
Saat ini Ila dan Arka hanya terdiam di mobil. Tak ada percakapan berarti di antara Ila maupun Arka keduanya bungkam sejak bertemu Raya dan Abimana.
“Sayang belanjaannya gimana? Jadi lanjut atau kita cari minimarket lain yang terdekat mumpung lagi di luar?” Tanya Arka memecahkan kesunyian antara ia dan istrinya.
“Ke minimarket dekat kamu ngajar aja. Lagian nantikan Mas juga mau ngajar jam 10. Ini udah jam 9," kata Ila.
“Tapi Yang? Nanti kamu malah ketemu Dion di sana,” kata Arka seolah tak rela jika Ila bertemu dengan rivalnya itu.
“Mas tolong. Jangan bikini Ila tambah BT deh, cukup tante mantan Mas aja yang bikini Ila kesel di pagi - pagi buta gini. Mas jangan ikut - ikutan,” kata Ila tampa melihat ke arah suaminya.
“Iya, Mas antar ke mini market dekat kampus. Kamu jangan marah dong Sayang,” kata Arka tapi tak gubris sama sekali oleh Ila.
Arka berusaha memahami jika sang istri sedang sangat emosional saat ini. Mereka diam sampai di minimarket dekat kampus Arka mengajar. Mini market itu cukup sepi karena memang masih pagi. Karena Arka ada jam mengajar sebentar lagi maka Arka melangsungkan niat nya untuk segera pergi ke kampus.
“Sayang kamu pulang naik taksi aja ngak papakan? Tapi kalau kamu mau pulang bareng Mas, nanti ke ruangan Mas aja. Kebetulan hari ini siap zuhur Mas sudah bisa pulang dan rencananya Mas mau ke toko kita di daerah A.” jelas Arka.
“Liat nanti aja. Kalau memang Ila mau pulang sama Mas nanti Ila ke ruangan Mas. Yaudah Ila pamit mau belanja.” Ila menciumi takzim tangan suaminya dan mengecup sekilas bibir suami nya sebelum dia keluar mobil.
Saat Ila berlalu masuk ke dalam mini market. Arka sungguh tak sanggup menahan rasa bahagianya meski tadi sempat berfikir jika sang istri marah pada nya.
“Ah Ayang mah bisa aja deh bikin aku good mood pagi - pagi, kan jadi semangat kalau di kasih kiss gini,” kata Arka bermonolog sendiri.
Saat ini Arka memasuki ruangan kantor nya untuk mengambil bahan ajar yang nanti akan dia sampai kan pada mahasiswa nya.
“Pagi Pak Arka!”
“Pagi Pak Hasan!”
“Sehat Pak Arka”
“Alhamdulillah Buk Lidya.”
Begitulah sapaan demi sapaan yang Arka terima ketika dia memasuki ruangan kantor nya. Tak berselang lama Arka kembali keluar dari ruangannya dengan membawa materi ajar yang akan dia bawa ke kelas dimana dia mengajar.
Sedang kan disisi minimarket Ila malah bertemu dengan Dion. Dion yang tersenyum ke arah Ila, hanya Ila tanggapi dengan anggukan kepala. Hingga saat Ila sudah selesai belanja dan akan keluar dari mini market dion memanggilnya.
__ADS_1
“Dek Ila!” panggi Dion.
“Iya Pak Dion, ada yang bisa saya bantu?” tanya Ila dengan wajah datarnya.
“Bisa kita bicara sebentar Dek Ila?” Tanya Dion.
“Maaf saya harus menjemput anak sulung saya ke sekolah, jadi tidak ada waktu untuk berbicara dengan Anda,” kata Ila berlalu.
“Tunggu Dek!”
“Sebentar saja!” kata Dion serya memegang tangan Ila.
“Lepaskan tangan saya. Saya wanita bersuami tak seharusnya anda memegang tangan saya seperti ini," kata Ila seraya menghentakkan tangannya.
“Sorry, begini Dek Ila. Mas mau minta maaf atas perkataan Mas kepada keluarga Dek Ila kemaren. Mas sudah sangat keterlaluan karena berpikir bisa untuk merebut kamu dari Pak Arka,” kata Dion.
Ila tak tau jika ini tulus atau tidak hanya saja Ila memang sangat menghargai seseorang yang sudah mau mengatakan kesalahannya.
“Saya sudah maafkan Pak Dion. Hanya saja kedepannya jangan di ulang lagi. Saya yakin Pak Dion orang baik Insyaallah akan di pertemukan dengan orang baik juga,” kata Ila masih dengan wajah tanpa ekspresinya.
“Maaf lain kali saja. Saya tidak ingin suami saya salah faham. Jikapun Anda mengundang saya pastikan Anda juga mengundang suami saya. Saya permisi.” Ila berlalu tanpa bisa Dion cegah lagi.
Dion mengepalkan kedua tinjunya dengan erat. Matanya memancarkan kemareahan yang sangat jelas. Bahkan mungkin bisa membakar orang seaking kesalnya.
“Menyerahlah Dion, kamu sudah 2 bulan berusaha mendapatkannya. Tapi apa yang kamu dapatkan?”
“Nol besar. Nol besar Dion, sekarang lebih baik kamu pulang kerumah dan ikuti perkataan Daddy!” kata Rievo kakak laki laki Dion.
“Kak gua belum kasih usaha terbaik gua buat memiliki dia. Gua ngak akan nyerah gitu aja. Ila pasti akan menjadi milik ku kak. Dia akan jadi pengantinku nanti,” kata Dion.
“Mau sampai kapan? Ini sudah 2 bulan kamu yakin bisa menolak permintaan Daddy and Mommy?” Tanya Rievo.
“Makanya kakak bantu aku buat bisa memiliki dia kak. Aku ingin Ila bisa menjadi milikku kak,” kata Dion.
“Berjuanglah sampai kamu lelah, kalau udah ngak sanggup jangan di paksakan.” Rievo enggan menasehati ataupun membantu adiknya itu. Dia pernah di posisi Dion dan dia sangat merasa sakit jika mengingat bagaimana perjuangannya dulu yang tak pernah di hargai oleh orang yang dia cintai. Sakit itu sudah pasti.
__ADS_1
karena itu Rievo tak banyak komentar mengenai adiknya ini. Ia hanya berharap jika adik nya bisa sadar dengan sendiri nya. Dia pun dulu nya juga hampir depresi hanya karena seorang wanita. Karena itu lah sampai di umur yang sematang ini dia masih sendiri.
Saat ini ila sudah di kamarnya. Hari sudah menunujukkan pukul 10 malam. Baik Arka mau pun Ila sudah bersiap - siap untuk tidur. Ila memang sangat menjaga penampilannya, terutama jika di hadapan Arka. Saat ini Ila sedang memakai gaun dinas malam nya yang berwarna cokelat terang. Tubuh Ila pun sangat wangi, ya walaupun nantinya mereka tidak melakukan ibadah suami istri ila tetap berusaha memberikan penampilan terbaiknya pada sang suami.
Saat ini Ila sudah berbaring di kasur dengan sebelah tangannya memeluk tubuh sang suami dengan erat.
“Sayang kamu lagi capek ngak?” Tanya Arka sambil mengelus lengan sang istri halus.
“Kenapa Mas? Mas mau Ila pijit?” Tanya Ila.
“Buat Mas mah, capek pun akan Ila bilang ngak capek. Apa sih yang ngak buat suami tercinta,” kata Ila sambil tersenyum pada suaminya.
“Sweet nya istri Mas. Jadi makin cinta,” kata Arka.
“Harus dong, masa udah cantik dan wangi banget kayak gini Mas ngak cinta," kata Ila.
“Sayang Mas mau itu,” kata Arka.
“Itu apa Mas, ngomong yang jelas ah. Ila ngak student nya Mas yang nanyanya pake clue dulu,” kata Ila.
“Mas kangen Sayang, pengen ngadon dedek ucul," kata Arka memulai aksinya yang membuat Ila ngak karuan di buat nya.
“Ila juga mau.” Ila menjawab nya dengan terpotong - potong.
Maka terjadilah ibadah yang sangat di ridhoi Allah dan juga mendapat pahala disisi_Nya. Baik Arka maupun Ila sibuk marasakan rasa masing - masing. Terlebih Ila yang tak berdaya di bawah kuasa sang suami.
Dalam hati ila sangat berharap dedek ucul dambaan dia dan suaminya bisa segera hadir.
1 jam 30 menit berlalu. Arka sudah selesai dengan ngadonnya sedangkan Ila sudah lemas di samping Arka.
“Semoga dedek ucul cepat hadir," kata Arka seraya mengusap perut istri tercinta.
“Makasih Sayang,” kata Arka kembali.
Ila menanggapinya dengan senyuman hangat nya dan memeluk tubuh sang suami mencari kenyamanan di tubuh suami nya.
__ADS_1
See you……