Cinta Keinara

Cinta Keinara
Bertemu


__ADS_3

Beberapa berkas yang telah ia tanda tangani, Fakhri serahkan  kembali ke tangan Rangga. Sekaligus menyerahkan beberapa urusan pada asistennya, sebelum ia pergi untuk menemui


Keinara.


“Kamu yakin tak mau pakai pesawat untuk kesana?.” Tanya Rangga pada bosnya, yang memilih menggunakan jalur darat untuk mencapai tempat di mana Keinara berada.


“Yakin....”


Bermodal alamat dari Dewi, Fakhri memutuskan hari itu untuk berangkat menemui Keinara.


 “Hati-hati di jalan Ri....” Pesan Rangga yang dibalas anggukan .


Sampai di lobi, mobilnya telah siap. Tapi sebelum masuk ke dalam mobil,dia tampak menghubungi seseorang.


“Kamu sudah pastikan kondisi mobil saya dalam keadaan baik?.” Tanya Fakhri pada orang bengkel yang ia percaya untuk mengecek kondisi mobilnya sebelum ia pergi keluar kota yang jaraknya lumayan jauh.


“...........”


“Oke...makasih...” 


Fakhri menutup telfonnya, dan menyimpan kembali ponsel miliknya ke tempat semula. Setelah menggunakan sabuk pengaman, Fakhri memulai


perjalanannya.Pengalaman buruk yang pernah menimpanya, membuatnya sangat


berhati-hati dalam mengendarai mobil. Ia tak mau kecelakaan itu terulang.


Jarak ratusan kilo meter harus ia tempuh kali ini. Bermodalkan petunjuk dari sebuah aplikasi Fakhri mencoba mengikis jarak dirinya dengan Keinara.


“Tunggu aku Kei sayang....”.  Ucapnya saat wajah Keinara membayang di pelupuk mata.


Beberapa kali pria itu menghentikan kendaraannya di restoran atau rumah makan yang ia lalui, ketika merasa lapar atau lelah.


Matahari sudah hampir tenggelam  ketika Fakhri hampir sampai di tempat tujuannya. Setelah bertanya ke beberapa orang yang ia temui,  pria itu akhirnya menemukan rumah Keinara yang ternyata letaknya tidak jauh dari tempatnya memarkirkan kendaraan.


Rumah yang sederhana, tidak begitu besar tapi memiliki halaman yang cukup luas. Terdapat dua pohon buah berdaun rindang disisi kanan dan kiri dengan bangku panjang di bawahnya, sehingga halaman itu memiliki tempat yang teduh jika cuaca sedang panas .Tidak ada kesan mewah tapi rumah itu terlihat asri dan bersih.


Rumah berlantai keramik berwarna putih, dengan dinding yang juga berwarna putih, tampak sepi. Sempat ragu tapi Fakhri akhirnya melangkah ke arah pintu dan mengetuknya beberapa kali.


“Assalamu’alaikum.....” Ucap Fakhri ketika seorang laki-laki muncul dari balik pintu yang terbuka.


“Wa’alaikumsalam....” Jawab pria berpeci hitam dan bersarung yang terlihat bingung dengan kedatangan pria yang tak dikenalnya.”Maaf nak...mau ketemu siapa?” Tanya pria pemilik rumah.


“Mau ketemu Keinara pak?.”


“Oh....Tapi keinaranya tidak ada nak!. Tapi mungkin sebentar lagi pulang kok!. Yuk masuk dulu nunggunya didalam .”


“Oh Iya pak, terima kasih.”


“Duduklah nak.......Namamu siapa dan dari mana?.”


“Saya Fakhri pak, dari Jakarta.”


“Oh....dari Jakarta.” balas pak Sasongko ayah Keinara yang tampak terkejut.”Jauh sekali.....sengaja kesini?”.


“Iya pak, saya sengaja kesini karena ada sedikit urusan dengan Keinara.”


“Oh....Nak Fakhri teman kuliahnya Nara?.”


“Bukan pak...kebetulan Kei sering mengantar makanan ke tempat saya bekerja, jadi kamu sering ketemu dan akhirnya kami kenal.”


“Oohh.......begitu, syukurlah di Jakarta Nara punya banyak teman. Semoga nak Fakhri tidak menyesal berteman dengan anak saya, yang hanya anak desa sederhana, bukan anak orang kaya.” Ucap Pak Sasongko yang akhirnya menduga


jika putrinya dengan anak muda di depannya bukan hanya sekedar teman pasti lebih dari itu, kalau tidak mana mungkin pria itu mau jauh-jauh datang dari

__ADS_1


Jakarta hanya untuk menemui Nara.


“Saya sama sekali tidak menyesal pak, saya malah senang berteman dengan putri bapak.” Balas Fakhri tulus dan berusaha untuk tidak gerogi di depan pria yang semoga menjadi mertuanya .


“Alkhamdulillah....” ucap pria itu tampak lega dan akhirnya ingat jika tamu jauhnya itu belum di suguh minuman .


”Ma....mama.......”. Panggil Pak Sasongko pada Istrinya, namun karena tidak ada jawaban ayah Keinara akhirnya bangun dari duduknya.”Saya tiggal sebentar ke dalam.” Ucap pak Sasongko lagi . Pria yang bekerja sebagi seorang guru di Sekolah Dasar yang ada di dekat tempat tinggalnya masuk kedalam rumah mencari istrinya.


Perhatian Fakhri beralih ke suara motor yang terdengar dari arah halaman. Melalui jendela kaca yang menghadap ke halaman, ia bisa melihat dengan jelas siapa pengendara motor itu. Seulas senyum muncul di bibir pria itu,


melihat Keinara tampak beberapa kali mengamati mobilnya yang masih terparkir di pinggir jalan.


Fakhri ingin sekali berlari dan menyambutnya, sayangnya sekarang


ia tak bisa melakukannya. Karena gadis itu pasti sudah menganggapanya sebagai


mantan pacar.


Ia terus saja memandangi wajah Keinara yang masih tampak penasaran dengan keberadaan mobil miliknya. Wajah yang sangat dirindukan Fakhri, makin jelas terlihat saat gadis itu melangkah masuk kedalam rumah.


“Assalamu’alaikum.....” Ucap salam Keinara ketika berada diambang pintu. Dan seketika terkejut saat dia mengenal suara yang menjawab salamnya.


“M..mass Fakhri...!”. Keinara benar-benar terkejut melihat pria yang sudah menghianatinya sedang duduk di ruang tamu rumahnya, sembari tersenyum tanpa rasa bersalah.


“Yang......”  Masih  tanpa rasa bersalah , Fakhri memanggil gadis di depannya dengan panggilan sayang.


“Namaku Keinara, bukan yang...” Balas Keinara kesal. Karena ia merasa itu bukan lagi panggilan untuknya. Keinara hendak meninggalkan Fakhri sebelum ayahnya muncul dari dalam.


“Nara..tolong buatin minum buat mas Fakhri. Mama lagi dikamar mandi jadi nggak bisa bikinin.”


“Nunggu mama aja pak.” Keinara membantah karena ia malas melakukan hal itu untuk Fakhri.


“Nara.....!!!.” Panggilan tegas dari sang ayah, membuat gadis itu tak punya pilihan lain selain menuju kedapur.


“Maaf ya nak Fakhri, sejak pulang dari Jakarta sikap Keinara memang tak seperti biasanya. Jadi gampang marah dan tak jelas penyebabnya.”


Dari ruang tengah muncul bu Harni, ibu Keinara yang sepertinya baru selesai mandi karena wangi sabun mandi tercium saat wanita itu datang.


Wanita itu heran ketika suaminya mengenalkan Fakhri sebagai teman anaknya, karena Keinara yang di jumpainya di dapur mengaku tidak kenal


dengan tamunya itu. Dan bu Harni memilih percaya dengan ucapan suaminya.


Tak berselang lama, Keinara kembali dengan membawa dua cangkir teh. Tanpa sepatah kata Keinarapun kembali berlalu setelah meletakkan minuman itu di atas meja. Dan masuk ke dalam kamar yang pintunya berdekatan dengan  pintu yang mengarah ke ruang tengah, sehingga dapat terlihat oleh Fakhri. Dan gadis itu tak keluar lagi untuk menamani tamunya.


“Sabar...sabar.....” Gumam Fakhri menasehati dirinya setelah melihat sikap Keinara.


Bu Harni dan suaminya saling berpandangan melihat sikap anak perempuannya, yang tampak tidak senang dengan kedatangan Fakhri. Ia akhirnya menyusul masuk kedalam kamar putrinya. Tak lama perempuan itu keluar, dengan wajah serius.


“Silahkan nak..di minum tehnya.” Ucap bu Harni menyilahkan.


Teh yang masih sedikit berasap Fakhri sesap, dan rasanya sesuai dengan seleranya. Meski marah sama Fakhri, ternyata Keinara masih tetap ingat takaran gula yang sesuai dengan selera pria itu. Fakhri tersenyum tipis ketika menyadari hal itu.


Hingga magrib menjelang Fakhri dan kedua orang tua Keinara masih terlihat bercakap-cakap, sementara di balik pintu kamar Keinara duduk manis menjadi pendengar. Hingga akhirnya ia harus keluar ketika ibunya memanggil, sementara ia masih tak percaya jika ayahnya meminta Fakhri untuk


menginap.


“Siapkan kamar buat nak Fakhri!.” Perintah sang ayah, yang sepertinya tak minta untuk ditolak membuat Keinara langsung masuk ke kamar yang tepat bersebelahan dengan kamarnya.


Ketika selesai ia tak mendapati Fakhri dan dua orang tuanya.Kemana Fakhri, tak begitu ia pikirkan. Karena menurutnya memang lebih baik ia tak melihat wajah pria itu. Ganteng tapi bikin enek, pikirnya.


Tiga puluh menit ia nyaman duduk santai di depan televisi setelah solat magrib. Bukan sinetron di televisi yang ia lihat, tapi tayangan yang muncul di layar ponsel yang tengah ia genggam. Hingga ia tak menyadari Fakhri yang baru pulang dari masjid karena tadi diajak oleh pak Sasongko, telah berdiri dibelakang kursi yang ia duduki. Ia baru tersadar saat di kanan kirinya ada tangan  yang memegang tanganan kursi  mengurung tubuhnya.


Kei mendongak , dan tepat di atas wajahnya , wajah Fakhri tengah menunduk menatapnya sembari tersenyum. Wajah itu tampak begitu tampan dengan rambut yang sedikit basah bekas terkena air wudlu. Untuk beberapa detik keinara terpaku dengan pemandangan itu, sebelum akhirnya Keinara bangun dari duduknya, dan berpindah duduk di kursi

__ADS_1


yang lain dengan wajah kesal.


Namun itu tak menghentikan Fakhri untuk mendekati Keinara, karena Fakhri kemudian kembali mengurung tubuh keinara. Ia berdiri menggunakan


kedua lututnya tepat di depan gadis yang duduk dengan menaikkan kedua kakinya ke atas kursi. Sementara tangannya memegangi kedua sisi tepian kursi.


“Mas...!! minggir.....!.” Teriak Keinara yang dibuat kesal sekaligus salah tingkah.


“Aku mau minggir kalau kamu mau menemani aku.”


“Enggak..aku enggak mau....!”


“Ya  udah....kita seperti ini aja terus , sepertinya malah lebih menyenangkan.”


Tak ada pilihan bagi gadis yang jantungnya kini seperti mau terlepas, selain menanyakan apa kemauan Fakhri.


“Ya udah...mau ditemenin kemana!!.” Tanya Keinara yang ingin segera terbebas dari situasi itu.


“Ke mini market....."


“Mau ngapain...?.”


“Mau nonton....”


“Heh.....??.”


“Biasanya kamu ngapain ke mini market?.”


“Belanja...!?”


“Nah itu tau....!?.”


“Kenapa aku jadi sebodoh ini!!.” Gumam Keinara.


“Ya udah tunggu sebentar...aku ganti baju dulu!”


“Sekalian tuh muka juteknya di ganti sama yang manis.” Ujar Fakhri seraya tersenyum.


Meski terlihat kesal, nyatanya Keinara tampak tersenyum ketika berada di kamarnya. Ada rasa bahagia di hati gadis itu, ketika ia merasa kalau Fakhri telah kembali seperti dulu. Tapi sayangnya pria itu sekarang adalah mantan pacarnya. Yang ia putuskan cintanya karena sikap pria itu yang berubah.


Masih berdiri di depan cermin, Keinara tenggelam dengan pikirannya. Sampai akhirnya suara sang ibu menyadarkan lamunannya.


“Kei...itu mas Fakhri lagi nungguin...!!!,”


“Iya ma....sebentar...!.”


Keinara bergegas keluar kamar. Dan benar Fakhri sedang berdiri di teras menunggunya ditemani pak Sasongko yang baru pulang dari masjid.


Fakhri lantas berpamitan pada pak Sasongko, begitu melihat Keinara


keluar.


Permintaan Fakhri ternyata dikabulkan, karena Keinara tak lagi memasang wajah jutek, terlihat sedikit manis meski masih ada dinginnya. Tapi itu sudah membuat Fakhri bersyukur.


“Bisa nggak dimanisin dikit lagi wajahnya...?.” Pinta Fakhri ketika di perjalanan, karena Kei lebih banyak diam. Dan dia saat itu merasa seperti seorang ayah yang sedang mendongeng di depan anaknya yang hendak tidur.


“Enggak....!!!” Balas gadis  cantik yang ternyata kadar cintanya pada


Fakhri tak berkurang sedikitpun meski ia telah disakiti oleh pria itu.


“Oh ya udah enggak apa-apa....sedikit manis juga enak kok.”


“Issh.....apaan si...ini muka bukan teh manis tadi sore...!”  Balas Keinara yang membuat Fakhri terkekeh.

__ADS_1


❤❤❤


Maaf ya upnya bisanya malam n' 1 bab tok.....🙏🥰


__ADS_2