
"How about your feeling honey? Are you okay?" tanya pria bermata sipit lengkap dengan senyuman menawannya.
"Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menolongku kabur dari kediaman Mas Arka."
"It's okay. He is stupid man. Tapi itu baik, mungkin saja kita ada takdir untuk bersama." kata laki-laki bermata sipit itu sambil tersenyum.
"Aku ini akan jadi janda. Bahkan sebentar lagi jadi ibu dengan dua anak. Aku yakin jika tante dan om masih di sini dia juga akan menentang keras keinginanmu.
Ayolah kita berteman sudah lama, jangan lagi kau gombali calon ibu ini, nak!" kata Ila sambil tertawa.
"Hei!"
"Aku ini lebih yua 5 tahun darimu! What nak? Are you kidding me?"
Mereka tertawa bersama dan seketika pria bermata sipit itu mendapat telepon dari telepon genggam nya.
"Okay, saya akan segera kesana!"
__ADS_1
"Aku harus segera pergi. Nanti aku akan minta Olivia untuk menemanimu di sini."
Ila hanya menganggukkan kepalanya. Pria itu berlalu keluar dan terdengar suara pintu terkunci otomatis.
Ila melihat ke arah jendela yang terbuat dari kaca besar dan berhadapan langsung dengan menara yang menjadi spot paling romantis dalam setiap drama-drama korea yang wara-wiri di televisi.
Yap Namsan Tower, suasana malam dan juga salju yang berjatuhan menambah kesan indah pemandangan negeri ginseng yang sekarang tempat Ila melarikan diri.
Disebarang sana Abraham baru saja mendapat kabar dari Jame jika Ila sedang di Korea Selatan di tempat salah satu sahabatnya semasa kuliah dulu.
"Aku rasa putri kita butuh waktu untuk sendiri. Mungkin saja cucu kita ingin berlibur hingga harus berlabuh di negeri ginseng itu ketimbang mengabari kita. Cukup kita amati saja. Sekarang aku akan buat perhitungan dengan Arka dan juga ***-*** itu!" Mata Abraham sarat akan dendam.
"Sayang aku mohon jangan kotori tanganmu dengan membalas mereka. Ada hukum alam yang akan membalas mereka sayang." Kata Selena seraya mengelus lengan suaminya.
"Kita lihat saja nanti!"
Dalam sekejap semua data Arka juga Jal-angnya lengkap di tangan Abraham. Abraham tersenyum sinis membaca riwayat demi riwayat yang dia dapati mengenai Arka juga Gund-iknya itu.
__ADS_1
"Jame! Lakukan seperti yang sudah kita rencanakan. Ratakan semuanya, aku tidak ingin ada yang tersisa. Aku ingin lihat apa yang bisa di lakukan oleh pengecut itu."
Disisi lain Arka masih terpekur dengan kesedihan akan kehilangan yang dia rasakan. Dia melakukan dan menuruti semua keinginan Raya karena takut Ila akan di jahati oleh Raya.
Dia kira rumah tangganya akan tetap bertahan meski dia menikah lagi dengan Raya. Dia sangat tahu jika Ila tersakiti di sini. Tapi harusnya Ila juga faham, jika saja ada bukti konkrit yang membuktikan jika Ila tidak bersalah maka Arka juga tidak akan menikahi Raya.
Letih menangis sambil memeluk foto pernikahannya bersama Ila, hingga Arka jatuh tertidur. Di celah pintu Seno menangis melihat kondisi papanya. Sedari semalam papanya belum makan apapun dan sekarang masih di kamar bundanya yang hilang tak tahu kemana.
"Kamu jangan bodoh Seno! Kamu sama sekali ngak salah sama Bunda dan Papa. Yang kamu lakukan adalah yang terbaik sayang. Berkat kebohongan kamu Mama dan Papa jadi bersama."
"Tapi gara-gara itu Bunda selalu nangis Mama. Papapun juga menjaga jarak dari Bunda. Padahal waktu itu Mamalah yang mau mendorong Bunda dan Bunda hanya berusaha melindungi adek bayi dengan menghindari Mama, hingga Mama jatuh dan masuk ruamah sakit.
Seno sudah jahat sama Bunda, Seno sudah buat Bunda dan Papa sedih. Seno harus apa Mama?"
Tanpa keduanya tahu Arka mendengar semua pembicaraan keduanya. Anak yang begitu dia percaya ternyata menjadi duri dalam hubungan dia dan istri tercintanya. Bahkan membuat fitnah yang begitu kejam pada istri kecilnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1