Cinta Tulus untuk Mas Arka

Cinta Tulus untuk Mas Arka
Bab.42


__ADS_3

"Baiklah saya setuju dengan Anda Pak Faiz saya tidak akan memaksa putri saya untuk ikut saya ke luar negeri tapi bagaimanapun dia putri saya satu satunya dan nanti akan mengemban tanggung jawab untuk memimpin perusahaan saya yang di New York."


"Jadi pelan tapi pasti saya tetap akan membujuk putri saya untuk ikut ke negara saya!" kata tuan Abraham.


"Anda tenang saja Tuan Osborn insyaallah Ila orang yang bertanggung jawab hanya saja sekarang putri kita sudah menikah dan dalam kondisi hamil 5 bulan! Hamil bayi kembar." kata Pak Faiz.


"What? Marriage?" Teriak Tuan Osborn.


"Usianya bahkan baru 21 tahun? Apakah Bapak bercanda?"


"Saya tidak bercanda Tuan dan Nyonya. Budaya kita di sini sedikit berbeda dengan budaya Tuan yang di daerah Western, kami hanya berusaha menjaga diri dari pergaulan."


"Lagi pula putri kita sudah cukup umur untuk menikah, jadi kami memutuskan untuk menikahkannya dalam usia muda."


"Apa kalian menjodohlan putriku? Dengan laki laki pilihan kalian?"


"Ila memang di jodohkan, Insyaallah laki laki yang kami pilih adalah laki laki bertanggung jawab. Arka suami dari Ila juga pria yang mapan dia seorang Dosen di kampus terkemuka di kota."


"Oh Tuhan!"


"Dosen! Hanya seorang Dosen?"


"Putri yang kalian besarkan dan kalian jodohkan dengan pria pilihan kalian itu adalah anak dari pemilik perusahaan besar."


"Ini akan sangat membuatku malu! Anak kandungku malah di paksa menikah muda dan lebih parahnya hanya dengan seorang Dosen!" Murka Tuan Abraham semakin meluap saat tahu kebenaran tentang putrinya yang di paksa menikah muda.


"Saya ingin kalian memisahkan anak saya dengan pria pilihan kalian! Bagaimanapun msreka harus cerai! Saya tidak mau tahu!" Abraham menekan setiap suku katanya.


"Pak tidak bisa begitu dong! Saat ini mereka sudah saling mencintai dan Ardila dalam keadaan hamil besar. Bagaimana mungkin Bapak menyuruh kami memisahkan Ardila dengan suaminya." Pak Faiz meresa geram dengan sikap pria yang menjadi ayah biologis dari Ardila Putri.


"Sayang! Aku mohon tenanglah, di sini kita ingin menemui putri kita. Aku tidak ingin kedatangan kita malah membuat putri kita semakin tidak bisa menerima kita sebagai orang tuanya. Kita baru akan bertemu belum bertemu, tapi kamu sudah membuat pernyataan begitu menyakitkan tentang menantu kita!" Selena mengelus bahu suaminya.

__ADS_1


"Diam kamu Selena!" Abraham membentak Selena.


"Aku akan diam! Tapi kamu harus ingan Xu Yinxia meninggal dunia itu karena ke egoisan kedua orang tuanya, Tuan dan Nyonya Xu!"


"Apa kamu mau Ardila putri kita menjadi Xu Yinxia selanjutnya? Hanya karena kamu tidak bisa menurunkan egomu?" kata Selena sengit.


"Selena kau tau persis maksudku bukan begitu. Aku sudah berencana menjodohkan Putri kita dengan anak rekan kerjaku, yang pekerjaannya jauh lebih baik ketimbang dosen. Calon tang aku pilihkan juga adalah pewaris perusahaan ayahnya, hidup putri kita akan bahagia." Tekan Abraham pada istrinya.


Ibu Tia sedari tadi tidak kuasa menahan tangisannya yang sudah pecah saat pria asing itu bertanya akan putri keduanya. Di tambah lagi pria itu ingin mengacaukan pernikahan putrinya dan Arka. Tidak! Tidak akan pernah dia biarkan itu terjadi. Ila dan Arka saling mencintai, sekarang juga Ila sedang mengandung anak Arka. Hamil kembar malah.


"Jika Tuan tidak bisa menerima pernikahan mereka lebih baik tidak usah menemui putri saya!" kata ibu Tia marah.


"Ila tidak bisa di pisahkan dengan suaminya. Aku tidak ingin anakku bernasip sama dengan Nona Xu!"


"Apa maksud mu? Kau fikir aku akan membiarkan anakku mati karena tidak ada yang mengobati saat melahirkan? Aku tidak segila itu!" Hardik Tuan Abraham.


"Tapi kakak saya segila itu Tuan! Jika anda bersikeras memisahkan dia bersama suaminya bukan hanya pengakuan sebagai Ayah yang tidak Anda dapatkan. Tapi kebencian yang nyata akan Anda rasakan. Kakak saya pernah hampir bunuh diri hanya kerena ada kesalh fahaman yang membuat kakak ipar saya meminta cerai. Jadi bisa Anda bayangkan apa yang akan terjadi!"


Theo yang juga sama khawatirnya jika pria bule ini bertindak semena mena pun akhirnya mengatakan yang sesungguhnya.


"Tapi Selena..." Perkataan Abraham tertahan karrna serena mengisyaratkan supaya suaminya diam.


"Kalian tenang saja! Perkara pahitnya di tinggal orang terkasih Abraham sudah sangat hafal dengan rasanya. Jadi aku akan pastikan dia tidak akan membuat putri kita bersedih!"


"Bisa kalian antarkan kami ke rumah putri kita dan suaminya?" Tanya Selena dengan lembut.


Di sebuanh ruangan dekat kolam renang terlihat gambaran keluarga bahagia. Arshaka yang bermain bersama Seno. Ila dan Arka selaku orang tua duduk di sofa mengawasi anak anak mereka bermain. Tidak cukup sampai di sana Arka sedang menyuapi potongan buah buahan yang di sediakan Bi Surti untuk cemilan sehat Ila yang sedang hamil bersar.


"Mas, kok prasaan aku ngak enak ya?" Ila bertanya sambil menatap suaminya.


"Ngak enak gimana Sayang? Kamu Demam?" Arka meraba kening istrinya.

__ADS_1


"Ngak demam Sayang. Kenapa prasaannya ngak enak?" tanya Arka sambil menyuapi potongan buah ke mulut sang istri.


"Ngak tahu, Ila rindu pada Ibu dan Bapak." Air mata Ila perlahan menetes karena merindukan orang tuanya.


"Oalah Mas kira kenapa? Yaudah kita ajak saja Ibu dan Bapak untuk tinggal bersama kita beberapa hari. Gimana?" Tanya Arka.


"Boleh Mas?" Ila menatap suaminya dengan mata berbinar bahagia.


"Boleh dong Sayang," kata Arka sambil mengelus kepala istrinya lembut.


"Thank Hubby, I love you." Ila mencium pipi kanan suaminya karena terlalu senang


"I love you too honey." Arka mencium kening istrinya.


Tidak berselang lama terdengar bunyi deringan Handphone. Ternyata Arka mendapat panggilan dari mertuanya di desa. Kabar baik yang semakin membuat Ila merasa bahagia Ibu dan Bapak mau mengunjungi mereka setelah 3 bulan tidak bertemu.


3 bupan yang lalu Ibu Tia dan Bapak Faiz memang mengunjungi Ila. Selain karena Ila yang jarang pulang beberapa belakangan ini, mereka juga sangat merindukan Ila.


"Benar Mas?"


"Bapak mau ke sini?"


"Iya Sayang. Ibu dan Bapak kamu mau ke tempat kita. Sekarang mereka lagi di perjalanan." Arka menjelaskan pada istrinya ini.


"Ya sudah aku bersihin kamar tamu dulu ya Mas?"


Saat Ingin berdiri Arka memegang pergelangan tangan istrinya itu. Arka menarik Ila agar terduduk di pangkuan Arka.


"Sayang dengar! Biar Bi Surti dan Bi Tina yang kerjakan Itu. Kamu istirahat aku ngak mau kamu kecapean."


"Uu Sosweet nya suamiku"

__ADS_1


...****************...


...****************...


__ADS_2