Cinta Untuk Majikan Tampan

Cinta Untuk Majikan Tampan
Bab 20


__ADS_3

Devan yang berhasil menggoda Dewi segera berlalu pergi setelah mengambil sebotol air di dalam lemari pendingin. Dewi merengut kesal dengan kelakuan majikan sekaligus kekasihnya itu. Ia tidak menyangka bahwa majikannya itu ternyata jahil juga. Saat Dewi melanjutkan acara cuci mencucinya, kini giliran mama Nabila yang datang.


" Wi lagi sibuk ya ", tanya mama Nabila.


" tidak nyonya, ini sudah hampir selesai ", jawab Dewi sambil menaruh piring terakhir ke dalam peniris piring.


" Kalau begitu kamu siap-siap ya. Saya mau ajak kamu keluar, saya lagi bosen ini pengen jalan-jalan. Monic saya ajak malah sibuk sama hpnya ", keluh mama Nabila.


" Memangnya mau kemana nyonya ? ", tanya Dewi hati-hati sekaligus penasaran.


" Sudah pokoknya ikut saja, sana cepetan kamu ganti baju dulu ", Dewi pun menurut. Setelah pamit pada mama Nabila Dewi berlalu masuk ke dalam kamarnya. Setelah selesai mandi dirinya membuka lemari pakaiannya. Hatinya menciut mendapati tumpukan baju di dalamnya. Hanya ada beberapa baju sangat sederhana yang tertumpuk di sana. Ia pun memilih baju yang menurutnya paling bagus, ya meski paling bagus tetap saja biasa-biasa saja. Setelah rapi Dewi mematut diri di depan cermin. Memandangi penampilannya sendiri, rok di bawah lutut berwarna navi, dan kemeja lengan pendek berwarna pink cerah melekat pas pada tubuhnya. Meski penampilannya sederhana namun tidak dapat menyembunyikan kecantikan alaminya.


" Sudah siap ", tanya mama Nabila pada Dewi yang berjalan ke arahnya.


" Sudah nyonya ",


Mama Nabila mengajak Dewi untuk masuk ke mobil. Devan yang sedang duduk di balkon kamarnya melihat mamanya mengajak sang kekasih merasa penasaran. Mau kemana mereka, batinnya.


Mobil mewah yang di tumpangi mama Nabila dan Dewi melaju menyusuri padatnya lalu lintas sore itu. Dewi menatap kagum dengan pemandangan lampu kota yang sudah mulai menyala menghiasi sepanjang jalan. Pak sopir menghentikan laju kendaraannya ketika telah sampai di depan salah satu mall terbesar di kota tersebut.


" Ayo wi masuk ", ajak mama Nabila menggandeng tangan Dewi. Dewi hanya menurut saja, matanya sibuk mengagumi setiap sudut mall tersebut. Langkah mama Nabila berhenti di depan sebuah butik ternama. Kedatangan mereka di sambut ramah oleh para pegawai toko.


" Wah ada Bu Nabila. Lama sekali tidak mampir kesini ", sapa pemilik butik sambil cipika cipiki.


" Maklum mbk, lagi sibuk bantuin putra kedua aku membuka cafe barunya ".


" Wah putra Bu Nabila hebat-hebat semua. Yang pertama sibuk membantu perusahaan dan yang kedua sibuk membangun bisnisnya sendiri ", puji pemilik butik tersebut.


" Ah mbak Cantika bisa saja ", mama Nabila pun jadi tersipu malu.

__ADS_1


" oh ya Bu Nabila, saya punya banyak koleksi terbaru. Mari saya tunjukkan ", ajak sang pemilik butik.


" Baiklah ",


" Wi, kamu bisa pilih-pilih baju di sana. itu kayaknya bagus-bagus deh buat seumuran kamu ", kata mama Nabila sambil berjalan mengikuti arahan pemilik butik.


" Baik nyonya ", Dewi pun mulai melihat-lihat pakaian yang terpajang di sana. Matanya terpaku pada satu dres berwarna baby pink yang di hiasi renda berwarna putih, sangat cantik. Diambilnya dres tersebut dan membawanya ke depan cermin di dekatnya.


" Wah mbak cocok sekali memakai dress ini, mbaknya makin cantik ", puji pegawai butik tersebut. Dewi hanya tersenyum canggung mendengar pujian tersebut. Namun ketika dirinya melihat bandrol harga di dres tersebut, matanya membeliak lebar. Sembilan ratus lima puluh sembilan ribu, gumam Dewi shock. Ia buru-buru mengembalikan dress itu ke tempat semula. Pegawai butik tersebut menatapnya heran.


" Gimana wi, ada yang kamu pilih ",


" Tidak nyonya ",


" Kenapa ", tanya mama Nabila heran. Belum juga Dewi menjawab pegawai butik itu menyela.


" Bagus, cocok ini sama kamu ",


" Tidak nyonya, saya tidak pantas memakainya. Ini terlalu mahal untuk saya " jawab Dewi gugup.


" nggak usah dipikirin harganya, anggap ini bonus dari saya. Karena kerja kamu sangat bagus dan juga kamu gadis yang baik ", Dewi yang mendengar pujian dari mama Nabila merasa sangat bersalah. Ia merasa telah jahat terhadap majikannya, karena telah lancang menjalin hubungan dengan putranya. Tapi ia juga tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Sepanjang perjalanan pulang Dewi hanya diam, dia hanya bicara jika mama Nabila bertanya.


Sesampainya di kediaman Aditama, Dewi segera masuk berjalan di belakang mama Nabila. Setelahnya ia pamit undur ke kamarnya. Saat melewati tangga menuju lantai dua, nampak Devan yang berdiri di ujung tangga memanggilnya.


" Wi tolong buatkan kopi dan antar ke kamar saya ",


" Baik tuan ", Dewi pun berlalu masuk ke dalam kamar untuk menaruh paper bag miliknya. Kemudian segera membuatkan kopi Devan dan mengantarkannya.


Tok tok tok

__ADS_1


" Masuk "


kreeekkk


" Tuan Devan ini kopi anda ", Dewi masuk ke dalam dan menaruh kopi itu di atas nakas. Devan yang mengikuti langkah Dewi, berhenti dan mendudukkan bokongnya di tepian tempat tidur.


" Duduk dulu wi ", perintah Devan sambil menepuk kasur di sebelahnya. Dewi yang mengerti mendudukkan tubuhnya di dekat sang majikan sekaligus kekasihnya.


" Mana hp kamu ", tanya Devan.


" Untuk apa tuan", Dewi balik bertanya. Ia malu jika sampai tuannya melihat hp jadulnya.


" Sudah mana wi ", kata Devan sedikit memaksa. Dewi pun dengan terpaksa mengambil hp di sakunya dan memberikannya pada sang majikan.


Devan tertegun sejenak menatap hp jadul milik kekasihnya. Ingin rasanya ia membuang hp tersebut dan memberikan hp keluaran terbaru untuknya. Namun ia tidak akan melakukan itu, karena perbuatannya itu dapat melukai harga diri kekasihnya. Kemudian Devan mengetikkan sesuatu di sana. setelahnya ia memberikan kembali hp itu pada Dewi. Dewi menerima hp itu dan membaca tulisan yang tertera di layar.


" pacar gantengku " Dewi menatap Devan penuh tanda tanya. Devan yang di tatap Dewi melengos sambil mengulum senyum.


" Itu nomor saya ", jawab Devan malu-malu. Dewi yang mengerti mengulum senyumnya. Narsis banget majikannya ini batinnya.


Devan pun menatap kembali Dewi dan mulai mendekat, merapatkan tubuhnya pada sang kekasih. Tangannya membelai lembut pipi Dewi, pandangannya tertuju pada bibir ranum kekasihnya. Wajahnya lama kelamaan semakin mendekat, hingga bibir mereka saling bersentuhan. Devan mulai menyesap bibir manis sang pembantu bergantian. Dewi tetap saja diam mematung, tidak tau harus membalas bagaimana. Ia mulai menikmati setiap sentuhan yang Devan berikan, menikmati desiran desiran aneh di dalam tubuhnya. Saat pasokan oksigen di paru-parunya menipis Dewi memukul-mukul dada sang majikan. membuat tautan bibir mereka terlepas, segera Dewi meraup oksigen sebanyak-banyaknya.


" Maaf, saya tidak bisa menahannya " kata Devan sambil tersenyum canggung. Mendengar alasan sang majikan Dewi melengos menyembunyikan rona di pipinya.


Saat ia kembali menatap sang majikan yang juga tengah menatapnya, senyum malu-malu menghiasi bibir keduanya.


Cie cie πŸ˜€πŸ˜€


🌸🌸 like yang banyak ya kak 😊😊🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2