
Ila berusaha menormalkan raut wajahnya dengan make up tipis yang di gunakannya. Meski sudah berusaha keras Ila tetap tak bisa menyembunyikan matanya yang sembab dan hidungnya yang memerah karena terlalu lama menangis.
Saat semua makan malam telah terhidang Arka dan Seno datang keruangan makan.
"Heumm masakan bunda memang yang terbaik." Seno seketika langsung mengecup sayang wajah bunda tercintanya.
"Makasih sayang yaudah sekarang Seno makan ya nak!" Sebelum Ila mengambil makan malam untuk anak sulungnya, Ila terlebih dahulu menjangkau piring sang suami akan tetapi semua itu terhenti.
"Saya bisa mengambil makanan sendiri." Ila menengadah menghalau air matanya dia tak ingin Seno melihatnya menangis.
"Papa lagi marah sama bunda, papa ngak boleh gitu sama bunda. Bunda jadi sedih papa!" Seno meninggikan suaranya pada sang papa.
Ila segera menenangkan Seno karena takut emosi Arka terpancing dengan kata kata Seno.
"Sayangnya bunda, papa ngak lagi marah sama bunda. Justru karena papa sayang banget sama bunda makanya papa ngak mau bunda yang ambil makan malam buat papa, soalnya papa ngak mau bunda kelelahan. Iyakan pa?"
Ila takut Arka tak mengatakan apapun maka Ila berinisiatif mengecup pipi sang suami di hadapan anak sulungnya agar Seno tidak curiga pada permasalahan kedua orangtuanya.
"Seno tidak ingin papa dan bunda bertengkar seperti mama dan papa dulu. Seno tak ingin kehilangan bunda seperti Seno kehilangan mama." Seno memandang sendu ke arah Ila.
"Hei sayang siapa yang akan meninggalkan kamu nak, bunda sayang banget sama Seno. Sekarang anak kesayangan bunda makan ya nak ya."
Setelah Ila mengambil nasi dan lauk untuk makan malam Seno, Ila tak langsung makan seperti biasa dia akan memastikan Arshaka putra kecilnya kenyang terlebih dahulu.
Saat ini makan malam sudah berlalu, Ila sedang di kamarnya sendirian sedangkan Arshaka dia titipkan pada bibi Tina. Jujur saja seharian ini badan Ila terasa tak enak mungkin saja magh nya kambuh karena sejak tadi Ila memuntahkan makanan yang di makannya saat makan malam.
__ADS_1
Jujur saja dalam keadaan seperti ini Ila sangat menginginkan Arka untuk berda di sampingnya bahkan seaking lemasnya badan Ila bahkan tak sanggup bangkit dari kamar mandi. Kepala Ila pusing dan juga badannya lemas. Ila merasa kepalanya berputar tak sanggup membuka mata Ila pingsan di dalam kamar.
Berbeda di kamar Ila dan Arka maka berbeda pula dengan apa yang terjadi pada kamar tempat Arka tidur malam ini.
"Apa dia benar benar masih mencintai Alex sahabatnya sehingga mengambil kesempatan besar dalam kemarahan ku ini?" Arka menampilkan senyum sinisnya lalu tertawa keras di kamar itu.
"Apa yang kau harapkan darinya Arka. Seharusnya kau sadar diri sejak awal hatinya memang bukan untukmu. Akhirnya apa yang kau takutkan jadi kenyataan juga Arka." Arka tertawa dan menangis di saat yang bersamaan.
"Ya Tuhan apakah memang jodohku dengan istriku yang kedua memang hanya sampai di sini. Haruskah sekali lagi kau pisahkan aku dengan istriku." Arka tak sanggup lagi memendam kesedihannya.
"Apa yang harus aku katakan pada Seno dan Arshaka jika nantinya sekali lagi mereka harus kehilangan sosok seorang ibu. Jika dulu Raya tak berlaku seorang ibu pada kedua anak anakku maka sangat berbeda dengan Ardila, dia begitu menyayangi anak anakku. Hanya saja aku tak ingin di bohongi ataupun sampai diselingkuhi lagi oleh istriku, cukup sekali tidak untuk kedua kalinya." Tak sanggup mengendalikan isi fikirannya maka Arka segera mengambil wudhu dan melaksanakan sholat sunnah.
Arka memasuki kamarnya dan Ila di lantai dua untuk mengambil perangkat sholatnya. Arka tak menemui Ila di dalam kamar dan terdengar suara gemerisik air di kamar mandi jadi Arka tak akan merasa khawatir.
Dering ponsel Ila menyala mulai dari telepon sampai pesan text dan di sana tertera notifikasi di mana ada 77 panggilan tak terjawab dari Alex dan juga 77 pesan belum terbaca dari Alex.
Istri yang dia sangka sedang mengulang masa lalu bersama sahabat lama sedangkan tanpa Arka tahu tubuh Ila tergeletak di dalam kamar mandi dalam keadaan tak sadarkan diri dan juga suhu tubuh yang meningkat.
"Aku semakin yakin akan keputusan ku Ardila aku tak akan menunda jika memang kau mencintai pria itu dalam hidupmu. Aku tak akan menahan kebahagiaan wanita yang kucintai dengan sangkar cinta usang yang kumiliki."
Arka tersenyum miris saat melihat takdir percintaannya yang lagi lagi harus kandas oleh orang ketiga. Tidak ingin jika Ila keluar kamar mandi dan memergoki dirinya sedang di kamar mereka Arka segera membangkitkan diri dan berlalu keluar kamar.
Kebetulan yang sedikit tidak mengenakkan hari pertama Ila pisah ranjang dengan Arka adalah malam minggu. Tahu apa artinya? Iya Ila yidak boleh bangun terlambat atau pertengkaran akan semakin memanas.
Tapi bagaimana wanita manis itu akan terbangun apabila dirinya masih tergeletak lemah yak berdaya di dalam kamar mandinya.
__ADS_1
Saat ini Arka sedang sarapan bersama dengan kedua anak anaknya. Seno yang dari tadi memandang ke lantai dua berharap ibunda tercintanya akan muncul dengan senyuman menawan untuknya.
Disisi lain Arshaka pagi ini di suapi oleh bi Tina. Hal yang paling membuat Arka marah adalah Ila menitip anak mereka tadi malam harus tidur kembali bersama bibi Tina.
"Bagus bagus baru kemaren aku memberi mu waktu berpikir dan sekarang kamu bangun kesiangan dan mengabaikan semua tanggung jawab mu sebagai ibu dan istri, Ardila?" Arka membuka pintu kamar dan melihat Ila sedang duduk di meja rias dan jam menunjukkan pukul 9 pagi.
Ila membalikkan badannya, dia kelihatan sangat menawan pagi ini dengan make up natural yang di pakai di wajahnya. Hanya saja jika Arka tak salah mengartikan mata Ila terlihat sayu dan lelah.
"Mas maaf aku ke ..."
"Kesiangan? Orang bodoh pun tahu kamu kesiangan Ardila. Seru ya tidur tanpa suami dan bisa bertelpon riya dengan Alex? Apa saja yang kalian bicarakan?" Tanya Arka beruntun yang semakin membuat Ila merasa kepalanya pusing mendengar ocehan tak berguna dari Arka.
"Jika memang begitu mencintainya mengapa harus menikah dengan ku Ardila. Bahkan untuk pasangan muda mudi gila seperti kalian sah sah saja langsung ke kasur bukan. Hal itu bisa menjadi alasan terkuat kamu untuk membatalkan pernikahan kita dulu." Arka sengaja berkata tajam pada sang istri bagaimanapun dia masih sakit hati dengan sang istri yang ternyata begitu mencintai Alex.
"Kamu menuduhku berzina mas?" Suara Ila nyaris tidak keluar saat mengatakan itu semua, air mata hendak keluar dia coba tahan sekuat tenaga.
"Sehina itu aku bagimu?" Tanya Ila dengan tangan yang mengepal erat menahan emosi di hatinya.
Terdengar Ila tertawa kecil lalu dengan senyuman penuh kegembiraan Ila mengatakan sesuatu yang membuat Arka termenung.
"Berpikirlah sesuka hatimu mas."
Ila tak ingin membalas perkataan sang suami, kepalanya sangat berdenyut dan mustahil dia meminta bantuan sang suami untuk ke dokter mengingat Arka sedang marah pada dirinya.
Ila merebahkan badannya di kasur tanpa mempedulikan ocehan Arka yang mengata ngatainya.
__ADS_1
Bye ...