
Fakhri belum juga sadar dari pingsannya. Meski kedua kakaknya sudah berusaha membangunkannya. Bagas yang mulai cemas, akhirnya memutuskan untuk menemui dokter. Tetapi baru saja hendak melangkah, sudut matanya melihat Fakhri menggerakan tangan. Bagas mengurungkan niatnya dan kembali mendekati Fakhri.
“Fakhri......” Panggil Fahira yang sudah lebih dulu berada didekat sang adik.
“Gimana Ri ...kepalamu masih terasa sakit?.” Tanya bagas yang masih terlihat cemas.
Fakhri menggeleng dan berusaha untuk bangun. Bagas dengan cekatan membantu adiknya. Sementara Fahira mengambil segelas air minum untuk Fakhri.
“Minumlah Ri....” Perintah Bagas yang kemudian membantu memegangi gelas saat Fakhri minum.
Fakhri duduk bersandar, terlihat lemah.
“Fakhri....mulai sekarang kamu jangan memaksa diri kamu untuk mengingat sesuatu yang belum bisa kamu ingat. Fokus saja sama pemulihan kesehatan fisik kamu. Karena seiring berjalannya waktu, kamu akan bisa mengingat semuanya lagi.” Nasehat Bagas, yang sepertinya tidak begitu di dengar oleh Fakhri. Karena pria itu kembali teringat gadis yang ada di akun media sosialnya.
“Fakhri.....!!.” Panggil Bagas dengan suara agak tinggi, ketika melihat adiknya terdiam dengan tatapan kosong.
“Eh....iya kak?.” Sahut Fakhri tampak kaget.
“Baru saja di bilangin.”
“Di bilangin apa kak?.”
Bagas nampak kesal dengan jawaban adiknya, namun disambut tawa oleh Fahira.
“Sekarang fungsikan telinga kamu baik-baik. Kamu tadi pingsan, bikin kita panik karena kamu memaksa otak kamu untuk mengingat-ingat seseorang kan?.”
Fakhri mengangguk.
“Mulai sekarang, jangan lakukan itu dulu. Fokus saja dengan pemulihan fisik kamu. Karena seiring berjalannya waktu kamu akan bisa mengingat semuanya kembali. Termasuk gadis yang bernama Keinara itu.”
“Hemmmm.....” Fakhri menarik nafas panjang. Dan sebentar memejamkan mata. Seperti sedang menekan sesuatu di hatinya.
“Maafkan kakak Ri, Kalau kakak tau memberitahumu tentang Keinara membuatmu seperti ini, kakak tidak akan melakukannya.” Ucap Fahira merasa bersalah.
“Sudahlah kak...aku tidak apa-apa. Kalian jangan mencemaskan keadaanku. Aku akan berusaha untuk lekas pulih dan melakukan apa yang kak Bagas bilang. Tapi kak Fahira, tolong jangan ceritakan kondisiku pada Keinara. Aku
yakin jika ia tau, itu akan membuatnya sedih.”
Meski Keinara kini bagai orang asing, tapi Fakhri ingin tetap memperlakukan Keinara sebagai kekasihnya dan menjaga perasaannya. Dari postingan yang ia unggah di akun media sosialnya, Fakhri merasa yakin jika dirinya dan Keinara saling mencintai. Meski rasa cintanya kini tak terlihat di pikirannya.
“Iya....” Jawab Fahira singkat.
“Sekarang kamu kembali keranjangmu. Istirahat.” Ucap Bagas lebih ke perintah pada Fakhri.
“Aku masih ingin duduk di sini kak, perutku lapar.” Jawab Fakhri sembari memegangi perutnya.
“Ya sudah aku keluar dulu beli makanan.” Sahut Bagas yang kemudian melangkah keluar.
__ADS_1
Baru beberapa detik keluar, Bagas sudah kembali lagi dengan gadis kecil dalam gendongannya. Bu Talia, Pak Surya dan Dimas muncul kemudian di belakangnya.
Meski Bagas tak jadi membeli makanan, lapar Fakhri tetap teratasi. Karena sang bunda membawa banyak makanan yang ia masak sendiri waktu di rumah Bagas. Jadilah keluarga itu makan malam bersama di rumah sakit.
Seiring waktu yang terus berjalan, kesehatan Fakhri terus membaik. Dan pria itu akhirnya dapat menginjakan kakinya kembali di tanah air setelah hampir satu bulan berada di negeri orang. Meski untuk berjalan ia masih membutuhkan kursi roda dan tongkat.
Kepulangan Fakhri di sambut bahagia oleh kekasihnya, Keinara. Sebulan berpisah, hanya beberapa kali mereka berkomunikasi melalui sambungan telepon. Rasa rindu yang terasa makin berat mendorong Keinara untuk menjenguk Fakhri di rumahnya.
Bersama Dewi Keinara menuju Rumah Fakhri.
“Benar enggak sih Kei ini rumahnya?.” Tanya Dewi ketika melihat sahabatnya ragu.
“Enggak tau Wi, aku juga baru pertama kesini”.
“Kok bisa.....memang kamu belum pernah di kenalin sama calon mertua?.”
“Belum.Udah yuk kita masuk. Siapa tau ini benar rumahnya.”
“Eh nanti....coba kamu lihat lagi alamatnya. Jangan sampai kita salah masuk rumah orang.”
Keinara akhirnya melihat kembali alamat yang di berikan oleh Fahira. Setelah merasa sesuai, Keinara memberanikan diri untuk mengetuk pintu.
“Assalamu’alaikum...” Ucap dua gadis itu ketika pintu terbuka.
“Wa’alaikumsalam...” Jawab seorang perempuan paruh baya yang sepertinya ART di rumah itu.
“Benar ini rumahnya mas Fakhri?.”
“Kami temannya mas Fakhri bu...”
“Oh...ya, silahkan masuk mbak.”
Keinara dan Dewi melangkahkan kakinya masuk ke ruang tamu yang terlihat luas dengan furnitur yang terkesan mewah.
“Silahkan duduk mbak, saya beri tahu dulu Mas Fakhrinya.”
Wanita itu berlalu. Keinara dan Dewi mendudukkan bokongnya di sofa. Tak berselang lama, seorang wanita lain muncul dari dalam.
“Keinara sama Dewi ya....” Tanya wanita yang merupakan ibu dari Fakhri. Perempuan itu langsung bisa mengenali dua gadis di depannya, meski baru sekali bertemu saat di rumah sakit.
Dua gadis itu bangkit dari duduknya. Menyambut tangan bu Talia yang menyalami mereka.
“Iya tante. Apa Kabar?.” Jawab Keinara sopan.
“Alkhamdulillah baik. Yuk duduk....”
Ketiganya kemudian duduk berhadapan.
__ADS_1
“Apa kabar kalian...?.”
“Alkhamdulillah baik tante.” Kali ini Dewi yang menjawab.
“Fakhrinya baru selesai mandi. Jadi tunggu sebentar ya.”
Hati Keinara begitu girang saat mendengar nama Fakhri di sebut. Gadis itu seperti tak sabar bertemu dengan pria yang sudah sangat dirindunya.
“Iya tante....”
Dari ruang dalam, wanita yang membukakan pintu untuk Keinara dan Dewi muncul lagi dengan membawa nampan berisi tiga cangkir teh hangat.
“Silahkan mbak...” Wanita yang biasa di panggil Bi Onah, menawarkan minuman yang baru selesai ia letakkan
di atas meja.
“Iya bu terima kasih...” Jawab Keinara dan Dewi kompak.
“Ayo nak...di minum. Jangan sungkan.” Bu Talia Kembali menawarkan, ketika melihat tamunya tak kunjung menyentuh minumannya.
Setelah hampir sepuluh menit ketiga perempuan itu berbincang, Fakhri yang duduk dikursi roda muncul dari dalam rumah bersama kakak laki-lakinya.
“Nah...itu Fakhri.” Ucap bu Talia.
Seketika Keinara dan Dewi mengikuti arah pandangan mata bu Talia. Dan mendapati Fakhri yang sedang menuju kearah mereka. Keinara seperti ingin berlari dan memeluk pria yang sudah sangat ia rindu itu. Tapi saat mata mereka bersitatap, gadis itu tak menemukan kerinduan untuknya disana. Wajah Fakhri malah lebih terkesan dingin. Namun gadis itu cepat-cepat menepis prasangkanya itu. Ia meyakini perasaannya sedang melakukan kesalahan.
“Mas Fakhri....” Sapa Keinara penuh kerinduan.
“Hei Kei....” Jawab Fakhri sembari tersenyum. Senyum yang terkesan di paksakan.
Keinara dan Dewi bangkit untuk menyalami dua pria yang kini berada tidak jauh darinya.
"Saya sangat senang mas Fakhri sudah kembali dalam kondisi sehat."
Ucapan Keinara terdengar parau.
"Iya Kei, makasih...."
Mata Keinara tiba-tiba mengembun saat menyentuh tangan Fakhri. Tak ingin rasanya Keinara melepas tangan Fakhri. Ia Ingin tangan itu memeluknya dengan pelukan kerinduan.Tapi ia harus rela keinginannya itu tak bisa terkabul. Karena pria yang dulu senang memeluknya, kini ia rasakan dingin.
Keinara memaksakan untuk tersenyum, saat ia harus menyalami pria yang bersama Fakhri. Sementara dihatinya muncul kesedihan,membayangkan jika apa yang ia rasakan itu benar. Bahwa Fakhri tak merindukannya dan berubah dingin kepadanya.
“Saya Bagas, kakaknya Fakhri.” Ucap Bagas sembari mengulurkan tangan pada dua gadis di depannya.
“Saya Keinara, dan ini teman saya Dewi. Senang bisa bertemu dengan anda Pak Bagas.” Ucap Keinara, saat pikirannya masih berkutat soal sikap Fakhri. Selanjutnya dua gadis itu duduk kembali di tempatnya semula.
“Keinara...nama yang cantik, secantik orangnya.” Puji Bagas pada Keinara sembari duduk di sebelah ibunya. Dan jaraknya hanya dua langkah dari gadis yang di pujinya.
__ADS_1
"Jangan panggil pak, panggil saja Bagas atau kak Bagas.” Tambah pria itu. Tak menyadari ada yang sedang menatap tak suka padanya.
“Untuk mengingatnya aku masih saja kesulitan, tapi kenapa aku merasa tak suka melihat Kak Bagas memujinya apa lagi duduk sedekat itu.” Batin Fakhri.