
Usai melodrama bersama denhan Alex saat ini hanya tinggal Ila dan juga Arshaka di cafe itu. Ila berusaha menormalkan raut wajahnya karena dia sudah menelpon Arka untuk menhajak makan siang bersama.
"Bunda!" teriak Seno saat tiba di cafe yang bundanya bilang.
Di belakang Seno ada Arka yang berjalan pelan ke arah mereka bertiga, sebenarnya jika Ila peka dia akan merasa ada yang aneh dengan raut wajah sang suami yang terlihat datar dan tanpa ekpresi tak seperti biasanya.
"Mas maaf tadi Ila keluar walaupun mas belum balas pesan Ila lebih dulu. Soalnya Ila udah keburu janji sama teman jadi ngak enak kalau di batalkan begitu saja." Ila langsung menyalim tangan sang suami ketika tiba di hadapannya dengan takzim. Tak ada tanggapan apapun dari Arka atas keterangan yang Ila berikan.
"Papa siap ini kita langsung pulang ke rumahkan?" tanya Seno pada Arka.
"Iya kita langsung pulang papa juga udah siap mengajar." Arka sebenarnya ada beberapa berkas yang ingin dia selesaikan setelah makan siang hanya saja kepalanya terasa pusing sejak mendengar dan mengetahui fakta bahwa masa lalu istrinya belum usai.
"Bunda tadi kata bu guru semua tugas yang bunda ajarkan benar semuanya. Makasih ya bunda seno sayang sama bunda." Seno memeluk Ila yang memang duduk di sampingnya.
Arka yang melihat itu malah semekin stress Arka tak ingin anaknya bergantung kepada Ardila karena jujur saja dia takut pernikahannya yang sekarang berakhir seperti yang dulu. Terlebih melihat Ila yang tergugu menangis karena mendengar jika Alexander William merasa sangat putus asa karena Ardila Putri wanita yang dia jaga 4 tahun selama masa kuliahnya sudah dinikahi orang lain.
"Tadi kamu bertemu siapa?" Tak ada lagi kata sayang atau ayang biasa Arka gunakan untuk istrinya rasa cemburunya membutakan hatinya.
"Bertemu sahabat semasa kuliah dulu mas. Nanti ketika kita di rumah Ila jelaskan ya. Ayo makan makanannya sudah datang!" Ila mengatakannya sambil menggenggam tangan Arka di bawah meja dan genggaman tangan Ila langsung di lepaskan oleh Arka akan tetapi Ila masih belum merasa ada uang janggal dengan suaminya itu.
Saat ini ke empat manusia beda generasi itu sedang berada di dalam mobil yang di kemudikan Arka. Tidak ada percakapan berarti di antara mereka hanya gumaman tak jelas dari Arshaka dan juga Seno yang berceloteh tentang sekolahnya.
Baik Ila maupun Arka terpaku dengan fikiran mereka masing masing tanpa saling bicara.
Saat ini Ila sedang mengajarkan Seno belajar matematika untuk PR Seno dari Sekolah. Ila baru menyadari jika Arka sejak zuhur berlalu sampai saat ini sudah menunjukkan pukul 16:30 belum keluar kamar.
__ADS_1
"Nak kamu belajar sendiri dulu ya bunda mau ke lantai atas bangunkan papa. Kayaknya papa ketiduran karena ini sudah masuk waktu ashar." Ila beranjak dari duduknya setelah Seno mengiyakan perkataannya.
Saat Ila memasuki kamar mereka yang di lihat Ila adalah Arka sedang melaksanakan sholat. Ila tersenyum melihat suaminya sedang sholat tak ingin hanya melihat Ila segera mengambil wudhu untuk menunaikan sholat wajib.
"Mas mau ini Ila buatkan minum." Ila meletakkan minum di samping meja kerja suaminya.
"Mas masih banyak kerjaan?" tanya Ila.
"Lumayan mendata tugas para mahasiswa juga membuat beberapa laporandan chek perkembangan toko." Arka berkata tanpa melihat pada Ila.
"Ada yang mau kamu jelaskan tentang pertemuanmu dengan temanmu pagi tadi?" Arka masih sibuk dengan pekerjaannya meski ia bertanya pada sang istri tak lantas menatap wajah istrinya yang sekarang sudah mengambil seluruh hatinya.
"Oh itu Ila bertemu dengan Alex mas. Sebelumnya Ila udah chat mas tapi mas ngak respon Ila khawatir dengan Alex karena dia bilang ada masalah dan ingin berbagi cerita makanya Ila bilang mau menemuinya di depan kantor mas." Ila menundukkan wajahnya karena merasa bersalah pada sang suami.
"Kamu sangat menghawatirkan dia sepertinya." Arka mengatakan hal itu dengan raut wajah acuhnya.
"Kamu tahu apa yang kamu perbuat itu salah? Apa memang izin dari saya sudah tidak di perlukan lagi? Apa Alex begitu special buat kamu sehingga menemui dia tanpa menunggu saya menanggapi pesan text kamu?" tanya Arka seolah masih enggan melihat wajah sang istri yang sebenarnya sudah berkaca kaca matanya menahan air mata.
"Kenapa mas Arka ngomong gitu sama Ila, Ila tau Ila salah makanya Ila minta maaf mas."
"Lagi pula Alex dan Ila sudah bersahabat sangat lama Ila ngak enak mengabaikan dia saat dia dalam posisi yang tidak baik." Ila berkata dengan suara pelan tapi masih bisa di dengar jelas oleh Arka.
"Saya ngak masalah dengan itu semua Ardila, bahkan jika kamu menggugat cerai saya dan memilih kembali mengulang kisah lama kalian saya juga ngak masalah." kata Arka penuh penekan tapi masih membuang muka dari istrinya.
"Mas ngomong apa sih mas. Kami cuman bersahabat dekat ngak lebih kenapa ..." ucapan Ila terhenti
__ADS_1
"Diam!" bentak Arka.
"Saya sudah capek dengan alibi berlandaskan hubungan pertemanan dan persahabatan..." Arka menjeda perkataannya.
"Jika memang kamu ada rasa dengan sahabat bule kamu itu Ardila saya akan urus surat perpisahan kita sebelum anak anak saya semakin dekat dengan kamu." kali ini Arka memandang wajah istrinya yang sudah berlinangan air mata.
"Mas perceraian bukan mainan ka..." ucapan Ila kembali terpotong.
"Siapa yang bermain main dengan perceraian. saya serius buat apa jika kita bersama tapi hati kamu bukan buat keluarga saya. Terlebih perbedaan usia yang teramat jauh."
"Saya akan kasih kamu kesempatan untuk berfikir. Kamu masih muda kamu bisa berkarir dan menjalin hubungan dengan pria yang seumuran dengan kamu." Sebenarnya hati Arka perih saat mengatakan ini akan tetapi lebih baik dia sakit hati sekarang dari pada saat nanti dia sudah terlalu jauh jatuh pada perasaannya dengan Ila.
Bahkan sekarangpun hati Arka sudah sangat jauh menyelami rasanya pada Ila sang istri kecilnya yang entah hatinya untuk siapa.
"Mulai malam nanti saya akan tidur di kamar tamu sampai kamu punya keputusan untuk pernikahan kita ini."
"Keputusan apa mas, Ila sayang sama mas dan Ila ngak mau cerai. Apalagi yang harus ila pertimbangkan mas." Tangis Ila tak mampu lagi dia bendung.
"Saya tak ingin kamu menyesal lebih baik kamu tenangin diri kamu dan setelah mantap untuk bercerai maka kamu bisa katakan langsung dengan saya." Arka yang hendak berdiri langsung di peluk erat oleh Ila.
"Mas kenapa, ngak mungkinkan cuman gara gara Ila ngak izin keluar mas mau ceraikan Ila. Ila mohon jangan seperti ini dengan Ila mas Il.."
Arka menghempaskan tangan Ila dari pinggangnya yang dipeluk Ila dengan kasar dan berlalu tanpa mengatakan apapun lagi pada Ila.
Readers ku tercinta mungkin beberapa hari kedepan aku slow update ya. Tapi tetap aku usahakan up tiap hari. Dikarenkan aku lagi revisi bab 1 sampe bab 31 untuk pengajuan kontrak.
__ADS_1
Gimana ceritanya seru ngak? atau terlalu datar? biar aku bisa improvisasikan 🤗😊
Salam sayang dari Padang 💓