
“Kamu jadi balik kampung besok?.” Tanya Dewi ketika sedang makan siang bersama sahabat baiknya di sebuah warung baso.
“Iya....” Jawab Keinara singkat sembari meniup kuah baso yang masih berasap.
“Enggak ditunda dulu?.”
“Aku nggak punya alasan untuk menundanya.”
Dewi tampak kecewa dengan jawaban sahabatnya itu. Sebenarnya ia ingin Keinara tetap tinggal di Jakarta, meski kuliahnya sudah selesai. Tapi dia tak punya kuasa menahannya. Apalagi kisah cinta yang menyakitkan yang kini tengah di alami gadis itu, pulang ke kampung halaman adalah pilihan terbaik, agar bisa melupakan kesedihannya.
“Ya....jadikanlah aku alasannya...!” Tutur Dewi.
“Ha...ha....maaf ya....nggak bisa. Aku punya banyak alasan untuk segera pulang ke asalku.” Jawab Keinara lagi, yang punya banyak mimpi di tempat asalnya setelah lulus kuliah.
“Huh.....ya sudahlah....Jika itu keputusan kamu, saya bisa apa....” Dewi tampak sedih, karena kedepan hari-harinya pasti akan terasa berbeda tanpa sahabatnya itu.
“Aku pasti akan sangat merindukanmu nanti!.” Tambah Dewi dengan mata berkaca-kaca.
“Aduh jangan sedih dong....Kaya nggak mau ketemu lagi aja.”
“Ketemunya lagi kapan.....??.”
“Tiap hari bisa kok, pakai ini....” Balas Keinara sembari menunjukkan ponsel miliknya.
“Ya beda Kei....”
“Anggap aja sama....he..he...”
“Isshhhhh.....kamu tuh.......malah becanda.....!” Ucap Dewi dengan bibir manyun.
Jadilah makan siang itu penuh keharuan, antara dua sahabat yang sebentar lagi akan terpisah untuk waktu yang tidak bisa dipastikan.
Jam enam pagi dengan di antar sahabatnya, Keinara telah berada di depan sebuah stasiun kereta api. Keduanya tampak berpelukan, Mata keduanya tampak berkaca-kaca saat mengucapkan kata perpisahan. Pelukan itu seolah tak bisa terlepas, karena ada rasa berat berpisah dihati kedua sahabat itu.
“Aku akan sangat merindukanmu Kei......” Ucap Dewi yang akhirnya meneteskan air mata.
“Aku juga pasti akan sangat merindukanmu Wi. Makasih ya....selama ini sudah banyak menolongku, selalu ada buat aku . Dan maafkan aku, jika selama ini aku tidak bisa menjadi sahabat yang baik buat kamu.” Balas Keinara, sembari mengusap air yang ada dipipi Dewi.
Kedua sahabat itu kembali berpelukan. Dan terpaksa harus saling melepaskan karena Keinara harus segera masuk ke dalam kereta.
“Wi, aku titip ini ya....” Keinara mengambil sebuak kotak kecil dari dalam tas ranselnya dan memberikannya pada Dewi.”Tolong berikan ini sama mas Fakhri.” Tambahnya.
“Apa ini Kei?.” Dewi mengamati kotak yang entah apa isinya, membuatnya penasaran.
“Itu sesuatu milik mas Fakhri, yang harus aku kembalikan. Tolong ya Wi...”
__ADS_1
“Iya Kei....Aku akan segera mengantarkannya .”
“Makasih Wi....Aku masuk sekarang.”
Tapi belum Keinara melangkah, Dewi sudah memeluknya.
“Hati-hati ya Kei, begitu sampai kabari aku..”
“Pasti...daa........!”
Dua sahabat itu saling melambaikan tangan. Sebelum akhirnya benar-benar berpisah.
Ada rasa sesak yang menyumbat nafas Keinara, begitu ia duduk di dalam kereta. Kenangan-kenanganya selama menjadi bagian dari ibu kota, muncul bergantian di benaknya. Dan matanya berair ketika kenangannya bersama Fakhri muncul juga diingatannya.
"Mas Fakhri...aku nggak nyangka kisah kita akan berakhir seperti ini, kau ingkari semua janjimu. Ternyata kau memang tak pernah berubah, kau tetap seorang play boy. Bodohnya aku terlalu percaya dengan kata-kata manismu. Aku kecewa sama kamu mas..."
Mata gadis itu makin berair, ketika kereta yang di tumpanginya mulai melaju meninggalkan ibu kota dengan semua kenangannya. Empat taun berada di ibu kota, membuatnya merasa memilki tempat itu. Kini dia harus bersedih karena tak lagi menjadi bagian didalamnya. Dia harus kembali ke tempat asalnya, karena pendidikannya yang telah usai.
Keinara menghapus air matanya, mencoba untuk menegarkan hatinya. Mengiklaskan apa yang sudah terjadi dalam kisah cintanya. Perjalanannya kali ini adalah langkah awal dirinya untuk mulai membuka lembaran baru dalam hidupnya.
Di Ibu Kota.....
Mentari mulai meninggi saat seorang gadis bersama kekasihnya memasuki gedung berlantai tujuh milik Fakhri. sepasang kekasih itu menuju meja resepsionis.
“Saya mau bertemu dengan Pak Fakhri. Beliau ada?.”
“Maaf, sebelumnya sudah buat janji?.”
“Belum....Kami kesini juga tidak kami rencanakan sebelumnya, jadi tidak sempat buat janji.”
“Oh.....apa anda teman beliau?”
“Bukan..kami diutus seseorang untuk menemui Pak Fakhri. Jadi bisa kami bertemu dengan beliau?.”
“Bisa...tapi anda berdua harus menunggu, karena pak Fakhri sedang meeteng di luar. Mungkin satu jam lagi baru kembali ke kantor.”
“Oh...satu jam lagi ya.....waktu yang cukup lama.....Ehm mba...bagaiamana kalau saya menitipkan benda ini ke anda. Nanti tolong sampaikan ke pak Fakhri kalau beliau sudah kembali. Saya tidak bisa menunggu, karena kami ada pekerjaan lain.” UcapDewi yang kemudian meletakkan sebuah paper bag di atas meja resepsionis.
“Bagaimana..bisa??” Sambung Dewi.
“Iya bisa....Nanti akan saya sampaikan begitu beliau kembali. Tapi kalau boleh tau,ini dari siapa ya ?.”
“Pak Fakhri akan tau dari siapa, ketika kotakini beliau buka.Yang pasti itu dari orang yang sangat pak Fakhri kenal!.”
“Baiklah...saya akan menyimpannya.”
__ADS_1
“Oke...makasih mbak...Kalau begitu kami mohon pamit. “
Satu jam setelah kepergian Dewi dan Beno, Fakhri sudah kembali duduk di kursi kebesarannya.
“Masuk...” Ucap Fakhri ketika mendengar pintu ruangannya di ketuk seseorang dari luar.
“Selamat siang pak Fakhri...” Sapa Vera yang harus meninggalkan meja tugasnya, demi menyampaikan amanat yang di berikan padanya.
“Vera.. ! Ada apa?.” Sahut Fakhri yang penasaran dengan kehadiran wanita yang harusnya berada di meja resepsionis.
“Iya pak....saya hanya ingin mengantarkan ini pak.” Sebuah paper bag Vera letakan di meja pimpinannya.”Tadi ada dua orang yang mengantarkannya, mereka bilang itu buat Pak Fakhri dari seseorang yang sudah sangat bapak kenal. Mereka tidak mau menyebutkan namanya.” Lanjut Vera yang kemudian pamit untuk kembali ke pekerjaannya.
Dengan rasa penasaran , Fakhri membuka paper bag dan mengambil isinya. Sebuah kotak kecil dari karton berbentuk kubus berwana putih, menarik perhatiannya. Pria itu kemudian membukanya. Didalam kotak itu berisi sebuah kotak berwarna merah seperti kotak perhiasan. Dan di bawahnya terdapat secarik kertas berisi beberapa baris kalimat.
“Mas Fakhri....saat tulisan ini mas baca, mungkin aku sudah tidak ada di kota ini lagi. Aku mohon maaf tidak bisa berpamitan langsung sama kamu, aku yakin mas tau alasannya.Mas Fakhri... terima kasih atas cinta, kasih sayang dan perhatian yang pernah mas berikan padaku. Terima kasih telah hadir dalam hidupku, dan memberikan banyak warna di dalamnya, dan terima kasih juga atas luka ini. Aku akan mencoba menghapusnya bersama kenangan-kenangan kita. Ini aku kembalikan cincin yang pernah mas sematkan di jari manisku. Aku merasa benda ini tak seharusnya ada lagi di jariku. Sekarang ada yang lebih berhak memakainya. Selamat tinggal mas Fakhri, semoga mas selalu bahagia..... berakhirnya tulisan ini, berakhir pula hubungan kita. Doa terbaik untukmu selalu mas Fakhri. Keinara.“
Air mata tak bisa terbendung lagi, membentuk anak sungai di pipi Fakhri. Tangannya bergetar sembari memegang surat dari Keinara. Terasa begitu sakit hati Fakhri, mengundang kesedihan yang begitu dalam. Gadis yang di cintainya telah pergi meninggalkannya tanpa memberinya kesempatan memeluknya untuk yang terakhir kali. Dan itu karena kesalahannya. Kini dia hanya bisa meratapinya.
Kotak merah yang berisi cincin, Fakhri buka dengan tangan yang masih bergetar. Kilau berlian yang menghiasi cincin itu menyentuh mata Fakhri hingga menembus hati dan pikirannya. Menghadirkan serangkaian kisah yang sempat hilang dari ingatan pria itu.
Satu persatu kenangan manis bersama Keinara muncul diingatannya dengan jelas. Dia telah ingat bagaimana ia menyematkan cincin itu di jari manis gadis yang kini telah pergi darinya.
Bukan hanya kenangan dengan Keinara yang kembali, tapi juga peristiwa yang terjadi sebelum ia tertimpa musibah berhasil ia ingat.
Fakhri mengambil ponselnya, dan menekan sebuah nomor untuk menghubungkannya dengan Keinara. Tapi nomor itu tak bisa lagi ia hubungi. Tak menyerah, ia mencoba mencari alamat rumah Keinara yang ia ingat pernah ia simpan. Tapi setelah berkali-kali ia cari alamat itu tak kunjung ia temukan.
Fakhri masuk ke ruang pribadinya, menumpahkan kesedihan dan kekesalannya di sana.
“Keinaraaa......kenapa kau pergi tinggalkanaku...Keinara.....kembalilah.....!!!! Aku mencintaimu..sangat
mencintaimu....!!!.” Teriak Fakhri yang terdengar menyayat hati.
Pria itu terduduk di lantai bersandar tepian ranjang. Wajahnya telah basah oleh air mata yang terus mengalir.
“Fakhri...” Teriak Rangga dari balik pintu. Pria itu melihat sahabat sekaligus atasannya sedang tidak baik-baik saja. Terlihat dari air mata di pipinya.
Merasa iba, Rangga mendekat ke arah Fakhri dan duduk di sampingnya.
“Keinara pergi Ngga....dia tega meninggalkan aku...dan mengakhiri hubungan kita...sakit..Ngga, Sakit banget rasanya...” Ucap pria yang menangis tanpa suara itu.”Sekarang aku harus bagaimana? Aku tak sanggup jika berpisah dengannya. Dia begitu berarti. Aku sangat mencintainya.”
Pria yang juga telah membaca surat dari Keinara sebelum masuk ke ruangan itu, begitu merasakan apa yang tengah di rasakan oleh Fakhri. Diusapnya punggung sang sahabat, agar sahabatnya itu bisa tenang dan tak larut dalam kesedihannya.
“Sabar Ri.... Tenangkan dirimu.Jangan seperti ini.Kita masih bisa mencarinya nanti! ”
Ucapan terakir Rangga sedikit membuat Fakhri berpikir, apa yang ia lakukan sekarang tidak akan membuat kekasihnya kembali. Yang harus ia lakukan sekarang adalah mencari keberadaan gadis yang sangat dicintainya itu. Dan membawanya kembali kepelukan.
__ADS_1