Cinta Untuk Majikan Tampan

Cinta Untuk Majikan Tampan
Bab 49


__ADS_3

Keesokan harinya mama Nabila benar-benar mengajak Monica pergi ke rumah Kevin. Kedatangan mereka di sana di sambut hangat oleh Tante Yuni mamahnya Kevin.


Ini bukan kali pertama untuk Monica berkunjung di rumah kevin. Namun entah kenapa hari ini rasanya sangat berbeda. Biasanya ia akan sangat senang jika di ajak sang mama ke sana. Akan tetapi hari ini ia merasa enggan dan tidak bersemangat.


Di sana sudah ada pacar Kevin tengah duduk manis di dekat Tante Yuni. Monica menatap lekat perempuan itu yang tampak tenang dan anggun. Berbeda sekali dengannya yang sangat berisik dan bar-bar.


Monica menghela napasnya berulang kali. Belum juga melakukan pendekatan, cintanya yang baru berkuncup itu sudah harus layu duluan.


Mama Nabila nampak antusias membicarakan rencana pertunangan anak sahabatnya itu yang akan di adakan satu bulan lagi. Monica yang biasanya akan ikut bicara tanpa di minta, kali ini lebih memilih diam seribu bahasa.


Di perjalanan pulang Monica tampak diam melamun menatap keluar dari jendela mobil. Mama Nabila melihat putrinya tampak diam sejak tadi merasa heran.


" Sayang, kamu kenapa ? dari tadi kok diam saja ",


" Monic gak apa-apa kok mah ", jawab Monic sambil memaksakan senyumnya.


" Kalau ada masalah, kamu bisa cerita sama mamah. Jangan di simpan sendiri ",


" Beneran mah, Monic tuh gak apa-apa. Perut Monic sedikit gak nyaman aja ",


" Ya sudah, nanti sampai rumah mamah bikinin jahe hangat ya ", kata mamah nabila sambil mengelus pucuk kepala putrinya. Monica segera mengangguk seraya tersenyum sebagai jawaban.


Sesampainya di rumah, mamah segera membuatkan jahe hangat. Monica membawa minuman itu ke atas menuju kamarnya. Setelah sampai di dalam kamar, Monica meminum sedikit jahe itu dan meletakkan sisanya di atas nakas.


Ia membaringkan tubuhnya sambil memeluk guling kesayangan. Air mata yang ia tahan-tahan dari tadi akhirnya luruh juga.


hiks hiks hiks


Monica terisak menangisi kisah cintanya yang tragis. Sebenarnya sudah sejak dua tahun yang lalu ia menaruh hati pada Kevin. Namun ia tidak berani mengungkapkan perasaannya, mengingat sikap dingin dan cuek lelaki itu yang sangat menyebalkan.


Akhirnya ia hanya bisa menangis sejadi-jadinya di dalam kamar. Menangisi cintanya yang tak pernah terbalaskan.


.


.


Di resort


Devan dan Dewi tampak tengah melihat proses syuting yang di lakukan oleh Amira. Devan akui kemampuan akting Amira memang sangat bagus. Amira dapat menyelesaikan syuting hari ini dengan lancar, tanpa harus mengulang.


Amira yang melihat Devan mengunjungi lokasi syutingnya segera menghampiri lelaki tampan itu.


" Bagaimana Dev, aktingku bagus kan ? ",

__ADS_1


" Iya, sangat bagus. Anda memang sangat berbakat ",


" Jangan kaku gitu dong Dev, panggil aku mira seperti dulu ok ", kata Amira sambil menarik tangan Devan dan menggenggamnya.


Dewi yang melihat itu hanya melirik sekilas tangan suaminya yang di genggam oleh ulet bulu di depannya. Devan segera menarik tangannya, ia tidak mau sampai membuat istrinya kesal.


" Baiklah mir kamu beristirahatlah, aku dan istriku akan kembali ke kamar. Ayo sayang ", kata Devan menggandeng sang istri sambil berlalu pergi.


Melihat Devan yang semakin cuek padanya membuat Amira mengepalkan kedua tangannya karena merasa sangat kesal. Ia harus mencari cara agar bisa menjauhkan Dewi dari mantan kekasihnya itu. Saat ia tengah asyik dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba handphone miliknya berbunyi.


Bibirnya tersenyum merekah mendapati nama William di layar handphonenya.


" Hallo Will "


" hallo sayang, bagaimana syuting kamu hari ini, lancar ? "


" Tentu saja, kemampuan aktingku tidak usah kau ragukan ", jawab Amira berbangga diri.


" Aku percaya itu. Sekarang datanglah ke kamar xxxx, aku menunggumu sayang ",


" Kamu ada di sini Will ? "


" Iya "


" Sepertinya akan seru ", gumam Amira senang.


Ia segera memasukkan handphone ke dalam tas dan berjalan menuju kamar yang di beritahukan oleh William.


.


.


Di dalam kamar nampak Devan yang tengah memangku laptopnya. Ia mengecek pekerjaan yang Kevin kirim barusan. Dewi yang tiduran di dekat sang suami tampak melamun. Devan yang tidak mendengar suara sang istri menoleh ke arah istrinya.


" Kenapa ", tanya Devan sambil mengelus pipi tembem istrinya.


" Mas nanti mau punya anak berapa ? ", tanya Dewi tiba-tiba yang membuat Devan mengerutkan dahinya.


" Kenapa ? Apa istriku ini sedang memberi kode untuk mengajak membuat dedek bayi ", goda Devan sambil mencolek dagu istrinya.


" Ih mas kamu itu ya, mesum terus pikirannya ", sungut Dewi.


" Nggak apa-apa mesum sama istri sendiri ", godanya lagi sambil meletakkan laptopnya di atas nakas.

__ADS_1


" Dewi serius mas. Mas nanti mau punya anak berapa ",


" Kalau mas sih berapapun tidak masalah. Asal nanti perhatian kamu sama mas tidak boleh berkurang. Kamu harus adil membagi kasih sayang antara mas dan anak-anak kita nanti "


Dewi terdiam mencerna omongan suaminya.


" Ih mas kok gak mau ngalah sama anak sendiri, lagian kalau pun Dewi lebih perhatian ke anak-anak itu juga demi kebaikan anak mas kan ", protes Dewi mendengar ucapan suaminya.


" Hust gak usah meributkan itu dulu sayang. Sekarang sebaiknya kita membuat dedek bayinya dulu bagaimana ?" tanya Devan yang sudah mulai menggerayangi tubuh istrinya.


" Ini masih sore mas ", kata Dewi sambil menepis tangan suaminya.


" Malah lebih bagus, biar lebih kelihatan jelas semuanya ", kata Devan tersenyum mesum. Ia langsung menerkam istrinya yang hendak melayangkan protes lagi.


Dewi hanya bisa pasrah menikmati setiap sentuhan yang diberikan suaminya. Bibir mungilnya mulai mendesah di bawah Kungkungan suaminya. Mereka benar-benar menikmati kunjungan kerja kali ini sebagai acara bulan madu yang tertunda.


.


.


Di kamar lain,


Tampak Amira tengah berbaring memeluk William dalam selimut yang menutupi tubuh polos keduanya.


Amira sebenarnya tidak begitu tertarik dengan lelaki di sampingnya. Ia menjalin hubungan dengan William hanya untuk melancarkan karirnya di dunia hiburan.


William adalah seorang duda dengan empat orang anak. Di usianya yang sudah kepala empat, lelaki itu masih tampak tampan dan gagah. William sudah pernah melamar Amira namun Amira menolaknya. Amira beralasan masih ingin menjalani karirnya yang sedang naik daun.


Tentu saja alasan itu hanyalah kebohongan belaka. Yang sebenarnya Amira tidak ingin menikah dengan William karena lelaki itu sudah memiliki empat orang anak. Sudah di pastikan hartanya nanti akan lebih banyak jatuh ke anak-anaknya. Ia tidak mau seperti itu.


Makanya sekarang ia mengincar Devan, namun sialnya sang mantan kekasih yang akan di incarnya itu malah sudah menikah.


Namun Amira yang melihat Devan semakin sukses dan kaya mulai mengabaikan status Devan. Ia tidak peduli itu, yang terpenting ia akan berusaha menggoda lagi mantan kekasihnya itu.


Amira yang pura-pura tidur membuka kedua matanya. Ia menatap William yang tertidur pulas setelah menjamah tubuhnya berulang kali. Manik mata Amira menatap pada handphone William di atas nakas.


Ia mencoba meraihnya dengan pelan agar tidak membangunkan lelaki di sampingnya. Ia tersenyum senang tatkala mendapati handphone itu tidak terkunci.


Ia mencari kontak Devan dan mengetikkan sesuatu di sana. Setelah pesan itu terkirim Amira segera menghapusnya. Amira segera meletakkan handphone itu kembali ke tempatnya.


" Tunggu kejutan dari ku Dev ", gumamnya menyeringai licik.


Semoga kalian gak bosen ya sama cerita aku 😁 like dan komen ya kak, kritik dan saran juga boleh ☺️

__ADS_1


__ADS_2