
Hari-hari berlalu begitu cepat. Tak terasa hari pernikahan Kevin dan Monica sudah semakin dekat. Tampak mamah Nabila yang sibuk mengurus berbagai persiapan demi kelancaran acara pernikahan putri bungsunya.
Acara akad yang sakral akan di adakan di kediaman Aditama dan untuk resepsi akan di laksanakan di hotel bintang lima milik keluarga. Mama nabila tampak antusias sekali mendekor taman samping rumah yang akan di gunakan untuk ijab dan juga prosesi nikah yang menggunakan adat Jawa.
Dewi yang melihat mama Nabila mondar mandir ke sana kemari menjadi pusing sendiri. Mama mertuanya itu melarang Dewi ikut mempersiapkan pernikahan Monica, mengingat perut Dewi yang sudah semakin besar. Jangankan membantu, membawa diri sendiri saja susah. Akhirnya Dewi hanya bisa duduk manis sambil melihat para kru EO bekerja.
" Sayang kamu lagi apa ? " sapa Devan yang baru pulang kerja, ia menghampiri sang istri dan duduk di sebelahnya.
" Dewi lagi menikmati jadi peran seorang mandor mas ", jawab Dewi seraya terkikik geli. Devan yang mendengar jawaban Dewi juga ikut tertawa.
" Kamu itu bisa-bisa aja yang. Ini cilok pesanan kamu ", kata Devan sambil menyodorkan kantong plastik pada istrinya. Mata Dewi langsung berbinar melihat cilok di depannya.
" Makasih ya mas ", jawab Dewi seraya merangkul lengan kekar sang suami.
" Sama-sama. Mas ke kamar dulu ya mau mandi ",
" Mau Dewi temani ? "
" Nggak usah yang, kamu di sini aja. Kamu nikmati aja ciloknya sambil mandorin mamah ", goda Devan yang membuat Dewi tergelak.
*
*
Malam menjelang, persiapan dekorasi akhirnya selesai juga. Mama Nabila yang kelelahan segera beristirahat setelah menyantap makan malamnya. Sedang Monica yang tengah menjalani masa pingitan merasa bosan di dalam kamar.
Dewi yang seakan tahu dengan perasaan Monica segera menghampiri adik iparnya itu di dalam kamarnya.
Tok tok tok
" Monic ini kakak ",
" Masuk aja kak ", jawab Monica.
" Bosen ya ", kata Dewi yang berjalan masuk dan duduk di dekat Monica.
" Iya kak, mau telepon kak Kevin juga gak boleh ",
" Sabar Monic, besuk juga sudah ketemu. Gimana kalau sekarang kamu bantu kakak menyiapkan keperluan lahiran. Kayaknya dedek bayinya pengen aunty nya yang nyiapin baju pertamanya ", kata Dewi yang membuat Monica tersenyum lebar.
" Wah ponakan aunty pinter banget. Ya udah yuk kak biar aunty pilihin baju yang paling bagus ", ajak Monica menggandeng tangan Dewi keluar kamar.
" Emang kapan kak perkiraan dokter dedek bayinya lahir ",
" Kurang lebih seminggu lagi. Tapi kata orang kalau kehamilan pertama itu kebanyakan maju dari perkiraan. Nggak semua sih, itu hanya kata orang. Makanya kakak mau nyiapin sekarang, jadi kalau sewaktu-waktu lahiran tinggal bawa aja ",
" Wah kakak memang calon ibu siaga ", puji Monica kagum. Dewi hanya tersenyum mendengar pujian adik iparnya.
" Ini aunty bajunya ", kata Dewi seraya memperlihat tumpukan baju di dalam lemari kecil.
" Ya ampun kak, bajunya kok dah banyak gini. Kayaknya Monic gak pernah lihat kakak belanja baju ", tanya Monica heran.
" Kakak belanjanya cuma dua kali sih, selebihnya mama yang beli ",
__ADS_1
" Mamah itu emang kalau mempersiapkan sesuatu selalu aja heboh. Ini sih buat bayi sekampung juga bisa ", kata Monica yang membuat Dewi tertawa.
" Kamu lebay banget sih Monic, lagian kakak juga gak mungkin nolak pemberian mama",
" Maklum kak, ini cucu pertama keluarga Aditama, cucu yang sudah lamaaa banget di nantikan mama ",
" kamu benar Monic ",
" Wah akhirnya selesai juga persiapan untuk ponakan aunty ", kata Monica sambil mengelus perut besar kakak iparnya. Bersamaan itu dedek bayi yang berada di dalam perut Dewi menendang kencang tangan Monica sehingga membuat Monica terkejut.
" Astaga tanganku di tendang. Ini pasti sebagai ucapan terima kasih karena aunty sudah bantu mamamu ya ", kata Monica girang.
Dewi yang melihat ucapan nyeleneh monica tampak mengulum senyumnya.
" Ehem-ehem ", terdengar deheman dari arah pintu kamar yang membuat kedua perempuan itu menoleh bersama.
" Monic sudah malam, cepetan balik ke kamar kamu ", kata Devan sambil berkacak pinggang di depan pintu.
" Iya iya Monic ngerti kok. Ini udah waktunya kak Dewi untuk nidurin bayi besarnya kabuuurrr ", pekik Monica sambil berlari melewati kakaknya.
" Dasar anak nakal ", kesal Devan sambil berlalu menghampiri Dewi yang tengah menertawakannya.
*
*
Keesokan harinya, dimana hari bahagia yang bersejarah bagi Kevin akhirnya tiba juga. Kevin yang sudah duduk di depan penghulu sambil menjabat tangannya nampak dengan lantang mengucapkan ijab Qabulnya.
" Bagaimana saksi sah "
" Alhamdulillah ", ucap semua.
Mama Nabila yang menangis di bahu suaminya nampak begitu terharu melihat putri bungsunya menikah di usianya yang terbilang masih sangat muda.
Setelah ijab Qabul acara di lanjutkan dengan prosesi nikah adat Jawa. Kevin dan Monica yang sudah berganti kebaya segera mengikuti acara temu manten tersebut. Mulai dari membasuh kaki, melempar sirih, sungkeman dan serangkaian prosesi lainnya.
Acara sakral itu selesai ketika hari sudah menjelang siang. Malam harinya acara resepsi mewah segera di gelar. Ribuan tamu nampak sudah berdatangan. Kali ini tamu undangan yang hadir cukup banyak. Mengingat Kevin dan Monica yang juga memiliki banyak teman.
Dewi yang sudah lelah di tengah acara meminta ijin pada sang mama untuk pamit beristirahat. Mama Nabila yang tidak tega menyuruh Tina untuk menemani Dewi menuju kamar hotel yang sudah di siapkan.
Tina mengantar Dewi ke dalam kamarnya. Ia menemani sahabat sekaligus majikannya itu hingga Dewi terlelap. Setelah itu dia kembali ke pesta membantu Puput dan lainnya.
Acara resepsi itu sungguh sangat meriah. Bahkan mama Nabila sampai mengundang artis ibu kota untuk turut memeriahkannya. Semakin malam para tamu undangan semakin berkurang. Banyak tamu undangan yang sudah meninggalkan pesta menjelang tengah malam.
Hampir pukul dua belas, Devan yang sudah sangat lelah itu segera menyusul istrinya di dalam kamar. Saat pintu kamar terbuka nampak Dewi yang sudah tidur dengan lelapnya.
Devan segera beranjak naik ke atas tempat tidur dan mengeratkan pelukannya di pinggang sang istri. Tidak butuh waktu lama ia pun sudah ikut terlelap sambil mendekap Dewi.
.
.
Tepat pukul tiga pagi nampak Dewi yang terbangun dari tidurnya. dewi merasakan sakit di perut bawahnya yang kadang timbul kadang hilang. Sebenarnya ia sudah merasakan sakit itu sejak tadi sore. Namun karena rasa sakitnya hanya sesaat Dewi sedikit mengabaikannya.
__ADS_1
Ia yang masih bisa menahan rasa sakitnya beranjak bangun dari ranjang. Dewi yang sudah banyak membaca buku tentang ibu hamil jadi tahu jika dirinya saat ini tengah merasakan kontraksi. Mungkin sebentar lagi ia akan melahirkan.
Ia berjalan mondar mandir di dalam kamar hotel dengan sesekali meringis menahan sakitnya. Ia tidak tega jika harus menbangunkan Devan yang terlihat kelelahan. Tepat pukul enam pagi rasa sakit yang Dewi rasakan semakin sering. Ia yang sudah tidak tahan dengan terpaksa segera membangunkan sang suami.
" Mas, mas Devan bangun ",
" Hemmm ", Devan hanya menggeliat dan kemudian tidur lagi.
" Mas bangun mas, Dewi mau melahirkan ini ", pekik Dewi di telinga suaminya.
" Hahh melahirkan ", kata Devan yang langsung terduduk. ketika kesadarannya sudah terkumpul, ia mencoba mencari keberadaan sang istri.
Di lihatnya Dewi yang tengah berdiri di samping ranjang tampak meringis sambil memegangi perutnya.
" Mas perut Dewi sakit ",
" Ya ampun yang, kita ke rumah sakit sekarang ya ", Devan yang panik segera menggendong Dewi.
" Tunggu mas ",
" Apalagi yang ",
" Mas telepon mbak Tina di rumah, suruh ambil tas berwarna biru di dekat ranjang yang isinya persiapan untuk bayi kita mas. Setelah itu suruh antarkan ke rumah sakit ", kata Dewi yang tengah menahan rasa sakitnya.
Setelah selesai menelepon Tina Devan buru-buru menggendong Dewi keluar kamar. Ia yang teringat dengan sang mama segera menggedor pintu kamar yang berada di samping kamarnya menggunakan kaki.
" Mah mama bangun ma",
Mama Nabila yang masih sangat mengantuk dengan langkah gontai berjalan menuju pintu.
" Apa sih Van teriak -teriak, mama masih ... loh wi kamu kenapa ", tanya mama Nabila heran melihat Dewi yang di tengah barada dalam Gendongan Devan.
" Dewi mau lahiran mah, ini Devan mau anter ke rumah sakit terdekat ",
" Ya ampun Van, ya sudah mama cuci muka dulu dan sekalian bangunin papa kamu. Kamu sebaiknya segera turun nanti mama nyusul ", kata mama Nabila yang ikutan panik.
Devan nampak segera membawa Dewi menuju lift.
" Mas jangan lari, nanti kita jatuh ", pekik Dewi takut.
" Maaf maaf yang,mas panik ", kata Devan yang mulai memelankan jalannya. Saat tiba di lantai bawah, Devan segera keluar dari lift menuju lobby hotel yang masih sepi. Ia berdiri di depan lobby sambil menunggu papahnya turun untuk mengantarnya ke rumah sakit. Namun tiba-tiba.
" Yang kamu ngompol ", kata Devan yang merasakan tangannya basah ",
" Bukan ompol mas, itu air ketuban dewi ", pekik Dewi setengah meringis masih dengan menahan sakitnya.
" Hah air ketuban ",
" Astaga ",
" Pak pak Maman tolong antar saya ke rumah sakit pak ", pekik Devan yang melihat manager hotelnya itu melintas.
Like dan komennya kakak
__ADS_1
Terima kasih