Cinta Tulus untuk Mas Arka

Cinta Tulus untuk Mas Arka
Bab. 68


__ADS_3

Jika kalian berfikir Ila dari tadi tidak berhenti menangis maka kalian benar. Jika kalian berfikir Ila sibuk melamun dan tidak memakan apapun sedari pagi maka


Selamat..... Kamu salah tebak. Tidak sanggup menahan kesedihan Ila melampiaskannya pada tulisan dan juga makanan. Sedari tadi Ila tidak berhenti mencemil kue dan itu semua mempunyai rasa manis dan lembut.


Meski tidak sepenuhnya mengobati pilu hatinya. Tapi Ila sadar ada dua nyawa dalam tubuhnya. Sangat konyol jika dia menghabiskan waktunya hanya untuk meratapi hal yang tidak kuasa dia cegah.


Dalam otaknya sudah rapi terencana apa yang akan dia lakukan malam ini. Dia tidak akan berpangku tangan menerima nasip naas pernikahannya dan sang suami.


Arka berjalan menghampiri pintu kamar sang istri. Arka tidak langsung masuk, Arka mengamati istrinya dari cela pintu.


Terlihat Ila sesekali menyaka air mata yang mengalir di wajahnya. Ila juga sesenggukan, akan tetapi ada satu hal yang cukup menghibur bagi Arka.


Meski menangis dan sesenggukan Ila terus-menerus menyumpal mulutnya dengan Kue dan minuman manis.


"Syukurlah kamu masih tetap ingat jika ada yang lebih membutuhkan dirimu Sayang. Kamu boleh bersedih tapi kamu jangan sampai tidak makan. Anak-anak kita membutuhkan asupan makanan dari Ibunya," kata batin Arka.


Clek

__ADS_1


Pintu terbuka, Ila hanya melihat sekilas. Tidak ada lagi senyuman di wajah Ila saat melihat sang suami.


"Saya ingin mandi," Arka mengatkan itu semua dengan canggung.


Meski ada rasa sesak di hatinya tapi Ila tetap berdiri dan menyiapkan air hangat untuk sang suami.


Dalam diam Ila juga mengambil pakaian untuk suaminya kenakan. Arka bergegas ke kamar mandi untuk segwra bersih-bersih.


Arka sebenarnya ingin bersikap tamah seperyi biasa pada sang istri. Hanya saja mengingat istrinya bahkan tidak mau mengakui kesalahan sama sekali membuat Arka enggan bersikap ramah pada istrinya.


Saat Arka selesai mengenakan pakaiannya. Arka duduk di dekat kasur di mana sang istri tengah asik selonjoran dengan laptop yang membentang di meja lipat yang sengaja di letakkan sangbistri di kasur.


"Kau tidak ingin mengatakan sesuatu?" Tanya Arka.


Ila menghela nafas sejenak.


"Apa yang ingin aku tanyakan. Semuanya sudah Mas katakan. Bahkan aku ragu jika hubungan kita bisa berlanjut.

__ADS_1


Jika memang sudah muak denganku..." jeda sejenak.


"Maka katakan saja. Aku tidak akan memaksa hubungan yangbtidak mungkin untuk di lanjut.


Menganai anak yang aku kandung Mas juga jangan khawatir. Meski aku tidak memiliki pekerjaan tetap aku insyaallah masih bisa memperjuangkan mereka.


Jika memang hati Mas sudah mantap akan menikah lagi. Maka aku mohon lepaskan aku. Ini terlalu sakit Mas. Dan aku tidak akan sanggup.


Jadi aku mohon cera..." perkataan Ila terpotong karena Arka mengecup bibirnya.


Tidak hanya di sana Arka juga melu-mat bibir sang istri. Seolah lupa daratan Ila terbuai akan sentuhan sang suami.


Entah bagaimana awal mulanya hingga sekarang kedua anak adam itu saling mereguk kenikmatan duniawi. Baju keduanya berserakan di lantai. Laptop yang tadi masih terkembang sudah tertutup rapi di atas nakas dekat ranjang.


Setelah mendapat apa yang di inginkannya. Arka mengecup kening Ila lama. Dalam hati Arka hanya berharap apapun yang akan dia lakukan akan tetap berdampak baik pada hubungannya dan Ila.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2