
Setelah menerima telepon dari Alex. Ila langsung menyiapkan kebutuhan mandi anak bungsunya. Terdengar gugahan gugahan serta pekikan pekikan senang dari Arshaka saat sang ibu mengangkatnya ke bak mandi kecil khusus baby yang ada di dalam kamar mandi Arka.
“Senang ya anak bunda mau mandi biar ganteng?” kata Ila lalu di sambut dengan pekikan khas bayi juga baby Arshaka yang memanggil Ila dengan bahasa khasnya yang belum bisa semua orang mengerti.
“Iya anak bunda makin ganteng makin mirip pak Arka ya nak ya? Ya iyalah memang anaknya pak Arka ya nak ya?” kata Ila seraya menggosok gosok lembut badan anaknya yang sedang dia mandikan.
“Udah ya sayang ya nanti dingin, yuk kita pake baju bagus trus kita ke tempat papa kerja soalnya om Alex udah nungguin mama di sana sayang.” Ila mengangkat anaknya dari tempat pemandian lalu membawanya ke kamar.
Dengan telaten Ila memakaikan baju pada anak bungsunya serta membalurkan minyak telon ke perut baby Arshaka agar anaknya itu merasa hangat. Arshaka sebenarnya anak yang sangat aktif mengingat usianya yang sekarang lebih dari 1,5 tahun akan tetapi Arshaka akan sangat menurut apapun yang di katakan oleh Ila.
Seperti saat ini usai Arshaka berpakaian dengan langkah bayinya ia berjalan kencang ke arah pintu hendak pergi kelantai bawah.
“Eh Arshaka mau ke mana nak?” teriak Ila yang segera mengambil anaknya takut Arshaka turun ke tangga bawah.
“Ya Allah sholehnya anak bunda pinter banget buat ibumu ini serangan jantung ya nak ya? Eh ketawa lagi lucu ya wajah bunda kalau panik gini ya nak ya?” Tanya Ila yang di jawab dengan teriakan dan tertawa khas baby milik Arshaka.
Tak terasa waktu cepat berlalu jam sudah menunjukkan pukul 9:30 dan saat ini Ila tengah bersiap untuk pergi menemui Alex sahabatnya. Tak lupa Ila mengirim pesan pada pak suaminya hanya saja pesan yang ia kirim kan pada Arka belum mendapat balasan.
“Mas Arka sibuk banget ngak ya? Kok belum bales wa aku?” kata Ila khawatir bagaimanapun dia bukanlah gadis lajang yang bebas keluyuran sana sini dia sudah punya suami. Meski Ila ragu untuk pergi menemui sahabatnya Alex tapi dia juga tidak enak hati dengan sahabatnya sehingga Ila memutuskan untuk pergi menemui Alex.
“Bi aku pergi dulu ya mau ketemu teman semasa kuliah. Aku titip Arshaka ya bi?” kata Ila hanya saja rencana tak sesuai dengan harapan Arshaka tantrum dan menangis keras ingin ikut pergi dengan sang bunda.
“Gimana ini nya bibi khawatir jika den Arshaka nangis terus begini yang ada sore atau malam malah demam nya?” Tanya bibi Tina.
“Oalah anak sholehnya bunda jangan nangis ya. Iya ikut bunda pergi aja tapi sayangnya bunda jangan nangis.” Ila berkata sambil mengsap air mata Arshaka yang mengalir deras dan juga memberi isyarat ke bibi agar mengambil dan menyiapkan pakaian arshaka untuk di bawa.
__ADS_1
“Ini non semua perlengkapan Ashaka ada di dalamnya.” Bibi Tina langsung memberikan tas yang lumayan besar pada majikan mudanya ini.
Saat ini Ila sudah berada di kafe depan kampus suaminya mengajar sengaja mengambil lantai dua agar Suasana lebih adem mengingat Alex yang ingin curhat pada Ila. Syukurnya Arshaka tertidur lelap saat dimobil tadi sampai sekarang dan saat ini baby arshaka ila tidurkan di troller yang memang selalu Ila bawa jika memabawa baby Arshaka bersamanya.
“Sorry gua bawa anak gua ngak papakan ya? Tantrum dia ngak mau tinggal,” kata Ila saat tiba dimeja Alex yang menunggunya tak lupa Ila juga membawa laptopnya dan sekalian mengembangkannya di meja mereka duduk.
“Kamu ngak berubah ya sweetheart selalu aja pas aku mau curhat bukannya fokus dengerin eh malah sibuk mau ngetik naskah,” kata Alex menggerutu melihat sikap Ila.
“Ya maklum lex guakan kismin pengguran ini jadi harus banyak cari peluang biar bisa beli cilok,” kata Ila asal yang sanggup membuat Alex geleng geleng kepala karena Alex tahu betul sahabatnya menulis bukan karena tak di berikan uang oleh sang suami hanya saja Ila memang pekerja keras.
“Jadi mau cerita apa? Mumpung anak aku lagi tidur,” kata ila sambil tangannya tetap menari nari dia ats keyboard laptopnya.
“Aku ngak bisa move on dari dia La makin tidak bisa aku mengendalikan rasaku padanya La! Aku harus apa?” Tanya Alex dengan nada putus asa.
“Istigfar Alex!” Ila nyaris berteriak karena kesal kepada Alex.
“Papa memang menyuruhku segera menikah dengan anak relasi bisnisnya hanya saja aku masih belum bisa melepaskan hatiku yang terjerat pada gadisku itu.” Alex memangdang lirih kea rah Ila.
“Kalau boleh tau apa factor terbesar kamu ngak bisa lupakan dia? Apa kamu masih sering menghubungi dia yang sekarang sudah jadi istri orang?” Ila menatap menyelidik pada sahabatnya ini.
Alex menerawang jauh dan melamun sambil melihat Ila yang ada dihadapannya, “Bahkan sekarang aku sedang duduk bersamanya untuk sekedar membagi gundah hatiku dengannya.”
“Alex hello! Are you here?” Tanya ila.
“Aku masih sering menghubunginya La aku tak kuasa menahan gelisah hatiku padanya aku merasa tak adil aku menjaganya selam 4 tahun itu bukan sebentar Ila tapi dia malah menikah dengan pria pilihan orang tuanya.”
__ADS_1
“Aku tahu kamu terluka Alex tapi ngak gini caranya ini ngak benar!” kata Ila memandangi wajah sahabatnya yang memerah menahan tangis.
“Terus aku harus bagaimana relung hati ku berteriak memanggil ingin bersama dengannya tapi siatuasi tak lagi mengizinkan. Bahkan sekilas aku berfikir apa aku nodai saja dia agar dia dilepaskan oleh suaminya?” Tanya Alex sedang air matanya sudah jatuh di pipi Alex.
Ila pilu mendengar cerita sahabat karibnya yang terlihat sangat putus asa akan cintanya yang harus kandas karena terlambat meminang. Dia juga bingung harus memberi saran apa.
“Kalau kamu menodai dia hanya pasrah maka yang kamu tanggung hanya dosa berzina, tapi pernahkah kamu berfikir bagaimana jika dia menolak dan dalam mempertahankan kehormatan dia darimu terjadi sesuatu yang mengikabatkan dia meninggal dunia bukan hanya dosa berzina tapi juga dosa membunuh!” tekan Ila pada Alex.
“Apakah hati kamu sanggup Alex melihat mayat dari orang yang kamu cintai setengah mati terkapar tak bernyawa karena ulahmu?” Tanya ila.
“Kamu ngak pernah ngerasain jadi aku Ila, kamu ngak tahu seputus asa apa aku saat dia ternyata sudah memiliki suami!” teriak Alex pada Ila.
“Aku pernah di posisi itu dan tak satupun yang berusaha menguatkan aku. Aku berusaha bangkit kehilangan orang yang dicinta bukan berarti dunia kiamat Alex. Aku ngak mau kamu salah jalan ada baiknya kamu coba dulu perjodohan yang sudah disarankan papamu.” Ila membuang muka sekilas dia melihat anak nya yang masih tertidur pulas.
“Aku mencintai kamu Ila apa tak tampak jelas jika selama ini aku sangat memperhatikan kamu lebih. Mengapa kamu harus menikah dengan duda anak 2 apa kurangnya aku Ila?” perkataan Alex cukup membuat Ila membeku.
“Alex mencintainya? Benarkah Alex sangat mencintainya tapi mengapa dia tidak tahu apa apa selama ini?” Ila masih tertegun dengar air mata yang mulai mengalir dari mata benignya.
“Aku tak akan begitu percaya diri menyimpan rasa ini begitu lama jika di buku diarymu tak tertulis jika kamu juga mencintaiku Ila. Bahkan di dalam buku itu kamu juga mengatakan jika kamu sudah memendam rasa itu padaku selama 1 tahun lebih. Aku hanya menunggu waktu yang tepat apa ini tak terlalu kejam untukku Ila?” Alex melihat Ila tak kuasa menjawab pertanyaan darinya Ila terdiam dan air matanya mengucur deras.
“Aku sudah menikah Alex semua keadaan sudah berbeda.” Ila menangis saat mengtakan itu semua dan entah kenapa baby Arshaka seolah terlelap dalam tidurnya tanpa menangis sama sekali padahal ibunda tercintanya sedang menangis deras.
Tanpa mereka semua tahu Arka mendengar semua hal itu dari awal Ila disana sampai pernyataan dan juga kenyataan bahwa Ila dan sahabat laki lakinya saling mencintai.
See you
__ADS_1
…