Cinta Tulus untuk Mas Arka

Cinta Tulus untuk Mas Arka
Bab. 21


__ADS_3

Di pagi yang cerah ini Ila sedang menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga nya. Hari ini weekend, lebih tepat nya hari sabtu. Ila menyiapkan hidangan di bantu Bi Tina dan Bi Surti, sedangkan Arka sedang di kamar menonton tv sambil memangku Arshaka dan juga Seno yang disamping nya membuat tugas sekolah.


Ting nong ting nong.


Terdengar suara bel pintu di bunyikan.


“Bi bantu bukain pintu Ila belum siap masak,” jelas Ila


“Iya Nyonya!” Bi Tina berlalu keluar ruangan dapur untuk melihat siapa gerangan yang datang di pagi hari begini.


Clek


Suara pintu di bukakan. "Cari siapa mas?” Tanya Bi Tina saat melihat tamu nya seorang laki laki berkisaran usia 30 tahun.


“Dek Ila nya ada Bu?” Tanya pria itu lagi.


“Siapa nya Nyonya Ila ya Mas? Soal nya saya tidak boleh memasukkan orang sembarangan ke rumah?” Tanya Bi Tina kembali.


“Saya teman dekat nya Ila Bu,” jelas pria itu.


“Baik siapa nama Mas, nanti saya sampaikan pada Nyonya.”


“Kenandion Aldio Hasan.”


Terdengar suara pintu tertutup, pintu tertutup tanpa mengizinkan Dion masuk terlebih dahulu.


“Dasar pembantu kurang ajar! Masa teman majikannya ngak di bolehin masuk, mana tampang bule kayak gua mana mungkin ada niat jahat. Kecuali niat mempersunting Dek Ila memang selalu ada di hati,” kata Dion mendumel.


“Semakin kamu acuhkan aku, semakin aku penasaran dan juga aku pastikan kamu akan jatuh kepelukan ku Ila.” Dion menyeringai sambil membayangkan wajah cantik Ardila Putri istri dari Arka Wiryo.


Bi Tina berjalan cepat kearah dapur hatinya resah. Dia takut apa yang dulu terjadi ke rumah tangga majikannya terulang lagi. Anak kecil pun tahu jika Dion dengan wajah bule nya disandingkan dengan Arka jelas sangat tak sebanding untuk Arka yang oriental belum lagi usia Arka dan Ila yang tepaut jauh.


Sambil berjalan ke arah Ila, Bi Tina menggumam doa dalam hati agar yang dia fikir tidak benar. Dia sangat berharap Nyonya selalu ada untuk keluarga ini. Tak sanggup hati nya untuk melihat tatapan memohon dan kerinduan yang pasti akan terjadi jika sang Nyonya menghianati Tuannya. Yang paling menjadi korban adalah Arshaka dan Seno yang sangat menyayangi Ila melebihi ibu kandung mereka.


“Siapa Bi?”


Ila bertanya tanpa melihat, Ila sedang memasak pregedel jagung untuk sarapan dan  juga ada nasi goreng yang sudah Ila siapkan tapi belum di sajikan.


“Itu nya katanya teman dekat Nyonya.”


“Teman dekat? Siapa? Lina? Atau leha yang datang dari kampung? Tapi tumben pada ngak ngabarin?” Tanya Ila bertubi tubi di tengah kebingungan nya.


“Itu Nyonya namanya Kenandion Aldio Hasan,” jawab Bi Tina yang mengingat jelas nama orang yang sedang menunggu.


“Oaalah, playboy cap kuda nil. Tumben dia kesini. Dia temannya Mas Arka, sesama mengajar di kampus yang sama.”

__ADS_1


“Bibi gantikan saya menggoreng sebentar ya, saya mau ke atas manggil Mas Arka,”  kata Ila.


“Iya Nya!”


Ila berjalan melewati tangga rumah hingga tiba di kamarnya terlihat Seno sedang menganggu arshaka, membuat batita itu tertawa senang di jahili kakak nya. Sedangkan Arka malah fokus dengan minuman teh nya juga tayangan kartun di layar televisi kamar mereka.


“Mas ada tamu buat Mas di bawah,” kata Ila saat masuk ke kamar.


“Siapa Bun? Kok ngak berkabar dulu?” Tanya Arka.


“Itu teman Mas Arka ngajar di kampus, Pak Dion,”  kata ila.


Bagai disambar petir rasa nya Arka mendengar perkataan Ila.


“Semakin kurang ajar saja pria itu. Tidak bisa menganggu via online sekarang dia langsung datang ke rumah untuk merebut Ila dariku. Tak akan ku biarkan kau merebut apa yang sudah menjadi miliku!” batin Arka memanas.


Kedua tangan Arka terkepal erat sampai saat Ila memegang tangannya lembut.


“Tunjukan jika suami Ila pria beradap dan terhormat. Perlakukan tamu dengan selayak nya.”  Ila mengelus tangan suami nya.


Arka mengangguk lalu  keluar dari kamarnya.


“Mas Seno udah siap buat PR nya nak?” Tanya Ila mengelus kepala anak nya sayang.


“Udah Bunda, tadi di ajarin Papa. Oh iya Bun, sarapannya udah siap belum? Seno udah leper?” Seno bertanya seraya mengelus perutnya dan juga mengerucutkan bibirnya lucu.


Seno yang memang sangat menyayangi Ila, lebih memilih menunggu ibunya turun bersama dengan nya. Jadilah mereka beriringan turun keruang makan Ila, Seno dan Arshaka.


Ternyata makanan sudah selesai di hidangkan oleh Bi Tina dan Bi Durti di meja makan.


“Alhamdulillah, makasih Bi jadi di terusin pekerjaan Ila, ah jadi enak!” kata Ila


“Sudah tugas kami Nya,” kata Bi Tina dan Bi Surti.


“Tadi belum pada makan kan?”


“Kan kita kerja nya bareng tadi.”


“Yuk makan bareng Ila dan Mas Arka juga anak anak,” ajak ila.


“Iya Nya!” mereka duduk mengambil makanan masing masing.


Sedangkan Ila mengambil makanan untuk Seno. Lalu Ila berlalu ke ruang tamu. Ternyata ada Arka dan Dion yang saling tatap tatapan seperti musuh.


“Mas Arka, Pak Dion  ayo kedalam dulu sarapan.” Panggil Ila dengan nada santai.

__ADS_1


“Makasih Dek Ila.” Saat Dion iingin mendekat ke arah Ila, Ila sendiri malah menghampiri suaminya yang masih memasang wajah tak enak di pandang.


“Aduh Mas senyum dong, masa Ila udah dandan manis pagi pagi begini di suguhin wajah asem begitu nanti Ila culik orang Mas sedih loh,” kata Ila dengan nada tersirat.


“Mas ngak akan biarin siapapun culik kamu dari Mas Sayang,” jawab Arka dengan tegas.


“Buktiin dong Mas, yok makan." Ila menggendeng tangan Arka ke dalam dan juga di ikuti oleh Dion dari belakang.


Saat ini mereka sudah duduk di meja makan. Ila dan Arka bersebelahan duduknya sedangkan Ila dan Dion berhadapan. Di samping Dion sendiri ada Bi Surti yang sedang  makan  dengan lahap. Ila mengambil nasi goreng dan telur di lengkapi sayur dan juga bawang goreng untuk paksu tercinta.


“Pak Dion ambil sendiri ya,” kata Ila saat selesai mengambil makanan untuk Arka tapi Dion mengulurkan piring padanya.


Ila sendiri belum makan dia ke belakang mengaduk bubur sun untuk Arshaka yang memang sedang duduk di kursi yang di design khusus untuk bayi yang berada di samping Ila duduk tadi.


“Dek Ila ngak makan dulu?” Tanya Dion  yang sukses membuat Arka mengepalkan kedua tangan nya.  Rasanya dia ingin menghajar orang tak tau diri ini.


“Nanti Pak Dion, aman kan isi perut suami dan juga anak anak terlebih dahulu, saya bisa belakangan,” jawab Ila tanpa melihat Dion dia menyuapi Arshaka yang tampak anteng dengan memakan makanan yang di suapi bundanya.


“Dek Ila sudah baca pesan saya kan. Saya seriusloh Dek Ila, jika Dek Ila mau meninggalkan Pak Arka kita bisa ke New York dan Dek Ila bisa melanjutkan S2 disana tanpa ada anak sambung..." perkataan Dion terhenti


BUM Arka meninju meja makan semua terkejut.


“Apa yang salah pak Arka mereka memang anak tiri…."


“Anak saya!” dengan tegas Ila mengatakannya.


“Sekali lagi saya tegaskan mereka anak saya. Saya sama sekali tak perduli dengan tawaran Anda. Jika kehadiran Anda hanya ingin membuat anak anak saya takut lebih baik Anda keluar dari rumah saya!” Ila menekan setiap perkataan nya. Mata Ila sendiri sudah memerah, tangannya mengenggam erat sendok di tangannya.


“Dek Ila ngak perlu bersandiwara, mas tahu…"


“Diam!” Teriak Ila keras.


“Keluar!” teriak Ila. Melihat Dion yang tak kunjung keluar. Ila meletakkan mangkuk makanan Arshaka dan berlari memanggil Pak Ujang.


“Pak Ujang seret laki laki ini dari rumah saya dan jangan biarkan dia masuk!" Ila memberi penekanan untuk setiap kata katanya.


“Saya bisa sendiri Dek Ila, Mas tahu kamu hanya mau menjaga perasaan suami mu yang tua Bangka itu.”


Arka memilih diam karena istrinya sudah mewakili semua yang ingin dia katakan.


Tak berselang lama Ila jatuh pingsan, beruntung Arka cepat menyambut tubuh Ila sehingga tak terhempas ke lantai.


“Sayang?” Arka menepuk nepuk pipi istrinya pelan.


“Ya Allah ganteng ganteng pebinor!” batin Bi Surti

__ADS_1


See you guys…


__ADS_2