
Arka menghempaskan tangannya yang di pegang Ila dengan kencang. Sehingga tangan Ila terlepas dari genggaman Arka,
Arka tidak menghiraukan istrinya itu. Tidak lagi dia fikirkan bagaimana jika Ila akan stress atau apapun, Sekarang proritasnya adalah bertanggung jawab atas sikap tidak baik istrinya. Arka kelantai dua unttuk mengambil pakaian putranya, Karena Seno masih di rumah sakit dan belum mandi sedari kemaren.
"Tuan, bagaimana keadaan Nyonya Raya Tuan?" tanya Bi Surti.
"Do'akan saja agar Raya cepat siuman. Raya sudah terlalu malang karena terlalu banyak yang menimpanya belakangan ini. Di buang Abimana sebagai suami harusnya sudah cukup sebagai pukulan baginya.
Sekarangpun harus koma, kehilangan bayi dan rahimnya terpaksa di angkat karena kerusakan pada rahim yang di alami olehnya. Bi saya ingin bertanya, apa saat kejadian Bbi ada di sana? Apa Bibi melihat siapa yang mendorong siapa diantara Ila dan Raya?
Saya mendengar pengaduan dari Seno dan Ila berbeda. Seno menyatakan kalau Ila mendorong Raya hingga Raya berakhir seperti saat ini. Tapi Ila memberi keterangan yang berbeda, Ila mengatakan jika Raya yang mendorongnya dengan keras, Ila khawatir akan terjatuh berusaha menghindar dari dorongan Raya dan berakhir Rayalah yang harus jatuh." Tanya Arka pada Bi Surti.
__ADS_1
"Jika Tuan memang ragu mengapa tidak tuan ikuti kata hati tuan? Kita semua tahu bagaimana karakter Nyonya Raya dan kita juga tahu bagaimana karakter Nyonya Ila. 10 bulan bukan waktu yang sebentar, saya yakin Tuan sudah cukup memahami seperti apa karakter mantan istri dan juga istri Tuan sekarang.
Bahkan saya yang hanya pembantu di sini juga tahu Tuan, jika Nyonya Ila tidak akan menggunakan hal sepicik itu pada Nyonya Raya. Apalagi Nyonya Ila juga tengah hamil muda sekarang, sangat tidak mungkin Nyonya Ila melakukan itu semua.
Tapi apapun halnya saya kembalikan lagi kepada Tuan. Seno adalah anak Tuan, Nyonya Ila juga adalah istri sah Tuan. Apapun keputusan dan prasangka yang akan tuan ambil jangan sampai menyesal di akhir."
Bi Surti izin pamit kebelakang untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Perlengkapan Seno sudah Arka ambil, tidak ada lagi yang kurang. Arka masuk ke kamar dimana ada Arshaka putra bungsunya dia memandang sendu sang putra.
Melihat Arshaka mungkin Arka akan percaya perkataan Seno tanpa ragu. Arshaka adalah bukti nyata betapa kejamnya Ila pada anak kandungnya sendiri.
Cup
__ADS_1
Arka mengecup kening sang anak lama, lalu Arka bertolak akan keluar ruangan. Alangkah terkejutnya Arka saat melihat istrinya berada di depan pintu kamar Arshaka.
"Mas... apa aku di perbolehkan untuk ikut melihat Mbak Raya kerumah sakit?" tanya Ila lirih pada sang suami.
"Ngak ada anak yang mau menerima jika Ib kandungnya di sakiti oleh orang lain, sekalipun orang terdekatnya. Saya harap kamu faham persoalan yang satu ini. Seno sekarang sangat membencimu, karena kamu membuat Ibu yang dia dambakan kasih sayangnya sedari kecil terbaring tidak berdaya di atas ranjang rumah sakit.
Saya tahu kamu kecewa karena belum berhasil melakukan rencana jahat kamu untuk melenyapkan Raya dari hidup anak-anaknya. Tapi kamu juga harusnya sadar hal ang raya terima saja sudah cukup berat. Bagaimana jika dia membawa kasus ini pada pihak yang berwajib? Apa kamu mau dalam kondisi hamil besar begini harus mendekam di penjara?" kata Arka sinis pada istrinya.
"Mengapa kamu begitu tega denganku Mas... ini hanya sebuah kesalahpahaman..."
"Stop Ila! Saya letih mendengar kamu terus menyangkal kesalahan yang kamu perbuat. Lebih baik kamu tetap di rumah. Jangan lagi menungguku pulang aku belum tentu pulang karena Raya tidak ada yang menjaganya di rumah sakit.
__ADS_1
Kamu juga jangan manja, saya tahu kamu sedang hamil anak saya. Tapi setelah ini tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Hubungan kita rasanya semakin meragukan!" Arka pergi dengan meninggalkan Ila dengan 1001 kebingungan yang dia rasakan.
To be continue.