Cinta Keinara

Cinta Keinara
Oma Ratna


__ADS_3

“Siang ini, jam 1 bapak ada undangan ke pesta pernikahan pak Jonatan di ballroom hotel Raflesia. Dan jam 3 bapak juga ada meeting di restoran Quenssa dengan klien baru. Hanya itu pak jadwal pak Fakhri hari ini.” ucap Fani, sekretaris Fakhri.


Fakhri mengangguk mengerti.


“Terima kasih Fan, kamu boleh kembali ke mejamu.”


“Baik pak...”


Fani melangkah kembali ke meja tugasnya.


Tepat jam satu siang Fakhri di dampingi Fani dan Rangga, telah berada di Ballroom hotel Raflesia. Menghadiri pesta pernikahan partner bisnisnya. Pesta pernikahan yang terlihat begitu megah.


Fakhri naik keatas  pelaminan. Memberi selamat pada kedua mempelai.


“Selamat menempuh hidup baru pak Jo, semoga bahagia” Ucap Fakhri sambil berjabat tangan dengan pengantin pria.


“Terima kasih pak Fakhri, semoga segera menyusul” Balas Jonatan yang di balas senyuman oleh Fakhri.


Selesai mengucapkan selamat pada kedua mempelai, Fakhri dengan kedua bawahannya duduk di meja undangan.


“Bapak mau makan apa, biar saya ambilkan sekalian” Ucap Fani menawarkan.


“Terserah kamu aja,asal jangan yang pedas.” Balas Fakhri.


“Baik pak...”


Fani melangkah ke sisi ballroom yang dipenuhi makanan. Lima menit kemudian Fani kembali dengan seorang pelayan membawa nampan berisi makanan. Pelayan memindahkan semua makanan keatas meja.


“Untuk minumannya sebentar lagi kami antar.” Ucap sang pelayan.


“Ya mas, segera ya...” Balas Fani.


“Baik bu.” Jawab Pelayan sebelum akhirnya pergi.


Ketiganya menikmati hidangan yang telah tersaji dihadapan mereka. Beberapa langkah dari mereka berdiri seorang pelayan wanita yang tengah berhenti karena terkejut melihat ketiga orang yang akan dia datangi. Gadis itu ingin berbalik, tapi diurungkan. Bagaimanapun ia harus profesional dalam menjalankan tugasnya. Dengan jantung berdebar dan langkah yang terasa berat, gadis itu akhirnya mendekati meja, dimana Fakhri, Fani dan Rangga berada. Pelayan itu adalah Keinara. Gadis itu berada di acara itu karena Restoran tempatnya bekerja, di percaya untuk menyediakan jamuan untuk para tamu undangan.


“Permisi....” Ucap Keinara pelan.


Merasa tak asing dengan suara yang tiba-tiba terdengar di telinga mereka, Fakhri dan kedua anak buahnya menoleh ke sumber suara.


“Keinara....!!,”  Panggil Fani.


Sementara Fakhri menahan suaranya.


Keinara tersenyum.


“Permisi bapak ibu, ini minumannya yang tadi di pesan.”


Sambil berdiri di antara kursi Fakhri dan Rangga, Keinara meletakan minuman keatas meja. Debaran jantungnya semakin menggila,saat matanya bertemu dangan mata Fakhri. Namun sedetik kemudian debaran itu bercampur dengan rasa kecewa karena Fakhri membuang muka.


“Silahkan....”


Hanya sepotong kata tapi butuh kekuatan untuk Kinara mengucapkannya. Karena dada gadis itu terasa menyempit.


“Terima kasih Keinara....” Balas Rangga dengan senyum merekah di bibirnya.


Keinara tersenyum dan mengangguk kemudian berlalu.


Sepeninggal Keinara Fakhri kehilangan nafsu makannya. Pria itu meletakan alat makan yang sedang ia pegang. Dan menenggak habis minuman yang diberikan oleh gadis yang masih bertahta di hatinya.


Pria itu lantas pergi dari tempatnya. Bergabung dengan sesama pembisnis. Rangga tau apa yang tengah terjadi dengan bosnya.


Apa yang ada dipikiran Rangga tentang Bosnya memang benar adanya. Perasaan bosnya memang sedang tidak baik-baik saja. Bergabung dan berbincang dengan beberapa rekan bisnis, Fakhri mencoba mengalihkan pikirannya dari Keinara.


Disalah satu sudut ballroom.


Keinara berulang kali menarik nafas panjangnya. Masih tak percaya kalau ia baru saja bertemu dengan Fakhri. Pria yang semula mengecewakannya karena ketidaksopanannya, tapi sekarang mengecewakannya karena seolah tak peduli dengan dirinya.


“Kei....kenapa?  Muka kamu kok kelihatan sedih gitu.”


Tiba-tiba Beno menghampiri memecah lamunannya.


“Eh....enggak...enggak apa-apa kok kak”  Jawab Keinara gugup.


“Kalau enggak apa-apa, segera kembali ke tempat kamu. Tamu yang datang makin banyak”


“Iya kak....” Keinara bergegas ketempat dimana dia harus bekerja.


Keinara kembali melayani tamu. Tak terkecuali tamu seorang nenek yang baru saja datang dengan seorang pria muda yang tampan.


“Oma mau makan apa?.” Tanya sang pria yang merupakan cucu dari wanita itu.


Wanita tua yang di panggil oma itu, menunjuk beberapa  makanan ringan.  Sang cucu segera mengambilkan makanan sesuai permintaan omanya.


Keinara yang bertugas melayani, menyodorkan piring kecil kepada sang pria.


“Silahkan tuan....” Ucap Keinara.


Pria itu mengalihkan pandangannya ke wajah gadis yang menyodorkan piring padanya. Pria itu tertegun dengan mata tak berkedip melihat kecantikan Keinara.  Dan baru tersadar saat neneknya memanggil.


“Devan....!”


Pria yang bernama Devan, dengan salah tingkah mengambil makanan ringan yang di minta neneknya.  Sementara sang nenek mendekati Keinara yang masih berdiri di tempatnya, dengan senyum menghiasi wajahnya.


“Ada yang bisa saya bantu oma?.” Tanya Keinara, saat wanita itu berdiri di depannya.


“Kamu cantik sekali nak.” Ucap wanita tua yang biasa di panggil oma Ratna.


“Terima kasih oma.” Jawab Keinara dengan wajah merona.


“Siapa namamu.”

__ADS_1


“Keinara oma.”


“Nama yang cantik, secantik pemiliknya.”


Lagi-lagi oma Ratna membuat Keinara tersipu.


“Oma...yuk kita duduk.” Devan menghampiri neneknya bermaksud mengajaknya duduk.


“Nak...temenin oma duduk sebentar yuk.”  Pinta oma Ratna.


“Oma...mbaknya kan lagi kerja, jangan di repotin dong.”  Devan mengingatkan neneknya untuk tidak


merepotkan Keinara.


“Cuma sebentar kok Van. Mau ya nak...?.”  ucap oma Ratna setengah memohon.


“Ehmm....iya oma. Tapi sebentar ya oma, saya panggil teman dulu buat menggantikan saya”


Keinara kemudian berlalu. Tak berapa lama ia telah kembali bersama wahyu.


“Mari oma...”  Ajak Keinara.


Oma Ratna berjalan dengan memegang lengan Keinara menuju meja yang masih tampak kosong.


“Duduklah disini nak...” Pinta oma Ratna agar Keinara duduk disamping kirinya. Sementara Devan duduk dibagian sisi kanan.


“Tadi siapa nama kamu nak? Oma lupa.”


“Keinara oma....”


“Oh iya...Keinara. Nama yang  cantik...iya kan Van?.”


Pria yang sejak tadi memperhatikan Keinara, tiba-tiba gugup saat namanya di sebut sang oma.


“I..iya oma.”


“Nak...panggil saja aku oma, oma Ratna dan ini cucu oma. Namanya Devan.”


Keinara mengangguk ke Devan sebagai tanda perkenalan.


“Kamu mengingatkan nenek sama cucu oma. Mungkin kalau dia masih ada  dia seumuran sama kamu.


Sekarang dia sudah tenang di atas sana.” Oma Ratna tampak sedih ketika mengingat cucu perempuannya yang meninggal satu tahun lalu akibat sakit.


“ Turut berduka ya oma, semoga cucu oma husnul khotimah. Tapi oma enggak boleh sedih berlarut larut. Karena pasti cucu oma akan ikutan sedih di sana.” Keinara berusaha menghibur oma Ratna yang mulai kelihatan sedih.


“Sekarang oma makan ya...!?.”  Ucap Keinara sembari mendorong pring berisi makanan milik wanita itu.


“Oma ingin disupin sama kamu nak, boleh...?.”


“Oma....., kan ada aku. Aku aja yang nyuapin oma.”  Pinta Devan karena merasa tak enak dengan Keinara.


“Tidak apa-apa tuan, biar aku saja yang nyuapin oma”


Keinara hanya tersenyum menanggapi ucapan Devan. Keinara mulai menyuapi oma Ratna.


“Sudah lama kamu bekerja sebagi pelayan?.” Tanya oma Ratna.


“Sudah oma, hampir tiga tahun.”


“Oma salut dengan kamu. Gadis seusia kamu mau bekerja menjadi pelayan. Apa kamu tidak malu?.”


“Buat apa malu oma, bagi saya yang penting halal dan tidak merugikan orang lain.”


“Uh...oma bener-bener salut sama kamu.”  Ucap Oma Ratna sambil mencubit kedua pipi Keinara bersamaan.  Keinara hanya tersenyum malu dengan perlakuan Oma Ratna.


“Kamu tidak kuliah?.”


“Kuliah oma, sudah semester 7. Fakultas Pendidkan Matematika”


“Oh....ya...ya...bagus..bagus....”


“Maaf oma,  saya harus kembali bekerja. Teman-teman saya sepertinya kewalahan. Jadi saya harus membantu mereka. Maaf sekali oma”


Keinara terpaksa meninggalkan Oma Ratna,  setelah melihat Beno dari kejuahan memberikan kode agar dia segera kembali bekerja.


“Oh ya nak, enggak apa-apa. Silahkan.....Terima kasih ya sudah menemani oma.”


“Sama-sama oma. Mari oma dan kak Devan saya permisi”


Oma Ratna dan Devan mengangguk . Membiarkan Keinara pergi melanjutkan tugasnya.


“Oma ingin kamu cari istri seperti Keinara. Sudah cantik, sederhana, sopan, dan sabar lagi.” Ucap Oma Ratna pada Devan .


Devan hanya diam mendengar ucapan omanya,  yang selalu meminta dirinya untuk segea menikah.


Tamu makin banyak berdatangan. Keinara semakin sibuk melayani tamu. Sesekali ia harus bergerak cepat untuk memastikan stok makanan aman.


Keinara sedang melangkah tidak jauh dari pelaminan, saat tiba-tiba buket bunga yang dilempar pengantin tepat jatuh depan wajahnya. Reflek Keinara mengkap buket itu. Namun ternyata bukan hanya dia yang menangkapnya.


Keinara terkejut saat tau, pemilik tangan yang sedang mengenggam buket bunga bersamanya.  Tangan itu milik Fakhri. Mata keduanya bertemu untuk beberapa saat, sebelum akhirnya suara orang-orang di sekitar mereka berteriak menggoda. Menyebabkan keduanya harus melepas tatapan mereka.


Fakhri melepas genggamannya.


“Ambilah....” Ucap Fakhri singkat sebelum akhirnya pergi tanpa mengucapkan apapun lagi.  Tinggalah


Keinara sendiri menjadi pusat perhatian. Namun gadis itu tak menyadarinya. Karena pikirannya masih tertuju pada Fakhri. Ada rasa nyeri di ulu hati gadis itu, melihat sikap Fakhri. Keinara tersadar dari lamunannya saat tangan devan menyentuh bahunya.


“Mbak Keinara....” Panggil Devan, membuat Keinara kaget dan menyadari bahwa dia berada di tengah para tamu undangan yang tengah menatap ke arahnya.


“Eh...kak Devan.”

__ADS_1


“Jangan bengong disini, diliatin banyak orang tuh.” Ucap Devan setengah berbisik.


Wajah Keinara seketika memerah karena malu dan segera berlalu dari tempatnya. Tapi sebelumnya, ia menyerahkan buket bunga yang di pegangnya pada Devan. Devan hanya tersenyum melihat Keinara yang salah tingkah.


Devan melangkah mendekati Fakhri  yang tengah bermain ponsel.  Devan meletakan buket bunga di depan Fakhri.


“Kamu kan yang tadi menangkap buket ini sama Keinara?. barusan Keinara menyerahkannya padaku. Aku merasa kamu yang lebih berhak, jadi aku kembalikan sama kamu” Ucap Devan yang memang sudah lama berteman dengan Fakhri.


Fakhri meninju lengan Fakhri dan kemudian keduanya berpelukan.


“Apa kabar Van, lama sekali kita tidak pernah ketemu. Kemana saja kamu?.” tanya Fakhri kepada teman lamanya.


“Aku enggak kemana-mana. Sejak adikku meninggal aku fokus sama oma  yang sangat terpukul dengan


kepergian adikku. Aku harus memberikan perhatian lebih sama oma. Jadi aku habiskan banyak waktuku untuk menemani oma setelah bekerja”


“oh....memang orang tuamu masih menetap di luar negeri?.”


“Iya...karena tugas papa di sana belum selesai. Oh ya, ngomong-ngomong kamu datang kesini dengan siapa?.”


“Sama asisten dan sekretarisku...”


“Tumben....biasanya kamu nggak pernah absen bawa cewek kalau ke pesta seperti ini,”


Fakhri tersenyum mendengar ucapan Devan.


“Lagi pengen sendiri Van he....he...he.... "


Devan mencibirkan bibirnya saking tak percayanya dengan pengakuan Fakhri.


“ Kamu sendiri kesini sama siapa?.Oh ya... kamu sepertinya tadi kenal sama pelayan yang namanya Keinara itu.” Tanya Fakhri yan melihat Devan sendirian.


“Saya kesini sama oma. dan Oma langsung tertarik begitu melihat Keinara, sehingga  meminta berkenalan."


“Ohh....Sekarang oma di mana?.”


“Oma duduk di meja sebelah sana.”


“Antar aku kesana. Aku ingin bertemu oma Ratna. Terakhir ketemu saat adikmu meninggal.”


Keduanya lalu melangkah menuju tempat dimana oma Ratna berada.Fakhri hampir saja mau membatalkan keinginannya untuk menemui omanya Devan, saat melihat wanita itu sedang bersama gadis yang beberapa sesaat lalu membuat jantungnya hampir terlepas. Namun karena sudah terlanjur, Fakhri akhirnya tetap melangkah menghampiri Oma Ratna.


Oma Ratna sedang berbincang dengan Keinara yang sepertinya mau pergi karena gadis itu telah berganti pakaian dan di punggunnya sudah menggantung sebuah tas Ransel khas anak kuliahan.


Saat Fakhri tiba, keinara sedang berpamitan dengan mencium pungung tangan oma Ratna.


“Kei pamit ya oma”


“Iya nak...hati-hati. Eh sebentar. Oma boleh minta nomer ponsel kamu?.”


“Boleh oma....”


“Devan simpan nomor Keinara di ponselmu.”


Deg...jantung Keinara kembali berdetak kencang saat menyadari Fakhri ada bersama Devan.


“Kei...tulis nomormu.” Ucap Devan sembari menyerahkan ponselnya kepada Gadis yang sedang mengatur detak jantungnya.  Sesaat keinara selesai menyimpan nomor ponselnya, dan segera mengembalikan ponsel Devan.


“ Saya pamit oma, kak Devan dan ...pak Fakhri.”


Keinara memberanikan diri menyebut nama Fakhri. Pertama karena situasi, kedua karena ia rindu menyapa pria itu.


“Hati-hati Keinara...” ucap Oma Ratna.


Keinara melangkah pergi, namun netranya sempat menyapa wajah Fakhri yang sedang menatapnya. Sebuah senyuman Keinara sertakan, meski agak kaku.


Fakhri terkejut tak percaya apa yang dilihatnya barusan.


“Keinara menyapa dan tersenyum padaku?  Benarkah itu....apa aku yang berhalusinasi”


Gumam Fakhri dengan  mata yang terus menatap tubuh Keinara yang sedang keluar ballroom, sampai tubuh gadis itu tak nampak lagi.


“Kamu kenal dengan Keinara Ri? Barusan dia menyapa kamu.” tanya Devan.


Dan itu membuktikan bukan dirinya tidak sedang berhalusinasi. Keinara benar-benar nyata menyapa dirinya.


“I...iya, aku kenal sama dia. Dia sering datang kekantorku.Mengantar makanan.”


“Oh.....”  Ucap Devan dan Oma Ratna bersamaan.


“Keinara mau kemana oma?.” Tanya Devan yang merasa penasaran.


“Dia ada kuliah setengah jam lagi. Eh ada Fakhri. pa kabar kamu?.”


“Kabarku baik oma. Oma apa kabar?.”


“Seperti yang kamu lihat, oma sehat. Apa lagi hari ini oma ketemu Keinara. Oma seperti dapat energi baru. Gadis itu sangat menyenangkan. Oma suka sama Keinara. Semoga saja Keinara mau, kalau aku jodohkan dengan  kamu Van.”


Kalimat terakhir oma Ratna mengena di hati Fakhri dan Devan. Hati Devan berdesir bahagia, sementara hati Fakhri seperti tertusuk duri.


Senyum dan Suara Keinara saat menyapanya, terus membayang di pikiran Fakhri. Antara percaya dan tidak, tapi itu nyata adanya.


“Keinara....saat aku mulai terbiasa jauh darimu, kamu malah datang menggoyahkan apa yang susah payah aku bangun. Sebenarnya apa maumu Kei..” Ucap Fakhri seolah menyalahkan Keinara .


Fakhri melamun saat sedang berbincang dengan Oma Ratna dan Devan.


"Mikirin Keinara...." Ucap Devan lirih di depan telinga Fakhri.


Fakhri tergagap, lalu tersenyum untuk menutupi kekagetannya.


"Enggak mikirin apa-apa kok." Balas Fakhri menutupi.

__ADS_1


Namun Devan tak percaya begitu saja. Karena dia merasa antara Fakhri dan Keinara ada sesuatu. dan sesuatu itu adalah tentang perasaan. Devan sempat melihat bagaiman cara kedua orang itu saling menatap. Dan itu bukan tatapan biasa.


__ADS_2