Cinta Tulus untuk Mas Arka

Cinta Tulus untuk Mas Arka
Bab. 50


__ADS_3

Saat ini Ila dan Arka mengantar ibu Tia dan Pak Faiz ke luar rumah. Mereka tidak bisa menemani Ibu dan Bapak pulang ke kampung untuk melihat kondisi Mbak Ririn.


Jika kamu bertanya alasannya? Maka alasan terbesarnya adalah kekhawatiran Arka yang berlebihan pada Ila yang sedang hamil 5 bulan.


Ke khawatiran Arka bukan tanpa alasan. Setelah kejadian pasca Ila melakukan percobaan bunuh diri, waktu baby masih sangat kecil di dalam perut Ila. Ila sudah mengalami 2 kali pendarahan setelah kejadian itu.


Berarti sudah 3 kali pendarahan selama hamil. Alasan nya yang tidak lain dan tidak bukan adalah faktor fikiran dan juga kelelahan.


Sebelum pendarahan yang ke tiga ini Ila masih di izin kan oleh Arka melakukan pekerjaan rumah seperti memasak ataupun menyiram tanaman.


Berbeda hal setelah pendarahan yang ketiga. Semua aktivitas rumahan Ila, Arka hentikan. Bahkan Ila di larang membantu Arshaka mandi.


Hanya saja unyuk masalah makan Arshaka snagat rewel. Anak itu tidak mau di suapi siapapun kecuali Bundanya.


Makanya Ila masih di bolehkan untuk menyuapi Arshaka makan. Adapun aktivitas yang boleh Ila lakukan adalah membantu Arka bersiap dan pastinya menyiapkan kebutuhan batin Arka juga.


"Bu, maaf ya Ila ngak bisa menemani Ibu untuk pulang kampung."


Ibu Tia mengelus kepala Ila yang tertutupi kerudung.


"Ngak papa Nak. Kamu jaga diri baik baik, jaga cucu Ibu dan jangan banyak fikiran. Ingat kamu lagi hamil, nurut apa kata suami." Nasehat Ibu Tia pada anaknya.


"Bapak dan Ibu pamit ya Nak. Nak Arka, Bapak titip Ila dan calon cucu kami. Kalau Ila salah jangan sungkan tegur, Ila anaknya memang keras kepala." Arka menanggapi dengan tersenyum dan menganggukkan kepala.


Tak lama mobil yang sudah di siapkan untuk ibu dan bapak Ila pulang kekampung berlalu di bawa oleh Pak Ujang dan pak Marvis.


Pak Ujang dan Pak Asep adalah security di rumah Ila dan Arka. Sedangkan Pak Marvis baru Arka pekerjakan satu tahun yang lalu pasca perceraiannya dengan Raya.


Pak Marvis biasanya akan menemani Arka jika ada perjalan keluar kota. Bukan pekerja tetap sebenarnya. Tapi setelah Ila hamil, Pak Marvis jadi pekerja tetap untuk mengantar jemput Seno ke sekolah dan mengantar Ila dan Bi Surti jika ingin keluar atau membeli sesuatu.


"Mas,..." Ila memanggil sang suami.


Arka menatap istrinya dengan tatapan seolah menanyakan "Ada apa?" dalam tatapannya.


"Mas, terima kasih sudah memberikan perjalanan yang nyaman untuk Ibu dan Bapak." Ila mengecup bibir suaminya kilat. Lalu Ila berlari ke dalam karena merasa malu setelah mencium bibir sang suami.

__ADS_1


"Sayang, jangan lari-lari. Ingat ada Baby twins di perut kamu!" teriak Arka sambil mengejar sang istri.


Hap


Arka menangkap istri tercintanya. Arka menghentikan lari Ila dan juga memeluk mesra sang istri dari belakang.


"Bunda jangan nakal dong. Ingat adek ada di dalam, kalu Bunda ngak hati - hati kasihan dedek nya Bunda." Kata Arka sambil mengecup puncak kepala Ila yang tertutupi kerudung.


"Maaf Mas, Ila lupa," Kata Ila sambil tertawa cengengesan.


"Jangan di ulangi ya Sayang. Yaudah yuk ke ruangan keluarga." kata Arka menggandeng tangan istri tercintanya.


Saat tiba di ruangan keluarga di sana Seno dan Arshaka sedang bermain lego dan juga televisi yang menyala.


Di ruangan televisi Arka menyediakan tempat untuk berbaring lengkap dengan kasur dan bantal, serta di lengkapi selimut tipis.


Hal itu bukan tanpa alasan. Sejak Ila hamil, istrinya sering mengeluh sakit pinggang dan mengalami keram di perut jika terlalu lama dalam kondisi duduk. Sedangkan Ila sering menemani Seno dan Arshaka bermain dan menonton televisi.


Maka dari itu Arka menyediakan kasur karpet di lapisi kasur lantai untuk mengantisipasi jika istrinya ingin tiduran.


"Bunda, ayo temani Seno dan Arshaka bermain lego," kata Seno sumringah menyambut ke datangan sang bunda.


"Mas Seno saja yang main sama adek, Bunda mau tiduran sambil nonton televisi." Ila merebahkan diri di kasur lantai di depan televisi.


Seno hanya mengangguk lesu. Arshaka yang tahu bundanya akan tiduran, malah berhenti bermain dan ikut berbaring di samping Ila.


"Uuu anak Bunda ngantuk ya Nak? Sini yok bobok sama Bunda." Ila memukul mukul pelan pantat Arshaka sampai anak berusia 2 tahun itu perlahan - lahan tertidur.


"Bunda, dedek bayinya kapan lahir?" tanya Seno sambil mengelus perut Ila yang sudah membesar.


"Ngak lama lagi Sayang. Sekitar 4 bulan lagi dedek bayi akan hadir ke dunia."


"Mas Seno nanti sayangi adeknya ya!" kata Ila seraya mengelus puncak kepala anak sulungnya.


"Bunda nanti ngak akan ninggalin kita kayak Mama kan?" tanya Seno.

__ADS_1


"Insyaallah, Bunda akan selalu menemani Seno dan juga adik adik. Do'akan saja yang terbaik untuk Bunda dan Papa ya nak ya." Ila mengatakannya sambil mengusap pipi sang putra.


"Seno kangen ngak sama Mama?" tanya Ila.


"Kangen, Seno kangen banget sama Mama."


Deg


Jantung Ila berdetak cepat, jujur saja ini yang adalah salah satu hal yang dia takutkan sedari dulu.


"Kalau Mama Seno datang ke rumah kita. Apa yang ingin Mas Seno katakan pada Mama," tanya Ila.


Arka yang mendengar pertanyaan Ila pada Seno, hanya mampu menghela nafas. Dia sangat khawatir jika Ila malah berpikir yang tidak tidak. Bagaimanapun Ila termasuk orang yang over thinking.


"Seno ingin Mama tinggal bersama kita, seperti dulu. Tapi Seno tidak mau Mama ketemu Om - Om jahat lagi. Karena setelah itu Mama selalu marah - marah dengan Papa." kata Seno.


Perkataan Seno sukses membuat Arka membulatkan matanya. Terlebih Ila yang sudah termenung mendengar perkataan Seno.


"Lalu Bunda bagaimana? Jika Mama Seno kembali seperti dulu dan tinggal bersama kalian dan juga Papa. Bubda akan tinggal dimana?" Tanya Ila, hatinya kacau mendengar perkataan sang putra sambung.


"Bunda juga akan tinggal bersama kita. Nanti rumah akan sangat rame ada Mama, Bunda, Papa, Arshaka , Seno dan Dedek kembar." Seno tersenyum sumringah tanpa menyadari jika perkataannya sudah membuat sang bunda tersakiti.


"Bunda merasa lelah, Bunda ingin istirahat." Ila ingin berdiri tapi tangannya di tahan Seno.


"Bunda kan bisa tidur di sini. Seno masih ingin di temani Bunda." Kata Seno sambil menggenggam tangan sang bunda.


"Nanti saja ya Mas, Bunda capek mau bobok. Mas main sama Bibi dan Papa saja." Ila berlalu ke kamar.


Arka yang menyadari suasana hati sang istri yang tidak baik segera menghampiri sang istri.


Sedangkan Seno terbengong bengong melihat sang Bunda dan Papa nya yang telah berlalu ke kamar mereka.


Sekarang hanya ada Bi Tina dan Arsahaka yang menemani Seno barmain di ruang televisi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2