Cinta Tulus untuk Mas Arka

Cinta Tulus untuk Mas Arka
Bab. 31


__ADS_3

Malam guys. aku harap kalian semua dalam kaadaan baik ya di hari ini. Semangat buat apapun yang lagi kalian lakukan. 💓💓💓


Pagi ini seperti biasa rutinitas Ila pastilah mengurus suami tercinta juga anak - anaknya yang manis.


Trr


Terdengar getaran hp Ila saat dia mengambil baju untuk sang suami dari lemari.


Ila mengacuhkan saja bunyi hp nya bagaimanapun jam pagi adalah jam sibuk buat para ibu ibu.


"Aaaeekk hikssssss." Terdengar tangisan dan teriakan dari si bungsu yang terbangun dari box tidur nya.


"Sayang cup cup jangan nangis ya nak ya, ini bunda." Ila seketika menggendong baby gembul Arshaka yang menangis saat terbangun.


Trrr


Trrr


Clek


Suara pintu kamar mandi terbuka, Arka muncul dari balik pintu.


"Nangis lagi Arshakanya Sayang!" sahut Arka seketika saat dia melihat putra kecilnya menangis.


"Biasa yang nangis pas ngak lihat aku waktu bangun. udah ngak papa bentar lagi juga diam. yaudah Mas aku lihat Seno dulu. Udah siap apa belum itu anak ya."


"Nyonya butuh bantuan saya," Tanya Bik Tina yang melihat Ila menggendong Arshaka ke arah kamar Seno.


"Boleh Bi, bantu gendong Arshaka dulu." Saat akan memberikan si anak pada si pengasuh. Tiba - tiba saat sudah di gendong Bi Tina, Arshaka menangis kencang serta memukul mukul wajah Bi Tina dengan tangan gempal nya.


"Hiikss akkk eeeeakkk daaa daaaa!" Tangis Arshaka semakin kencang.


"Yaudah Bi, bantu Bi Surti di bawah aja. Lagi manja dianya," kata Ila seraya mengambil Arshaka dalam gendongan Bi Tina.


Ila berlalu dan masuk kekamar anak sulungnya.


"Udah siap semua Mas?" Tanya Ila melihat anaknya sedang mencek tas sekolah nya.


"Buku latihan aku ngak ada Bun. PR matematika udah Mas bikin, prasaan semalem siap belajar sama Bunda udah Mas masukin tas tapi ngak ada," kata Seno.


"Coba lihat di meja belajar nya atau di tumpukan bukunya," intruksinya Ila.


"Ah iya ternyata masih di meja belajar, padahal udah dari tadi Mas cariin loh Bunda," kata Seno.


"Yaudah Mas turun kebawah. Sarapan aja langsung ya!"


"Bunda mau ke kamar Papa dulu. Tu Papa udah manggil - manggil dari tadi," kata Ila.


"Sayang! Sayang!" teriak Arka membahana dari ruang sebelah. Ila hanya berjalan ke arah suaminya tapi tak menjawab sepatah pun.


"Kenapa Mas?" Ila bertanya sambil mengelus kepala Arshaka yang mendusel - dusel pundak Ila yang tertutup jilbabnya.

__ADS_1


"Kaus kaki aku sama dokumen warna kuning aku kok ngak ada ya Sayang?"


Hmm Ila menarik nafas agar ngak keluar kata kata kasar. Karena jujur saja pagi ini Ila merasa agak sulit mengendalikan emosinya, dia juga ngak tahu kenapa bisa begitu.


"Dokumennya di dalam laci meja kerja Mas tempat biasa. Kausnya juga di tempat biasa ngak ada yang berubah," kata Ila seraya mengambil kaus kaki suaminya.


Arka langsung mengambil dokumennya di dalam laci yang dikatakan sang istri.


"Eh iya sorry Sayang, Mas lupa!" Arka tersenyum menutupi rasa bersalah pada sang istri.


"Wajar kan udah tua," kata Ila tanpa melihat Arka karena Ila mengambil dasi Arka usai tadi memberikan kaus kaki sang suami pada suaminya.


"Ayang mah gitu! Tua - tua gini perkasa loh yang. Ayang aja ampe ngak kuat kalau Mas udah beraksi," kata Arka sambil menaik turunkan alisnya.


"Udah ngak usah omes pagi - pagi ayo ke bawah nanti terlambat," kata Ila.


"Sayang lagi marah ya?" kata Arka merasa aura sang istri sedikit berbeda dari biasanya.


"Ngak Mas ku, ini lihat senyum Ila lebar banget kan kayak mau ngunyah orang," kata Ila sambil tersenyum lebar tapi bukannya seram malah kelihatan menggemaskan buat Arka.


Cup


Cup


Cup


Arka mencium seluruh permukaan wajah sang istri lalu mengecup kepala Arshaka sekilas.


"Udah jangan gitu senyum nya. Mas tahu Ayang kesal. Maaf ya," kata Arka sambil merangkul bahu sang istri.


Seperti biasa Ila tak akan langsung makan di pagi hari. Isi perut orang terkasih nya jauh lebih penting dari apapun.


"Enak banget yang. Ayang yang masak tadi ya?" Tanya Arka.


"Iya tapi di bantu Bi Surti juga."


Saat melihat Arka sudah akan berdiri setelah selesai makan begitupun juga dengan Seno. Yang sudah selesai ikut berdiri, karena harus berangkat kesekolah bersama sang papa.


Melihat suaminya langsung mengambil dasi Ila diam saja pasti juga akan minta dia pasangkan dasi seperti biasa.


"Sayang Mas pergi ya, jangan marah - marah nanti tambah cantik. Makin repot Mas jagain kamu dari para buaya darat di luar." Arka seraya mengecup kening dan pipi sang istri.


"Aku juga Bunda, do'ain Seno ya Bunda. Seno sayang Bunda," kata Seno.


"Pasti sayang. hati hati yang rajin ya belajar di sekolah jangan nakal ikutin apa kata Ibu guru," kata Ila.


"Mas sini Ila pasangin dasi nya." Ila segera mengambil dasi suaminya dan memasangkan dasinya dengan rapi lalu mengusap dada sang suami agar kemeja Arka rapi.


"Aduh maaf ya Sayang jadi repot," kata Arka.


"Mas jangan minta maaf terus. Ila jadi ngerasa berdosa banget maafin Ila hikss hikss," melihat Ila nangis Arka langsung panik.

__ADS_1


"Ngak yang aduh bukan itu maksud Mas. Mas cuman takut kamu capek aja karena dari tadi kayaknya agak gimana gitu," kata Arka.


"Mas Arka jangan cuekin Ila lagi. Yaudah sana pergi nanti anak Ila telat masuk sekolah," kata Ila.


Ada apa dengan Ila, ngak biasanya istrinya berubah rubah suasana hatinya seperti ini.


Kalau PMS jelas ngak. Semalam saja mereka ibadah bersama bahkan tahajjud dan tadarus sampai subuh pun istrinya masih baik - baik saja.


"Papa kok Bunda nangis tadi? Papa marahin Bunda ya?" kata Seno yang disamping sang papa.


"Ya ngak lah Nak! Bunda itu nangis gara - gara ngak mau Papa tinggal ke kantor karena Papa ganteng banget hari ini," kata Arka mengibuli anak nya.


"Memang iya begitu pa?" tanya Seno.


"Iya dong Nak!"


Huh semoga aja istri nya ngak lagi ada masalah bagaimanapun Ila pernah pingsan hanya gara - gara ngak bisa mengelola emosi.


Arka ngak mau istri nya kenapa - napa.


Disisi lain berbeda di mobil Arka juga berbeda di kamar Ila.


Ila sedang menyiapkan air hangat untuk mandi Arshaka akan tetapi hp nya terus berdering sedari tadi membuat dia mebghentikan aktivitas nya.


Alex call......


Ternyata Alex lah orang yang mengganggu nya sedari pagi. Tak ingin bertambah kesal Ila mengakatnya.


"Apa?" setelah Ila mangatakan salam Ila langsung menanyakan kenapa Alex menghubunginya.


"Ila gua gagal move on!"


"Bisa ketemu ngak? Gua jemput deh atau gua yang main ke tempat lo?"


"First, gua lagi sibuk karena ngurus anak gua dan juga ada beberapa pekerjaan yang belum kelar. Second, lu ngak bisa ke rumah gua karena husband gua lagi work, so you know what that meaning."


"Aku tau kamu gelisah. aku bisa dengar cerita kamu tapi, ngak bisa ketemu langsung sekarang pun lagi mau mandiin anak gua dulu."


"Jadi kamu chat aja ke aku nanti aku baca, siapa tahu bisa kasih saran," kata Ila.


"Kamu berubah Ila!" kata Alex dengan nada lirih.


"Lex, i know you broken heart now, but i'm a wife and mother. So please!"


"Okay, i got it".


"Ya udah kita ketemu di depan kampus Mas Arka ngajar aku izin dulu. Jam 10 ya, maaf kalau tadi aku ketus. Aku lagi badmood dari tadi ngak tau kenapa," kata Ila.


"Makasih sweetheart." kata Alex.


"Oke jam 10 ya depan kampus Pak Arka ngajar," kata Alex.

__ADS_1


"Sorry sweetheart."


See you guys.......


__ADS_2