Cinta Tulus untuk Mas Arka

Cinta Tulus untuk Mas Arka
Bab.53


__ADS_3

Pagi ini adalah hari libur. Sejak hamil usia 5 bulan ini Ila memang jarang bangun pagi untuk memasak. Ila biasanya membantu Bibi memasak di sore hari, jika pagi hari Ila hanya akan membantu Arka dan Seno bersiap dan menyuapi Si kecil Arshaka sarapan.


Ila baru saja selesai menghias wajahnya dengan hiasan natural. Pagi ini Ila sudah rapi dan terlihat anggun dengan gamis sederhana berwarna abu-abu yang terlihat manis dengan jilbab senada.


Arka hanya menatap sang istri penuh cinta. Sebenarnya di balik tatapan penuh cinta Arka, tersimpan kecemasan, bagaimana tidak? Raya si wanita gila sang mantan istri ada di rumahnya. Satu atap berasama dia dan sang istri tercinta.


Saat Ila ingin melangkah keluar kamar, Arka memeluk sang istri dari belakang dan menahan istrinya untuk keluar kamar.


"Ada apa Mas? Ila mau ke dapur lihat si Bibi. Siapa tau ada yang bisa di bantu." Ila berbalik dan mengelus wajah sang suami. Ila menemukan kegelisahan di wajah suaminya.


"Sayang ... Mas mau ngomong." Arka menarik nafas sejenak. Mengurangi rasa gugupnya Arka menikmati belaian tangan istrinya di wajahnya.


"Sayang, mantan istri Mas. Raya ada di rumah kita ... semalam dia mabuk dan orang Club tempat dia minum mengantar dia ke rumah kita." Arka mengamati wajah sang istri yang tidak ada menanggapi sama sekali.


"Sayang, jangan marah. Mas ngak jemput dia, tapi dia datang sendiri ke rumah kita."


"Sayang... jangan diam aja. Mas khawatir, kamu ngak lagi salah faham kan?" Tanya Arka pada sang istri.

__ADS_1


"Kenapa orang sampai ngaterin di ke rumah kita Mas. Suami nya kemana? Kok bisa si Tante keluyuran sendirian lagi hamil besar lagi!" Ila bingung, marah juga heran. Semua nya bercampur.


"Kayaknya dia lagi ada masalah sama suaminya. Soalnya dia ngeracau kalau Abimana membuang dia."


Ila menghela nafas, mau marah juga sama siapa? Jadi ila hanya menganggukkan kepala sambil menepuk pelan pipi suaminya lalu mengecup pelan pipi sang suami.


"Yaudah, bukan urusan kita juga. Yuk keluar atau mas mau di sini aja?" tanya Ila pada Arka.


Arka memutuskan mengikuti sang istri keluar kamar. Biasanya Arka akan olahraga pagi jika libur begini. Tapi mengingat ada Bu mantan di rumah Arka khawatir meninggalkan istrinya sendiri.


Saat ini sarapan sudah terhidang, Arshaka juga sudah selesai Ila suapi sarapan. Seno juga sudah mandi.


"Arshaka duduk disini ya nak ya! Nanti Dedek di perut Bunda kesakitan, ya!"


"Unda? Akit? Edek i eut Unda?" Tanya Arshaka dengan suara cadel khas bayi nya.


"Iya Dedek nya nanti yang di perut Bunda sakit." Arka menerangkan pada sang anak.

__ADS_1


"Morning semuanya ..."


"Arka sayang ..." Teriak seorang wanita berperut besar dan langsung ingin mencium bibir Arka akan tetapi Arka segera menahan tubuh wanita itu dengan kedua tangannya.


"Mama..." Lirih Seno.


Ada rindu yang begitu besar untuk Mama. Tapi di sana juga ada rasa takut. Takut jika mamanya akan pergi lagi.


"Kamu apa-apaan sih Raya. Kita itu sudah bercerai. Saya sudah menikah, bahkan istri saya ada di samping saya dan kamu bertindak tidak sopan!" Arka menghempas tangan Raya sehingga raya sedikit terdorong ke belakang.


"Arka kamu ngak usah ber sandiwara di depan istri kecil kamu itu. Kamu masih sayang kan sama aku? Arka kita bersama tidak sebentar, 10 tahun itu waktu yang sangat lama.


Kamu ngak mungkin udah lupain aku gitu aja. Wanita ini pasti hanya pelampiasan kamu aja kan? Lagi pula waktu aku ingin bercerai dulu kamukan mohon-mohon sama aku agar tetap bertahan demi anak kita sayang.


Sakarang aku pulang. Seno kangen kan sama Mama? Seno ngak maukan Mama pergi lagi?"


Raya berjalan dan memeluk Seno erat. Hal itu tidak luput dari perhatian Ila. Seno yang awalnya tegang dan takut. Sekarang Seno menangis di pelukan ibu kandungnya.

__ADS_1


"Mama jangan pergi lagi! Seno kangen Mama. Seno dan Adek Arshaka butuh Mama. Bunda dan Papa bolehkan Mama tetap tinggal sama kita?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2