
Hai para readers ku tercinta. Ada yang kangen sama cerita Mas Arka dan Mbak Ila ngak? Ada yang nungguin ngak?. Maaf ya beberapa hari kemaren ngak update🙃🙃
Maklum lagi pusing Uas sama PLK jadi tulisannya di anggurin dulu sementara. Tapi tenang Insyaallah Mbak Ila dan Mas Arka akan di tulis sampai tamat ya. So don't miss it. Tambahkan di favoritnya ya.
Ila hanya tersenyum melihat tingkah Arka. Ila sangat bersyukur Allah memberikan suami yang baik dan matang seperti Arka. Dulu Ila sering merasa takut akan sebuah hubungan pernikahan, bagaimanapun dia hanyalah mahasiswa biasa. Hari hari yang Ila jalani hanya di temani oleh para sahabatnya tidak ada lukisan cinta di dalamnya.
Clek
Arka membuka pintu kamar mandi setelah di berwudhu, lalu dia mendekati sang istri yang tampak melamun.
"Sayang, kok susunya belum di minum. Udah jangan ngelamun ngak baik buat baby twinsnya!" Arka menyodorkan susu pada sang istri untuk segera di minum.
"Iya Mas, Mas langsung tidur kan?" Ila bertanya sambil melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 12 malam.
"Iya sayang, Mas udah ngantuk banget." Arka berbaring di samping Ila.
"Mas peluk Ila dong kayak biasa, dedek bayinya ngak mau jauh jauh dari ayahnya." Ila seraya menghadap pada sang suami tanpa berinisiatif memeluk suaminya.
"Oh sayangnya Mas, bilang aja kalau Bundanya yang ngak bisa jauh dari Ayah. Iya kan Nak ya? Duh kasihan Baby twinsnya Ayah." Arka mendekatkan diri seraya memeluk tubuh sang istri yang semakin mempesona meskipun dalam keadaan hamil besar.
"Jadi kambing hitam sama Bundanya." Arka sesekali mengelus perut buncit Ila.
"Mas, udah dia. Ila ngantuk mau bobok." Ila mengatakannya sambil menggosokkan wajahnya ke dada sang suami.
Arka mengelus kepala istrinya pelan. Bagaimanapun Arka sangat bahagia dengan sikap manja sang istri, karena semakin istrinya manja padanya itu menunjukkan jika sang istri betah dan nyaman bersamanya.
"Unda, Unda! Aka au andi." (Bunda, Bunda! Arshaka mau mandi.) Arshaka yang sudah terbangjn dari tidurnya saat ini sedang di dudukan di kasur bersama Ila yang sedang tertidur pulas.
Sahabis subuh tadi Ila di suruh Arka untuk tidur kembali. Bagaimanapun Arka tidak ingin sang istri kelelahan apa lagi istrinya harus membawa janin kembar mereka.
__ADS_1
Lagi pula sekarang hari minggu, Arka dan Seno libur. Arka libur bekerja dan Seno libur sekolah.
"Adek, tungguin papa aja ya. Kasian bunda pules banget." Seno menghalau tangan adiknya yang ingin memukul mukul kecil tangan ibu sambungnya itu.
"Eh, ada Seno sama Arshaka. Udah jam berapa Sayang?" Tanya Ila sambil sesekali menguap menahan rasa kantuknya yang menyerang dan mamaksa untuk hadir kembali meskipub baru saja bangun tidur.
"Sudah jam 8 pagi Bunda." Seno mengatakannya sambil mencium sayang pipi sang bunda dan itu di ikuti oleh putra kecilnya Arshaka.
"Aduh manisnya putra-putra bunda. Semoga jadi anak yang sholeh ya Nak ya." Ila tersenyum dan mengusap sayang wajah anak-anak nya.
"Kok ngak bangunin Bunda dari tadi?" Tanya Ila sambil menggelung rambutnya dan mengikatnya.
Saat Ila ingin berdiri terhenti oleh pertanyaan Seno.
"Bunda mau kemana?" Tanya Seno.
"Bunda mau kedapur mau bantu Bibi masak dulu." Kata Ila.
Clek
Suara pintu di bukakan. Ila melihat ke arah pintu dan ternyata Arka yang datang.
"Mas, kok ngak bangunin aku sih? Apalagi para orang tua lagi di rumah, Ila kan jadi ngak enak." Ila sambil berjalan mendekati suaminya.
"Sayang, semua orang tahu kalau sekarang hari minggu dan juga kamu lagi hamil besar. Siapa sih yang bakal permasalahin itu semua. Lagi pula mereka itu orang tua kamu sayang. Ibu Tia dan Pak Faiz mereka ngerawat dmkamu dari kecil dan Daddy Abraham dan Mommy Selena mereka mencari keberadaan kamu dalam waktu 19 tahun, itu nunjukin mereka semua sayang sama kamu." Arka mengecup sayang pipi dan kening istrinya.
"Udah Buruan rapi rapi kita sarapan bersama, yang lain udah pada nungguin. Mas mau mandiin Arshaka dulu." Arka mendekat dan menggendong Arshaka.
"Biar Ila aja yang mandiin Arshaka, Mas?" Arka menjauh seketika dari sang istri saat Ila hendak menggapai Arshaka.
__ADS_1
"Sayang, udah ini jadi urusan aku. Arshaka kalau mandi rewel jadi aku ngak mau kamu jongkok lama lama. Seno temanin Bunda di sini, nanti barengan ke ruang makan sama Bunda. Papa mau mandiin Adek dulu." Arka berlalu dari kamar dan Ila langsung ke kamar mandi yang ada di kamar.
Saat ini di meja makan sangat rami, semua anggota keluarga ada di sana, bahkan Bi Surti ikut sarapan bersama semuanya makan dangan khitmat sambil sesekali bertanya dan mengobrol ringan.
"Ila, Daddy sepertinya tidak bisa menetap lama Sweety. Hari ini Daddy dapat telepon dari David jika ada proyek selama 1 bulan yang memerlukan kehadiran Daddy. Itupun bukan di New York, tapi di Thailand. Padahal Daddy masih sangat ingin bersama dengan mu Sweety." Abraham memendang sendu putrinya.
"Ngak papa Dad, apa nanti saat Ila melahirkan Daddy dan Mommy akan datang?" tanya Ila penuh harap pada orang tua yang baru beberapa hari dia temui.
"Daddy dan Mommy tidak bisa menjanjjikan apapun Sweety akan tetapi ketika proyek ini selesai Daddy maupun Mommy akan segera menemui mu." kata Mommy Selena sambil mengelus lembut tangan putrinya.
Ibu Tia bahagia melihat hubungan keluarfanya yang berjalan sangat baik. Dia juga merasa plong dari kecemasan kecemasan yang sering dia rasakan berkaitan dengan permasalahan orang tua kandung Ila.
Saat ini Ila dan Arka sedang mengantar Selena dan Abraham ke bandara. Selana dan Abraham akan bertolak ke Thailand hari ini juga.
"Dad, nanti setelah tiba di sana kabari kami ya." Ila memeluk hangat tubuh Abraham.
Lalu Ila memeluk Mommy Selena.
"Ila pasti akan merindukan Mommy, sering sering telepon Ila ya Mom." Ila menengis seraya memeluk Mommynya. Entah mengapa semenjak hamil Ila memang cengeng dan mudah menangis.
"Sayang jangan menangis. Kau membuat Mommy jadi ragu untuk ikut perjalanan bisnis bersama Daddy mu. Mommy dan Daddy akan segera ke Indonesia begitu bisnis ini berjalan dengan baik. Do'a kan kami Sweety. Setiba di sana Mommy pasti akan segera mengabati kamu." Mommy Selena memeluk sayang putri tirinya itu.
Jauh di lubuk hati yang paling dalam Selena bersyukur di tengah kekurangannya yang tidak memeliki anak, dia masih bisa memiliki orang yang memanggilnya Mommy.
Selena sangat bahagia mendengar Ila dan Arka memenggilnya Mommy. Dia merasa benar benar memiliki putri dan menantu.
Setelah mengantar Mommy Selena dan Daddy Abraham ke bandara, Ila harus mendengar kabar tidak mengenakkan dari keluarga di kampung.
"Apa bu? Suamu Mbak Ririn menikah lagi?" Ila terkejut mendengar itu semua.
__ADS_1
Kabar yang lebih mengejutkan Ririn masuk rumah sakit sehingga membuat Theo kelimpungan sendiri harus menjaga anak dari Mbaknya Ririn juga anaknya Ara yang berusia 3 tahun sangat aktif. Disisi lain Mbak Ririn pingsan setelah mengamuk pada sang suami yang memadu dirinya saat di rantau.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...