
Keinara benar-benar menjaga jarak duduknya dari Fakhri saat perjalanan pulang, Sampai kendaraan yang dinaikinya berhenti di halaman rumah.
Keduanya beriringan masuk kedalam rumah. Wajah yang di tunjukkan keduanya menjadi perhatian kedua orang tua Keinara. Tak seperti waktu pergi, wajah keduanya sama-sama menyiratkan kalau mereka sedang bahagia.
“Nara...ajak mas Fakhri makan.” Titah sang ibu yang baru saja selesai makan bersama suaminya.
“Iya ma...” Keinara yang baru saja keluar dari kamar mandi, segera beranjak masuk kekamarnya. dan memanggil Fakhri dari sana.
Kamar Keinara bersebelahan langsung dengan kamar yang di tempati Fakhri. Hanya di batasi dinding setebal tak kurang dari dua puluh senti menter dan hanya memiliki tinggi empat meter. Sehingga pembatas itu tak menghalangi suara yang masuk ke kamar sebelahnya. Jadi Keinara memilih memanggil Fakhri dari kamarnya, karena ia yakin Fakhri mendengarnya.
“Mas.....!.” Panggil Keinara sembari menyisir rambutnya. Tak ada jawaban, Keinara kembali memanggil kekasihnya.”Mas Fakhri....!” Lagi lagi
tak ada jawaban. Bahkan sampai beberapa kali hasilnya tetap sama.
Sedikit kesal dan penasaran, sembari mengenakan hijab instan Keinara keluar kamarnya untuk memanggil Fakhri langsung di depan kamarnya. Tapi
begitu ia keluar kamar ia melihat Fakhri sudah berdiri bersandar di pintu dengan bersedekap. Pria itu tersenyum dan memainkan alisnya, membuat Keinara semakin kesal.
“Hadehh.....mas sengaja ya nggak jawab waktu aku panggil-panggil tadi?.” Sepertinya menjadi kesenangan tersendiri bagi Fakhri, untuk membuat kekasihnya kesal.
“iya....!.” Jawab Fakhri enteng tanpa merasa bersalah. Dan Keinara menjadi
semakin kesal.
Fakhri tertawa melihat raut wajah kekasihnya yang kesal dengan bibir yang manyun.
“Ada apa manggil-manggil, kangen ya....padahal baru beberapa detik nggak ketemu lho......aw...aw...sakit yang....” Kembali ia ingin membuat kekasihnya kesal, tapi dua jari Keinara sudah mendarat di pinggangnya dan
meninggalkan rasa nyeri disana.
“Disuruh makan tuh mas sama mama....!!.”
“Oh......bilang dong dari tadi.....”
“Hiiiihhh.......” Benar-benar gadis itu dibuat kesal, yang akhirnya meninggalkan pria itu menjadi pilihannya.
“Eh yang tunggu...”
“Apa....mau bikin aku kesal lagi?!.”
“Enggak...aku mau mandi.”
“Tinggal mandi aja kenapa pakai bilang...”
“Temenin.....!!.”
Kali ini Keinara benar-benar meninggalkan Fakhri. Masuk kembali kedalam kamarnya. Menunggu Fakhri sampai selesai mandi.
Mendengar Fakhri masuk kekamarnya, Keinara langsung keluar untuk mengambil air wudlu sebelum sholat isya. Tak lama Fakhri sudah ada di belakangnya yang
juga hendak melaksanakan sholat.
Jadilah mereka solat berjamaah di ruangan kecil yang di jadikan sebagai mushola tak jauh dari kamar mandi. Pemandangan itu menarik perhatian pak Sasongko yang hendak ke kamar mandi. Dan mengukir senyum di pipi yang mulai keriput itu begitu mendengar suara Fakhri melantunkan beberapa potong ayat-ayat Al-Qur’an.
“Mas mau makan sekarang....?.” Tanya Keinara selesai solat.
“Nanti aja deh....aku mau nelfon Rangga dulu.” Balas Fakhri langsung masuk kedlam kamarnya, dan keluar lagi membawa ponsel. Bale-bale yang
ada di bawah pohon rambutan menjadi tempat yang ia pilih untuk menghubungi
__ADS_1
asistennya.
Sementara Keinara sibuk di dapur membuat menu kesukaanya, tempe
penyet. Sang ayah tiba-tiba mendekatinya.
“Nara.....bapak boleh tanya?.” Pak Sasongko tampak serius dengan ucapannya.
“Boleh...bapak mau tanya apa?.” Balas Keinara sembari mengangkat tempe dari penggorengan, dan menggantinya dengan potongan cabai rawit dan beberapa siung bawang.
“Kamu pacaran sama Fakhri?.” Tanya Pak Sasongko, meski ia sendiri sudah bisa menebak hubungan keduanya lewat sikap keduanya.
“Ehmmm.....” Keinara ingin mengaku, tapi ia ragu dan malu.
Pak Sasongko terdiam sembari menatap wajah anak gadisnya yang tampak tersipu. Orang tua itu masih menunggu jawaban dari anaknya.
“Ii..i...ya pak.” Akhirnya Keinara mengakui hubungannya dengan Fakhri, ia merasa lega. Tinggal menunggu reaksi dari bapaknya.
“Dan cincin itu dari dia?.” Cincin yang menurutnya begitu indah tak mungkin keinara beli sendiri, Karena ia yakin cincin itu bukan cincin berharga murah.
Keinara mengangguk.
“Apa dia serius sama kamu?.” Pak Sasongko semakin ingin tau
tentang hubungan putrinya dengan Fakhri.
“Iya pak...Mas Fakhri serius sama Nara. Bahkan dia sudah melamar Nara pakai cincin ini.”
“Oh syukurlah....” Wajah pria itu seketika terlihat lebih tenang.”Ajak Fakhri makan..Bapak mau keluar sebentar sama mama. Jenguk pak RT
yang baru pulang dari rumah sakit.” Ucapnya lagi dan kemudian berlalu.
“Sudah di depan ma.”
Mendengar jawaban putrinya, wanita yang beusia lebih dari setengah abad itu bergegas menyusul suaminya yang tengah duduk di bala-bale bersama Fakhri.
“Kami tinggal sebentar nak Fakhri...” Pamit pak Sasongko begitu melihat istrinya keluar dari rumah.
“Oh iya pak silahkan....” Balas Fakhri yang kemudian masuk kedalam rumah begitu dua orang tua itu pergi dengan sepeda motor.
Setelah menyimpan ponselnya, ia mencari Keinara yang ternyata tengah menyipakan makanan untuknya di meja makan.
“Mas makanan sudah siap nih...makan dulu yuk.”
Fakhri segera mendekati Keinara yang sedang menuang nasi keatas piring dan duduk di samping gadis itu.
Keinara meletakkan piring yang telah ia isi nasi di depan Fakhri lengkap dengan segelas air putih.
Keduanya makan dengan menu yang berbeda, cara makan dan posisi duduk yang berbeda pula. Fakhri memilih makan dengan sayur dan pasangannya menggunakan sendok garpu dan duduk dengan kedua kaki menginjak
lantai. Berbeda dengan Keinara yang makan dengan lahap menggukan kelima jarinya dengan hanya lauk tempe penyet dan duduk bersila di atas kursi.
Sisi lain dari Kienara yang baru Fakhri lihat. dan Fakhri tak mempermasalahkannya. Ia suka Keinara yang bersikap apa adanya meski di depan kekasihnya.
Melihat Keinara yang begitu lahap dengan tempe penyetnya, Fakhri jadi merasa penasaan dengan rasa menu itu. Tanpa ragu ia mengambil sepotong tempe penyet dari atas cobek. Tempe berselimut sambal cabai rawit ternyata menambah nafsu makannya. Hingga ia menambahkan nasi keatas piringnya.Dan ujung-ujungnya ia harus berebut tempe penyet dengan kekasihnya.
“Mas.....sisain dong....” Ucapan Kekasihnya tak Fakhri gubris . Ia tetap menikmati tempe penyet dipiringnya dengan menggunakan kelima jarinya,
hingga tempe penyet di cobek habis tak bersisa.
__ADS_1
Keringat menyembul dari pori-pori kulit keduanya. Efek dari pedasnya tempe penyet yang baru saja mereka makan.
Fakhri yang merasa tubuhnya panas memilih kembali duduk di bale-bale yang ada halaman rumah, di bawah pohon rambutan. Semilir angin malam mendinginkan tubuhnya.
Sementara Kienara memberekan meja makan, mencuci piring dan
gelas yang baru mereka pakai. Setelahnya ia mengangkat ponselnya yang baru saja
berdering, dan membawanya keluar rumah menyusl Fakhri.
“Hallo Asalamu’alaikum pak Dimas.”
“...........”
“Inn Syaa Alloh Bisa pak....”
“...............”
“Berapa anak?”
“....................”
“Oh ya pak siap..siap...”
“.....................”
“Sama-sama pak, Wa’alaikumsalam.”
Keinara menutup ponselnya dan duduk di sebelah Fakhri , namun kemudian langsung bangun lagi.
Saat ia yakin pria yang bersamanya pasti akan berulah lagi.
“Kenapa bangun lagi....” Tanya Fakhri
“Nggak papa-papa...cari aman ajah...” Jawaban Keinara membuat Fakhri tersenyum. Ternyata gadis itu sudah tau niatnya.
“Siapa yang menelfon mu tadi?.”
“Oh..itu Pak Dimas, Kepala sekolah di tempat bapak ngajar.”
“Oh.....Mau ngapain?.”
“Iih...mas kepo banget sih...”
“Mau ngapain...!!”
“Minta aku ngeles anak-anak yang mau ikut olimpiade matematika. Dah mau tanya apa lagi...?.”
“Nggak....dah duduk sini....!!” Pinta Fakhri. Sembari menepuk tempat di sebelahnya.
“Enggak aku berdiri aja....kayaknya lebih aman!.”
“Kau enggak bakal ngapa-ngapain kok....dah sisni duduk..”
“Janji ya enggak macam-macam....!.”
‘Iya.....”
Dan benar, kali ini ia membiarkan Keinara duduk disebelahnya dengan tenang. Setelah berbincang banyak hal keduanya memutuskan segera masuk rumah untuk istirahat.
__ADS_1
Karena malam mulai larut.