
Dewi menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Kakinya melangkah cepat menuju dapur, takut Devan akan mengejarnya. Mbak Tina yang sejak tadi mencari Dewi, melihat orang yang dicari sedang menuju ke arahnya segera menghampirinya.
" Kamu itu darimana sih wi, aku cari dari tadi kok nggak ketemu ", omel mbak Tina. Dewi hanya nyengir menanggapinya.
" Maaf mbk, aku tadi habis nganterin kopi buat tuan Devan ",
" Ya sudah, ini kamu kupas semua kentangnya. Nyonya mau dimasakin sambal goreng kentang sama hati ", Kata mbk Tina sambil menyerahkan kantong kresek berisi kentang. Dewi segera meraih kentang tersebut dan mulai mengupasnya. Dadanya masih saja berdebar-debar tidak karuan karena ulah majikanya tadi.
🌸🌸🌸🌸
Malam harinya, terlihat Dewi yang tengkurap di atas kasur sambil menopang dagunya. Bibirnya nampak terus menyunggingkan senyum malu-malu. Pikirannya terus mengingat kejadian tadi siang. Apakah mungkin majikannya juga menaruh hati padanya. Ah itu tidak mungkin, batin Dewi. Telapak tangannya meraba pipi yang tadi siang di kecup oleh sang majikan. Muncul rona merah dipipi chabinya sampai ke daun telinga.
Saat bibirny terus memamerkan senyuman, tiba-tiba bayangan keluarganya di kampung melintas di pikirannya. Ia jadi teringat dengan tujuannya pergi dari desa sampai merantau jauh-jauh ke ibu kota.
" Ya tuhan apa yang sudah aku lakukan. Bagaimana kalau nyonya Nabila sampai tau, dan akhirnya aku di pecat karena di kira menggoda putranya ",
" Bagaimana nasib adik-adik di kampung kalau itu terjadi. Bapak sama ibuk juga pasti akan sangat kecewa ", hati Dewi mulai gelisah. Rasa takut mulai menghinggapi dirinya.
" Mulai sekarang aku harus menjaga jarak dengan tuan Devan. Aku tidak mau kalau sampai dipecat sama nyonya Nabila. Demi Ridwan, Amel, Rani, bapak juga ibuk aku harus bisa", batin Dewi meyakinkan keputusannya.
🌸🌸🌸🌸
Pagi harinya Dewi menjalani rutinitas seperti biasa. Membantu memasak di dapur dan menata perlengkapan makan majikannya. Devan yang sudah rapi nampak menuruni tangga. Manik matanya melirik ke arah Dewi sambil berpura-pura membenarkan dasinya. Dewi yang melihat Devan sudah duduk di kursi meja makan, hanya menunduk tak berani menatap sang majikan. Setelah semua beres, Dewi buru-buru pergi meninggalkan meja makan. Devan terlihat heran dengan sikap Dewi, seperti sengaja menghindarinya. Apakah pembantunya itu marah karena ia sudah mencuri ciuman di pipinya. Ya mungkin itu alasannya, batin Devan.
Seminggu sudah dewi menghindarinya. Hal itu membuat Devan uring-uringan. Bahkan semua pekerjaan di kantornya serasa tidak ada yang benar. Tidak ingin semua pekerjaannya kacau karena pikirannya yang kalut, Devan memutuskan untuk segera pulang.
__ADS_1
" Kevin, tolong antar saya pulang. kepala saya rasanya mau pecah ", keluh Devan.
" Baik bos ", jawab Kevin sambil membereskan pekerjaannya di meja.
🌸🌸🌸🌸
Di dapur terlihat Tina yang mondar mandir seperti mencari sesuatu. Saat melihat Dewi melintas di depannya, ia segera memanggilnya.
" Wi sini ",
" Ada apa mbak ", jawab Dewi sambil berjalan mendekat.
" Tadi ikan bandeng yang aku beli tadi pagi, kamu kan yang ngeluarin dari kantong belanjaan", tanya Tina mulai mengintrogasi.
" Tadi aku taruh dekat tempat cuci piring mbk, kata mbk Tina mau dicuci ", jawab Dewi menjelaskan.
" Itu si Tina ikan bandengnya ilang ", kata mbok Siti. Mendengar hal itu mang Udin jadi teringat sesuatu.
" Jangan-jangan "
" Jangan-jangan apa mang ", tanya Tina penasaran. kemudian ia mendekat dan duduk di depan mang Udin.
" Tadi aku lihat kucing keluar dari arah dapur bawa kantong kresek hitam. Jangan-jangan itu ikan kamu tin ",
" Wah kucing garong. Kenapa mang Udin nggak tangkap itu kucing. Malah dibiarin saja ", geram Tina.
__ADS_1
" Ya mana saya tau itu ikan tin ", bela mang Udin.
" Ya makanya di tanya mang ", protes Tina.
" Gila lu tin, masa nyuruh saya nanya Ama kucing ", gerutu mang Udin sambil beranjak dari duduknya berlalu pergi ke depan.
" tuh kucing juga keterlaluan, nyolong ikan kok semua. sisain kek setengah ", Dewi dan mbok Siti hanya geleng-geleng kepala menanggapi Omelan Tina.
" Ya sudah biar Dewi beliin lagi di pasar ", kata Dewi mengalah.
Dewi berencana pergi ke pasar naik ojek saja. Ia mulai berjalan menuju gerbang komplek perumahan. Biasanya ada tukang ojek mangkal di dekat pos satpam. Saat Dewi menyusuri jalan menuju gerbang, nampak mobil Devan melaju dari arah masuk perumahan. Manik mata Devan yang tadi sedikit mengantuk seketika terang melihat Dewi berjalan sendirian.
Devan segera menyuruh Kevin menepikan mobilnya. Dengan tergesa-gesa ia keluar dari mobil menghampiri pembantunya. Dewi yang melihat Devan keluar dari mobil mempercepat langkah kakinya.
" Dewi tunggu ", panggil Devan yang melihat Dewi menghindar. melihat Dewi yang terus berjalan cepat, tangan Devan segera menarik pergelangan tangan dewi.
" lepaskan tangan saya tuan, saya sedang buru-buru ", kata Dewi ketakutan.
" kenapa kamu menghindari saya wi ",
" Sa saya tidak menghindari tuan ", jawab Dewi tak berani menatap Devan.
" Bohong", ucap Devan.
Saat Dewi akan menjawab, terlihat Kevin sang Asisten memanggil bosnya karena handphonenya di dalam mobil berbunyi. Melihat Devan lengah, Dewi segera melepas genggaman tangan sang majikan dan berlari menuju gerbang komplek. Dewi buru-buru memanggil tukang ojek, dan berlalu pergi meninggalkan Devan.
__ADS_1
" Sial ", umpat Devan sambil menatap tajam asistennya. Kevin yang tidak tau apa-apa hanya garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal
🌸 Jangan lupa like dan komennya dong kakak 🌸