
Hari ini adalah hari spesial bagi Devan, karena hari ini adalah hari kelahirannya. Ia saat ini telah memasuki usia tiga puluh empat tahun.
Pagi ini di teras depan rumah, nampak Devan yang akan berangkat kerja tengah di temani oleh istri dan anaknya.
" Sayang mas berangkat kerja dulu ",
" Iya mas hati - hati ya ", kata Dewi sambil mencium tangan Suaminya.
" Iya sayang ", Devan pun mencium kening sang istri.
" Anak papah yang ganteng, papah kerja dulu ya ", kata Devan sambil mencium pipi vindra dengan gemas.
" Iya papa, ati -ati ya ", jawab Dewi menirukan suara anak kecil.
Devan yang sudah puas mencium pipi gembul putranya segera berangkat ke kantor di antar oleh asistennya Kevin.
Di dalam perjalanan Devan nampak termenung memikirkan sesuatu. Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Tahun kemarin Dewi begitu antusias memberi ucapan selamat bahkan sampai membangunkannya tepat pukul 12 malam. Istrinya itu juga mengajaknya makan malam spesial dan memberinya sebuah jam tangan sebagai hadiah.
Namun hari ini sang istri nampak biasa saja, tidak ada hal yang istimewa yang dilakukannya. Bahkan semalam Dewi juga tidak memberinya ucapan selamat. Sang istri malah nampar tertidur dengan sangat nyenyak nya.
Devan memikirkan hal itu bukan karena ia begitu ingin di rayakan ulang tahunnya. Ia hanya merasa ada kebahagiaan sendiri ketika di hari ulang tahunnya mendapat ucapan selamat dari orang yang di cintai.
Apalagi perjalanan cintanya dengan Dewi dulu tidaklah mudah.
Kevin yang sedari tadi fokus mengendarai mobil kini beralih melirik sang bos dari balik kaca spion.
" Bos apakah anda sedang ada masalah ? "
" emm Tidak ada Vin, hanya sedikit lelah saja ", jawab Devan yang tidak ingin bercerita. Bisa-bisa ia akan di ditertawakan Kevin karena seperti anak kecil yang merengek minta ucapan selamat ulang tahun.
" Istirahat bos kalau capek, urusan kantor saya bisa handle sementara ", kata Kevin menawarkan diri.
" Terima kasih Vin, tapi saya belum ingin mengambil cuti ",
Kevin yang mendengar jawaban bosnya, kembali fokus melajukan mobilnya menuju perusahaan. Setelah sampai kantor Devan segera naik ke lantai paling atas tempat ruangan kerjanya berada.
Sepanjang pagi sampai siang Devan yang tengah bekerja nampak sering kali melihat ke handphone. Harap-harap ada pesan dari sang istri yang memberinya ucapan selamat.
Entah kenapa Devan kali ini begitu menginginkan perhatian lebih dari sang istri. Padahal dulu-dulu ia yang malah melarang sang mama merayakan ulang tahunnya. Menurutnya itu terlalu kekanak-kanakan.
Tapi kenapa kali ini ia sangat berharap sekali. Sungguh rasa yang ia sendiri tidak mengerti. Akhirnya siang hingga menjelang pulang Devan hanya bisa berusaha fokus pada pekerjaannya dan mematikan handphonenya sementara.
__ADS_1
.
.
Di perjalanan pulang Devan membuka kembali handphonenya. Dan ia harus kembali kecewa karena tidak ada pesan masuk dari istrinya. Yang ada malah pesan dari Monica yang mengatakan akan datang ke rumah untuk ikut makan malam, dan berharap kakaknya itu tidak menyuruh suaminya untuk lembur lagi.
Sesampainya di rumah Devan segera turun dari mobil dan berjalan menuju teras rumah. Sudah nampak Dewi yang menyambut kepulangannya dengan senyum merekah. Devan segera menghampiri istrinya dan menciumi wajah cantik Dewi yang seharian ini ia rindukan
" Mas mandi dulu ya, sudah Dewi siapkan air hangat ", kata Dewi sambil menggandeng masuk suaminya.
" Makasih sayang. Vindra mana yang kok gak kelihatan ",
" Ada kok, vindra lagi sama mama papa di taman belakang. Lagi di ajarin kasih makan ikan koi sama papah ", jawab Dewi sambil mengulum senyum. Devan pun jadi ikut tertawa.
Sesampainya di dalam kamar Devan segera masuk ke dalam kamar mandi. Berendam sebentar untuk menghilangkan penat dalam pikirannya.
Setelah hampir dua puluh menit berendam Devan segera keluar dari kamar mandi. Di tengoknya sang istri, namun tidak ada siapa-siapa di dalam kamar.
Saat mengedarkan pandangan sambil berjalan menuju ranjang, tiba-tiba manik matanya menangkap sebuah amplop besar yang tergeletak di dekat pakaian gantinya.
Dengan rasa penasaran Devan segera mengambil amplop putih itu. Awalnya Devan ragu untuk membukanya, namun ternyata rasa penasarannya lebih besar. Sehingga dengan pelan ia membuka amplop besar itu dan mengeluarkan isinya.
Nampak sebuah kertas dan sebuah bungkusan kecil menempel di kertas itu. Bibir Devan mengulas senyum lebar saat membaca isi pesannya.
Devan yang sudah sangat penasaran segera membuka bungkusan kertas kecil yang menempel di kertas itu.
Dan saat kertas itu terbuka mulut Devan langsung ternganga. Nampak sebuah alat tes kehamilan yang sudah menunjukkan hasil dengan dua garis merah di sana.
Devan yang mengerti akan benda apa itu langsung berlari ke luar mencari istrinya. Ia sampai lupa jika dirinya saat ini hanya memakai handuk saja.
Saat pintu sudah terbuka
" Selamat ulang tahun ", teriak mama Nabila, Monica dan Dewi di depan kamarnya.
Monica yang melihat kakaknya hanya memakai handuk sampai cekikikan. Dewi yang tengah membawa kue ulang tahun segera melangkah maju.
" Berdoa dulu mas lalu tiup lilinnya ", Devan pun menurut dan segera berdoa dan meniup lilin itu. Terdengar tepuk tangan dari semua.
" Sayang ini beneran ? ", tanya Devan sambil menunjukkan testpack di tangannya. Dewi pun mengangguk seraya tersenyum lebar.
" Mas seneng banget yang, makasih ya ", Devan segera menciumi semua wajah Dewi dan mengecup singkat bibirnya.
__ADS_1
" Astaga kak Devan, main nyosor aja ada mama loh ", protes Monic sambil menutup sebelah matanya dengan tangan. Sedang mama Nabila hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan putranya.
" Kak Devan juga harus ngucapin selamat sama aku ", kata Monic.
" Memang kamu juga ulang tahun, seingat Kaka ulang tahun kamu masih lama ", tanya Devan bingung.
" Ih bukan ulang tahun kak ", kesal Monic.
" Monik juga hamil mas ", kata Dewi menjelaskan.
" Apa, yang bener ? ", tanya Devan tidak percaya. Dan Dewi pun mengangguk sebagai jawaban.
" Kalau begitu selamat ya Monic, sebentar lagi kamu akan menjadi ibu bukan bocah nakal lagi ", ledek Devan yang membuat Monic kesal dan mencubit lengannya.
Devan bukannya kesakitan malah tertawa lebar. Sungguh ia tidak menyangka kejutan ulang tahunnya kali ini sungguh sangat luar biasa. Anaknya akan bertambah tepat disaat usianya juga tengah bertambah satu angka. Sebentar lagi vindra akan memiliki adik, padahal usianya belum genap satu tahun.
.
.
" Sudah berapa bulan yang ", tanya Devan saat mereka sudah di dalam kamar.
" Kata dokter sudah lima minggu mas ", kata Dewi yang berada dalam dekapan suaminya.
" Apakah tidak apa-apa yang kamu hamil lagi, vindra belum juga satu tahun ",
" Kata dokter sih nggak apa-apa mas. Apalagi Dewi kemarin kan lahirannya normal ",
" Syukurlah kalau begitu. Mulai sekarang kamu gak boleh capek-capek yang, harus banyak makan dan cukup istirahat ", nasehat Devan yang di angguki Dewi pelan.
" Makasih ya mas sudah memberi Dewi banyak kebahagiaan ", kata Dewi seraya mendongak menatap wajah tampan suaminya.
" Sama-sama sayang. Kamu juga sudah banyak mendatangkan kebahagiaan buat mas dan juga keluarga mas ",
Keduanya yang tengah hanyut oleh suasana mulai mendekatkan bibir mereka. Namun saat bibir itu mulai bertaut terdengar tangis vindra dari dalam box bayi.
" Oek oek ",
Dewi dan Devan pun saling tatap lalu tergelak bersama. Mereka segera menghampiri vindra dan mulai menenangkannya.
**********
__ADS_1
Jangan lupa vote, Like dan komennya
Terima kasih