
Arka semakin termakan akan hasutan dari Raya. Bahkan sekarang dia semakin meragukan istrinya Ila. Logikanya membenarkan itu semua.
Terlebih pengalaman pahit yang telah dia lalui bersama Raya. 10 tahun bersama saja Raya begitu tega menduakannya. Bahkan perselingkuhan itunsudah berlangsung selama bertahun-tahun tapi tidak Arka sadari.
Tidak menuntut kemungkinan Ila tidak bisa menahan emosinya pada Raya karena cemburu.
Dia dan Raya kenal lebih dari 10 tahun saja tidak terlalu memahami karakter sang istri. Lalu bagaimana dengan Ila? Jelas dia ragu sangat ragu jika masalahnya sudah begini.
Saat ini jam menunjukkan pukul 8 malam. Sebentar lagi dokter yang menangani Raya akan masuk. Raya juga akan menerima kabar tidak menyenangkan dari dokter itu.
"Semua kondisi tubuh Ibu Raya sudah membaik. Mungkin dalam waktu 3 atau 4 hari lagi ibu Raya sudah di perbolehkan pulang."
"Terima kasih Dokter! Oh iya dimana bayi saya dokter? Saya sudah tidak sabar ingin melihat wajah anak saya!" Raya terlihat sangat antisias.
Arka menatap sendu mantan istrinya itu. Bahkan dia tidak mampu membayangkan bagaimana reaksi Raya saat mendengar fakta tentang dirinya sendiri.
"Sebelumnya saya mohon maaf pada ibu Raya. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin hanya saja Tuhan berkehendak lain. Anak Ibu Raya meninggal saat di lahirkan dan sudah dimakamkan 3 hari yang lalu."
Deg
__ADS_1
Raya tidak tahu harus apa. Apa dia harus sedih atau bahagia? Bagaimanapun dia tidak menginginkan bayi itu. Karena jika melihat anak itu pasti akan mengingatkan dia pada Abimana dan Raya benci itu.
Tapi ada sudut hatinya yang tersa pilu saat tahu darah dagingnya telah tiada.
"Kabar buruk lainnya yang ingin saya sampaikan adalah... Karena kerusakan rahim anda snagat parah di akibatkan terjatuh begitu keras. Rahim Ibu Raya terpaksa kami angkat dan Ibu Raya tidak bisa memiliki keturunan lagi.
Tes
Tes
Tes
Ila kamu harus membayar mahal penderitaanku.
"Mas, ini ngak benarkan? Dokternya salah baca riwayat kesehatan orang kan?"
"Mas, anak aku masih ada kan? Aku juga masih bisa hamilkan Mas?" Tangis histeris Raya tanpa bisa di bendung lagi.
"Ini semua gara-gara wanita sialan itu. Awas kamu Ila aku akan balas semua kejahatan kamu. Wanita jahanam, wanita iblis, wanita penjilat. Aaaaaaa," teriakan Raya semakin tidak bisa lagi terkendali.
__ADS_1
Raya diam saat mendapat suntikan penenang dari dokter.
Tiga hari berlalu dan saat ini Ila, Arka dan Raya tengah duduk bersama di ruang keluarga. Ila diam masih menunggu sang suami ataupun masa lalu sang suami yang berbicara.
"Aku akan menikah dengan Raya nanti malam. Hanya akad nikah sederhana tanpa pesta." kata Arka pada Ila yang juga duduk diantara mereka.
Deg
Jantung Ila serasa di remas. Perih itu yang Ila rasakan. Di poligami? Dalam mimpipun Ila tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi dalam hidupnya.
"Aku tidak mengizinkanmu menikahi Wanita ini Mas. Apa yang tidak aku berikan padamu hingga aku harus di madu? Bahkan aku sedang hamil 6 bulan bayi kembar kita."
"Saya tidak meminta persetujuan dari kamu. Saya hanya memberi tahu jika saya akan menikah. Setuju atau tidak pernikahan ini akan tetap berlanjut."
"Kalau begitu ceraikan aku, Mas!" kata Ila dengan lirih.
"Kamu tenang saja Ila meski Mas Arka akan menjadi suamiku. Aku melarang dia untuk menceraikanmu, bagaimanapun kamu sudah bersusah payah mengurus anak-anak saya dan Mas Arka.
Benarkan Mas? Mas tidak akan menceraikan Ila bukan. Bagaimanapun Ila sekarang tengah hamil anakmu bukan?" Tanya Raya seolah-olah dia tulus dengan ungkapannya. Bahkan di wajahnya Raya terlihat sangat bahagia. Raya memang sangat bahagia, bahagia karena rencananya ingin menyiksa Ila secara fisik dan batin sebentar lagi akan terwujud.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...