
Hari menunjukkan pukul 00.00 tengah malam. Handphone Arka berdering keras, Arka yang masih tersadar segera mengangkat handphonenya.
Arka melihat ke samping, istrinya sedang tertidur pulas.
"Halo... dengan siapa?"
"......"
"Iya saya sendiri."
"......"
"Sepertinya Anda salah orang! Anda bisa telpon suaminya... itu bukan urusan saya!"
Arka menghela nafas kesal, dia baru saja tenang dan sekarang orang dari masa lalunya malah menganggu.
Telpon Arka kembali berdering. Tidak ingin ambil pusing, Arka memilih mematikan ponselnya.
Sekilas rasa khawatir itu ada, tapi Arka tetap tidak ingin ambil resiko. Apalagi istrinya sedang sensitive dan juga hamil 5 bulan sangat tidak di mungkinkan baginya melakukan hal gila itu.
Terlebih Arka juga tidak tahu masalah apa yang di alami mantan istrinya itu. Satu lagi, kemana Abimana? Kenapa dia membiarkan istrinya yang hamil 8 bulan mabuk-mabukkan.
__ADS_1
Terasa sepasang tangan memeluk erat tubuhnya. Siapa lagi kalau bukan sang istri tercinta. Arka kembali memejamkan matanya.
Saat akan tertidur pintu kamar Arka di ketuk Bi Tina dari luar.
"Tuan ... Tuan!" panggil Bi Tina dari luar kamar.
Arka melepas tangan Ila perlahan. Arka membuka pintu kamar dan melihat Bi Tina dalam keadaan panik.
"Kenapa Bi?"
"It .. itu.. itu ...Tuan?"
"Itu..."
"Nyonya ... Nyonya Raya di depan dalam keadaan mabok Tuan. Seorang pria mengantar nya ke sini. Saya bingung harus bagaimana Tuan?"
Perkataan Bi Tina membuat Arka terperangah. Tak cukup mengganggu di telpon selular, sekarang masa lalunya malah datang ke rumahnya.
Arka keluar dari kamar dan melihat keluar. Lebih tepatnya ke ruang tamu. Saat tiba di ruang tamu Arka terkejut karena di peluk oleh seorang wanita hamil.
"Arka, Sayang kamu masih cinta kan sama aku?" Raya menatap Arka dengan mata penuh harap.
__ADS_1
"Abimana memang hanya ingin menghancurkan hubungan kuta berdua sayang. Aku mohon terima aku lagi!"
"Lepas Raya! Kamu mabuk!" Arka menghempas tangan Raya kasar.
"Bi bawa dia ke kamar tamu saja. Urus sebisa Bibi, jangan ganggu saya lagi. Ila saya tinggal sendiri di kamar. Kalau wanita ini butuh apapun, berikan selagi masih di batas wajar. Besok hal ini di bicarakan, dia sudah mabuk berat." Arka ingin berlalu tapi Raya memeluknya dari belakang.
"Sayang! Kamu ngak akan buang aku seperti Abimana kan? Anak- anak kita butuh aku sayang! Seno dan Arshaka masih sangat membutuhkan Ibu kandungnya.
Aku yakin anak-anakpun sangat merindukanku sayang. Aku janji aku akan berubah, aku ngak akan selingkuh lagi. Aku menyesal menduakan kamu dengan Abimana. Aku mohon jangan buang aku juga Arka." Raya meracau sambil memeluk Arka erat.
Jujur saja hati Arka merasa nyeri mendengar perkataan Raya. Kenapa... kenapa baru sekarang. Kenapa baru sekarang Raya sadar kalau anak-anak butuh dia.
Arka tidak mungkin menerima Raya kemabali dalam hidupnya. Meskipun kedua anak-anaknya menginginkan Raya, tapi Arka sangat mencintai Ila.
Arka tidak ingin kehilangan istri untuk kedua kalinya. Cukup, biarlah takdir buruk pernikahan hanya ada diantara dia dan Raya tapi tidak dengan Ila.
Arka menghempas kasar tangan Raya, tanpa berbalik Arka kembali ke kamarnya. Saat di kamar Arka melihat sang istri sedang tertidur lelap.
"Sayang, badai pasti akan ada dalam biduk rumah tangga kita. Bahkan bayangan orang ketiga pun pasti akan ada. Tapi aku berharap kamu dan aku mampu melewati ini semua.
Demi rumah tangga kita. Demi anak-anak kita yang akan lahir ke dunia." Arka mengecup kening istrinya lalu memeluk tubuh istrinya yang hanya di baluti selimut menutupi gaun malam yang selalu di pakai sang istri ketika akan tidur di malam hari.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...