
Satu minggu sudah berlalu sejak kejadian waktu itu. Raya bersaha keras memonopoli rumah Arka. Di dalam rumah Arka saat ini hanya 2 orang yang belum berhasil Raya ambil hatinya. Siapa lagi jika bulan Arka dan Arshaka.
Arka sangat menjaga jarak dengan Raya. Alasannya jelas itu semua untuk Ila. Arka menjaga hatinya untuk istri tersayangnya.
Ila sendiri tidak terlalu menanggapi apapun yang di sediakan dan di lakukan oleh Raya. Bahkan selama 1 minggu ini Raya memasak untuk mereka akan tetapi makanan itu tidak satu biji nasipun di makan oleh Ila.
Wanita muda itu lebih memilih memesan makanan dari luar ataupun memasak sendiri. Dalam hal ini Arka seperti kehilangan akal karena ke waspadaan istrinya.
Seperti pagi ini Raya kembali memasak semua makanan. Hal ini tentu saja di bantu oleh kedua ART di sini.
"Sayang! Mas mohon kamu jangan lagi seperti ini. Biarkan Bi Tina yang menyuapi Arshaka. Kau makan lah Sayang.
Makanan ini bukan hanya Raya yang memasak tetapi juga Bi Surti dan Bi Tina.
Jangan terlalu mengkhawatirkan apapun Sayang. Lagi pula makanan yang Raya buat bukan hanya dimakan oleh Raya. Tapi kita semua juga ikut memakannya Sayang. Dan ini sudah satu pekan tapi tidak ada yang terjadi Sayang!"
Ila yang sedang memakai kerudungnya. Menoleh kepada sang suami. Sedari tadi Arka mengoceh saja seperti perempuan yang sedang datang bulan.
"Mas! Aku tidak mengucilkan masa lalumu itu! Aku hanya tidak memakan makanannya."
__ADS_1
"Sayang bukan itu maksud ku..."
ucapan Arka, di potong oleh istrinya dengan cepat.
"Bukan tidak ada yang terjadi Mas! Tapi tepatnya belum ada yang terjadi.
Sudahlah aku tidak akan mati hanya karena memasak makananku sendiri. Itu jauh lebih aman untuk diriku ketika hamil 5 bulan seperti ini."
Ila berdiri akan tetapi langkahnya tertahan karena Arka menahan langkahnya. Arka memeluk istrinya.
"Sayang! Apa kamu sangat tidak nyaman dengan kehadiran Raya di sini Sayang?"
Arka menghela nafas panjang.
"Sayang! Bersabarlah Mas akan mengeluarkan Raya dari rumah kita setelah dia melahirkan. Itu hanya 3 minggu lagi sayang."
Ila hanya tersenyum. Tidak menanggapi sama sekali apa yang di katakan oleh Arka.
"Ila makan lah. Biar mbak yang menyuapi Arshaka. Mbak sudah masakkan salad yang biasa kamu masak." Raya menyela saat Ila ingin mengambil bubur untuk Arshaka.
__ADS_1
"Maafkan aku mbak. Sejak hamil aku sensitive memakan makanan yang di buat oleh tangan orang lain.
Jadi jika Mbak mau menyuapi Arshaka, aku akan kebelakang untuk membuat sarapan ku." Ila berlalu ke belakang.
Akan tetapi Arshaka tidak ingin di suapi oleh Raya. Anak kecil itu menangis keras dan menjerit saat Raya ingin menyuapinya.
"Sial! kau anak ku tetapi mengapa kau tidak ingin aku suapi. Dasar anak sialan." Marah batin Raya.
Raya berusaha tersenyum di tengah bara api di hatinya. Bagaimanapun Raya harus bisa mengambil hati Arka dan anak-anaknya.
"Nyonya, biar Bibi saja yang menyuapi Tuan kecil. Mungkin masih belum terbiasa bagi Tuan kecil untuk di suapi oleh Nyonya."
Raya hanya mengangguk dan memberi jalan pada Bi Tina untuk menyuapi Arshaka.
Saat orang-orang makan dengan hikmat Ila datang dari dapur membawa salad buah-buahan dan segelas susu segar sebagai sarapannya.
Ila melihat Arka belum memulai sarapannya. Piring suaminya masih kosong. Ila hanya tersenyum melihat itu semua. Lalu duduk di samping suaminya. Ila mengambil satapan untuk Arka. Barulah Arka memulai sarapannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1