
Ila terbangun dari tidur lelap nya. Melihat ke atas baru dia menyadari jika dia menempeli tubuh sang suami sepanjang malam.
Sebenarnya ini bukan lah pertama kali nya, sejak Ila menikah dengan Arka dia memang selalu meminta untuk tidur dalam pelukan suaminya.
Pelan tangan Ila mengusap dada bidang suami nya, melihat sang suami yang lelap dalam tidurnya dan mumpung Ila terbangun lebih awal Ila memandangi wajah sang suami.
“Mas,” panggil Ila pelan dan lama seraya mengusap pelan wajah sang suami agar tidak terbangun.
“Mas, Ila makin betah deh lihat wajah Mas. Mas jangan ganteng-ganteng nanti Ila malah jadi gendeng,” bisik Ila seraya ujung jari tangan nya masih menelusuri wajah suaminya.
“Mas jangan kebanyakan cemburu juga. Ila itu sayang sama Mas. Cuman kalau Ila bilang tiap waktu mah nantinya Ila keliatan banget bucinnya sama Mas Arka,” kata Ila.
“Mas, tidur aja yang bener jangan TP (tebar pesona) terus Ila ngak kuat. Nanti Ila gigit loh Mas,” kata Ila mensejajarkan wajahnya dengan sang suami.
“Astafirullah jantung Ila masih di tempat ngak ya?” kata Ila seraya mengusap dadanya dan cepat beranjak dari depan suaminya.
“Oh iya Ila juga mau bilang. Mas Arka suaminya Ila jangan ingat-ingat tante Raya lagi ya! Ingat Ila aja. Ila yang manis, cute, mempesonah dan membahanah. Ya ngak Mas?” kata Ila mendekati wajah suaminya.
“Iya Sayang ku. Udah puas belum lihat wajah Mas?” Tanya Arka dengan wajah menggodanya.
“Kata nya mau gigit, boleh banget kalau mau gigit Yang. Mau dimananya?” tanya Arka.
“Mas dari kapan bangunnya?” Tanya Ila shock terlebih wajah sang suami yang sangat dekat dengan wajahnya.
“Dari awal Ila panggil Mas dengan suasana minta something gitu Sayang," kata Arka masih dengan wajah menggodanya.
“Kalau Sayang ngak mau gigit Mas aja yang gigit ya?" tanya Arka.
Dan terjadi lagi, cerita lama yang terulang kembali. Arka dan Ila hanyut dengan kemesraan mereka di dini hari dalam proses mengadon. Semoga saja yang di adon segera mateng agar Arka dan Ila makin bahagia.
Tak terasa 1 jam berlalu, tahu jika Ila tak punya banyak tenaga lagi Arka memilih menggendong sang istri karena mereka akan segera melaksanakan ibadah sholat tahajjud. Bertepatan malam ini juga Arshaka tidak tidur di kamar mereka melainkan di kamar Seno bersama Bi Tina yang menjaga kedua anak mereka.
Setelah Arka dan Ila menunaikan sholat tahajjud mereka memutuskan untuk tadarus bersama. Saling menikmati dini hari yang syahdu karena suasana romantis keduanya.
“Terima kasih Sayang."
“Sejak kamu bersama Mas, Mas merasa hari hari mas lebih berwarna." Arka sambil memeluk sang istri yang baru saja siap tadarus bersamanya
__ADS_1
“Bukan cuman Mas yang merasakan Ila juga bahagia banget sejak bersama dengan Mas.”
“Yang gimana kabar ayah dan ibu di kampung?” tanya Arka menanyakan kabar sang mertua yang di kampung halaman yang sudah 3 bulan tak mereka kunjungi.
“Alhamdulillah mereka baik Mas. Ibu, Ayah, Theo sehat. Theo juga sekarang lagi ikut bimbel buat masuk PTN," kata Ila sambil bersandar nyaman di dada sang suami.
“Kalau butuh dana atau kurang uang jangan sungkan make uang yang Mas sisihin buat pendidikan anak kita ya Sayang! Bagaimana pun orang tua kamu orang tua Mas juga. Adik kamu adiknya Mas juga,” kata Arka.
“Iya Mas ku Sayang,” kata Ila mencuri ciuman di pipi Arka.
“Istri Mas genit ya,” goda Arka pada sang istri.
“Genitnya cuman sama Mas Arka doang kok," kata Ila.
“Ya harus! Kalau sama tetangga bahaya Sayang! Bisa perang dunia," kata Arka.
“Ngak deng. Laki Ila udah ganteng, sholeh lagi dan sayang sama Ila kurang apa coba?” Ila seolah bertanya dan bermonolog.
“Mas kayak mencium aroma bucin ya?” kata Arka.
“Iya-iya deh dari pada nanti di gigit,” kata Arka.
Ila memanyunkan bibirnya cemberut karena kata kata Arka.
“Ih Mas jadi gemas deh yang ama kamu,”
Tok tok tok
“Unda, Unda!” terdengar jeritan Arshaka dari luar.
“Ya Allah ini anak ngak tau apa Bundanya lagi sesi pacaran ama Papanya malah di ganguin,” kata Arka.
“Ila ambil Arshaka dulu Mas. Kasian Bi Tina pasti repot ngurusin Arshaka yang nangis-nangis gitu,” Ila berlalu kearah pintu.
Sedangkan Arka hanya bisa mendesah pasrah sambil melihat jam karena Arka akan sholat subuh di masjid seperti biasa nya dan pastinya Arka akan membawa anak sulung nya ikut serta yaitu Seno.
“Uu lala sholehnya Bunda bangun ya Nak ya? Jangan nangis ya sayang ya nih mimik susu ya," Ila memberikan dot yang di beri kan oleh Bi Tina pada mulut Arshaka.
__ADS_1
“Unn ddaaa daaa!” Anak itu sepertinya masih mengantuk hanya saja memang selalu terbiasa dengan Ila selama 3 bulan terakhir makanya shock ketika bangun tak mendapati Ila di dekatnya.
Arshaka mulai tenang, tak lagi rewel sedangkan anak sulung nya si Arka neplok di pinggang ibu sambungnya itu.
“Bunda, Seno juga mau bobok sama Bunda,” kata Seno.
Sedang Ila mengusap kepala anak sulungnya sambil pandangannya terarah ke jam kamar nya. Sebentar lagi akan masuk waktu subuh.
“Mas Seno ikut Papa ke masjid ya kayak biasa. Sekarang Mas Seno mandi dulu nanti ke masjidnya bareng Papa," kata Ila mengusap puncak kepala Seno.
“Bunda sekali aja Mas ngak ke masjid buat subuh sama Papa boleh ngak? Seno masih ngantuk dan juga masih mau peluk Bunda,” kata Seno dengan wajah memelas.
“Seno ingat kalau Mama udah pergi dari hidup Seno? Supaya Bunda selalu di dekat Seno minta nya kesiapa Sayang?" kata Ila dengan nada lembut.
“mintanya ke Allah Bunda. Ya udah deh Seno ikut Papa. Seno mau bilang ke Allah dalam sholat nanti kalau tolong buat selalu Bunda ada sama kita dan di jauhkan dari semua om-om jahat yang suka ambil Bunda nya Seno,” kata Seno semangat.
“Pinter anak Bunda. Dah sana mandi!” kata Ila.
Arka menghampiri istrinya dengan senyuman mengembang di wajahnya. Lalu mengecup pelan pipi istrinya lalu mengecup puncak kepala putra bungsunya.
“Makasih kamu udah jadi sosok Ibu terbaik untuk anak-anak kita. Mas bahagia anak-anak bisa dapat figure sebaik dan sebijak kamu.”
“Jangan lelah buat selalu mengurus kami semua ya Sayang. Karena kamu kami merasa banyak warna lagi setelah sekian lama mendung melingkupi,” kata Arka sambil menatap dalam sang istri.
“Papa cepat nanti telat, Mas udah wudhu,” kata Seno yang keluar dari kamar mandi dalam keadaan sudah selesai mandi.
“Baju kokonya udah Bunda siapin ya Mas. Nah jangan lupa infak subuhnya ya.” Ila seraya menunjukkan di atas ranjang yang sudah ada baju koko dan perlengkapan sholat Seno serta uang untuk sedekah subuh pagi ini.
“Kita ke masjid dulu Bunda, Assalamu’aalaikum.”
“Walaikumussalam.”
Mereka berlalu pergi kelantai 1 dan di lantai 1 tina dan bi surti memandangi 2 orang laki laki beda generasi itu. Mereka merasa keluarga tuannya sangat jauh berubah jika di bandingkan dengan nyonya rumah terdahulu. Yang pasti Ila sangat memberi pengaruh baik untuk orang orang rumah.
“Ibu terbaik.” Itulah yang cocok di sematkan pada Ila.
See you ……………..
__ADS_1