
Semua anggota keluarga panik karena Ila tiba tiba pingsan.
“Bunda! Bunda kenapa Pa?” tangis Seno tak mampu di bending lagi. Sedangkan Arshaka seolah menyadari jika sang bunda tak sadarkan diri pun menangis kencang.
“Bi Tina dan Bi Surti tolong jaga Arshaka dan Seno di rumah. Saya akan membawa Ila ke rumah sakit.” Ucap Arka seraya mengangkat sang istri dalam gendongannya.
“Aku ikut Papa! aku mau menemani Bunda.” Seno berlari mengejar Arka yang sedang menggendong Ila.
“Cepat lah masuk, Papa harus cepat ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan Bunda.”
Arka dan Seno memasuki mobil bersama. Arka yang dalam keadaan panik tanpa bisa mengatakan apapun sedangkan Seno menangis sambil mengelus tangan bunda nya.
“Bunda jangan tinggalin Seno! cukup cuma Mama yang ninggalin Seno dan Adek, Bunda jangan. Seno sayang sama Bunda.” Seno mencium punggung tangan Ila. Ila di duduk kan oleh Arka di samping kursi kemudinya, sedangkan Seno duduk di bangku belakang.
“Dokter!”
“Tolong istri saya tiba tiba pingsan.”
Arka yang setiba di ruang IGD RS Pelita Harapan langsung memanggil tim dokter dan mereka langsung memberi brankar untuk meletakkan Ila disana.
Sejenak baik Arka dan Seno sama sama khawatir hanya saja Seno menangis di pelukan Arka.
“Bunda ngak papa kan Pa?”
“Insyaallah ngak papa, kita tunggu apa yang Dokter katakan,” kata Arka sambil mengelus kepala anak nya.
“Bagaimana keadaan istri saya Dokter?” Tanya Arka.
“Apa beliau sering pingsan sebelum nya?” Tanya dokter pada Arka.
“Belum pernah selama dua bulan terakhir Dokter,” jelas Arka
“Begini, pasien tidak apa apa. Hanya saja tolong jaga pola makan dan tidur pasien. Sepertinya istri Anda kurang tidur serta makan tak teratur disisi lain ini juga dipicu oleh tekanan darah beliau yang tinggi. Hal ini bisa di sebabkan oleh tekanan emosi yang tinggi juga karena mengalami stress yang berat atau sering kita kenal dengan banyak fikiran,” jelas dokter itu.
“Apakah usia 21 tahun seperti istri saya bisa mengalami darah tinggi juga dokter? Bukan istri saya masih sangat muda.” Tanya Arka
“Ya tentu bisa Pak, banyak factor yang memicu hal itu. Salah satunya jika istri bapak sedang mengalami stress atau pun sulit mengendalikan emosi nya.”
“Baik Pak nanti saya akan resepkan obat untuk istri bapak dan juga saya akan berikan vitamin untuk istri Bapak. Untuk sementara tunggu dulu beliau hingga sadarkan diri jika sudah sadarkan diri dan tidak pusing. Bapak boleh bawa istri nya pulang ya pak.”
“Terima kasih Dokter.”
“Sama sama Pak.”
__ADS_1
Arka berlalu lalu mendekati Seno yang masih menangis memandangi wajah bunda nya yang masih belum sadarkan diri.
“Papa,” Panggil Seno lirih.
“Bunda ngak akan ninggalin kita kan Pa?”
“Bunda akan bangun kan pa?” Seno betanya seperti itu karena dia mendengar cerita temannya yang bermula dari ibu nya yang sedang tidur dan tak bangun lagi, setelah di periksa dokter ternyata ibu temannya sudah meninggal dunia.
“Bunda ngak papa sayang. Nanti juga Bunda bangun, kita tunggu Bunda sadarkan diri disini ya.” Arka mengusap kepala anaknya.
Arka memandang sendu istrinya. Jujur saja meski tenang dia sebenar nya juga sangat khawatir akan kondisi istrinya itu. Sebenarnya arka tak percaya istrinya pingsan karena hipertensi dan stress kerena diantara mereka yang ada di rumah ila adalah orang yang paling tenang. Ila juga sangat sabar menghadapi segala sesuatu.
“Sayang cepat bangun, anak kita sedih jika kamu seperti ini.” Arka mengusap kepala ila yang ditutupi dengan hijab.
Saat ini sudah 30 menit Arka di rumah sakit, sedang Ila masih betah memejamkan matanya. Sedangkan Seno tak mau melepaskan tangan bundanya barang sejenak.
Terlihat mata Ila bergerak perlahan dan jari Ila pun bergerak. Lalu Ila membuka kedua matanya.
“Dokter!”
“Dokter, tolong periksa istri saya sekali lagi.” kata Arka mengahampiri dokter ketika Ila sudah sadarkan diri.
Ila belum mengatakan apapun saat dokter memeriksanya sedang seno masih menggenggam tangan bunda nya.
“Dokter, Bundanya Seno ngak papa kan?” Tanya Seno dengan tatapan sendunya dan mata yang sudah menggenang air mata. Mendengar pertanyaan Seno, Ila memegang tangan Seno erat seolah meremasnya.
“Bagaimana Mbak? Apakah kepala nya pusing?” Tanya dokter
“Iya Dok, kepala saya sedikit pusing.”
“Ya sudah bawa tiduran dulu. Nanti jika sudah tidak pusing lagi baru boleh pulang ya buk. Obatnya sudah saya resepkan dan akan di tebus oleh Bapak ya Buk.”
“Terima kasih Dokter.”
“Sayang, kamu memang sering pinsan begini apa bagaimana?” Tanya Arka sambil menengusap pipi Ila.
“Di bilang ngak pernah pingsan pernah sih mas, kalau lagi over thingking dan juga kalau kecapean. Tapi seringnya masa kuliah dulu. Karena kan tugas dan kerjaan aku jadi overload dan sering begadang.” jelas Ila.
“Perasaan kamu ngak begadang deh yang kok bisa di bilang tidur ngak teratur ya? Kamu sering kebangun?” Tanya Arka menatap istri nya sendu.
“Udahlah Mas jangan terlalu di khawatirkan. Nanti kalau udah minum obat juga enakan badannya.”
“Kamu jangan begitu sayang. Apa yang kamu khawatirkan bagi sama Mas jangan di pendam sendiri.” Arka mengusap pipi Ila.
__ADS_1
“Mas ngak usah khawatir, kalau Ila memang ada yang menjadi beban fikiran. Ila ngak mungkin mendam sendiri.”
Saat ini Ila sedang di perjalanan pulang bersama Arka dan Seno.
“Bunda jangan pingsan lagi.”
“Iya sayang,” jawab Ila sambil tersenyum ke arah Seno.
“Seno takut banget waktu Bunda pingsan. Seno ngak mau bunda ninggalin Seno dan Adek.” Ucap Seno dangan mata yang mulai berair kembali.
“Uuuu anak sholeh nya Bunda jangan nangis dong nak, do’akan selalu bunda ya saat Seno sholat”
“Insyaallah, Allah akan jaga Bunda, jaga Papa , jaga Dek Arshaka juga jaga Seno.”
“Iya Bunda, Seno selalu berdo’a minta sama allah supaya bunda ngak pernah ninggalin Seno kayak mama ninggalin Seno dan Adek.”
“Aamiin.”
“Makasih anak sholeh nya bunda.”
Lain dimobil Arka lain pula yang terjadi di rumah.
“Aduh Bi Surti saya benar benar ngak nyangka loh ternyata saingan Pak Arka teh berat pisan.”
“Saya sangat khawatir jika nanti teh si Tuan di duakan lagi.” jelas Bi Tina
“Insyallah engak Tin, kamu kan tahu seperti apa karakter Nyonya muda kita.”
“Kita do’a kan saja yang terbaik untuk mereka. Nyonya Ila sangat di sayangi oleh anak anak nya Pak Arka, kita pun juga melihat dengan jelas betapa besar cinta tuan arka untuk nyonya Ila.” jelas Bik Surti.
“Saya juga berharap begitu Bi.”
Tak lama berselang mobil Arka sampai ke rumah dan Mang Ujang segera membukakan pintu untuk kedua majikannya.
“Mas ngak usah di gendong Ila mau ke gazebo kolam renang aja kepala Ila pusing.”
“Ila butuh udara segar." Ila berlalu dengan langkah pelan.
Sedangkan Seno sendiri Arka suruh bermain dengan Arshaka yang sedang di ruang keluarga bersama Bi Tina.
Pelan Arka mengikuti langkah istrinya . Arka berjalan sangat pelan sehingga tak akan di lihat ataupun di dengar oleh Ila.
Terlihat dari kejauhan bahu Ila bergetar dan juga tangan nya mengusap pipi nya. Gerak gerik Ila terlihat jelas. Bahkan seiring berjalannya waktu Ila menangis semakin kencang di temani kesunyian. Tanpa Ila sadari Arka sedari tadi mengikutinya di belakang.
__ADS_1
“Kenapa kamu menangis Sayang?” Arka hanya mampu menanyakan nya dalam hati.
See you guys………