Cinta Keinara

Cinta Keinara
Terpuruk


__ADS_3

Dentuman musik menggema di seluruh ruang. Begitu nyaring memekakan telinga bagi yang tak terbiasa. Sebagian orang yang ada di tempat itu menikmatinya dengan menggerakan badan mereka mengikuti irama musik, sebagian


lagi hanya duduk ditemani minuman beralkohol dengan bau yang menyengat.  Dan Fakhri menjadi salah satunya.


Di temani sebotol minuman beralkohol dan sebungkus rokok, Fakhri bersama ketiga temannya duduk di salah satu sofa di yang ada di club malam itu. Setelah sekian lama menjauhi tempat itu, kini Fakhri kembali menginjakkan kakinya di sana. Dan itu disambut gembira oleh ketiga temannya yang memang terbiasa berada ditempat itu.


Vano,Rino dan Doni harus kecewa, karena Fakhri lebih fokus pada rokok dan minumannya, daripada berbicara dengan mereka. Sesekali pria itu nampak menarik nafas panjang, untuk melegakan dadanya yang terasa sesak.


Tatapan matanya tampak tak berisi. Raga dan pikiran pemuda itu tak berada di tempat yang sama.


“Mikirin apa si Ri, serius amat  mikirnya.”  Tanya Rino yang sejak tadi memperhatikan sikap Fakhri.


“Heh....nggak mikirin apa-apa.”  Jawab Fakhri yang kemudian menenggak minumannya sampai gelas yang di pegangnya kosong, dan itu adalah gelas ketiga. Disusul kepulan asap dari rokok yang di hisapnya.


“Kamu yakin....Atau kamu mau cerita sama kita?. Kita pastidengerin kok ...!.” Ucap Rino lagi.


Fakhri menggelang, sembari menuang minuman kedalam gelasnya.


“Sudah Ri........ jangan kebanyakan, aku males kalau harus nganterin kamu pulang.”  Ucap Vano tak menginginkan temannya itu mabuk, karena pasti nanti dia yang di paksa mengantar Fakhri pulang.


Fakhri hanya tersenyum dan kemudian kembali menenggak minumannya lagi, sampai habis.Vano cepat-cepat menyingkirkan botol minuman didepan Fakhri yang masih terisi.


“Van...!.” Panggil Fakhri yang nampak kecewa dan mata yang menatap tajam


“Sudah Ri....cukup....jangan kebanyakan minum!.”  Sahut Doni.


Diantara Fakhri dan ketiga temannya, Fakhri adalah yang paling mudah mabuk meski hanya meminum satu gelas minuman memabukan itu.


“Satu gelas lagi...” Balas Fakhri yang berusaha meraih botol minuman yang di jauhkan oleh Vano.


Ketiga kawannya tak bisa mencegah. Fakhri benar-benar menuang isi botol kedalam gelas sampai gelasnya terisi penuh. Kali ini ia baru meminum minuman itu setelah rokok yang di hisapnya habis.


Vano,Rino dan Roni hanya mampu memandangi sahabatnya yang  satu itu, yang tampak sedang terbebani oleh suatu masalah.Mereka bertiga akhrinya membiarkan Fakhri dengan dunianya, tak berniat mengusiknya. Mungkin Fakhri sedang ingin melampiaskan beban dihatinya, pikir ketiganya.


Fakhri tampak mengerjap-ngerjapkan matanya .


“Keinara...!!.” Teriak Fakhri ketika ia melihat seorang gadis melintas didepannya.


Merasa gadis itu  tak merespon panggilannya, Fakhri hendak berusaha mangejarnya. Tapi ketika baru saja bangkit dari duduknya, tubuhnya limbung sehingga kembali terduduk di sofa. Sementara matanya terus mencari keberadaan gadis yang ia sangka Keinara.


“Keinara....?.” ucap ketiga teman Fakhri, yang merasa pernah mendengar nama itu.


Fakhri mencoba bangkit dari duduknya tapi lagi-lagi tumbuhnya limbung.


“Fix.....kita harus pulang sekarang....” Ucap Doni dan diiyakan oleh kedua temannya.


Doni memapah tubuh Fakhri dengan mengalungkan satu tangan Fakhri di lehernya. Di bantu dua temannya, Doni membawa Fakhri keluar dari tempat itu.


“Kita mau kemana?....” Tanya Fakhri yang sudah di kendalikan oleh alkohol.


“Kita pulang...!” Jawab Vano.


“Aku tidak mau pulang. Aku mau ketemu Keinara...” Jawab Fakhri yang berusaha memutar tubuhnya untuk kembali kedalam club.

__ADS_1


“Eits...mau kemana?. Kita pulang...Keinara enggak  ada disana!.” Rino mendorong tubuh Fakhri yang terus berusaha masuk kembali ke dalam ruang bising itu.


Doni membuka pintu mobil Fakhri dan mendudukan si pemilk di sebelah kursi pengemudi. Doni mengantar mobil dan pemiliknya pulang,  sementara kedua temannya mengikuti dari belakang.


“Fakhri...Fakhri....gara-gara cewek kamu sampai mabuk seperti ini.Cinta banget apa kamu sama cewek itu?”  Tanya Doni pada pria mabuk di sebelahnya.


“Aku mencintainya...sangat mencintainya.....he...he....” Jawab Fakhri dengan nada khas orang mabuk.


“Hebat banget tuh cewek, bisa bikin si play boy sebucin ini sama dia.” Gumam Doni.


Doni berhasil membawa Fakhri sampai keteras rumahnya. Dibantu satpam, Doni membawa masuk Fakhri kedalam rumah. Di pukul dua dini hari ibunya Fakhri ternyata sedang terjaga. Wanita yang mengenakan mukena hendak menuju dapur untuk mengambil air minum, saat mendengar pintu rumah dibuka. Wanita itu yakin Fakhri yang membuka pintu, karena ia tau putranya belum kembali setelah berpamitan untuk bertemu teman-temannya.


“Astaghfirulloh Fakhri....!!.” Pekik bu Talia melihat putranya pulang dengan di papah temannya. Bau alkohol yang menyengat memberitahunya kalau Fakhri sedang mabuk.


“Antar langsung kekamarnya saja Don...” Pinta bu Talia. Dan langsung dituruti oleh Doni yang masih di bantu satpam.


Doni memapah tubuh Fakhri naik ke lantai atas dengan susah payah. Sampai akhirnya Doni berhasil merebahkan tubuh Fakhri di atas ranjangnya.  Nama Keinara sesekali terucap dari bibir Fakhri.


“Terima kasih ya nak Doni, maaf sudah merepotkan.” Ucap bu Talia begitu Doni keluar dari kamar Fakhri.


“Sama-sama tante, kalau begitu saya pamit.”


Bu Talia mengantar Doni sampai depan pintu, sebelum akhirnya masuk kembali kekamar anaknya.


“Hem.....ada masalah apa ini anak. Sampai dia mabuk seperti ini.” Pikir bu Talia yang memang paham dengan kebiasaan anaknya. Fakhri akan lari ke minuman beralkohol, jika ia mengalami masalah yang membebani pikirannya.


Sang bunda menatap  wajah anaknya, yang tengah terlelap. Berbeda dari biasanya, wajah fakhri kali ini tampak menyiratkan kesedihan yang dalam.


“Keinara.....jangan pergi.....!”


“Keinara....?” Gumam sang Bunda penuh tanya.”Gadis itukah yang telah membuat Fakhri seperti ini?.  Ada apa dengan hubungan mereka?.” Wanita paruh baya itu kembali bergumam.


Sang bunda adalah tempat ternyaman bagi Fakhri untuk mencurahkan keluh kesahnya, termasuk semua tentang Keinara. Tapi itu dulu sebelum Fakhri terkena musibah. Semenjak ia amnesia, ibunya tak lagi mendengar cerita Fakhri tentang Keinara bahkan tentang hubungan mereka.


Setelah melepas sepatu dan menyelimuti tubuh putranya, Nyonya Surya Permana keluar dari kamar putranya. Membiarkan anaknya beristirahat dari segala masalah yang mengganggu pikirannya sampai siang menjelang.


“Fakhri....Bangun....!.”


Suara sang bunda yang sedang membelai rambutnya, mengusik tidur pria yang semalam mabuk. Fakhri membuka matanya yang masih terasa berat.


“Bunda.....” Panggil Fakhri dengan suara serak.


“Sudah siang nak.....ayo cepat bangun!.”


Jarum jam di dinding kamar Fakhri menunjuk angka 11, dan itu membuat pemiliknya membulatkan mata karena terkejut. Ia teringat hari ini ada meeting dengan beberapa staffnya di kantor. Dan sekarang dia sudah sangat


terlambat.


“Bunda kenapa nggak bangunin Fakhri dari tadi....” Ucap Fakhri protes sembari berlari masuk ke kamar mandi.


Wanita itu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anak bungsunya, dan kemudian berlalu untuk menyiapkan segelas susu untuk putranya itu.


“Mungkin karena ia mabuk semalam, ia lupa kalau dia seorang pimpinan yang bisa menunda atau membatalkan meeting di kantornya. Apalagi ini hanya meeteng dengan bawahannya.” Gumam Bu Talia yang tengah menuruni tangga menuju ruang makan.

__ADS_1


Selesai dengan kegiatannya di kamar mandi, Fakhri yang masih menggunkan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya, mengambil ponsel yang tergeletak di nakas.


“Hallo Ngga....sorri sepertinya aku terlambat datang. Meeteng kita tunda sampai selesai jam makan siang .”


“Heh....iya, aku sudah bilang sama mereka.” Jawab Rangga yang sebenarnya sudah tau jika bosnya akan datang terlambat.


“Sejak kapan kamu jadi cenayang....aku baru bilang tapi kamu udah tau duluan?!.”


“Nggak penting ....yang pasti aku juga tau kalau kamu bangun kesiangan karena semalam mabuk dan pulang pagi.”


“Aishhh......sepertinya ada kerjasama yanga baik antara kamu dengan orang rumah.”


“Ha....ha...ha.....”


Fakhri langsung menutup telfonnya begitu mendengar tawa Rangga. Rangga membuatnya bisa bernafas lega, paling tidak ia punya waktu untuksejenak bersantai di kamarnya.


Selesai berganti pakaian, Fakhri turun ke ruang makan. Disana sang bunda baru saja  selesai membuat segelas susu untuknya.


“Nih minum susunya....itu minuman sehat, nggak memabukan.”  Perintah bu Talia seraya menyindir.


Fakhri tersenyum dan langsung meminum susu yang di sodorkan oleh ibunya. Tidak sadar dengan sindiran ibunya.


“Kenapa bunda ngliatin aku seperti itu?.” Tanya Fakhri ketika menyadari ibunya tengah memperhatikan diriny saat dirinya tengah  menikmati dua potong roti yang telah diolesi selai.


“Nggak apa-apa....emang nggak boleh bunda ngliatin anak bunda sendiri.?”


“Ya boleh-boleh aja sih. Cuma aneh aja. Apalagi bunda ngliatinnya gitu banget.”


“Biasa aja...perasaan kamu aja kali.” Balas Bu Talia dengan senyuman penuh arti.


Selesai dengan makannya, Fakhri ingin kembali kekamarnya.


“Kamu yakin, tidak ada yang ingin kamu ceritakan sama bunda?.” Ucap bu Talia, membuat anaknya menghentikan langkahnya .


“Maksud bunda...?.”


“Bunda udah lama nggak dengar kamu cerita soal pacar kamu itu, yang namanya siapa itu...bunda lupa...!.”


Wajah Fakhri seketika berubah, mendengar ucapan ibunya. Dan pikirannyapun melayang pada gadis yang kemarin berderai air mata dihadapannya.


“Maaf bunda, Fakhri belum bisa cerita sekarang.”


“Nggak apa-apa. Bunda akan menunggu sampai kamu mau cerita. Tapi bunda harap, hanya bunda yang kamu jadikan tempat kamu mencurahkan semua keluh kesahmu, bukan minuman itu.”


“Jadi bunda tau aku semalam mabuk?.”


Bu Talia mengangguk dengan wajah kecewa.


“Maaf bunda...”


“Kali ini bunda maafkan...tapi lain kali bunda akan berpikir dua kali untuk bisa memaafkan kamu.”


Fakhri hanya terdiam. Sebenarnya ia ingin sekali menjelaskan alasannya mabuk semalam. Tapi ia belum bisa melakukannya sekarang.

__ADS_1


“Ya sudah....pergilah.”


Akhirnya bu Talia membiarkan putranya masuk kembali kekamarnya, untuk bersiap pergi ke kantor.


__ADS_2