
"Ila, akhir setelah sekian lama kamu menolak untuk bertemu. Sekarang Mas bisa menemui kamu langsung. Mas sangat merindukan kamu Ila..." Aksi Arka yang ingin memeluk Ila terhalangi oleh badan kekar Kriss.
"Jangan sentuh calon istriku! Kedatangan kami hanya ingin mengundang Anda ke acara pesta pernikahan kami yang akan di gelar 1 minggu lagi!"
Deg
Hati Arka remuk seketika mendengar perkataan Kriss. Benarkah ini nyata? Apakah perjuangannya untuk memperbaiki hubungannya dengan Ila memang harus berakhir setragis ini.
Arka berusaha memaksakan senyumnya meski perih yang di rasakan hatinya.
"Apa kamu sungguh akan menikahi laki-laki ini sayang? Apa tidak ada rasa yang tertinggal untuk Mas? Setidaknya pikirkan anak-anak kita uang batu berusia 2 tahun? Mereka masih terlalu djji untuk kau bawa masuk ke peliknya hubungan kita Sayang," Arka berusaha meraih tangan Ila akan tetapi langsung di tepis oleh Kriss.
"Saya harap Anda bisa jaga sikap ya! Ila ini sudah bukan istri Anda lagi. Hubungan kalian itu sudah lama berakhir, masih untung Ila mengizinkan Anda bertemu dengan Twins. Kalau saya jadi Ila saya tidak akan izinkan bertemu dengan twins mengingat perlakuan kejam Anda yang menikah Nyonya Raya kembali."
Arka terdiam dan hanya mampu tertawa miris akan nasip naas pernikahannya.
"Papa, siapa di luar?" tanya seorang anak kecil dengan suara khasnya.
"Bunda... Bunda kemana aja? Arshaka sangat rindu sama bunda!" anak berusia 4 tahun itu memeluk Ila. Membuat wanita itu terkesiap.
Bagaimanapun Arshaka kecil dialah yang merawat Arshaka dari kecil. Akan tetapi anak itu tidak mungkin masih mengingatnya. Karena bagaimanapun saat itu Arshaka masih sangat kecil.
__ADS_1
"Maafkan Mas, Ila! Mas sengaja mengenalkan foto kamu sebagai ibu kandung dari Arshaka karena Raya tidak ingin berbicara sama sekali dengan Arshaka. Mas masih berharap kita bisa sama seperti dulu. Bahkan Senopun harus sekolah di Asrama karena Mas di Korsel." Lagi-lagi Ila hanya diam seraya mengelus lembut rambut Arshaka.
"Bunda, nanti Bunda tinggal di rumah kitakan? Sama Arshaka, Seno dan Papa?" tanya anak kecil itu penuh harap.
"Sayang, Bunda ngak bisa tinggal sama Arshaka dan Papa. Karena ada suatu keadaan yang memang tidak bisa tinggal bersama. Seperti Arshaka dan Mas Seno yang sekarang harus tinghal berjauhan. Suatu hari nanti Arshaka pasri faham apa yang Bunda maksud."
Ila mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi badan Arshaka lalu memegang pundak anak kecil itu dengan pandangan yang sendu.
"Arshaka harus jadi anak baik, anak yang sholeh, harus nurut sama Papa. Kalau Arshaka kangen sama Bunda. Minta Papa antarkan Arshaka ketempat Dedek kembar ya sayang." Ila mengecup kening dan pipi Arshaka sebelum dia pamit pada Arka.
"Aku harap Mas bisa datang ke acara pernikahan Aku dan Kriss. Dan aku juga berharap Mas sudah bisa melupakan dan mengikhlaskan semua yang sudah terjadi. Kita sudah berakhir. Aku dan Mas tidak akan mungkin menjadi Kita lagi."
Arka hanya tersenyum miris seraya menghapusair matanya. 5 tahun sudah dia di Korea Selatan. Banyak sedikit usaha yang dia bangun berkembang, meski tidak sekaya Kriss. Tentu jika Arka di banding Kriss ibarat langit dan Bumi sangat jauh berbeda.
Hal yang semakin menambah pilu hati Arka. Kabar yang dia dengar dari Arshaka yang baru saja temu kangen bersama sang Bunda. Bunda tercintanya akan memberikan dia dedek bayi lagi. Arshaka dan Twins akan segera punya adik.
Tentu jika itu keturunan Arka, jelas Arka akan sangat bahagia. Namun, tidak begitu. Ila akan memiliki anak bersama Kriss, anak pertamanya bersama Kriss setelah 3 tahun menikah.
Arka selama ini masih tetap di Korea Selatan, selain demi Twins tentu saja berharap Ila kembali padanya. Tapi melihat Kriss memperlakukan Ila bak seorang Ratu, tentu Arka merasa patah arang.
" Aku akan melihatmu dari kejauhan sayang..." Arka sambil mengusap foto Ila yang tersenyum manis padanya.
__ADS_1
"Sebelum aku kembali ke kampung halamanku. Meninggalkan semua kenangan manis maupun luka yang aku torehkan pada Mu," Arka mengecup sayang foto Ila yang dia genggam.
Dari kejauhan, sebuah mobil melaju dengan kencang seorang wanita manis dengan pakaian syar'i melangkah dengan kantong berisi Ice Cream di tangannya.
"Bunda..." panggil dua anak laki-laki seraya melambaikan tangan pada ibunya.
Tanp memperhatikan jalanan yang ramai, wanita manis itu menyebrang jalan, sedangkan dari arah berlawanan mobil berwarna hitam melaju dengan kencang.
"Ila!" teriak seorang pria dari belakang.
"Awassssssss!" teriak pria itu kembali saat wanita itu masih belum menyadari laju mobil yang melesat kearahanya.
Brakkkk
Brakkk
Kecelakaan tidak mampu di hindari. Tubuh yang tetlihat tapuh itu melayang tinggi keudara. Tidak ada sorot penyesalan di matanya. Yang ada hanya rasa Syukur.
Tubuh itu melayang sejauh 3 meter kedepan terlempar dengan keras. Darah bercucuran dan orang berhamburan melihat raga yang sepertinya sudah yidak bernyawa lagi. Melihat separah apa mobil menghantam tubuhnya dan juga terlempar ke aspal yang begitu keras.
Bersambung.
__ADS_1