
Dua pelayan masuk membawa makanan yang Fakhri pesan. Kemudian berlalu setelah tugas mereka slesai. Meninggalkan dua insan yang sempat membuat mereka harus berdiri menunggu di depan pintu. Dan
memberanikan diri mengetuk pintu setelah kaki dan tangan mereka mulai terasa pegal. Tak peduli jika perbuatan mereka membuat dua orang di dalam sana, jadi harus mengakhiri kegiatan mesra mereka.
Fakhri meraih telapak tangan kanan Keinara, memasukan jemarinya di sela-sela jemari gadis itu. Kemudian menciumnya dengan lembut.
“I love you sayang.”
Lagi, Fakhri mengungkapkan perasaan cintanya pada wanita yang kini sudah resmi menjadi miliknya. Terdengar menenangkan di telinga wanitanya yang tengah tersenyum malu kearahnya. Mata mereka saling bertemu, dengan
tatapan yang begitu dalam. Menuntun Fakhri untuk mengikis jarak yang ada di antara wajah mereka. Ketika jarak hampir terkikis habis, sebuah sentuhan mengagetkan Pria itu.
“Aw....aw.....” Teriak Fakhri yang merasakan sakit di pinggangnya.
Tangan Keinara berhasil mencubit pinggang Fakhri tepat di saat bibir Fakhri hampir menempel di bibirnya.
“Yang....sakiitt.....!!!.” Tambah Fakhri dengan nada manja.
“Mau lagi....?!” Ucap Keinara dengan mata melebar, sementara jemarinya masih menempel di pinggang Fakhri.
Fakhri menggelang . Namun tangannya menarik tangan Keinara sehingga tubuh gadis itu jatuh kedalam pelukannya.
“Yang ini kamu tidak boleh menolak. Biarkan aku memelukmu seperti ini”
Keinara akhirnya menuruti keinginan sang kekasih. malah membalasnya dengan menyandarkan kepala di dada bidang Fakhri sehingga debaran jantung pria itu terdengar jelas di telinganya. Menghadirkan sebuah senyuman di wajah Keinara . Untuk beberapa saat keduanya menikmati pelukan itu, sebelum akhirnya menyadari makanan mereka hampir dingin. Fakhri mencium puncak kepala Keinara sebelum mengakhiri pelukannya.
“Makanan ini kelihatnnya iri melihat kita, lebih baik kita menghabiskannya dulu. Setelah itu kita lanjut lagi.” Ujar Fakhri dengan wajah di buat serius.
“Hem....melanjutkan apa maksudnya?”. Tanya Keinara dengan tatapan mengancam.
Fakhri akhirnya tertawa melihat ekspresi Keinara. Dan memilih untuk segera menyantap makanannya.
“Mas lepasin tangannya, aku juga mau makan!.”
Fakhri tak sadar kalau tangan kirinya masih memegang tangan kanan Keinara. Tapi pria itu tak serta merta melepas tangan Keinara meski gadis itu telah memintanya.
“Aku masih ingin memegangnya, jadi biar aku menyuapimu.... ya...!.”
“Mas.....lepasin....memang aku bayi apa, pakai di suapin!.”
Melihat kekasihnya mulai terlihat kesal, Fakhri hanya tersenyum dan akhirnya melepas genggamannya. Membiarkan gadis itu makan dengan tenang.
Keduanya lalu menikmati hidangan yang tersaji di depan mereka tanpa bersuara. Hanya mata dan senyum yang berbicara mewakili perasaan keduanya . Sehingga tak menyadari kalau ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka sejak beberapa menit yang lalu. Mata yang menyiratkan kecemburuan, karena pemilik mata itu mulai memiliki rasa lebih pada Keinara. Yang semula hanya sekedar mengagumi. Devan, pria yang di jumpai Keinara di sebuah pesta pernikahan nyatanya telah menyadari bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita yang kini telah menjadi milik temannya. Devan menata hatinya, sebelum akhirnya melangkah menuju dua orang yang sedang duduk berdampingan sembari menikmati hidangan.
Kehadirannya mengejutkan Fakhri dan Keinara dan akhirnya berujung protes dari Fakhri.
“Bisa tidak ...ketuk pintu dulu kalau mau masuk. Main nyelonong aja!.”
“He...he...maaf...lupa!.”
“Ngapain kesini..?” Tanya Fakhri penuh selidik.
“Ya pengin ngobrol sama kalian lah....”
“Mau ngobrol pa mau ngrecokin ?.”
__ADS_1
“Sumpah Ri...mau ngobrol.....nggak bakal ngapa-ngapain kalian. Takut amat si!.” Devan tampak kesal. Namun tetap mendudukan tubuhnya di kursi depan Keinara.
Keinara terpaksa menghentikan makannya, karena rasa ingin tertawa tak bisa ia tahan lagi melihat kelakuan dua pria didepannya.
“Kenapa tertawa?.” Tanya Fakhri yang meihat kekasihnya tertawa lepas.
“Enggak...enggak apa-apa....cuma geli aja lihat sikap kalian....he...he...” Jawab Keinara yang kemudian pamit pergi
ketoilet.
“Sebenarnya mau apa kamu kesini?.” Tanya Fakhri dengan tatapan curiga pada Devan.
“Hanya ingin ngobrol dengan kalian saja, kebetulan urusanku sudah selesai. Kenapa? Enggak boleh?.”
“Apa kalau aku bilang tidak boleh kamu akan pergi?.”
“Hahh....kamu itu. Bukannya seneng ketemu teman malah kesannya nggak suka gitu!.”
“Bukannya enggak suka, tapi waktunya yang tidak tepat Van...!.”
“He..he...maaf. Jadi aku ganggu nih...?!...ya udah aku pergi....”
Devan hendak mengangkat bokongnya namun kemudian Fakhri mencegahnya dengan sebuah pertanyaan.
“Gimana bisnis kamu? Saya dengar bisnis kamu sekarang berkembang pesat?.”
“Yah bisa di bilang begitu.....”
Devan akhirnya duduk kembali. Dan memulai perbincangan soal bisnis dengan Fakhri.
Tiba-tiba terdengar pintu dibuka dengan kasar dari luar. Sesaat kemudian tampak Keinara berjalan dengan tergesa-gesa ke arah Fakhri dengan wajah sedikit pucat. Membuat Devan dan Fakhri terkejut dan merasa heran melihat sikap Keinara.
“Sayang...ada apa?!” Tanya Fakhri khawatir bercampur heran.
Namun Keinara tak kunjung menjawab.
Didorong rasa penasaran, Devan melangkah ke arah pintu untuk mencari tau apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Keinara. Namun baru beberapa langkah, muncul seorang pria seumurannya dengan wajah yang tak kalah tampan darinya melangkah dari balik pintu. Dan Pria itu memanggil-manggil nama Keinara sembari terus masuk ke dalam ruangan, mencari-cari keberadaan Keinara.
“Keinara......Kei.....!!”
Langkah pria itu terhenti saat melihat gadis yang di carinya tengah bersama dua orang pria. Dan nampak terkejut saat melihat Keinara bersembunyi di balik tubuh salah satu tubuh pria itu.
Di bawah tatapan tajam Devan dan Fakhri, pria yang ternyata bernama Rasya itu mencoba mendekati Keinara, dan itu membuat Keinara semakin takut.
“Kei...kenapa kamu pergi, aku hanya ingin bicara sama kamu.” Ujar Rasya sembari melangkah mendekati Keinara. Namun langkahnya terhenti saat tangan Devan menahan lengannya.
“Maaf bro....jangan dekati Keinara. Seperrtinya dia tidak menghendaki keberadaan anda di tempat ini. Lebih baik anda segera pergi, daripada membuat dia semakin ketakutan.”
Rasya sepertinya tak mendengar ucapan Devan. Karena pria itu kembali melangkah mendekati Keinara.
Devan yang merasa kesal, bersiap memberi pria itu sebuah pukulan. Tapi Fakhri melarangnya . Dan Fakhri membiarkan pria itu semakin dekat. Ia ingin tau apa yang sebenarnya diinginkan Rasya.
Sementara Keinara semakin gelisah.
“Sayang...tenanglah. Jangan takut ,ada aku disini. Aku hanya ingin tau apa yang dia nginkan dari kamu. Katakan saja apa yang ingin kamu katakan pada pria itu. Agar urusan kalian cepat selesai.” Bisik Fakhri mencoba menenangkan kekasihnya.
__ADS_1
Setelah mendengar ucapan Fakhri, Keinara memberanikan diri untuk menghadapi Rasya, dan berdiri tepat disamping Fakhri.
Rasya kemudian berhenti, ketika jaraknya tinggal lima langkah dari Keinara.
“Kei, tolong beri saya kesempatan untuk bicara sebentar saja!.” Ucap Rasya memohon.
“Bukankah tadi aku sudah memberikan kesempatan sama kamu untuk bicara?.”
“Berilah aku kesempatan sekali lagi Kei....!.”
"Baik, tapi ini yang terakhir. Setelah ini saya minta kamu jangan pernah temui aku lagi.”
“Kei, Jangan meminta aku menjauh darimu, setelah sekian lama aku mencarimu!.”
“Hentikan omong kosongmu Rasya, dan segera katakan apa yang ingin kamu katakan!!.” Keinara terlihat kesal.
“Kei.... Aku hanya minta kamu kembali padaku seperti dulu, kita mulai semuanya dari awal lagi. Aku janji tidak akan menyakiti kamu dan mengulangi kesalahanku waktu itu. Kembalilah padaku kei, aku masih sangat mencintaimu.”
“Bukankah tadi aku sudah bilang, bahwa aku tidak berminat kembali menjalin hubungan sama kamu. Karena di hatiku tidak ada lagi cinta untukmu, bahkan namamupun hampir hilang dari ingatanku. Aku sudah melupakan apa yang pernah terjadi di antara kita, termasuk perbuatan kamu yang menyakitiku waktu itu. Jadi tolong jangan lagi memintaku kembali. Karena aku tidak akan pernah melakukannya.”
“Kei..jangan bohongi dirimu sendiri. Akui saja kalau kamu masih mencintaiku. Mengingat begitu besar cintamu padaku waktu itu, saya yakin perasaan cintamu padaku tak mudah hilang dari hatimu.”
“Cintaku padamu memang sangat besar, tapi itu dulu sebelum kamu memilih meninggalkan aku untuk wanita yang kamu bilang lebih pantas untukmu. Sekarang tak ada sedikitpun rasa cinta yang tertinggal di hatiku untukmu. Rasya....pria tampan, kaya raya dan keturunan darah biru, aku masih Keinara, gadis yang tak pantas untukmu.
Jadi berhentilah memintaku kembali.”
“Kei...tolong maafkanaku atas ucapanku waktu itu, yang mungkin telah menyakitimu. Berilah aku
kesempatan untuk menebus kesalahanku itu. Aku janji akan membahagiakanmu...”
“Aku sudah memaafkanmu, tapi...tidak ada lagi kesempatan untukmu memperbaiki semuanya. Kau adalah masa laluku yang tak ingin ku hadirkan kembali di masa depanku. Pergilah....jangan temui aku lagi”.
Rasya terdiam sebelum akhirnya ia melangkah mendekati Keinara. Membuat Keinara kembali kebelakang tubuh Fakhri dan memeluk Lengan pria itu.
“Stop tuan Rasya...!!! Saya yakin anda tidak tuli sehingga anda bisa mendengar dengan jelas apa yang barusan calon istri saya katakan. Saya minta jangan paksa dia. Segeralah pergi dari sini karena calon istriku ini merasa tidak nyaman dengan keberadaan anda di sini.”
Fakhri menarik tubuh Keinara kedalam pelukannya, untuk menunjukan bahwa Keinara benar-benar miliknya sekarang.
Rasya menatap tak percaya, dengan apa yang ia lihat dan ia dengar. Gadis yang ia sangka masih bisa ia miliki ternyata telah menjadi milik pria lain. Pria itu termangu dengan wajah sendu menatap gadis yang dulu ia tinggalkan begitu saja. Setelah ia putus dengan selingkuhannya, dia merasa bahwa ia masih mencintai Keinara. Maka saat ia bertemu gadis itu, dia berharap bisa kembali bersamanya. Tapi sayang harapannya kini telah pupus.
Melihat Rasya tak kunjung beranjak dari tempatnya, Fakhri akhirnya memberi ancaman.
“Tuan Rasya.... sekali lagi saya minta kepada anda secara baik-baik, pergilah dari hadapan kami sekarang, Jangan sampai kami memaksa anda dengan melakukan tindakan kasar.”
“Anda mengancam saya!!.” Ucap Rasya pada Fakhri.
“Iya...dan saya akan segera membuktikan ancaman saya.”
Fakhri menggulung kedua lengan bajunya. dan bersiap memberi pelajaran pada rasya.
“Mas...bahumu sedang sakit.” Bisik Keinara.
“Tidak apa-apa sayang....daripada pria ini menyakitimu.” balas Fakhri, sembari menangkup pipi Keinara yang terlihat cemas.
Interaksi Keinara dan Fakhri membuat Rasya gusar. Membuat dirinya memilih untuk segera pergi dari tempat itu.
__ADS_1