
Mentari pagi bersinar dengan berani. Sinarnya yang terang menemani aktifitas semua orang di hari Minggu ini.
Dewi yang kebagian jadwal belanja segera menyiapkan catatan semua kebutuhan dapur yang telah habis. Bersama mbk Tina ia meneliti semua barang di dapur yang sekiranya perlu di beli. Kegiatan itu selesai dengan hasil catatan selembar penuh.
Rencananya Dewi akan ke pasar naik ojek saja. Karena cucian sedang menumpuk, Tina jadi tidak bisa menemani Dewi ke pasar.
" Kamu berangkatnya naik ojek dulu saja wi. Karena belanjaan kamu banyak, nanti pulangnya biar pak Salim yang jemput. Saat ini pak Salim masih nganterin tuan besar pergi main golf ", kata Tina menjelaskan.
" Iya mbk Tina, pulangnya naik ojek lagi juga gak apa-apa kok",
" Jangan, nanti sayurannya bisa rusak kalau kamu bawanya GK bener karena naik ojek ", larang mbk Tina.
" ya sudah, Dewi berangkat dulu mbk ", pamit Dewi.
" Kok kamu pamit-pamit aja, memang aku sudah kasih duwit belanjaannya ", kata mbk Tina sambil berkacak pinggang.
" Oh iya Dewi lupa ", kata Dewi nyengir kuda.
Setelah uang belanjaannya sudah diberikan oleh mbk Tina. Dewi segera berjalan menuju gerbang, ia akan memakai ojek langganan yang suka mangkal di depan pos satpam.
Devan yang sedang meregangkan otot-ototnya di balkon kamar, segera menatap ke arah Dewi yang sedang dibukakan gerbang oleh mas Abdi. Terlihat mas Abdi yang tengah menggoda Dewi. Melihat itu Devan mulai emosi, tangannya sudah gatal ingin meninju wajah satpam rumahnya itu.
Ia segera berlari menuruni tangga menuju garasi mobil. Untung di ruang makan sudah sepi, jadi tidak ada drama tanya jawab dari sang mama. Devan segera menghidupkan mobilnya dan melaju meninggalkan garasi demi mengejar sang pujaan hati.
Tin tin
Mas abdi yang mendengar klakson dengan cekatan membuka pintu gerbang. Saat mobil Devan melewati mas abdi, Devan menurunkan kaca mobil dan melayangkan tatapan tajam pada si satpam. Mas abdi yang mendapatkan tatapan tajam dari sang majikan, meneguk salivanya dengan susah payah. Salah apa pagi-pagi sudah di pelototi batinnya.
Devan segera menutup kaca mobilnya setelah berhasil memberikan ultimatum pada saingan cintanya. Dari jau terlihat Dewi yang berjalan menuju gerbang pos satpam komplek. Devan segera mensejajari Dewi dan menghentikan mobilnya.
" Sayang, masuklah biar aku antar ", tawarnya pada sang kekasih.
" Tapi tuan, Dewi takut ada yang lihat ", jawab Dewi sambil menengok kanan kiri takut ada yang memergoki.
" Aman, cepatlah masuk sebelum ada orang yang melihat ", perintah Devan. Dewi segera masuk dan mendudukkan bokongnya di samping sang majikan.
__ADS_1
" Mau kemana wi? ",
" Ke pasar tuan, yang dekat dari sini saja ",
" Baiklah ", kata Devan seraya mengelus pipi Dewi sebentar. Saat wajahnya hendak mendekat Dewi segera melontarkan protesnya sambil melengos.
" Tuan sabaiknya kita segera berangkat, nanti ke buru siang ", Devan yang mendapat penolakan dari sang kekasih segera membenarkan posisi duduknya. Devan merutuki dirinya yang selalu tidak bisa mengendalikan sifat mesumnya jika berdekatan dengan sang pembantu.
Mobil berwarna silver itu melaju membelah jalanan pagi yang cukup padat. Setelah 20 menit, mereka telah sampai di depan pasar. Dewi segera melepas sabuk pengamannya setelah Devan selesai memarkirkan mobilnya.
" Tuan terima kasih sudah mengantar, saya permisi dulu ",
" Hey, siapa yang mau mengantar saja. aku juga mau menemanimu belanja ", Protes Devan yang membuat Dewi melongo. tuannya itu mau masuk pasar.
" Tapi tuan, saya takut tuan tidak akan betah di dalam. Jalannya becek bau dan hawanya cukup panas di dalam ", kata Dewi sedikit kawatir.
" Kamu meremehkan ku ? "
" Mana mungkin, saya tidak berani ",
" Ya sudah ayo turun ", ajak Devan yang segera membuka pintu mobilnya. kemudian ia mengitari mobil untuk membukakan pintu untuk Dewi. Setelah Dewi keluar, Devan segera meraih tas belanja di tangan Dewi. Tangan satunya menggenggam tangan Dewi agar aman, karena suasana pasar saat itu cukup ramai.
" Wah mbk Dewi tumben di antar suaminya. Mbak Dewi pinter pilih suami, ganteng banget ", puji ibu-ibu tukang sayur seraya tersenyum pada Devan.
" Bukan "
" Terima kasih atas pujian ibu, saya hari ini tidak lagi sibuk jadi bisa mengantar istri saya berbelanja ", kata Devan yang memotong ucapan Dewi. Tangannya pun dengan cepat menarik pinggang sang kekasih agar terlihat lebih mesra.
" Wah beruntungnya mbk Dewi, punya suami ganteng dan pengertian. Dewi hanya tersenyum canggung mendengar ucapan
tukang sayur itu. Cepat-cepat ia memilih dan menyerahkan sayuran itu agar segera di hitung. Setelah sayur kini giliran untuk membeli ikan dan daging. Devan yang tidak pernah ke pasar, sedikit mual mencium aroma amis di kios khusus ikan dan daging.
Dewi yang melihat itu, merogoh sapu tangan di dalam sakunya dan memberikannya pada sang majikan. Melihat tuannya yang memaksakan diri menemani, Dewi segera memesan beberapa kilo ikan dan daging sapi agar bisa segera menjauh dari sana. Masih ada 2 daftar belanjaan yang belum di beli tapi melihat tuannya yang bermandikan keringat membuat Dewi tidak tega.
" Tuan, anda sebaiknya pulang saja. Biar saya sendiri yang melanjutkan belanjanya "
__ADS_1
" Tidak", tolak Devan.
" Ayo masih ada berapa lagi yang harus di beli ", tanya Devan saraya menggandeng tangan Dewi. Bukannya menjawab, Dewi malah sibuk memandangi tangannya yang di genggam sang majikan sekaligus kekasihnya itu. Hatinya menghangat mendapatkan perlakuan manis seperti itu.
" hey sayang ", tegur Devan yang membuat Dewi tersadar dari lamunannya. Dewi hanya tersenyum kikuk ke arah sang majikan. Setengah jam kemudian keduanya sudah membeli semua yang ada pada daftar belanjaan. Dewi yang lelah dan haus mengajak Devan untuk membeli es dawet dekat parkiran.
Devan yang tidak pernah makan di tempat seperti itu, sedikit tidak nyaman.
" Ini enak sekali tuan, cobalah "
" aku pengennya di suapi " rengek Devan manja.
" Tapi tuan saya malu di sini banyak orang ", kata dewi.
" Kalau begitu aku tidak mau ", kata Devan pura-pura ngambek. Dewi yang merasa tidak enak hati, segera menyuapi tuannya itu es dawet di tangannya. Devan yang merasa senang, menerima suapan Dewi sampai habis 2 gelas.
Setelah selesai acara suap-suapan, Devan segera mengajak Dewi pulang. Di sepanjang perjalanan Devan terus saja menggenggam tangan sang kekasih dan sesekali menciumnya. Devan yang masih ingin berduaan dengan sang kekasih menepikan mobilnya di pinggir jalan dekat taman.
" Tuan kenapa berhenti " tanya Dewi heran
" Aku masih ingin berduaan dengan pacarku, sebentar saja ", goda Devan dengan tatapan mesumnya. Tangannya segera meraih tengkuk Dewi dan melabuhkan kecupan-kecupan kecil di bibir sang kekasih.
Saat hendak mencium kembali bibir sang kekasih, terdengar kaca mobilnya di ketuk seseorang.
" Sial " umpat Devan yang merasa kesal acara pacaran singkatnya di ganggu. Ia segera membuka kaca mobilnya.
" Mas Devan ", sapa Liliana senang. Liliana yang baru pulang fitnes melihat mobil Devan terparkir di pinggir jalan segera menghampirinya. Hapal saja nih ulet bulu.
" Ada apa " tanya Devan datar. Saat akan menjawab pertanyaan Devan, Liliana di kejutkan dengan keberadaan Dewi di samping Devan.
" Mas, ngapain pembantu itu ada di dalam mobil mas Devan ? " tanya Liliana geram.
" Bukan urusanmu ", jawab Devan ketus sambil menaikkan kaca mobilnya. Devan segera menyalakan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan Liliana yang marah-marah.
" mas Devan mas Devan... ih awas kamu pembantu sialan. Lihat saja aku akan bikin kamu pergi menjauh dari mas Devan ", geram Liliana sambil berjalan menghentak-hentakan kaki menuju mobilnya.
__ADS_1
ulet bulu mulai beraksi âšī¸
đ¸ like dan komen kakak-kakak selalu ku nanti đđ¸