
Ila tidak tahu harus bagaimana merespon perkataan suaminya. Bagaimana pun 10 tahun bukan waktu yang sebentar.
Bahakan dalam kurun waktu 10 tahun mereka memiliki 2 putra. Ya Allah Ila harus bagaimana? Mengapa badai selalu datang dalam rumah tangganya. Dia tidak ingin menyakiti hati Seno tapi Ila juga tidak mampu rasanya jika tinggal satu atap dengan masa lalu suaminya.
Ila menghela nafas panjang. Dia menatap Arka yang bertengkar dengan Raya di ruang keluarga. Tidak ingin ikut campur Ila memanggil Bi Surti untuk membersihkan meja makan.
Ila memilih di dalam kamar, berdiam diri dan juga menulis karya-karyanya yang belum sempat dia lanjutkan.
"Raya! Kamu tahu aku dan kamu tidak mungkin lagi menjadi kita. Kamu sudah bersama Abimana. Jadi tolong angkat kaki dari rumahku!"
"Mas! Abimana telah mengusirku. Bahkan dengan kejamnya Abimana mentalak 3 diriku yang sedang hamil 8 bulan ini Mas.
Mas aku mohon tolong Aku. Izinkan aku tinggal di sini. Bersama kamu dan putra kita." Raya memakai akal bulusnya.
Dia fikir tidak ada gunanya dia bersitegang urat bersama Arka. Bagaimanapun sekarang misinya adalah masuk dan mendapatkan Arka kembali dalam hidupnya.
__ADS_1
"Aku tidak perduli Raya! Kamu masih punya keluarga, kamu bisa mendatangi mereka jika memang kamu di usir oleh leelaki jahanam itu!"
"Mas keluarga besarku sudah tidak menggapku lagi Mas. Mereka marah karena aku menelantarkan Arshaka yang baru aaja terlahir dan memilih pergi beraaama Abimana.
Mas Arka adalah satu-satunya harapanku sekarang. Aku mohin Mas kasihanilah wanita hamil ini Mas."
Raya menggenggam erat tangan Arka yang langsung di hempaskan oleh Arka. Baginya Raya hanya datang ketika membutuhkannya. Dan akan pergi setelah pelik hidupnya berakhir.
Arka bukan pria tolol 10 tahun yang lalu. Yang akan selalu menerima Raya dari buangan orang-orang yang selalu wanita ini kejar.
"Pergi kamu sekarang!" Teriak Arka yang sudah kepalang marah pada mantan istrinya itu.
"Kalau Papa mengusir Mama, Seno akan ikut dengan Mama. Tidak peduli di mana Seno akan tinggal, Seno akan mendampingi Mama."
"Ayo Ma, kita pergi." Seno mengenggam tangan Raya.
__ADS_1
Di balik pintu Ila mendengar semua percakapan orang itu dengan mengepalkan kedua tangannya hingga buku tangannya memutih. Matanya berkaca-kaca. Meski begitu tidak satu tetespun air mata jatuh di pipinya.
Tidak, Ila tidak akan dengan tolol menangisi yang terjadi di depan. Dia yakin apapun yang terjadi Arka akan tetap menjadi suaminya.
Dan Jika yang tidak di inginkan terjadi. Maka mungkin itu sudah takdir yang Tuhan takdirkan untuknya.
Ila masih memegang prinsip. Cinta boleh saja, tapi bodoh jangan. Cukup satu kali dia melakukan aksi gila untuk mempertahankan rumah tangganya bersama Arka. Bahkan dia hampir kehilangan nyawanya bersama anak-anaknya karena aksi bodoh itu.
Arka menegang mendengar perkataan Seno.
"Seno kamu akan pergi meninggalkan Papa dan Bunda? Apa kamu tidak berfikir bagaimana prasaan Bunda saat tahu kamu pergi dari rumah. Demi Mama kamu yang meninggalkan kamu dan dedek saat masih sangat kecil?
Apa ini balasan untuk Bunda kamu Seno?"
Tanya Arka, matanya sudah berkaca-kaca. Hatinya di landa kebingungan. Sensaranya Raya bukan urusannya. Tapi Seno? itu darah dagingnya. Putra pertamanya, tidak mungkin dia abaikan.
__ADS_1