
Mata Ila sudah tak sanggup menahan bendungan nya. air mata wanita itu luruh mendengar penderitaan mendiang ibu kandungnya yang bahkan tidak dia ketahui seperti apa rupanya.
Ila lagi lagi merutuk akan semua hal yang terjadi pada ibunya dan juga petaka yang di berikan oleh ayah biologisnya pada sang mendiang ibu.
Mengapa orang begitu melumrahkan sebuah perzinaan, bukan apapun keyakinan selalu mengajarkan arah kebaikan. Dia tahu ayah dan ibu biologisnya tidak satu keyakinan dengannya. Tapi apa yang menimpa ibunya adalah hal yang teramat kejam baginya.
"Maafkan Daddy sayang, yang membiarkan ibumu menerima duka dan luka itu sendirian. Ayah tak bermaksud begitu, hal buruk bertimpa bagai hujan deras mendatangi Daddy pada saat mendiang mommy mu mengandungmu ..." Ila sama sekali tak menyela perkataan pria asing itu. Ila hanya bersandar pada bahu sang suami.
"Pada saat itu Daddy di panggil pulang ke kampung halaman karena ayah Daddy meninggal dunia.Bertepatan prusahaan yang di bangun mendiang ayah Daddy juga mengalami kebangkrutan dan tidak bisa di selamat kan sama sekali. Di sisi lain ibu dari Daddy tak sanggup menerima goncangan musibah yang datang bertubi tubi harus berakhir di rumah sakit jiwa..."
"Terlalu banyak alasan yang ingin daddy sampaikan padamu, tapi mau selogis apapun alasannya... rasa bersalah pada mommy mu saat ini masih mekar dan segar meski sudah 21 tahun berlalu..."
"Maukah kamu meringankan sedikit beban di hati Daddy pada Ibu mu Sweety?" Abraham menatap Ila dengan mata yang berkaca kaca.
"Apa yang Anda inginkan dariku?" Tanya Ila ketus.
"Sweety, Daddy mohon panggillah dengan panggilan yang seharusnya Nak. Daddy tahu kamu kecewa pada Daddy karena tidak berada di samping mendiang Mommy mu pada saat saat dia sulit. Tapi kamu harus tahu nak setiap moment dan setiap detik waktu berlalu hanya penyesalan tiada akhor yang Daddy rasakan."
"Maukah kamu berlaku seperti keluarga yang seharusnya dengan Daddy? Saling menyapa dengan panggilan yang seharusnya Nak?" Tanya Abraham pada putrinya.
"Semua butuh waktu, hal ini terlalu baru dan mengejutkan buat saya. Jadi saya harap Anda bisa mengerti prasaan saya." Ila memegangi kepala nya dan menyandarkan diri pada sang suami.
"Mas kepala Ila pusing, Ila ngak mau ngomong sama mereka lagi." Air mata Ila bercucuran saat perkataan Ibu Tia membayang di fikirannya. Tidak bisa Ila bayangkan seberapa menderita ibu kandungnya saat harus berjuang sendirian melahirkan dia kedunia.
"Bu bisa bantu kondisikan tamu yang Ibu bawa kemari? Saya harus membawa Ila beristirahat kembali. Ila tidak boleh banyak fikiran dan apa yang baru saja terjadi sangat membuat dia terguncang." Tanpa banyak kata Arka menggendong Ila ala bridal style karena Ila mengeluh kepalanya pusing.
Abraham hanya mampu memandang sendu punggung menantunya. Dia bisa saja menculik bahkan memaksa Ardila untuk ikut serta bersama dirinya. Hanya saja melihat sebenci apa putrinya pada nya saat tahu seberapa malang nasip Xu Yinxia karena dirinya. Membuat Abraham tidak berkutik, dia takut membayangkan hal terburuknya. Terlebih anaknya sedang hamil besar bayi kembar.
Setelah di berbincang dengan Ibu Tia dan Pak Faiz sejenak, Abraham dan Selena pergi dari kediaman Arka.
Saat ini Ibu mengetuk pintu kamar Arka dan Ila. Ibu ingin melihat keadaan Ila yang sedang merasa tidak enak badan.
__ADS_1
Clek
Pintu terbuka tapi bukan Ila yang keluar, lalu pintu kembali tertutup rapat.
"Ada apa Bu?" Tanya Arka.
"Bagaimana keadaan Ila? Ibu boleh masuk kedalam Nak?"
"Maaf Bu. Ila sedang tidak ingin bertemu Ibu. Dia sangat terguncang mengetahui kebenaran yang Ibu dan Bapak bawakan."
"Justru karena itu Ibu ingin bicara dengannya Nak, bisa izinkan?"
"Ibu saya mohon jangan memaksa begini. Istri saya sedang hamil Bu. Ila tidak boleh banyak fikiran, setidaknya beri dia waktu untuk sendiri. Nanti dia sendiri yang akan menemui Ibu. Jika dia merasa sudah lebih baik," Kata Arka pada Ibu Tia.
"Baiklah Nak, kalau begitu Ibu dan Bapak akan pulang ke desa malam ini. kasihan Theo sendiri di rumah."
"Ibu dan Bapak bermalam lah beberapa hari disini. Theo kan sudah besar, lagi pula ada mbak Ririn yang bisa menjaga Theo selama Ibu dan Bapak tidak di rumah. Ila sangat merindukan kalian."
"Bi Surti kamar depan sudah Bibi bersihkan" Tanya Arka.
"Sudah Tuan, sudah bisa di gunakan," kata Bi Surti.
"Bantu antarkan mertua saya ke kamarnya ya."
"Arka mau kedapur buat bikinin susu hamil buat Ila," Kata Arka pamit pada ibu mertuanya.
Saat ini Ila sedang duduk bersandar di kepala ranjangnya. Tatapannya kosong dan sendu. Arka datang dengan segelas susu di tangannya.
Cup
Cup
__ADS_1
Cup
Cup
Arka mencium kening berlanjut ke kedua mata, lalu turun ke hidung istrinya dan terakhir mengecup manja sekilas bibir ranum sang istri.
"Sayang. Hei jangan sedih begitu, apa yang kamu rasakan bagikan padaku. Aku suamimu sayang, aku akan selalu berusaha membuat mu nyaman dengan segala situasi. Katakan! Jangan di pendam, kasian baby ucul kita nanti."
Arka menerima istrinya yang sudah memeluknya erat dan menangis sedu sedan di dada bidangnya.
Arka diam hanya mengusap kepala sang istri yang di pelukannya. Arka berusaha menahan diri dari menasehati istrinya. Karena Arka tahu saat ini sang istri butuh tempat untuk bercerita.
"Mas, Ila harus bagaimana?" Saat tangisan sang istri sudah mulai reda barulah dia bertanya pada sang suami.
"Apa yang sekarang kamu rasakan Sayang, ungkapkan sampai hati mu lega." Arka mesih sedia dengan posisinya memeluk sang istri.
"Aku bingung Mas, aku juga kecewa dengan Ibu dan Bapak kenapa harus sekarang memberi tahu tentang kenyataan yang begitu besar. Aku meresa sangat marah karena Ibu kandung ku harus menjadi korban pergaulan bebas. Aku juga sedih karena tidak akan pernah bisa melihat rupa Ibu kandungku sendiri."
"Kemungkinan terbesar Daddy mu memeiliki foto mendiang Ibumu."
"jangan panggil pria itu sebagai Ayahku." Ardila memasang wajah ketus saat Arka mengatakan dengan panggilan Daddy pada Abraham.
"Sayang mau sebenci apapun dan sejauh apapun kamu lari dari kenyataan menyesakkan ini. Tidak bisa di pungkiri bahwa kamu memang anak dari pria yang kamu bilang pria itu."
"Kamu butuh waktu Sayang. Hanya butuh waktu, Mas tahu istri Mas bukan lah wanita pendendam. Hatinya hangat dan penuh kasih."
Ila hanya diam dia tidak ingin kata katanya tidak bisa dia kontrol. Dia tidak ingin membuat Arka tersinggung. Bagimanapun Arka adalah rumahnya, apalagi sekarang dia merasa terombang ambing.
Sekilas Ila merasa dia telah di buang oleh Ibu dan Bapaknya di kampung saat mereka memberi tahu fakta jika Ila bukan putri kandung mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1