
Ila yang merasa kelelahan setelah melayani suami tercintanya, membuat Ila tertidur lelap.
Di tengah lelapnya tidur Ila. Arka dan Raya bersiap untuk menikah malam ini. Saat ini Arka dan Raya tengan mengatur beberapa persiapan pernikahan.
Arka seolah lupa pada wanita muda yang sekarang terkapar tak berdaya karena ulahnya. Saat jni jam menunjukkan pukul 6.00 sore. Akad nikah akan di laksanakan jam 7.30 malam.
Selain merindukan sang istri. Alasan Arka menyentuh istrinya di petang hari agar Ila sedikit melupakan kesedihanya dan juga tidak melihat dia mengucapkan ijab kabul untuk wanita lain.
Tepat saat Arka masuk ke kamar mandi dan akan menyiapkan diri untuk pernikahan kedua-nya.
Ila menggeliat dan perlahan terbangun dari tidurnya. Kedua pipinya bersemu mengingat adegan panasnya bersama sang suami.
Akan tetapi itu tidak berlangsung lama, Ila melihat baju dan jas terletak rapi di samping dia terlelap. Tidak ingin berperasangka buruk, bisa saja dia hanya bermimpi tentang sang suami yang minta izin menikah lagi.
"Ah mungkin itu hanya alam bawah sadarku. Mas Arka pasti tidak akan menikahi Mbak Raya kan?" Batin Ila bermonolog.
Clek
Ila segera memejamkan matanya. Berharap seperti biasa sang suami akan mengecup keningnya. Lama menunggu Ila mengintip di celah matanya.
Ila melihat Arka mengenakan celana dasar dan kemeja putih lengkap dengan jas hitam dan dasinya.
Suaminya tampak gagah dan berkharisma. Hingga terdengar ketukan pintu.
__ADS_1
Clek
Arka membuka pintu.
"Mas pak penghulu dan juga beberapa orang saksi sudah datang Mas. Ayo keluar kita sudah di tunggu. Aku senang deh Mas, akhirnya kamu kembali menjadi suamiku."
"Syuut jangan berisik. Aku sengaja nanti Ila terbangun. Ayo keluar!" Tepat saat Arka dan Raya berlalu. Ila membuka matanya. Wajah yang tadi penuh senyuman kini tidak lagi mampu tersenyum.
Sakit hati, kecewa, pilu dan banyak rasa tidak mengenakkan bercampur di hati Ila. Mengapa suaminya begitu tega. Dan apa ini, dia di gauli hanya untuk membuatnya kelelahan dan tidak menganggu acara akad nikah berlangsung.
Ya Allah mengapa laki-laki yang dia cintai dengan begitu dalam tega membuatnya terluka begitu dalam.
"Saya terima nikahnya ...." Ila menutup kupingnya erat. Kenapa harus terdengar olehnya. Bukan kah kamra ini kedap suara lantas mengapa dia mampu mendengar suara dari luar.
Ila tersenyum sinis saat melihat pintunya memilili celah yang lumayan. Sekitar 5 jari pintu itu di luangkan. Ila tahu siapa di balik ini. Siapa lagi jika bukan Raya.
"Bagaimana para saksi?" terdengar pertanyaan dari pak penghulu.
"Sah?"
"Sah!"
Laly di lanjutkan do'a bersama. Tidak ingin semakin terluka. Dengan melilitkan bedcover ke tubuhnya Ila berdiri dan berjalan ke arah pintu.
__ADS_1
Tub.
Terdengar suara Pintu yang di tutup dengan kasar. Arka langsung menayap ke arah kamar sang istri.
Takut itulah yang Arka rasakan. Ila pernah bertindak gila dan hampir kehilangan nyawanya sendiri.
Dalam gelisah Arka menunggu acara ini sampai selesai. Saat para saksi dan pak penghulu sudah pulang. Hari menunjukkan jam 9 malam.
Jantung Arka bertalu-talu saat mengetuk pintu Ila namun tidak di buka-buka juga oleh pemilik kamar.
"Ila, Mas ngak main-main. Jika tidak kamu bukak, maka pintunya Mas dobrak."
Ila tidak menggupris hal itu sama sekali. Saat Arka akan mendoprak pintu, pintu itu terbuka dengan sendirinya. Ila tampak rapi seperti biasa.
Ila ke dapur dengan membawa susu hamil rasa vanila. Ila menatap datar sang suami. Dan berlalu begitu saja ke arah dapur.
Ting
Pesan masuk ke handphone Ila.
Bsf
Semua yang kamu minta sudah aku siapkan!
__ADS_1
Anda
Thank, untuk selalu bisa di andalkan dalam posisi sulit.