
"Mama...Mama!" Teriak Seno saat memasuki rumah.
Seno dan Arka panik saat melihat darah begitu banyak keluar dari celah paha Raya.
Raya saat ini dalam keadaan tertelungkup dan di sampingnya Ila berdiri dengan tubuh gemetar.
"Mas... Mas... bu bukan akuu!"
"Aku ... aku hanya menghindar dan dia terjatuh karenabaku menhindar..." Air mata Ila mulai berjatuhan.
Arka tidak menggupris perkataan Ila. Arka sangat panik karena darah yang begitu banyak di lantai dan juga dari celah paha mantan istrinya itu.
"Ma... Mas aku aku ikut.."
Arka hanya melihat sekilas tapi dari tatapannya siapapun tahu kalau itu adalah tatapan menuduh.
"Kamu tunggu di rumah! Setelah ini kita bicarakan!" kata Arka cepat dengan nada tidak biasa.
"Bunda jahat!" teriak Seno pada Ila.
__ADS_1
"Sayang... bukan Bunda yang dorong Mama kamu. Sungguh, Bunda hanya menghindar saat Mama kamu mau dorong Bunda dan malah Mama kamu yang jatuh sayang!"
"Seno cepat...!"
"Dan kamu! Bisa kan ini nanti di bicarakan! Ini nyawa orang dan kamu bermain-main dengan nyaea orang hanya karena rasa cemburu kamu!"
Arka dan Seno berlari ke mobil untuk membawa Raya ke rumah sakit. Keduanya mengabaikan Ila yang sudah kemetaran antara shok dan takut.
"Ya Allah ujian apa lagi ini? Apa bahu hamba terlalu kuat hingga ujian ini datang seperti tiada henti!" Tangis Ila mengencang.
Melihat Ila yang hampir terjatuh tapi dengan cepat Bi Surti menyambut tubuh nyonyanya.
"Nyonya ayo ke kamar saya antarkan," kata Bi Surti.
Sungguh Ila tidak berkata bohong. Dia tidak mendorong Raya, sehingga wanita itu pendarahan. Dia hanya melindungi dirinya dan anak-anak dalam kandungannya.
Dia juga tidak bermaksud membuat Raya mengalami situasi sulit. Tapi bagaimana caranya menjelaskan pada Arka. Rumah ini tidak memiliki CCTV dan parahnya tidak ada saksi di sana.
Bagaimana nasip pernikahannya dengan Arka. Ila melihat suaminya begitu marah padanya. Ila takut apa yang dia takutkan terjadi.
__ADS_1
Yang paling Ila takutkan adalah kondisi Raya dan bayinya. Keduanya bisa saja tiada oleh kejadian ini. Dia meresa bersalah yapi jika dia tidak menghindar maka Ila lah yang akan jatuh karena di dorong oleh Raya.
"Nyonya minum dulu!"
Ila meminum air putih yang di beri Bi Surti. Meski baru mengenal Nyonya mudanya ini. Entah mengapa Bi Surti sangat yakin jika yang bersalah di sini bukan Nyonya Ila tapi Nyonya Raya.
Orang gila manapun pasti tahu kalau Raya bukan lah wanita yang baik. Bersandwara adalah makanan sehari-harinya.
"Bibi udah lihat kehadiannya meski ngak dari awal. Nyonya bisa cerita ke Bibi biar hati Nyonya sedikit lega!"
Akhirnya cerita itu mengalir begitu saja dari bibir Ila. Bi Surti yang tahu kalau Nyonyanya ini terguncang memilih memeluk Ila. Bagaimanapun Ila hanya membela diri dan itu tidak salah.
Arka dan Seno berada di depan ruangan operasi karena Raya dan bayinya harus segera di tangani.
Keduanya gelisah dan Seno tidak berhenti menangis dari tadi. Seno juga selalu mengatakan semua ini salah ibu sambungnya.
"Papa! Aku ngak mau Bunda ada di rumah kita lagi! Aku benci Bunda!" Pekik Seno.
Tahu anaknya terguncang Arka memeluk Seno erat.
__ADS_1
"Sayang! Ini musibah. Kamu harus sabar ya. Insyaallah Mama dan dek bayi di dalam baik-baik aja. Jangan cemas ya!"
...****************...