
Di sebuah kamar penginapan mewah, seorang wanita cantik nampak tengah mematut diri di depan cermin. Ia memoleskan lipstick warna merah menyala pada bibir tebalnya.
Kemudian ia berdiri dari duduknya, memutar-mutar tubuhnya memastikan kembali penampilannya.
" Cantik ", ucapnya memuji diri sendiri.
" Aku yakin Devan akan terpesona dengan kecantikan dan kemolekan tubuhku ini ", gumamnya sambil menyeringai penuh arti.
Ya, perempuan itu adalah Amira. Ia saat ini tengah berada di resort yang di bangun di bawah naungan perusahaan Aditama. Di mana ia akan melakukan proses syuting untuk kepentingan promosi resort tersebut.
Ia sudah dua hari berada di resort itu. Hari ini ia mendapat kabar jika Devan akan melakukan kunjungan guna melihat proses syutingnya. Ia begitu senang, akhirnya ada kesempatan untuk mendekati Devan lagi. Saat tengah asyik menyusun rencana di otaknya, tiba-tiba terdengar ketukan pintu sangat keras.
Tok tok tok
" Amira cepetan dong, aku sudah lapar nih ", teriak Meri menager Amira.
Mendengar suara cempreng managernya membuat mood Amira seketika buyar. Ia segera berjalan menuju pintu dan membukanya lebar-lebar.
" Suaramu seperti klakson bajaj bikin aku langsung pusing. Kalau kamu lapar kamu bisa makan sendiri ", omel Amira sambil memelototi managernya.
" Hei, jangan marah-marah dulu. Apa kamu tidak mau makan malam dengan mantanmu. Tadi sore ia sudah tiba di sini,dan malam ini ia akan malam bersama semua kru"
Mendengar itu mata Amira langsung berbinar. Buru-buru ia menyambar tas di atas ranjang dan segera memakai sepatu high heels nya.
" Ayo ", kata Amira sambil menarik tangan menagernya. .
" Tadi aja marah-marah, sekarang sembarangan tarik-tarik tangan orang ", gerutu Meri.
Kaki jenjangnya melangkah masuk ke sebuah restoran dengan konsep terbuka. Restoran mewah itu menyuguhkan pemandangan alam di saat malam. Lampu-lampu rumah penduduk terlihat seperti bintang-bintang yang bertaburan menambah indah suasana.
Terlihat para kru sudah berkumpul di sana. Mata Amira sibuk mencari keberadaan mantan kekasihnya. Sesaat kemudian manik matanya menangkap sosok tinggi tegab itu tengah berjalan memasuki restoran.
Amira dengan semangat mengayunkan kakinya untuk segera menghampiri Devan. Namun senyum merekah itu segera hilang dari bibirnya tatkala netranya melihat Dewi yang tengah menggandeng tangan Devan dengan mesra.
" Sialan, kenapa perempuan udik itu juga ikut sih. Mengganggu rencanaku saja ", batin Amira geram.
.
.
Devan memasuki restoran itu dengan sang istri yang setia di sampingnya. Ia menyapa seluruh kru dan mempersilahkan mereka menikmati hidangannya.
" Wah, istri pak Devan cantik sekali ", puji salah satu kru perempuan di sana.
Devan dan Dewi menanggapi pujian itu dengan senyuman ramah.
Nampak Amira berjalan mendekat ke arah mereka.
__ADS_1
" Dev, kamu baru sampai ", tanyanya dengan suara menggoda. ia tidak peduli dengan Dewi yang berada di samping Devan.
Dewi menatap penampilan mantan kekasih suaminya itu dengan iba. Apakah ia tidak punya uang cukup untuk membeli bahan, sehingga pakaian yang setengah jadi itu tetap ia gunakan. Lihat lah Roknya yang super ketat dan pendek, kemben yang ia pakai sedikit melorot hingga gunung kembarnya nyaris keluar. Untung masih di tutupi dengan blezer.
" Iya ", jawab devan
" nona Amira silahkan bergabung dengan yang lain untuk makan malam. Saya permisi dulu ", kata Devan melangkah pergi.
" Kamu mau ke mana Dev ? "
Devan menoleh pada mantan kekasihnya yang masih kepo itu.
" Saya ingin mengajak jalan-jalan istri saya untuk berkeliling di resort ini ",
" Ayo sayang ", ajak Devan pada Dewi sambil merengkuh pinggang sang istri.
Amira menggeram kesal melihat pemandangan di depannya. Sia-sia sudah ia berdandan seharian ini. Ia segera pergi dari restoran itu sambil menghentak-hentakkan sepatunya.
" Amira tunggu, kamu masih belum makan ", teriak managernya.
" Nggak nafsu ", jawab Amira terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun pada managernya. Hatinya yang sangat kesal membuat mood makannya hilang.
Di tempat lain nampak Devan mengajak Dewi melihat-lihat pemandangan di resort tersebut. Cuaca di sana cukup dingin, mengingat resort itu di bangun di daerah pegunungan.
" Kamu suka yang ? ", tanya Devan memeluk erat istrinya dari belakang.
" Banget mas. Kamu pinter banget memilih konsepnya, aku berasa ada di luar negeri ", kata Dewi sambil mendongak menatap suaminya.
Devan mengecup kening istrinya sekilas. Dewi tersenyum riang menerima perlakuan manis suaminya.
" Mas, Dewi boleh bertanya ? "
" Tentu ", jawab Devan.
" Apa mas Devan tidak tertarik sama mbk Amira ? Ia terlihat sangat seksi dan..."
" Dan montok ", sambung Devan dengan entengnya.
" Ihhh, berarti mas Devan tadi lihatin itunya mbak Amira ", kata Dewi sambil merengut kesal.
Devan menghela napas kasar, rupanya ia salah berucap.
" Nggak perlu mas perhatikan juga sudah kelihatan wi. Lagian kalau mas mau dari dulu mas bisa dapetin lebih dari seorang Amira. Tpi mas gak mau perempuan seperti itu, yang mas mau perempuan yang bisa menghargai dirinya sendiri. Ya salah satunya bisa menjaga penampilannya ", kata Devan sambil memutar badan sang istri menghadap dirinya.
" Tapi mas dulu suka bahkan cinta sama mbak Amira ",
Astaga Devan merasa serba salah. Inilah yang paling ribet menghadapi wanita. Mereka selalu ingin tahu masa lalu pasangannya. Namun ketika pasangannya jujur memberitahukan, mereka akan merasa baper dan mulai berubah kelakuannya. Entah menjadi marah, sedih, insecure atau apa lah.
__ADS_1
" Dulu Amira tidak seperti itu, dia perempuan yang ceria dan dewasa. Aku juga nggak ngerti kenapa ia berubah seperti itu. Sudahlah wi kita gak usah bahas itu lagi. Yang terpenting sekarang kita nikmati jalan-jalan kita ini. Anggap saja kita sedang berbulan madu ", kata Devan sambil mengangkat tubuh istrinya.
" Ahhh mas mau apa ", pekik Dewi yang segera mengalungkan tangannya di leher suaminya.
" Mas mau bikin dedek bayi pesanan mamah ", bisik Devan di telinga istrinya. Dewi yang tersenyum malu-malu menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.
Ia segera membawa istrinya masuk ke dalam kamar khusus yang di siapkan untuknya. Devan merebahkan tubuh sang istri di atas ranjang mewah tersebut. Ia mulai memanggut bibir sang istri dengan mesra. Tangannya mulai bergerilya mencari benda kenyal yang menjadi favoritnya. Di sibaknya dres warna hijau itu sampai ke atas. Matanya menatap lapar pada tubuh molek istrinya yang mulus tanpa cela. Akhirnya malam itu mereka lewati dengan saling berbagi peluh menggapai kenikmatan dunia.
πΈπΈπΈπΈ
Di kediaman Aditama
Di dalam sebuah kamar bernuansa pink, nampak seorang gadis yang tengah tidur tengkurap sambil menopang dagunya.
Bibirnya mengulas senyum manis yang terus mengembang.
" Astaga kenapa aku jadi kepikiran kak Kevin terus sih ", gumam Monica sambil senyum-senyum sendiri.
" Bau parfumnya uhhhhh bikin aku nyaman memeluknya seharian "
" Ahhh ya ampun ", pekik Monica sambil guling-guling tidak karuan.
Braaaak
" Astaga ",
Monica terjingkat kaget karena kamarnya tiba-tiba terbuka lebar. Tangannya mengelus dadanya berulang kali guna menetralkan detak jantungnya.
" Mama apa-apaan sih ", kata Monica menatap sebal mamanya.
" Sudah malam Monic, ngapain kamu teriak-teriak nggak jelas gitu ",
" Memang terdengar sampai luar ",
" Banget ", kata mama Nabila memicingkan matanya curiga.
" Hehehehe maaf ma ",
" Ya sudah cepet tidur, besok kamu ikut mama ",
" Kemana mah ? " tanya Monica penasaran.
" Ke rumah mamahnya Kevin ",
" Mau apa kita kesana mah ", tanya Monica penasaran sekaligus senang. Ia bisa bertemu kak Kevin di sana.
" Mau mempersiapkan pertunangan Kevin sama pacarnya ",
__ADS_1
" hahhh ", Monic yang tadinya senang seketika terduduk lemas di atas ranjang.
jangan lupa pencet like, subscribe dan vote nya kakak. Komen juga ya biar ramai novel aku π