirkannya kembali, keputusanku sudah bulat.”


“Apa sih kurangnya aku Ri...bukankah waktu itu kamu bilang kamu mencintaiku?.”


“Kamu sempurna Bel....tapi sayangnya aku tak bisa lagi menempatkanmu di hatiku. Karena pemilik hatiku sebenarnya bukan kamu. Selama ini aku merasa hatiku kosong, jadi aku membuka hatiku untukmu, Tapi setelah


amnesiaku berangsur pulih aku tau jika hatiku sudah terlebih dahulu ada yang memilki. Dan itu bukan kamu Bel...Maaf...!.”


“Amnesia?.”


“Iya, sebenarnya hampir tiga bulan ini aku mengalami amnesia setelah kecelakaan yang aku alami. Karena amnesia itu aku lupa dengan kekasihku, sehingga aku menerima kamu. Aku minta maaf Bel....Jika sudah


menyakitimu.”


Bella kesal karena ternyata ia seperti tempat pelarian bagi Fakhri.


“Baik..jika kamu tetap dengan keputusanmu. Itu artinya kamu harus siap dengan segala resikonya.” Setelah berucap, Bela meninggalkan Fakhri begitu saja,  dengan rasa kecewa dan marah di hatinya.


Tak ada rasa khawatir dalam kamus Fakhri, jika perusahaannya akan merugi kalau Bela bener-benar memutus kerjasamanya. Karena dia yakin dengan kemampuannya untuk bisa memulihkan perusaahannya jika nanti mengalami kerugian.


Yang ia khawatirkan sekarang adalah jika Keinara tak mau kembali padanya. Karena Keinara adalah nafasnya.


Gara-gara Bella, Fakhri harus menunda kepergiannya untuk bertemu Keinara. Karena dia harus membereskan masalah yang timbul setelah perusahaan Bella memutuskan kerjasamanya. Dua minggu kemudian masalah itu baru terselesaikan.

__ADS_1


__ADS_2