Cinta Tulus untuk Mas Arka

Cinta Tulus untuk Mas Arka
Bab. 51


__ADS_3

Arka masuk ke dalam kamarnya bersama Ila. Dia melihat pundak Ila bergetar, Arka menyadari jika sang istri sedang menangis.


Tidak ingin fikiran Ila semakin melayang layang tidak tentu arah, Arka memilih menghampiri sang istri.


"Sayang."


Arka memegang pundak sang istri. Ila bergegas menghapus air matanya, akan tetapi Arka lebih cepat menyadarinya. Arka menarik wajah sang istri dan menyandarkan kepala Ila pada dada bidangnya.


"Menangis lah jika itu bisa membuat prasaan mu lebih baik," kata Arka seraya mengelus puncak kepala sang istri.


Ila mengangkat kepalanya, dia juga menghapus air matanya cepat. Sungguh Ila tidak ingin Arka menilainya kekanak - kanakan hanya karena menangis mendengar perkataan Seno.


"Mas, Ila ngak papa kok."


"Yakin?" Tanya Arka.


"Iya Ila ngak papa," kata Ila.


"Ngak papa kok nangis sih Sayang? Sini coba ceritakan sama Mas. Apa karena perkataan Seno tadi?" tanya Arka.


"Ngak kok Mas." Ila mengalihkan tatapannya dari sang suami. Ila tahu Arka bukan lah orang yang mudah untuk ia matipulasi. Lagi pula tidak mungkin Ila mengatakan kegelisahan nya pada Arka.


"Sayang, kalau pun memang iya karena perkataan Seno tadi, Mas juga sangat memakluminya. Berarti kamu sayang dan cinta sama Mas makanya takut Mas balikan lagi sama Ibu nya Seno.


Tapi Sayang kamu harus ingat, Mas sudah jadi suami kamu. Mas sepenuhnya hak kamu, jadi kamu jangan khawatir tentang hal yang ngak perlu. Kasihan Baby twins kalau kamu banyak fikiran." Arka mengelus perut istrinya dan mengecup dimana Baby twins berada.


"Ila hanya berusaha memahami Mas. Ngak ada anak yang mau di pisahkan dari kedua orang tua kandungnya. Ila khawatir, apalagi sebentar lagi dedek kembar akan lahir." Ila manatap sendu sang suami.

__ADS_1


"Sayang! dengarin Mas ya. Hal seperti itu sudah pasti. Akan tetapi untuk membuat Seno tidak kehilangan sosok kedua orang tua kandungnya, Raya dan aku tetap bisa berikan tanpa harus bersama kembali sayang.


Tidak semua hubungan harus berada dalam satu atap apalagi sebuah pernikahan. Kakak beradik tidak harus menikah untuk saling sayang. Orang tua dan anaknya tidak harus tinggal bersama hanya untuk membuktikan mereka punya ikatan darah.


Kamu dan Daddy Abraham bahkan harus terpisah sangat jauh dan beda negara. Tapi baik Daddy Abraham maupun Mommy Selena selalu menghubungi kitakan? Bahkan kamu menjadi sangat akrab dengan Mommy Selena. Iya kan?"


Arka menatap istrinya dengan pandangan meneduhkan. Ila memeluk erat suaminya, dia tahu mungkin di sangat keterlaluan mengkhawatirkan hal yang belum tentu terjadi. Akan tetapi Ila bahagia melihat Arka menanggapi keyakutannya dengan sangat bijak.


Berbeda dengan Ila dan Arka maka berbeda pula di kampung halaman. Ririn sedari tadi tidak memakan apapun, hal ini membuat Ibu Tia dan Pak Faiz sangat cemas.


"Nak! Makan lah sedikit, jangan terlalu di fikirkan. Ikhlaskan Bayu bersama wanita itu Nak," Ibu Tia mengusap kepala sang anak. Ibu mana yang tidak sedih melihat anaknya depresi seperti ini.


Sudah satu minggu Ririn sering melamun seperti ini. Bahkan Ririn tidak lagi menanggapi anak semata wayangnya yang memanggil - manggil dirinya.


"Ara sangat membutuhkan dirimu Nak. Dia sudah kehilangan Bapak, jangan buat dia juga kehilangan sosok Ibunya."


Ibu menghela nafas melihat Ririn tidak menanggapi perkataannya sama sekali.


Ibu mengusap air mata saat melihat Ririn terus terpekur melihat ke arah jendela. Tidak ingin terus melihat anaknya terpuruk, ibu berlalu keluar memanggil Theo dan Ara.


"Theo kamu jaga Mbak Ririn dan Ara ya. Ibu takut Mbak mu berbuat nekat. Ibu mau masak dulu, sebentar lagi Bapak mu pulang." Ibu berlalu kedapur.


Ara asik dengan mainan - mainan bonekanya yang baru saja Ibu Tia bawa dari kota pemberian dari tante kesayangannya. Siapa lagi jika bukan Ila.


Theo sebenarnya sangat khawatir pada kondisi sang kakak, akan tetapi sebagai adik dia juga tidak berdaya. Dia tahu Ririn sangat terpukul karena hal ini. Lagi pula Bayu sangat keterlaluan, 8 tahun bersama sang kakak sekarang malah memilih menikah lagi dengan janda kaya.


Theo tidak lupa pada semua perkataan Bayu pada sang kakak. Bayu mengatakan jika Ririn hanya lah wanita desa yang udik dan bertubuh tambun. Berpendidikan rendah juga dari kalangan rakyat biasa. Bahkan tidak tanggung - tanggung Bayu juga menghina pekerjaan sang ayah yang hanya buruh tani di kebun orang.

__ADS_1


"Mbak, Theo tahu Mbak patah hati, hancur dan kecewa. Tapi mendekat lah pada_Nya lagi Mbak. Tiada pertolongan yang paling menjanjikan kecuali pertolongan dari_Nya mbak."


Theo meletakkan Al - Qur'an dan seperangkat mukenah di telapak tangan sang kakak.


Air mata Ririn berjatuhan, dia marah sangat marah.


"Apa Tuhan itu ada?"


"Kenapa hidupku selalu paling menderita? Sedari kecil Bapak dan Ibu sudah merantau meninggalkan ku pada Nenek yang begitu keras dan kejam. Lalu ketika Bapak dan Ibu pulang aku sangka perhatiannya akan teralihkan pada ku. Tapi lagi lagi aku salah mengira.


Seluruh perhatian Ibu dan Bapak tertuju pada Ila. Saat ingin masuk ke perguruan tinggi, Bapak mengatakan tidak ada uang. Berkali - kali mencoba beasiswa selalu berakhir kegagalan.


Ila sangat mudah mendapatkan apa yang dia mau. Berkuliah di Universitas ternama, mendapat beasiswa dari kampus bersangkutan dan selalu di puji Ibu dan Bapak.


Bahkan saat menikah pun Ibu dan Bapak menjodohkan dia bersama Duda mapan. Kenapa!" Ririn berteriak pada Theo.


"Kenapa Tuhan tidak adil padaku! Bahkan Bayu? Pria yang tidak ada apa apa nya di banding Arka pun menghianatiku. Kenapa!" Tanya Ririn dengan tangis yang semakin mengeras.


"Mbak semua hamba Allah itu di uji. Hanya saja kita tidak tahu ujian seperti apa yang dia dapatkan. Karena terkadang mereka yang di uji bukan menghadapinya dengan kegalauan apa lagi mencurahkan hati pada teman.


Mereka sadar teman dan lingkungan pun terkadang juga tidak punya solusi untuk masalah mereka. Mereka membenyang sejadah menangis di sana, mencurahkan segala kegelisahannya disana."


"Allah bukan tidak adil Mbak. Allah maha adil, bisa jadi ketika Mbak sibuk tertawa dan terlena dengan kebahagiaan Mbak Ila mendatangi Tuhannya dengan penuh air mata. Berharap semua kesulitannya menjadi kemudahan. Bisa saja ketika Mbak terlelap dengan sangat nikmat karena cuaca malam dan hujan yang mendukung, tapi Mbak Ila sedang tahajjud pada Tuhannya.


Kita hanya melihat luar nya tanpa melihat dalamnya. Yang kita ketahui hanya hasilnya, tapi kita tidak tahu prosesnya." Theo menggendong Ara dan keluar dari kamar Ririn melihat Ririn menangis kencang.


Saat keluar Theo melihat Ibu dalam posisi duduk menangis di luar pintu kamar Ririn. Mungkin Ibu terkejut mendengar perkataan Mbak Ririn.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2