
"Bu ada tamu!" Teriak tetangga sebelah memanggil Bu Tia yang saat ini sedang di kebun membantu suaminya bekerja. Bu Tia dan Pak Faiz pun menghentikan kegiatannya.
Saat di perjalanan pulang baik Ibu Tia maupun Pak Faiz sedang di landa cemas. Siapa tamu yang datang ke rumah mereka.Terlebih dari keterangan Bi Narsih yang memanggil mereka tadi katanya yang datang bukanlah orang pribumi akan tetapi orang asing.
Bu Tia takut jika ini berhubungan dengan masa lalu mereka yang pernah jadi TKI di luar negeri 21 tahun silam.
Saat memasuki rumah ternyata ada banyak orang asing di rumahnya dan sepertinya mereka berasal dari westren itu terlihat jelas dari perawakan mereka 10 orang berjaga jaga memakai baju hitam lengkap dengan jas hitam dan alat pendengar yang bersambung di telinganya seperti pengawal atau bodyguard.
Sedangkan sepasang bule sudah duduk di rumah mereka di temani anak bungsu mereka yaitu Theo.
"Assalamu'alaikum!" Bu Tia dan Pak Faiz bersamaan mengucap salam.
"Walaikumussalam," Theo menjawab salam dari kedua orang tuanya.
"Mr and Mrs ini kedua orang tua saya, mungkin pertanyaan Mr dan Mrs orang tua saya lebih memahami nya!" kata Theo.
"Ada keperluan apa Mr dan Mrs datang ke gubuk kami?" tanya Ibu Tia dengan harap harap cemas.
"Saya Abraham Osborn dan Ini istri saya Selena Osborn. kedatangan kami berdua ini ingin mencari tau tentang Ibu Tia dan Pak Faiz yang dulunya pernah bekerja sebagai TKI di china, lebih tepatnya di rumah keluarga Xu."
Deg
Jantung Bu Tia dan Pak Faiz bagai terhenti. Apa yang mereka takutkan terjadi. Meski di awal Nona Xu sudah memperingatkan mereka tetap saja rasanya tak siap untuk kehilangan. Apalagi anak itu sudah mereka rawat seperti anak sendiri.
__ADS_1
"Apa ibu kenal baik dengan seorang gadis Xu Yinxia putri bungsu di keluarga Xu pada saat 21 tahun silam?" Tanya Mr Abraham.
"Iya Mr kami berdua bekerja dengan keluarga Xu selama 7 tahun sebelum kembali pulang ke Indonesia." Jelas Pak Faiz saat melihat istrinya yang tak ingin menjawab maka dia mengatakan yang sebenarnya pada Mr dan Mrs Osborn ini.
"Apakah Ibu dan Bapak membawa bayi saat pulang ke Indonesia 21 tahun silam? Anak kandung dari Xu Yinxia?" Tanya Mr Osborn hati hati.
"Kami tidak membawa bayi siapapun. Sepulang dari China kami membawa putri kami sendiri. Saya juga ngak tahu kabar terbaru tentang Nona Yinxia sejak kami pulang ke kampung halaman!" kata Ibu Tia.
"Anda jangan membohongi kami Ibu Tia! Apa anda tahu saya sudah 19 tahun melakukan penelusuran mencari anak ku bersama Xu Yinxia!" Tuan Osborn merasa sangat kesal karena di bohongi.
"Apa kau sudah lupa apa yang di alami dari ibu bayi yang kau bawa. Tepat 3 hari setelah kalian meninggalkan China Xu Yinxia menghembuskan nafas terakhirnya. Anda Tahu apa penyebabnya? Seluruh keluarga Xu tidak ada yang mau membawa Yinxia ke Rumah Sakit karena dia di anggap sebagai pembawa aib keluarga besarnya."
"Dan saya informasi sebelum kekasih saya meninggal Dunia dia menitipkan anak kami kepada TKI yang bekerja di rumahnya pada masa itu. Jadi Anda jangan membohongi saya atau saya akan mengambil anak saya dengan cara saya sendiri!"
"Saya faham di sini maksud saya bukan ingin mengambil sepenuhnya. Saya ingin bertemu anak saya dan nanti kita akan sama sama menjadi orang tua bagi dia. Saya akan membawa dia ke negara kami dan nanti jika Ibu dan Bapak merindukan dia Anda akan kami fasilitasi untuk ke tempat kami." kata Mrs Osborn
"Tidak bisa begitu Selena! Dia anakku aku uang berhak atas dia!" Mr Osborn mulai tak bisa mengendalikan dirinya.
"Sayang bagaimanapun mereka orang tua yang di kenal putri kita selama 21 tahun, kita ngak bisa egois kita dan mereka sama sama punya hak atas anak yang ingin kita bawa."
"Bagaimana pun dia putri saya Selena tak ada ayah lain selain saya!" Suara Abraham mulai meninggi bahkan matanya memerah karena kesal dan menahan sedih.
"Sekarang di mana anak saya! Saya ngak punya banyak waktu untuk berdebat dengan kalian!" Kata Abraham lantang.
__ADS_1
Hal itu semakin membuat Faiz dan Tia merasa sangat cemas seperti nya kedua orang ini sangat kaya bagaimana mereka bisa melawan.
"Dia tidak ada di sini dan saya tidak akan pernah memberikan anak saya pada orang sombong seperti Anda!" Kata Ibu Tia lantang.
Saat Abraham sudah hampir tak terkendalikan Selena memeluk suaminya.
"Sayang kita ingin bertemu putri kita bukan mencari masalah. Bahkan jika kamu di posisi mereka kamu tetap tidak akan mudah memberikan anak yang sudah kamu besarkan dengan cinta dan kasih kepada orang lain begitu saja. Jadi yolong tenang." Bisik Selena pada Abraham agar suaminya paham kalau ini adalah masalah perasaan orang tua yang begitu mwncintai putri mereka.
"Pak mereka mau bawa anak kita! Ibu ngak rela, Ibu ngak mau pak!" Tangis Ibu Tia mulai tak bisa dia bendung.
"Tuan dan Nyonya tahu bagaimana rasa sakit kehilangan anak 19 tahun mencari pasti harapan tinggi Anda labuhkan agar segera bertemu. Jadi saya mohon disini kita sama sama mengerti. Anak yang kalian katakan tidak ada hubungan darah dengan kami sudah bersama kami lebih dari 21 tahun dan kami besarkan dengan penuh cinta. Saya tidak keberatan memberi tahu di mana Putri yang selama ini kalian cari tapi saya tidak ingin ada pemaksaan dalam membawa dia ke negara kalian. Kami pun tetap meminta hak kami untuk tetap berkomunikasi dengan anak kami, bagaimanapun kami yang merawatnya sedari bayi." Penjelasan Pak Faiz terlihat lebih bisa di terima oleh Mr Osborn.
"Pak ibu ngak mau kehilangan anak kita!" Kata buk Tia yang sudah menangis deras.
"Ibu dengar Bapak ya! Ila berhak tahu keluarga aslinya Buk. Nona Yinxia juga berpesan begitu sebelum kita membawa anak kita ke Indonesia."
"Oh iya saya ada kalung peninggalan dari Nona Xu katanya itu dari Ayah si bayi. Nona Xu meminta saya memberikan kalung itu pada Anda jika kita berjumpa dan ini adalah waktunya!"
Pak Faiz ke dalam dan keluar membawa kalung emas putih bermatakan berlian biru yang terlihat sangat indah. Melihat kalung itu Mr Osborn tak sanggup menahan air matanya karena mengingatkan pada nasip kekasihnya yang tragis karena kesalahan dirinya.
"Sayang aku mohon tenang! semua bukan kesalahanmu. Tapi memang takdir kalian yang harus berakhir seperti itu." Kata Selena sambil mengusap punggung suaminya.
.........
__ADS_1