
Apa yang Keinara dengar dari dokter Dimas memang sedikit melegakan hatinya. Tapi tak sepenuhnya melegakan jika dirinya belum melihat kondisi Fakhri dengan matanya sendiri. Keinara masih mencemaskan Fakhri.
Keinara dan Dewi masih bertahan di ruang tunggu bersama beberapa orang yang merupakan pasien dari dokter Dimas, yang rela menunggu lebih lama, karena dokter Dimas harus menangani luka Fakhri terlebih dahulu.
Kegelisahan Keinara begitu jelas terlihat, dari cara dia yang tak bisa duduk dengan tenang. Waktu baginya seolah melambat. Hampir setengah jam Keinara menunggu dokter Dimas keluar dari ruangan dimana Fakhri berada. Tapi dokter itu tak kunjung keluar. Kekhawatiran Keinara yang tak kunjung mereda menarik perhatian sahabatnya. Dewi
mengajak Keinara keluar dari ruang tunggu, dan duduk di bangku taman yang ada di depan tempat praktek dokter
Dimas. Dan posisi duduk mereka membelakangi pintu masuk bangunan itu. Dewi berharap Keinara akan tenang jika berganti susana.
“Kei....udah tenang. Dokter kan sudah bilang, mas Fakhri baik-baik saja. Jangan khawatir berlebihan seperti itu.”
“Aku belum bisa tenang kalau belum melihat mas Fakhri langsung Wi.”
Sikap Keinara mematik rasa yakin dalam hati Dewi, kalau Keinara mencintai Fakhri.
“Kenapa sih kamu terlihat begitu khawatir dengan Pak Fakhri?.” Tanya Dewi mecoba mencari pembenaran atas keyakinannya.
“Yaa..... karena apa yang terjadi dengan mas Fakhri itu, karena untuk melindungiku. Aku berhutang nyawa dengannya.”
“Hanya kerena itu? atau karena kamu tidak menyadari ada alasan lain selain alasan itu?.”
“Memang alasan lain apa?.” Keinara balik bertanya dengan nada gugup dan berusaha menghindari tatapan mata sahabatnya.
“Karena kamu mencintai mas Fakhri!.”
Keinara tertegun sejenak mendengar pernyataan Dewi.
“Tidak....aku tidak mencintai mas Fakhri. Mana aku berani. Aku ini siapa. Aku enggak pantes lah buat dia. ”
“Hemmm....tapi matamu tidak mengatakan seperti itu Kei....”
Keinara terdiam. Tak menyangka Dewi telah membaca isi hatinya. Dan ia tak bisa mengelak, karena matanya tak bisa diajak kerjasama untuk menyimpan perasaannya. Keinara tersenyum dengan wajah merona. Meski tanpa kata gadis itu telah mengakui apa yang disangkakan Dewi padanya.
“Akhirnya kamu melabuhkan hatimu juga. Yang aku kira selama ini kamu sudah mati rasa dengan cinta. he...he....”
Dewi memeluk bahu Keinara yang tengah duduk di sampingnya.
“Wi....tolong jangan ceritakan hal ini kepada siapapun. Termasuk sama mas Fakhri. Biar aku menyimpannya rapat-rapat. Aku tidak mau orang menyangka aku tidak tau diri.”
“Tapi mas Fakhri sepertinya juga mencintai kamu Kei. Buktinya ia sampai rela mengorbankan dirinya untuk melindungi kamu.”
“Itu hanya dugaan mu saja Wi. Belum tentu itu benar.Tapi memang si....mas Fakhri pernah mengungkapkan perasaanya padaku. Tapi aku tak yakin. Aku menganggap perasaan mas Fakhri hanya perasaan sementara. Jika nanti ia bertemu dengan wanita lain yang lebih dari aku, maka ia akan lupa dengan perasananya padaku. Seperti yang selama ini mas Fakhri lakukan. Dan Diana adalah salah satu wanita yang tersakiti dengan sikap mas Fakhri itu. Aku tidak mau bernasib sama dengan Diana Wi. Lebih baik aku merasakan sakit karena harus mengubur perasaan ini dalam-dalam, dari pada sakit karena di hianati.”
__ADS_1
“Aku tidak begitu mengenal mas Fakhri, jadi aku tidak tau bagaimana dia. Tapi kamu perlu ingat bahwa ada Alloh yang bisa membolak balikan hati manusia dan bisa mengubah sifat manusia. Dan siapa tau Alloh sekarang sedang melakukan hal itu pada mas Fakhri. Kita saja yang tidak tau. dan terkadang apa yang kita dengar dan kita lihat tidak selalu sesuai dengan kenyataannya. ”
“Kau jangan bikin aku tambah bingung Wi.”
“He...he....maaf. Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya ingin mengingatkan kamu. Kalau kamu merasa memendam perasan cinta kamu ke mas Fakhri adalah pilihan yang terbaik buat kamu, maka lakukanlah. Aku harap kamu tidak menderita dan tidak merasa kecewa suatu saat nanti dengan pilihanmu itu.”
Keinara terdiam bimbang mendengar ucapan Dewi. Dia seperti di ujung persimpangan. Membuang atau mempertahankan perasaannya. Atau membiarkan semesta yang menentukkan pilihan terbaik untuknya. Ia hanya tinggal ikuti arusnya tanpa melawan.
“Mau pulang sekarang...?.”
Lamunan Keinara buyar saaat suara yang ia kenal terdengar di telinganya. Keinara dan Dewi sontak mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Entah sejak kapan, ada dua sosok pria berdiri tidak jauh di belakang mereka.
“Mas Fakhri , pak Rangga...!!.” Teriak kedua gadis yang tengah duduk, yang kemudian berdiri untuk menghampiri Fakhri dan Rangga dengan wajah yanng masih menampakan keterkejutan. Terbersit rasa takut dalam batin Keinara, kalau Fakhri mendengar semua obrolannya dengan Dewi.
“ Mas Fakhri gimana lukanya? Apa masih terasa sakit?.” Tanya Keinara pada Fakhri dengan nada gugup.
“Sudah mendingan.” Jawab Fakhri dengan tatapan penuh arti pada Keinara.
“Aku kira kalian sudah pulang.” Tambah Fakhri.
“Kami menunggu pak Fakhri selasai di obati. Kami ingin memastikan dulu kondisi pak Fakhri. Karena teman saya ini begitu khawatir dengan kondisi bapak. Bahkan dia sampai menangis karena saking khawatirnya. Dia belum tenang kalau belum melihat pak Fakhri langsung.....aww.....”. Dewi meringis kesakitan sebelum menyelesaikan ucapannya. Karena tangan Keinara berhasil mencubit pinggangnya.
“Terima kasih mas Fakhri, karena sudah menyelamatkan nyawaku. Semoga luka mas Fakhri lekas sembuh. dan karena mas Fakhri sekarang terlihat baik-baik saja, maka kami mohon pamit. Sekali lagi terima kasih.”
Keinara merasa kesal dengan sahabatnya. Karena sahabatnya itu telah membuatnya malu. Sebelum Dewi mengatakan banyak hal lagi, Keinara buru-buru berpamitan dan meninggalkan Fakhri dan Rangga.
Fakhri menahan langkah Keinara dengan berpura-pura meminta balasan lebih atas apa yang sudah ia lakukan pada gadis itu. bukan hanya ucapan terima kasih.
Keinara menghentikan langkahnya sejenak dan berbalik.
“Akan saya pikirkan mas, nanti.” Ucap Keinara tanpa ragu.
“Apa aku boleh menentukan apa yang harus kamu berikan padaku?.”
“Boleh...selama aku mampu dan bisa memberikannya. Tapi tidak sekarang.”
“Aku maunya sekarang...!.”
Keinara menarik nafas panjang, bingung. Antara mengiyakan atau menolak.
“Kalau besok saja gimana? Bukankah mas Fakhri harus istirahat. Agar luka mas Fakhri lekas sembuh.”
“Aku tidak bisa istirahat dengan tenang jika keinginanku belum terkabul.” Ucap Fakhri memberikan alasana yang dibuat-buat.
__ADS_1
“Sudah Kei, turuti aja apa keiningan mas Fakhri.” Bisik Dewi menyela.
“Memang mas Fakhri mau minta apa?.”
“Temani aku makan.”
Mata Keinara membulat, mendengar permintaan Fakhri yang menurutnya sederhana.
“Nanti jam tujuh aku jemput kamu.” Tambah Fakhri.
Keinara mengangguk tanda setuju. dan kemudian berlalu menggandeng sahabatnya.
Tersungging senyum di wajah Fakhri. Senyum yang sarat arti.
“Gadis itu harus di beri pelajaran. Berani-beraninya dia meragukan perasaanku pada dia.” Ucap Fakhri pelan. Membuat Rangga tersenyum geli.
“Memang apa yang akan kamu lakukan pada Keinara.”
“Kamu lihat saja nanti.”
“Tapi hati-hati bos, jangan sampai gadis itu ngambek lagi. Nanti kamu sendiri yang repot.”
“iya...sekarang antar aku pulang. Dan nanti jam tujuh kamu antar aku dan Keinara ke restoran langgananku”
“Oke...”
Kedua pria itu melangkah menuju mobil Fakhri yang masih terparkir di depan rumah Keinara. Saat hampir sampai, tampak Keinara tengah berbicara dengan Dewi yang sudah duduk di belakang kemudi mobilnya. Tak berapa lama Dewipun pergi. Melihat Fakhri dan Rangga, Keinara hanya tersenyum dan hendak masuk kerumah.
“Aaakkh.....aduh....” Tiba-tiba Fakhri memegangi bahunya dan meringis kesakitan. Membuat Keinara terkejut dan berbalik dengan cepat mendekati Fakhri.
“Mas Fakhri.....kenapa dengan lukanya?. Sakit lagi ya?.” Tanya Keinara dengan wajah tegang penuh kekhawatiran.
“Sakit banget Kei.....” Balas Fakhri meyakinkan. Tanpa sadar tangan kanan Keinara memegang lengan Fakhri, sementara tangan kirinya mengusap luka Fakhri yang tertutup pakaian.
Rangga menggelengkan kepala, ketika melihat Fakhri tersenyum kepadanya.
“Sudah nggak sakit mas?.” Tanya Keinara melihat Fakhri yang tidak lagi mengaduh.
“Sudah mendingan Kei. Nggak sakit banget kaya tadi.”
“Oh ya sukur deh. Kalau begitu mas pulang sekarang, istirahat. Acara makannya di tunda besok saja,”
“Enggak bisa di tunda Kei, besok aku banyak kerjaan soalnya. Kamu siap-siap, nanti jam tujuh aku jemput. Dandan yang cantik ya...”
__ADS_1
Keinara menghempaskan nafasnya, mendengar ucapan Fakhri. Setelah akhirnya mengiyakan ucapan Fakhri, Keinara berlalu masuk ke dalam rumah. Sementara Fakhri melepaskan tawanya ketika sudah berada di dalam mobil. Kerena dia sukses mengerjai Keinara.
“Kasihan sekali gadis itu....” Gumam Rangga.